Asa Diriku

Asa Diriku
Bisa Tinggal Di Sana


__ADS_3

Terima kasih sudah membaca novelku ini ๐Ÿ˜


Di like ya guys ๐Ÿ˜


Di vote ya guys ๐Ÿ˜


Di komen ya guys ๐Ÿ˜


Happy reading ๐Ÿค—


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Liza mengambil dua piring makan di salah satu lemari kitchen set dapur minimalis apartemennya Jack. Menutup pintu lemari itu. Menaruh dua piring di atas meja pantry. Mengangkat penggorengan kecil yang berisi nasi goreng buatan Liza. Lalu menuangkan nasi goreng itu ke dua piring yang sudah disediakan oleh Liza. Menaruh penggorengan kecil itu di atas salah satu tungku kompor listrik.


"Wah ada nasi goreng, pantesan ada aroma yang sedap dari dapur," ucap Jack semangat sambil berjalan menghampiri Liza.


"Silakan dimakan Jack," ucap Liza ramah sambil menduduki tubuhnya di salah satu kursi depan meja pantry.


"Terima kasih ya udah buatin nasi goreng untukku," ucap Jack sambil menduduki tubuhnya di kursi samping kiri Liza.


"Justru aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih karena kamu telah menolongku semalam," ucap Liza sambil mengangkat tangan kanannya.


"Kalau begitu kita impas," ucap Jack sambil mengangkat tangan kirinya.


"Kamu suka nasi gorengnya?" tanya Liza sambil mengunyah.


"Ehm ... iya, nasi gorengnya enak banget," ucap Jack sambil mengunyah.


"Jack, tolong kamu rahasiakan keberadaanku ya. Mulai hari ini aku akan mencari pekerjaan, setelah aku mendapatkan gaji pertama, aku akan pindah dari sini."


"Kamu tak perlu pindah, kamu tempati aja apartemen ini karena minggu depan aku balik ke Jerman. Apartemen ini kosong."


"Terima kasih atas tawarannya, tapi aku tidak mau."


"Kenapa?"


"Karena letaknya berdekatan sama apartemen studio milik Vina."


"Memangnya kenapa kalau berdekatan? Kalian kan bersahabat?" ucap Jack bingung sambil menoleh ke Liza.


Liza menghentikan kegiatan makannya, lalu menundukkan kepalanya. Kesedihan terpancar dari raut mukanya Liza. Jack jadi teringat kejadian beberapa jam yang lalu dimana dia menemukan Liza sedang termenung di halte bus dalam keadaan hujan lebat. Jack tahu waktu itu Liza sedang menangis sesenggukan. Maka dari itu, dia menghampiri Liza, dan mengajak Liza ke apartemennya. Selama perjalanan pulang sampai tiba di dalam apartemennya Jack, Liza masih tetap menangis. Hingga akhirnya, Jack membiarkan Liza menangis sepuasnya di dalam kamar tamu apartemennya.

__ADS_1


Liza merenungkan beberapa peristiwa yang menyakitkan hatinya selama sepekan ini. Mulai dari melihat langsung pergulatan Rafael dengan Regina di atas ranjang, pemerkosaan terhadap dirinya, pesta pernikahan yang menyedihkan, pertikaian antara Zayn dan Rafael karena Rafael merangkul Aisyah yang sedang menangis di depan orang banyak ketika Asiah berada di ruang ICU rumah sakit sehingga Zayn menonjoknya untuk memberikan pelajaran ke Rafael dan melihat langsung adegan mesum antara Vina dengan Rafael.


"Kalau boleh tahu, kamu kenapa?" ucap Jack dengan hati - hati sambil menatap matanya Liza yang sembab.


Apakah aku harus memberi tahu tentang kejelekan Vina ke Jack?


"Semalam Vina berhubungan intim sama suamiku. Apakah kamu terluka mendengarnya?" ucap Liza sedikit ragu sambil menatap sendu ke Rafael.


"Ngapain juga aku sakit hati. Vina itu salah satu temanku di sini. Kamu khawatir sama perasaan diriku?"


"Iya," ucap Liza sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu nggak perlu khawatir sama perasaanku. Justru aku khawatir sama dirimu yang semalaman menangis. Apakah karena itu kamu menangis?"


"I โ€” ya."


"Si Vina benar - benar kurang ajar! Akan aku beri dia pelajaran!" ucap Jack kesal.


"Nggak perlu Jack, percuma juga kamu beri pelajaran."


"Kenapa percuma?"


"Karena aku akan pergi dari kehidupan mereka berdua. Aku sudah nggak mau lagi berhubungan sama mereka berdua. Lagi pula aku takut terjadi apa - apa sama dirimu jika kamu memberikan pelajaran ke Vina."


"Aku akan mencari pekerjaan, tinggal di kost - an dan mengakhiri pernikahan kami."


"Dan sebaiknya kamu lupakan mereka," celetuk Jack.


Ting nong ...


Bunyi bel pintu apartemen Jack mengalihkan mereka berdua. Jack sontak menaruh sendok dan garpunya di atas piring. Beranjak berdiri dari kursi. Melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen. Jack menyentuh beberapa ikon di layar pemindai untuk membuka kunci pintu. Jack menekan handle pintu ke bawah setelah bunyi bip. Menarik handle pintu sehingga pintu terbuka secara perlahan.


"Hallo mein Junge," sapa seorang wanita paruh baya ramah.


"Hallo auch meine Stiefmutter," ucap Jack datar.


Wanita paruh baya itu masuk ke dalam apartemen milik Jack setelah Jack menyampingkan tubuhnya. Wanita paruh baya itu berjalan menuju pantry. Jack mengikuti Liza berdiri, lalu membalikkan badannya setelah mendengar suara beberapa langkah kaki seseorang yang sedang menghampiri dirinya. Liza tertegun menatap wanita paruh baya itu. Begitu juga dengan wanita paruh baya itu. Tatapan mata mereka saling bertanya tentang sebuah kebenaran.


"Wer ist das?" tanya wanita paruh baya itu sambil menoleh ke Jack.


"Er ist mein Freund."

__ADS_1


"Oh, ich dachte, er wรคre deine Geliebte."


"Wo kann ich eine Affรคre haben."


"Aber bevor ich hierher kam, habe ich gehรถrt, dass dein Freund eine Affรคre hat."


"Das ist doch nicht mรถglich."


"Wenn Sie mir nicht glauben, untersuchen Sie es bitte."


"Oh ja, wie heiรŸt du, schรถne Dame?" tanya wanita itu sambil menoleh ke Liza, tapi tidak ada jawaban dari Liza. "Kann ich Deutsch sprechen?" lanjut wanita itu.


"Nur ein paar."


"Siapa namamu?" tanya wanita itu lagi


"Eliza Fransisca Tobing," jawab Liza sambil mengulurkan tangan kanannya.


Wanita itu terkejut setelah mendengar jawaban Liza. Dia menarik tangan kanannya Liza, lalu memeluk Liza dengan sangat erat. Tak terduga, wanita paruh baya ini meneteskan air matanya. Jack tertegun melihat perlakuan ibu tirinya terhadap Liza. Sedangkan Liza terkejut menerima perlakuan wanita itu.


"Sudah kuduga bahwa kamu adalah putriku. Aku Ibu kandungmu, Liza. Namaku Eliosia, apakah kamu masih ingat diriku?" bisik Eliosia.


Pantesan dari kemaren aku merasa mengenal dengan dirinya, ternyata wanita itu adalah ibuku.


Batin Liza.


"Kenapa anda meninggalkan kami ketika perusahaan Papi bangkrut," ucap Liza pelan.


"Waktu itu aku diusir sama Ompung dolimu. Aku dibilang membawa sial untuk keluarga almarhum Erwin," ucap Eliosia sambil menghentikan tangisannya dengan menghirup udara yang banyak, lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan berulang kali sehingga dia bisa menghentikannya.


"Anda sudah tahu tentang Papi sudah meninggal?"


"Iya, kemarin aku ke Bandung, datang ke rumah Erwin. Aku menemui ibu tirimu. Dia bilang Erwin sudah meninggal, dan kamu sudah menikah. Dia juga bilang, kamu tinggal di Jakarta bersama suamimu," ucap Eliosia pelan, lalu dia melepaskan pelukannya. "Di mana suamimu?" lanjut Eliosia sambil memegang bahunya Liza.


"Kami sudah pisah ranjang," ucap Liza sedih.


"Kenapa?" tanya Eliosia khawatir.


"Dia tukang selingkuh dan tidak mencintai diriku."


Tak terasa air mata Liza turun dengan lembutnya. Liza menundukkan kepalanya, lalu menangis terisak. Eliosia langsung memeluknya dengan erat. Mengusap punggungnya Liza dengan penuh kasih sayang. Liza menenggelamkan wajahnya di dadanya Eliosia.

__ADS_1


"Kamu jangan bersedih hati. Masih banyak cowok yang baik di dunia ini. Masa depanmu masih panjang, raihlah dengan semangat. Apakah kamu mau ikut kami ke Jerman dan kamu bisa tinggal di sana?" ucap Eliosia lembut.


__ADS_2