
Bibir tipis milik Edward masih terus menelusuri bibir dan leher jenjangnya Regina. Kedua tangan Edward masih menjamah dua gundukan milik Regina yang sintal. Peluh yang bercucuran di sekujur tubuh mereka membasahi gairah mereka. Jiwa mereka sudah dikuasai oleh gairah hawa nafsu yang membuncah sehingga membuat mereka merasa sulit sekali untuk menolak kenikmatan surgawi yang sesaat.
"Aakkhhh ...."
"Mmmppphhh ...."
"Faster Ward ... aaakkkhhh ...."
Menambahkan kecepatan hentakan demi hentakan penyatuan inti tubuh mereka yang menyalurkan birahi mereka hingga tubuh mereka bergetar hebat. Suara decitan tempat tidur yang besar di dalam kamarnya Regina menggema karena getaran dahsyat dari penyatuan inti dua orang yang sedang memuaskan nafsu mereka. Edward mempercepat tempo gerakan pinggulnya di liang senggama milik Regina hingga mencapai puncak kenikmatan.
"Aaakkkhhh ...."
"Aaakkkhhh ...."
Erangan mendesah dengan sensual dari bibir mereka secara bersamaan telah menandakan pencapaian yang sangat nikmat dengan sesuatu yang hangat mengalir di sana. Tubuh Edward yang masih kekar menindih tubuh biolanya Regina dengan menggunakan kedua tangannya yang menekuk sebagai penyanggah. Helaan nafas mereka terengah - engah saling bersahutan. Ketika mereka sedang mengatur nafas yang belum stabil, smartphone milik Edward berbunyi. Edward merubah posisi tubuhnya menjadi telentang.
Kringgg ...
"Mengganggu sekali," ujar Regina sambil menggantikan posisi tubuhnya ke posisi membelakangi Edward.
Tak lama kemudian Edward mengambil smartphonenya yang berada di atas nakas sebelah kiri ranjang. Edward mengerutkan dahinya ketika dia melihat sebuah nomor baru yang tertera di layar handphonenya itu. Menyentuh ikon hijau untuk menerima panggilan itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo selamat malam, ini siapa ya?" ucap Edward serius.
"Hallo selamat malam Tuan Edward. Saya Tuan T. Saya ingin mengajak anda untuk bekerja sama," ucap tuan T serius.
"Bekerja sama untuk hal apa?" tanya Edward sambil beringsut ke tepian tempat tidur.
"Untuk menculik Rafael."
"Kamu ngaco mengajak saya untuk menculik Rafael. Itu tidak mungkin terjadi," ucap Edward sambil berjalan ke arah balkon kamar tanpa mengenakan sehelai benang apa pun.
"Itu akan terjadi jika saya akan membayar anda sebesar sepuluh miliyar. Dengan uang itu, anda bisa menikahi wanita yang sedang berada di samping anda."
"What!?" ucap Edward sedikit terkejut sambil menggeser pintu balkon.
"Apakah anda bersedia?"
"Tidak segampang itu untuk menculik Rafael, banyak sekali para pengawalnya dan penjagaannya ketat," ucap Edward sambil berjalan keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
"Saya sudah tahu soal itu. Menurut saya mudah menculiknya jika kita bekerja sama, anda kam kaki tangannya Rafael, jadi itu bisa memudahkan rencana kita untuk menculiknya. Anda hanya membawa Rafael ke sebuah pekarangan gudang, lalu anda melarikan diri setelah kepulan asap menyelimuti kalian. Nanti saya berikan masker untuk anda. Apakah anda bersedia? Pikirkan untuk masa depan anda dengan wanita itu."
"Masalah biaya?" ucap Edward sambil menyenderkan badannya di pagar penyanggah.
"Saya transfer setengah dulu, sisanya setelah penculiknya berhasil."
"Boleh saya pikir - pikir dulu?"
"Boleh. Tapi jangan sampai rencana ini terungkap, jika itu terjadi, kamu tidak dapat melihat wanitamu lagi," ucap tuan T yang membuat Edward menegakkan badannya.
"Kasih saya waktu dua minggu," ucap Edward tegang.
"Baiklah. Nanti saya hubungi anda lagi."
Tut ... tut ... tut ...
Sambungan telepon terputus secara tiba - tiba. Edward menarik nafas dalam - dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Edward membalikkan badannya. Melangkah kakinya masuk ke dalam kamar. Masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar. Edward tersenyum manis melihat tubuh indahnya Regina yang tergulai lemas di atas ranjang setelah dua ronde melakukan gulat di atas tempat tidur bersama dirinya.
Edward melanjutkan langkahnya menghampiri Regina sambil menerawang ke peristiwa yang membuat mereka mabuk kepayang karena kebutuhan biologis mereka yang terlarang namun nikmat bagi mereka. Edward menduduki tubuhnya di tepian tidur. Meletakkan smartphone miliknya di atas nakas sebelah kiri tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di samping kirinya Regina. Tidur telentang sambil menatap langit - langit kamar.
"Re, kita nikah yuk!" ajak Edward yang membuat Regina terkejut.
Sontak Regina membalikkan badannya menghadap Edward, "Kamu nggak salah ngomong Ward?"
Regina membelai dada bidangnya Edward dengan gerakan sensual, lalu berucap, "Kenapa kamu mau mengajak aku nikah?"
"Karena aku mencintai dirimu dan aku ingin memiliki dirimu selamanya."
"Apakah itu benar? Setahu aku, kamu mencintai Liza," ucap Regina dengan suara yang manja sambil menelusuri ke area lembah milik Edward dengan gerakan jari yang menggoda.
"Itu dulu, tapi sekarang sudah tidak lagi."
"Benarkah?" ucap Regina sambil membelai burung perkutut milik Edward.
"Iya," ucap Edward sambil merem melek.
"Kenapa kamu mencintai diriku?"
"Tidak bisa diungkapkan dengan kata - kata."
__ADS_1
"Gombal."
"Aku tidak gombal," ucap Edward sambil menatap wajah Regina yang seksi dengan tatapan mata yang intens.
Tak lama kemudian Edward langsung ******* benda kenyal milik Regina sambil meremas benda sintal milik Regina. Alur ciuman Edward membuat gairah Regina bersemangat lagi. Regina mengikuti alur permainan Edward. Ciuman mereka menuntut untuk melakukan hal yang lebih menggairahkan. Tak melepaskan cumbuan, posisi tubuh mereka berubah. Tubuhnya Edward menindihi tubuh moleknya Regina. Tak terduga gangguan menghampiri mereka lagi.
Kringgg ...
Sontak Edward menghentikan kegiatannya. Dia menoleh ke smartphone miliknya, tapi tidak ada panggilan telepon dari smartphone miliknya. Dia menoleh ke smartphone milik Regina yang berada di di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Regina mendorong tubuhnya Edward dengan keras sehingga tubuhnya Edward terpental ke samping kiri. Dengan gerakan cepat, Regina merubah posisinya menjadi duduk, lalu menyambar smartphone miliknya.
Regina tersenyum manis melihat tulisan My Rafael di layar smartphonenya. Akhirnya Rafael menghubungi dirinya setelah seminggu lebih tidak menghubungi dirinya. Regina sangat senang Rafael menghubungi dirinya. Regina langsung menyentuh ikon hijau di layar smartphone miliknya. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo ayang Beb," ucap Regina dengan nada suara yang menggoda.
"Sekarang aku ke apartemenmu," ucap Rafael yang sedang mabuk berat.
Waduh! Gimana nich masih ada Edward lagi di sini. Ah, semuanya bisa diatur seperti kemarin.
Batin Regina yang sedang menoleh ke Edward.
"Ya udah aku tunggu ayang Beb," ucap Regina senang sambil melihat Edward yang sedang melotot ke dirinya.
"Ya udah tunggu aku di sana ya."
"Ok ayang Beb."
Tut ... tut ... tut .... hubungan telepon diputus sama Rafael. Regina menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya, lalu menaruhnya ke tempat semula. Dia menoleh ke Edward yang sedang marah ke dirinya. Regina tersenyum menggoda ke Edward. Menduduki tubuhnya di atas pahanya Edward. Mengalungkan dua tangannya di leher kokohnya Edward.
"Ayolah kamu tidak usah ngambek, nanti kamu juga dapat jatah. Rafael sedang mabuk berat, mungkin permainan kami hanya sebentar. Ayo kita lanjutin lagi sebelum Rafael datang," bisik Regina dengan sensual sehingga membuat Edward terangsang.
"Baiklah, tapi kamu yang memimpin."
"Ok, dengan senang hati aku puaskan dirimu."
Aku harus menerima tawaran dari mister T supaya aku bisa mendapatkan uang yang banyak dan supaya aku bisa menjauhkan Regina dari permainan Rafael. Semoga lancar rencana kami.
💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐
Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😊😊😊🥰🥰🥰.
__ADS_1
Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna 😊😊😊.
Dukung novel ini dengan like, komen, kasih vote, kasih bintang lima dan kasih hadiah ya, love you 😁😁😁😘😘😘