
Arakan awan yang memiliki karakteristik bentuk seperti bunga kol mengiringi aktivitas Liza dan Rafael yang sedang berjalan ke sebuah toko perhiasan milik tantenya Rafael yang bernama Michelle. Mereka berdua masuk ke dalam toko yang memilki tiga lantai setelah pintu toko yang otomatis tertutup. Liza menyusuri toko itu, sambil melihat - lihat dengan tatapan mata yang takjub. Baru kali ini dia mengunjungi sebuah toko perhiasan berlian. Dia terpukau melihat jejeran perhiasan berlian yang di pajang di dalam beberapa etalase. Sedangkan Rafael menghampiri tantenya yang sedang merentangkan dua tangannya, lalu memeluk dirinya.
"Selamat malam my Son," ucap Michelle sambil memeluk erat Rafael.
"Baik Tante," ucap Rafael sambil membalas pelukan tantenya.
"Tante sudah menyiapkan cincin pernikahan kalian," ucap Michelle sambil melepaskan pelukannya.
"Iya Tante," ucap Rafael sambil melepaskan pelukannya.
"Sepertinya calon istrimu terkesima sama perhiasan berlian yang ada di sini," komentar Michelle sambil melihat Liza yang sedang menatap dengan tatapan mata yang takjub ke sebuah etalase kalung berlian.
Rafael menoleh ke arah tatapan mata tantenya, lalu berucap dengan nada suara yang datar, "Harap dimaklumi Tante, dia orang kampung yang baru tahu perhiasan berlian."
"Aish, jangan ngomong kayak gitu!" ucap Michelle.
Michelle melangkahkan kakinya menghampiri Liza, lalu berkata, "Kamu suka yang mana Sayang?"
Liza menoleh ke Michelle, lalu berucap, "Eh, bagus semuanya Tante. Ehm ... aku bingung, karena aku suka semua kalung yang berada di dalam etalase ini."
"Tante yang pilih ya, nanti kalungnya sebagai hadiah pernikahan kalian dari Tante," ucap Michelle lembut.
"Terima kasih banyak Tante," ucap Liza lembut.
"Tidak usah repot - repot Tante memberikan hadiah kalung berlian, aku aja terpaksa menikahinya," ucap Rafael datar yang melukai hatinya Liza.
"ABANG!" bentak Michelle sambil melebarkan dua matanya ke Rafael. "Kamu tidak boleh ngomong seperti itu!" bentak Michelle. "Liza jangan dimasukin ke hati ya sayang," ucap Michelle lembut sambil menoleh ke Liza.
"Iya Tante," ucap Liza pelan.
Michelle memperhatikan satu persatu kalung berlian yang berada di dalam etalase, lalu dia menemukan sebuah kalung berlian yang sangat indah. Michelle membuka kunci etalase itu dengan menggunakan sidik jarinya. Mengambil kalung berlian itu, lalu menaruhnya di atas etalase.
"Bagaimana, kamu mau?" tanya Michelle tulus.
"Iya Tante, tapi —."
"Nggak usah kamu pikirkan si manusia gunung es itu," ucap Michelle yang memotong ucapan Liza. "Rini, tolong bungkusin kalung ini ya, terus tolong taruh di meja kerja saya," ucap Michelle sopan ke salah satu karyawannya.
"Iya Bu," ucap karyawan itu, lalu menghampiri mereka bertiga.
"Kita ke ruang kerja Tante yuk!" ajak Michelle lembut.
Liza dan Rafael hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lalu mereka melanjutkan langkah kaki mereka ke ruang kerjanya Michelle. Menyusuri beberapa etalase perhiasan berlian. Menaiki sebuah tangga menuju ke lantai dua. Menyusuri beberapa etalase perhiasan berlian lagi dan melewati beberapa ruangan.
"Semua perhiasan yang di lantai dua itu dijual juga Tante?" tanya Liza sopan
"Itu semua pesanan orang sayang, Tante juga jualan online sayang. Semua perhiasan di sini hasil desain Tante sama teman Tante dan Tante memproduksinya sendiri," ucap Michelle lembut.
"Tante hebat bisa memimpin sebuah perusahaan perhiasan ini," puji Liza.
"Terima kasih sayang," ucap Michelle sambil menggeser pintu ruang kerjanya. "Silakan masuk."
"Pabriknya di mana Tante?" tanya Liza sambil masuk ke dalam ruang kerjanya Michelle.
"Pabriknya di Karawang sayang. Silakan duduk," ucap Michelle sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.
Liza terpana melihat satu set perhiasan berlian hitam dengan berlian putih. Satu set berlian dipasang di manekin leher. Liza menghampiri manekin leher itu yang berada di atas meja. Rafael menggeleng - gelengkan kepalanya melihat reaksi Liza yang menurutnya norak. Michelle menghampiri Liza.
__ADS_1
Satu set perhiasan yang sangat kuimpikan. Terima kasih Tuhan.
Batin Liza.
"Kamu suka satu set perhiasan itu?"
"Suka banget Tante," jawab Liza spontan.
"Itu hadiah pernikahan dari Umminya Rafael," ucap Michelle sambil menduduki tubuhnya di atas sofa panjang yang berada di depan meja. "Beberapa hari yang lalu, Irene, Umminya Rafael menelpon Tante. Dia meminta Tante untuk mencarikan satu set perhiasan berlian hitam sebagai kado pernikahan kalian. Kamu pasti sudah tahu Umminya Rafael?"
"Iya Tante, dia salah satu big bos di tempat kerjaku," ucap Liza yang masih terpana dengan satu set perhiasan itu.
"Semua pernikahan anaknya, diberikan hadiah satu set perhiasan berlian hitam. Dia sangat menyukai berlian hitam. Selera yang sangat tinggi dan elegan."
"Sebenarnya aku juga menyukai berlian hitam. Tapi aku tidak mampu untuk membelinya. Aku hanya bisa melihat semua perhiasan berlian dari majalah fashion. Selama ini perhiasan yang suka aku pakai adalah perhiasan Mommyku," ucap Liza sambil duduk di samping kanannya Michelle.
"Pantesan kamu norak banget melihat perhiasan berlian asli di sini," ujar Rafael yang nyelekit sambil duduk santai di sofa single.
"Abang!" bentak Michelle. "Oh ya, Tante akan menunjukkan cincin pernikahan kalian. Sepasang cincin pernikahan pilihan Mami," lanjut Michelle sambil membuka kotak cincin.
"Wah bagus banget Tante cincinnya," ucap Liza sambil menatap takjub ke sepasang cincin pernikahan bermata berlian hitam yang telah disodorkan oleh Michelle.
"Coba dulu cincinnya," ucap Michelle.
"Iya Tante," kata Liza sambil menerima kotak cincin yang disodorkan oleh Michelle.
Tak lama kemudian, Liza mengambil cincin pernikahannya. Memakai cincin itu yang ternyata pas di jari manis tangan kanannya, lalu melentikkan jari - jarinya untuk memperhatikan detail cincinnya yang dihiasi oleh berlian hitam dan berlian putih. Cincin yang terbuat dari emas putih. Rafael menggeleng - gelengkan kepalanya, lalu tersenyum sinis melihat apa yang telah dilakukan oleh Liza.
"Kamu tidak mau mencobanya?" tanya Michelle sambil menoleh ke Rafael.
"Nggak usah Tante," ucap Rafael sambil beranjak berdiri dari sofa.
"Pakainya cuma saat itu aja. Setelah selesai pemberkatan, itu cincin dilepas," ucap Rafael datar sambil berjalan ke jendela ruangan.
"Kamu nggak boleh begitu Bang," ucap Michelle.
"Hey, Oh sehun Eike, ke mana aja Yey," ucap seorang laki - laki gemulai yang membuat Rafael menoleh ke orang itu.
Rafael tersenyum sinis, lalu berucap, "Gw sibuk main - main sama wanita."
"Sekali - kali main - main sama Eike," ucap orang itu sambil berjalan menghampiri Michelle.
"Maaf, gw nggak berminat sama sekali," ucap Rafael jutek, lalu dia melanjutkan langkahnya ke jendela ruangan.
"Dasar manusia gunung es!" umpat orang itu sambil duduk di salah satu sofa single.
"Yey bawa apa?" tanya Michelle sambil menoleh ke orang itu.
"Ini kalung yang tadi Yey suruh bawa ke sini," ucap orang itu sambil menaruh kotak perhiasan berwarna hitam di atas meja.
"Tadi Eike suruh Rini yang bawain tuch barang ke sini, kenapa jadinya Yey?"
"Eike yang minta sama Rini soalnya Eike dengar suara si manusia es. Oh ya, ini pasti calonnya si manusia es itu ya?"
"Iya Om," ucap Liza polos.
"Hahaha, jangan panggil dia Om. Panggil aja Jeng," ucap Michelle spontan.
"Iya panggil aja Eike Jeng Samantha," ucap orang itu sambil mengulurkan tangan kanannya ke Liza.
__ADS_1
"Liza," ucap Liza sambil membalas uluran tangannya Samantha.
"Kamu cantik sekali, masih keturunan Bule ya?" ucap Samantha sambil melepaskan uluran tangan kanannya.
"Terima kasih Jeng Samantha, iya," ucap Liza sambil menurunkan tangan kanannya.
"Selamat malam, permisi," ucap seorang wanita dengan sopan yang tiba - tiba datang sambil berdiri di ambang pintu ruangan.
Sontak Rafael menoleh ke wanita itu, lalu menatap wanita itu dengan tatapan mata yang berbinar. Wanita itu langsung menundukkan kepalanya setelah tatapan matanya bertemu dengan tatapan matanya Rafael. Liza melihat ekspresi wajahnya Rafael yang senang ketika mengetahui kedatangan wanita itu yang mengenakan setelan gamis dengan jilbab panjang yang berwarna biru dongker. Torehan luka di hatinya Liza bertambah dalam melihat itu.
"Selamat malam juga sayang. Masuk Aisya," ucap Michelle ramah.
Ternyata wanita itu adalah Aisya. Cantik sekali orangnya. Tapi kenapa mereka berpacaran padahal keyakinan mereka berbeda?
Batin Liza.
Tak lama kemudian, Aisya masuk ke dalam ruang kerjanya Michelle sambil menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan matanya Rafael yang masih berbinar. Dengan melihat langsung tatapan matanya Rafael ke Aisya, Liza sadar dan yakin bahwa tidak ada tempat di hatinya Rafael untuk dirinya. Aisya duduk di samping kanannya Michelle. Mengangkat wajahnya sedikit, lalu tersenyum manis ke Michelle, Liza dan Samantha secara bergantian. Mereka bertiga membalas senyuman Aisya.
"Maaf Tante, Aisya datang ke sini malam - malam. Aisya ada keperluan mendesak," ucap Aisya lembut dan sopan.
"Kenapa kamu datang ke sini?" ucap Michelle lembut.
"Saya mau jual kalung berlian," ucap Aisya.
"Kenapa kamu mau menjual kalung berlian?" ucap Rafael spontan.
Michelle langsung menoleh ke Rafael, lalu dua matanya melotot ke Rafael. Aisya mengabaikan pertanyaan Rafael. Aisya membuka tasnya untuk mengambil kalung berlian yang ingin dia jual. Mengambil sebuah kotak perhiasan berwarna biru navy. Lalu memberikan kotak itu ke Michelle.
"Kamu butuh uang berapa?" tanya Michelle sambil menerima kotak perhiasan itu.
"Dua ratus juta Tante," jawab Aisya.
"Ya udah, kirimin nomor rekening kamu ke wa Tante ya."
"Terima kasih ya Tante," ucap Aisya senang.
"Iya sama - sama sayang."
"Aisya pamit pulang dulu ya Tante."
"Kenapa buru - buru?" ucap Michelle.
"Soalnya nggak ada yang nungguin Ibu di rumah sakit."
"Ibu kamu sakit apa?"
"Kena serangan stroke."
"Emangnya Mariana nggak bisa gantiin kamu untuk jagain Ibu?"
"Ehmmm."
"Ya udah, Tante udah ngerti kok. Semoga Ibu kamu cepat sembuh ya. Hati - hati ya."
"Iya Tante. Terima kasih ya Tante. Aisya pamit pulang. Selamat malam semuanya."
Tak lama kemudian, Aisya beranjak berdiri dari sofa. Lau menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke Michelle, Liza, dan Samantha secara bergantian sebagai tanda pamit pulang. Mereka bertiga juga membalas senyuman Aisya sambil menganggukkan kepalanya. Aisya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Beberapa detik kemudian, Rafael menyusul langkah kakinya Aisya dengan terburu - buru. Liza menghembuskan nafas panjang berulang kali melihat kelakuan Rafael.
"Oh Sehun masih mencintai Aisya," ujar Samantha spontan sambil melihat kepergian Rafael.
"Samantha!" tegur Michelle.
__ADS_1
"Ops, sorry."
"Kamu harus sabar ya menghadapi sikap dan sifatnya Rafael supaya pernikahan kalian langgeng. Semua orang yang menyayangi kalian, menginginkan pernikahan kalian langgeng."