
"Assalamu'alaikum," salam Aisyah sambil berjalan masuk ke dalam kamar rawat inap Utsman.
Rafael langsung menoleh, lalu berkata dengan suara yang pelan, "Sssttt, jangan berisik Utsman sudah tidur."
Aisyah menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan Rafael. Aisyah menaruh makanan di atas meja samping kiri sofa bed. Lalu melanjutkan langkahnya menghampiri Rafael dan Utsman yang sedang tertidur pulas. Aisyah berdiri di samping kanannya ranjang Utsman dan samping kirinya Rafael. Aisyah mengecup keningnya Utsman. Rafael tersenyum bahagia melihat perlakuan Aisyah kepada anaknya.
Aisyah menoleh ke Rafael, lalu berucap dengan suara yang sangat pelan, "Makasih banyak ya El. Dan maaf banget, malam ini aku datangnya telat."
"Iya nggak apa - apa," ucap Rafael lembut.
"Bagaimana kabarnya Liza?"
"Dia sudah lebih baik."
"Bagaimana perkembangan belajarnya?" tanya Aisyah antusias.
"Masih sama yang kemarin, padahal aku sudah berusaha untuk mencintainya."
"Kamu harus belajar lebih giat lagi," ucap Aisyah sambil berjalan ke sofa bed.
"Iya."
"Oh ya, aku buatkan kerak telor untuk Liza, nanti kamu bawa ya."
"Iya," ucap Rafael yang mengikuti langkahnya Aisyah.
"Aauuww!" pekik Aisyah yang tiba - tiba terpeleset.
Dengan sigap, Rafael langsung menangkap tubuhnya Aisyah dan menahannya. Spontan dua tangannya Rafael memegang erat pinggangnya Aisyah dan Aisyah mengalungkan dua tangannya di leher kokohnya Rafael. Jarak wajah mereka sangat dekat. Tatapan mata mereka saling beradu. Ada sepasang mata yang tak sengaja melihat adegan itu dari balik kaca pintu kamar rawat inap Utsman. Pemilik sepasang mata itu adalah Liza sehingga Liza salah paham atas kejadian itu.
Liza menelan salivanya sebanyak tiga kali. Tiba - tiba nafasnya tercekat. Sekujur tubuhnya kaku, tidak dapat digerakkan sama sekali seperti patung. Detakan jantungnya seakan berhenti. Rasa sakit menyelimuti relung jiwa dan hatinya melihat adegan itu. Liza menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil menutup mulutnya. Bibirnya Liza bergetar yang diiringi dengan aliran air matanya yang lembut. Dadanya semakin sesak, seakan rohnya mau lepas dari raganya. Kemudian Liza membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya dengan tempo yang cepat karena dia ingin segera pergi dari rumah sakit.
Berlari sekuat tenaga, menyusuri lorong demi lorong rumah sakit menuju bagian depan rumah sakit sambil menangis. Dia tidak mempedulikan pandangan orang lain yang melihat dirinya. Dia menghentikan langkahnya di depan rumah. Dia sangat bersyukur karena di depannya ada sebuah taksi yang baru menurunkan penumpang. Dia langsung membuka pintu, lalu masuk ke dalam taksi dan menutup pintu belakang taksi.
__ADS_1
"Mau ke mana Bu?" tanya supir taksi dengan sopan.
"Hiks ... hiks ... hiks ... ke club kamasutra," lirih Liza spontan.
Tak lama kemudian, taksi melaju menelusuri jalanan menuju club kamasutra. Liza memandang pemandangan di luar jendela. Melihat langit malam di kota Jakarta dihiasi kerlap - kerlip ribuan bintang dan cahaya rembulan yang mengiringi aktivitas para manusia pada malam hari. Taksi yang ditumpangi oleh Liza menembus hiruk pikuk keramaian salah satu pasar tradisional kota Jakarta. Keadaan malam di pasar tradisional Kramat Jati sangat hidup dengan segala aktivitas manusia. Pasar yang yang dikenal dengan pasar dua puluh empat jam non stop.
Taksi yang ditumpangi Liza terus melaju menyusuri dengan kecepatan yang pelan karena terjadinya kemacetan. Melewati beberapa kios pedagang ikan di trotoar, tukang makanan, tukang kembang, tukang ayam dan tukang sayuran serta buah - buahan. Ada beberapa pemuda - pemudi sedang asyik mengobrol. Ada beberapa para pedagang makanan sedang berteriak dengan suara lantang untuk menawarkan dagangannya. Ada beberapa transaksi jual beli. Baru kali ini dia melihat langsung keramaian di salah satu pasar tradisional kota Jakarta.
Roda taksi terus berputar melewati keramaian kota Jakarta menuju sebuah jalanan yang lebih sepi dari hilir mudik kendaraan. Liza menyeka air matanya. Menghelakan nafas lalu membuangnya secara perlahan berulang kali sambil melihat pinggir jalan yang dilewati taksi itu yang dihiasi dengan lampu - lampu jalan dan beberapa pohon rindang. Tangisan Liza berhenti ketika empat roda taksi terus berputar dengan kecepatan yang lumayan tinggi hingga melewati gedung - gedung pencakar langit. Melewati jalan besar menuju club Kama Sutra yang berada di dalam crown plaza hotel.
Setelah memakan waktu setengah jam, akhirnya taksi yang ditumpangi Liza berhenti di di depan pintu lobby hotel yang berada di jalan Gatot Subroto. Liza mengambil uang seratus ribu dari tas selempangnya, lalu dia memberikan uang itu ke supir taksi. Supir taksi menerima uang itu. Liza langsung membuka pintu penumpang, lalu keluar dari dalam taksi.
"Nyonya kembaliannya," teriak supir taksi.
"Untuk bapak aja."
"Terima kasih Nyonya."
"Iya sama - sama."
Melihat para pelayan klub malam dengan memakai pakaian yang seksi dan selalu menebarkan senyuman menawan yang hilir mudik menyuguhkan aneka minuman ke seluruh pengunjung. Liza menarik kursi yang berada di depan bartender, lalu mendudukinya. Liza mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, tidak ada satu pun yang dia kenal. Dia melipatkan dua tangannya di atas meja, lalu menaruh wajahnya di sana. Dia menumpahkan rasa kecewa, sedih. Tak terasa air mata Liza mengalir lembut. Liza mengangkat wajahnya.
"Jack Daniels satu botol yang kecil," ucap Liza ke bartender.
"Baik Nona," ucap bartender itu, lalu dia mengambil satu botol Jack Daniels. "Ini Nona," ucap bartender itu sambil membuka penutup botol, lalu memberikan satu botol Jack Daniels ke Liza.
"Terima kasih ya," ucap Liza sambil menerima satu botol Jack Daniels.
Liza langsung meminum minuman itu sekali tenggak. Menaruh botol minuman itu di atas meja. Aliran air mata masih mengalir lembut dari dua matanya Liza. Liza menoleh ke kanan, karena orang yang berada di samping kanannya tengah memperhatikan dirinya. Orang itu tersenyum manis ke Liza. Liza tidak merespon orang itu, malah menenggelamkan wajahnya. Tak lama kemudian, Liza menangis terisak - isak.
"Semua masalah tak perlu ditangisi, kita bawa enjoy aja," ucap orang itu.
Liza mengangkat wajahnya, lalu berucap, "Itu bukan urusanmu."
__ADS_1
"Liza?" tanya Vina yang tiba - tiba datang menghampiri dirinya.
Liza menoleh ke Vina lalu berkata, "Kamu ngapain di sini?"
"Aku mau ketemuan sama temanku, kamu ngapain nangis di sini? Kamu kenapa?" ucap Vina lembut.
"Itu bukan urusanmu. Udah sana ketemuan sama temanmu," ucap Liza sambil mengangkat botol.
"Kami sudah ketemuan, orangnya ada di samping kananmu," ucap Vina tanpa dipedulikan oleh Liza yang sedang menegak minuman Jack Daniels.
"Vin, kamu kenal sama dia?" tanya orang itu.
"Iya, dia salah satu sahabatku."
"Dari tadi dia menangis dan hanya minum - minum. Kayaknya dia punya masalah yang sangat berat," ucap orang itu sambil memperhatikan Liza yang sedang menegak minuman lagi.
"Liza! Sudah minumnya! Jangan banyak - banyak, nanti nggak baik untuk anakmu!" pekik Vina sambil menahan botol yang akan diangkat sama Liza.
Liza langsung menoleh lalu berucap, "Anakku sudah mati dibunuh sama bapaknya sendiri!"
"Omongan kamu jangan ngawur! Ingat kesehatanmu dan anakmu!"
"Aku sudah bilang, anakku sudah mati! Aku keguguran gara - gara diperkosa sama Bang El!" pekik Liza sambil menghempaskan tangan Vina yang menahan botol minumannya.
"Mana mungkin Bang El melakukan itu!"
"Udahlah Vin, nggak usah ditahan, orang mabuk itu suka berkata jujur," ucap orang itu.
"Masa sich Jack?" tanya Vina ke orang itu yang bernama Jack.
"Iya. Biari aja dia melepaskan semua masalahnya," ucap Jack sambil melihat Liza yang sedang meminum minumannya.
"Liza, kamu kenapa?" tanya Vina sedang sambil melihat Liza yang sedang menaruh mukanya di atas meja karena lagi teler.
__ADS_1
"A — nak ku su — dah ma — ti ga — ra ga — Ra a — ku di — per — kosa sa — ma Ba Ng El. Be — nar a — pa ya — ng di — ucapkan o — Leh Re — gina, Bang El ti — dak a — kan per — nah men — cintai di — ri — ku. Se — baik — nya ka — mi ber — pi — sah," ucap Liza yang terbata - bata karena sedang teler.