Asa Diriku

Asa Diriku
Bang El Menghilang


__ADS_3

"Sayang, aku datang untuk menjemputmu," ucap Rafael dengan lembut yang sedang berdiri di depan Jane.


Liza terpana menatap wajah yang tak asing baginya. Bola mata hitamnya yang legam, hidung bangirnya, bentuk mukanya yang oval, rambut hitamnya, bibir mungilnya yang sedang mengembang tersenyum. Rafael membelai rambut panjangnya Liza dengan lembut, lalu menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga kiri milik Liza.


Kringggg ... kringgg ... kringgg ...


Bunyi berisik alarm dari jam weker milik Liza yang memekakkan telinga sehingga membangunkan Liza dari alam bawah sadarnya. Kedua kelopak netranya mulai bergerak pelan, kemudian mengerjap dengan perlahan untuk menyesuaikan dengan cahaya remang - remang di dalam kamarnya. Liza menguletkan tubuhnya dengan mata yang masih belum terbuka sempurna.


Tangan kirinya meraba - raba untuk meraih jam weker yang sudah berbunyi sedari tadi sehingga hampir terjatuh dari atas nakas sebelah kiri tempat tidur. Liza berhasil meraih jam wekernya dan memencet tombol di bagian belakang jam weker untuk mematikan alarmnya, lalu menaruh jam weker itu ke tempat semula.


Liza mengubah posisi tubuhnya dari posisi terlentang ke posisi duduk menyandarkan punggungnya di headboard. Sambil duduk, kedua kelopak matanya yang masih terkantuk - kantuk, dan tangannya mengusap - usap daun telinganya yang terasa berdenging karena bisingnya bunyi alarm tadi. Dia melihat jam wekernya yang menunjukkan pukul enam pagi.


"Whoammm," Liza menguap sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. "Ternyata hanya mimpi," gumam Liza bermonolog.


Kemudian Liza membuka kedua kelopak matanya dengan sempurna. Melihat sinar matahari yang menembus gorden jendela kamarnya dan celah - celah jendela kamarnya. Liza beringsut ke pinggir tempat tidurnya. Beranjak berdiri dari tempat tidurnya. Melangkahkan kakinya ke jendela kamar. Menyibak gorden jendela dan membuka jendela sehingga sinar mentari pagi masuk ke dalam kamar dengan leluasa.


Liza berbalik dan berjalan ke pintu kamar. Membuka kunci pintu kamar dan menekan ke bawah gagang pintu kamarnya hingga pintu kamarnya terbuka secara perlahan. Melangkahkan kakinya ke meja pantry. Liza melihat sosok Jack yang sedang mengoles selai cokelat ke roti gandum. Liza duduk di samping kanannya Jack.


"Roti keinginanmu," ucap Jack lembut sambil menyodorkan roti gandum yang sudah dia kasih selai cokelat.


"Terima kasih banyak ya Jack," ucap Liza ceria.


"Sama - sama," ucap Jack sambil memberikan mayonaise ke roti isinya.


"Ini susu cokelat siapa? Setahuku kamu selalu minum susu putih," ucap Liza sambil mengunyah.


"Punya kamu, itu susu hamil rasa cokelat," ucap Jack sambil mengangkat rotinya.


"Kamu tahu aja kalau aku suka cokelat."


"Semua wanita juga suka cokelat."


"Eh iya bener, semua wanita suka cokelat."


"Badan kamu udah mendingan?"


"Sudah nggak mual lagi, jadi nafsu makan lagi deh."


"Banyakin makan buah - buahan sama sayur - sayuran."


Ting nong ... ting nong ... ting nong ...


Bel pintu apartemen milik Jack berbunyi. Dengan sigap, Liza berdiri sambil memegang tangan kanannya Jack untuk memberikan kode supaya Liza yang membukakan pintu. Jack menganggukkan kepalanya yang mengabulkan keinginan Liza. Liza melangkahkan kakinya ke pintu apartemen. Menyentuh beberapa ikon untuk membuka kunci.


Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya hingga pintu terbuka secara perlahan. Liza tersenyum sopan melihat sosok Irene yang mengenakan satu set pakaian gamis hijau lumut. Irene membalas senyuman Liza dengan penuh kelembutan. Liza meraih tangan kanannya Irene, lalu menyalaminya.


"Silakan masuk Ummi," ucap Liza sambil memiringkan tubuhnya supaya Irene bisa masuk ke dalam.

__ADS_1


Irene membalikkan badannya, lalu berucap ke para pengawalnya, "Kalian tunggu di sini."


"Baik Nyonya," ucap para pengawal Irene dengan kompak.


Irene membalikkan badannya lagi, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Liza menutup pintu apartemen yang otomatis terkunci. Liza mengikuti langkahnya Irene. Irene duduk di sofa single. Sedangkan Liza duduk di sofa panjang. Liza menundukkan kepalanya karena dia merasa bersalah meninggalkan rumah pemberian dari Rogen. Seketika suasana hening.


"Apa kabar Liza?" tanya Irene sopan yang mencairkan suasana.


Liza mengangkat wajahnya, lalu berucap dengan lembut, "Baik Ummi."


"Maaf sebelumnya jika Ummi terlalu ikut campur soal pernikahan kalian. Ummi minta kamu pulang ke rumah, maafkan semua kesalahan Rafael ke kamu dan perbaiki hubungan pernikahan kalian. Ini semua untuk kebaikan dan masa depan anak kalian," ucap Irene lembut.


Ummi tahu dari mana soal aku sedang mengandung anaknya Rafael lagi. Apakah dari Aisyah?


Batin Liza.


"Ummi tahu soal kehamilan kamu, makanya itu Ummi mohon sama kamu untuk memperbaiki rumah tangga kalian."


"Aku pikir - pikir dulu Ummi," ucap Liza pelan.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau, Ummi tidak bisa memaksakan dirimu. Tapi sangat disayangkan jika rumah tangga kalian berakhir."


"Kenapa bukan Bang El yang memintaku balik ke rumah?"


"Rafael menghilang, semalam rombongan mobilnya dihadang oleh komplotan mafia. Rafael berhasil keluar dari jebakan mereka. Rombongan mobilnya dikasih gas obat tidur sehingga mereka tidak menyadarkan diri. Dengan menggunakan itu, mereka bisa menculik Rafael tanpa mengganggu lingkungan sekitar. Tapi rencana mereka gagal, Rafael berhasil keluar dari kepulan asap gas obat tidur yang menyelimuti bagian dalam mobil. Dia lari entah ke mana, sampai sekarang belum ditemukan. Oh ya, Ummi baru ingat, karena kejadian itu, kami sangat khawatir juga sama keadaanmu. Karena itu pula, kami meminta kamu pulang ke rumah," ucap Irene lembut.


"Tapi kamu juga harus dijaga sama para bodyguard demi keamanan dirimu dan bayi kalian. Aku mohon kamu jangan menolaknya."


"Selama ada aku di sampingnya, Liza dan bayi - bayi itu aman," celetuk Jack sambil a berjalan menghampiri mereka.


Irene dan Liza menoleh ke Jack, lalu Irene berucap, "Apakah kamu yakin bisa menjaganya?"


"Iya. Tak akan kubiarkan orang - orang jahat menyentuh adikku dan anak - anaknya," ucap Jack sambil menduduki tubuhnya di samping kanannya Liza.


"Bayi - bayi, anak - anak, apakah kamu mengandung anak kembar?" ucap Irene ragu sambil menoleh ke Liza.


"Iya Ummi."


"Alhamdulillah. Kalian harus menjaganya dengan ekstrak hati - hati. Apakah Rafael sudah mengetahuinya?"


"Belum Ummi. Dari kemarin sore aku menghubungi Bang El sudah banget jadi sampai sekarang Bang El belum mengetahui hal itu. Oh ya Ummi, apakah Mami sudah mengetahui soal Bang El menghilang?"


"Sebaiknya untuk sekarang ini dia tak perlu tahu."


"Memangnya kenapa Mami tak perlu tahu?" tanya Liza bingung.


"Karena kami tidak mau membuyarkan kebahagiaan dirinya yang sedang mempersiapkan pernikahan Rachel. Nanti jika ada waktu yang tepat, kami akan memberi tahunya. Waktu kamu menghilang aja, dia panik apalagi jika dia mengetahui soal Rafael menghilang, bisa - bisa persiapan pernikahan Rachel berantakan."

__ADS_1


Kringgg ...


Smartphone milik Jack berdering sehingga menghentikan pembicaraan mereka. Jack mengeluarkan smartphone miliknya dari kantung celana jinsnya. Mengeryitkan dahinya saat membaca tulisan maminya Rafael di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kanannya.


"Hallo, selamat pagi Tante Clara," sapa Jack sopan.


"Pagi juga, ada Lizanya?"


"Ada Tante, tunggu sebentar ya," ucap Jack sopan, lalu dia menyodorkan smartphonenya ke Liza.


Liza menerimanya, lalu berkata, "Hallo, selamat pagi Mami."


"Wilujeng enjing oge. Anjeun masih hirup kalawan Jack?"


"Enya Mami."


"Kamari teu balik ka imah?"


"Henteu Ema."


"Naha? Henteu éta yén sanggeus anjeun nelepon Mami tina handphone Jack, anjeun langsung balik ka imah?"


"Kusabab kuring masih hoyong nyalira heula."


"Sabenerna dua poe katukang, Rafael teu ngajak ka imah kan? Jawab Jujur Liza!"


"Enya Mamah."


"Naon anu anjeunna lakukeun di dinya?"


"Anjeunna ukur naros upami kuring hoyong ngabéréskeun masalah rumah tangga urang."


"Naon budak kurang ajar! Teu anéh ti tadi peuting, Mami teu bisa sok nelepon. Tétéla manéhna nyingkahan Mami. Ti kamari Mami mikirkeun neruskeun nikahna. Nepi ka ayeuna, kuring henteu terang naon anu bakal kajadian salajengna. Kamari anjeun nelepon ka Mami ngan pikeun nanya kumaha kaayaanana, barina ogé, waktu éta Mami sibuk, jadi teu nyaho naon lajengkeun nikah anjeun. Anjeun masih hoyong tetep nikah anjeun katuhu?"


"Masih mikir - pikir Mi."


"Naha anjeun terang kumaha Rafael ayeuna?"


"Abdi henteu terang Mi."


Maafkan aku Mami, tidak memberi tahu soal Bang El menghilang.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih telah membaca novelku ini 🤗🤗.


Dukung novel ini ya para reader yang baik hati dengan like, komentar, vote dan hadiah 😁😁.

__ADS_1


__ADS_2