
Liza meminum teh manis buatannya di dalam kamar hotel untuk menguatkan fisiknya yang hanya tidur sekitar tiga jam. Setelah kepergian Rafael dari kamar hotel setelah pesta perayaan pernikahan mereka, Liza tidak bisa tidur sampai akhirnya sekitar jam duaan dia tertidur di sofa. Liza menaruh tehnya di atas meja kecil yang berada di samping kiri sofa panjang.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu yang menggebu telah mengagetkan Liza. Liza melirik jam yang terpasang di salah satu dinding yang menunjukkan pukul lima pagi. Liza mengernyitkan dahinya untuk berfikir.
"Siapa yang datang ke sini padahal masih jam lima pagi? Jangan - jangan Bang El?" gumam Liza bermonolog.
Liza langsung beranjak berdiri. Melangkah kakinya ke pintu kamar. Membuka kunci pintu, lalu menekan handle pintu ke bawah. Menarik gagang pintu hingga pintu terbuka secara perlahan. Liza terkejut melihat tubuhnya Rafael yang sedang ditampah sama dua bodyguardnya karena tubuhnya Rafael tak berdaya. Liza memiringkan badannya untuk memberikan tiga orang itu masuk ke dalam kamar. Liza mengikuti langkah orang - orang itu. Dua orang bodyguardnya Rafael membaringkan tubuhnya Rafael di atas kasur.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Liza ke dua orang bodyguardnya Rafael.
"Tuan habis mabuk Nyonya," jawab salah satu bodyguardnya Rafael.
"Kenapa dia bisa mabuk?"
"Kami tidak tahu Nyonya," ucap yang satunya lagi.
"Bagaimana kalian tidak tahu? Sedangkan semalaman Rafael bersama kalian!" ucap Liza sedikit kesal.
"Maaf Nyonya kami tidak ada wewenang untuk memberi tahunya," ucap orang itu.
"Cih, ya udah sana kalian pergi dari sini. Jangan lupa tutup pintunya."
"Baik Nyonya."
Tak berselang lama, dua orang itu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Keluar dari kamar, lalu menarik gagang pintu untuk menutup pintu kamar. Liza duduk di tepian tempat tidur sebelah kanan. Memperhatikan wajahnya Rafael yang lusuh. Liza melihat luka lembab di bagian kanan mukanya Rafael. Liza membelai luka itu sambil mempertanyakan sesuatu.
Apa yang telah terjadi dengan dirimu Bang El?"
Batin Liza.
Tiba - tiba Rafael menangkap pergelangan tangan kanannya Liza. Menciumi punggung telapak tangan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Liza mengerutkan dahinya menerima perlakuan manisnya Rafael. Rafael mengarahkan tangannya Liza ke dada sebelah kanannya. Jantungnya Liza berdegup kencang.
"Rasakan detak jantungku jika bersama dirimu Aisyah?" gumam Rafael mengeluarkan aroma alkohol yang sangat menyengat di hidungnya Liza.
__ADS_1
What!? Bang El menganggap diriku sebagai Aisyah?"
Batin Liza.
"Bang El, aku bukan Aisyah, aku istrimu!" ucap Liza kesal.
"Iya, kamu adalah istriku," ucap Bang El mengigau.
"Bang El sadar! Aku bukan Aisyah!"
Bang El tersenyum manis sambil melepas genggaman tangannya, lalu berucap, "Selamat malam Aisyah istriku."
"What!? Bang El sadar!" ucap Liza sambil menggoyangkan tangannya, tapi Bang El tidak bereaksi. "Huh ... dasar orang lagi mabuk."
Liza berdiri, lalu berjalan ke arah bagian bawah ranjang. Membuka sepatu Rafael satu per satu. Membawa sepatunya Rafael ke rak sepatu yang berada dekat dengan pintu kamar hotel. Menaruh sepasang sepatu milik Rafael di bagian atas rak. Mengunci pintu kamar, lalu melangkahkan kakinya ke area tempat tidur. Duduk lagi di tepian ranjang sebelah kanan. Membuka satu per satu kancing kemeja hitamnya Rafael.
Tiba - tiba Rafael menarik dua tangannya hingga badan bagian atas Liza jatuh di atas dada bidangnya Rafael dan bibirnya Liza berada di atas bibirnya Rafael. Tanpa menunggu jeda, Rafael ******* bibirnya Liza dengan lembut sambil menekan tengkuk lehernya Liza. Liza terkesiap menerima perlakuan Rafael. Rafael menggigit bibir bawahnya Liza hingga Liza membuka mulutnya.
Rafael menelusup lidahnya ke dalam mulutnya Liza sambil menghisap mulut bawahnya Liza. Karena terhipnotis sama perlakuan Rafael, Liza membalas ciuman Rafael. Mereka saling *******, menghisap, menautkan lidah, mengabsenkan deretan gigi hingga saling bertukar saliva. Dua tangannya Rafael menjelajah area dadanya Liza. Sedangkan Liza menahan tubuh bagian atasnya dengan menekukan dua tangannya di samping kanan kirinya Rafael agar tidak terlalu memberatkan Rafael.
"Aahh," ******* Liza yang sedang merasakan gelayar - gelayar nikmat di sekujur tubuhnya.
Tanpa disangka, Rafael menghentikan kegiatannya, lalu membalikkan badannya Liza sehingga Rafael berada di atasnya Liza. Rafael membuka piyama Liza sehingga dia melihat dua benda sintal. Rafael langsung mengulumnya secara bergantian sehingga terdengar suara - suara Liza yang bergairah. Rafael menghentikan kegiatannya, lalu menegakkan badannya.
"Kamu sungguh nikmat Aisyah," ucap Rafael dengan suara yang serak.
"Bang El aku bukan Aisyah, kamu tidak boleh menjadikan Aisyah sebagai objek fantasi liarmu, dia istrinya saudaramu!" ucap Liza marah tapi Rafael tidak ngeh dengan ucapan Liza karena pengaruh alkohol.
Rafael langsung melahap bibirnya Liza dengan penuh nafsu sambil mengarungi dua gunung secara bergantian. Liza meronta - ronta dan dua kakinya Liza berjuntai di tepian tempat tidur bergerak ke sana kemari untuk memberontak namun usahanya sia - sia belaka karena tubuhnya dikukung sama tubuh kekarnya Rafael. Lama kelamaan, gerakan Rafael melemah. Rafael menghentikan kegiatannya. Menjatuhkan tubuhnya di samping kanannya Liza, lalu tertidur dengan mendengkur.
"Huh ...," Liza menghelakan nafas panjang yang kesekian kalinya.
Menduduki tubuhnya, lalu berdiri. Mengambil piyamanya yang tergeletak di atas lantai, lalu memakainya. Dengan sekuat tenaga membenarkan posisi tidurnya Rafael. Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah enam pagi. Berjalan ke walking in closet. Membuka salah satu pintu lemari baju, lalu mengambil celana training dan kaos. Menaruh pakaian itu di atas bangku kecil. Menutup pintu lemari itu. Membuka piyama tidurnya, lalu menaruhnya di keranjang pakaian kotor. Memakai celana training dan kaosnya. Pagi ini Liza mau ikut lari pagi sama Rachel, Rania, Meilissa dan Lily.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
__ADS_1
Smartphone milik Liza berdering di atas nakas sebelah kiri ranjang. Liza berjalan cepat ke nakas itu. Mengambil smartphonenya, lalu melihat nama Rania di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo Liz, kamu jadi nggak ikut lari pagi? Dari tadi kita tungguin nggak nongol - nongol," cerocos Rania sedikit kesal.
"Jadi, tunggu sebentar ya," ucap Liza nggak enak hati.
"Udah cepetan ke sininya! Kapan lagi kita bisa lari pagi bareng diva internasional."
"Iya."
Tut ... tut ... tut ... sambungan telepon terputus secara tiba - tiba. Liza menaruh smartphone miliknya ke tempat semula. Melanjutkan langkah kakinya ke pintu kamar hotel. Mengambil sepasang sepatu olahraganya. Mengambil sepasang kaos kaki di dalam sepatunya. Memakai kaos kakinya, lalu memakai sepatunya. Membuka kunci pintu, lalu menekan handle ke bawah. Menarik knop pintu hingga pintu terbuka secara perlahan. Keluar dari dalam kamar, lalu menutup pintunya.
"Ayo kita lari pagi," ucap Liza ke dua bodyguardnya yang baru ganti shif sambil melihat dua bodyguardnya secara bergantian.
Tak lama kemudian, Liza bersama dua bodyguardnya menyusuri lorong kamar hotel dengan langkah kaki yang cepat. Pintu lift terbuka yang menampilkan sosok Aisyah yang lusuh, tampak lelah, tampak sedih dan tampak sedang melamun. Liza mengernyitkan dahinya melihat kondisi Aisyah.
Ada apa dengan Aisyah?
Batin Liza yang sedang berjalan masuk ke dalam lift.
"Selamat pagi Aisyah," sapa Liza riang yang membuyarkan lamunan Aisyah sambil menekan tombol penahan pintu lift agar terbuka lebih lama lagi.
Aisyah langsung menyadarkan dirinya, lalu berucap dengan sopan, "Pagi juga Liz. Kamu sendirian aja? Ke mana Rafael?"
"Iya, Rafael sedang tidur," ucap Liza.
Alhamdulillah Rafael baik - baik aja.
Batin Aisyah.
"Kamu mau keluar?" lanjut Liza.
"Eh, iya," ucap Aisyah yang malu sendiri, lalu dia melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift.
Pintu lift tertutup. Liza bersama dua bodyguardnya berdiri di tempatnya masing - masing. Selama di dalam lift Liza berfikir tentang Aisyah yang tampak sedang mengalami masalah, tentang Aisyah yang menanyakan Rafael, tentang kenapa Rafael mabuk sehingga pulang ke kamar hotel pada jam lima pagi.
__ADS_1
Apa yang telah terjadi sama mereka?