
Hari ini adalah hari membeli gaun untuk pemberkatan nikah. Setelah pulang kerja, Liza dan Rafael pergi ke salah satu bridal terkenal di Jakarta. Maminya Rafael sudah menunggu di sana dari jam lima sore. Mereka menggunakan mobil Lamborghini milik Rafael menyusuri jalanan ibukota yang banyak sekali antrian mobil ke tempat bridal itu berada. Setibanya di depan sebuah ruko yang lebih besar dari ruko yang lainnya, mobilnya Rafael berhenti melaju.
Liza dan Rafael membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobil. Mereka menutup pintu mobil, setelah keluar dari mobil. Liza dan Rafael masuk ke dalam sebuah bangunan yang memiliki tiga lantai. Suasana hiruk pikuk bridal menyelimuti langkahnya Regina dan Rafael menuju sebuah ruangan bos pemilik bridal. Rafael mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Pandangan matanya tertuju pada ruangan yang besar di sudut kiri lantai dasar Bridal. Rafael membelokkan langkahnya ke ruangan itu. Liza mengikuti langkahnya Rafael.
Tok ... tok ... tok ...
Rafael mengetuk pintu ruang kerjanya pemilik bridal. Pintu ruangan itu terbuka. Seorang wanita separuh baya yang membuka pintu tersenyum ramah ke Regina. Rafael dan Liza membalas senyuman itu. Wanita itu mengulurkan tangan kanannya ke Liza, lalu mengajaknya untuk cipika - cipiki.
"Ini pasti yang namanya Eliza?" ucap wanita paruh baya itu sambil melepaskan tangan kanannya.
"Iya Tante," ucap Liza yang sopan.
"Dan ini pasti Rafael," ucap wanita paruh baya itu, lalu memeluk Rafael dengan erat.
"Sekarang kamu sudah besar ya Nak," ucap wanita paruh baya itu sambil mengusap lembut punggungnya Rafael.
"Iya Tante," ucap Rafael yang sopan sambil membalas pelukan wanita paruh baya itu.
"Kamu semakin ganteng aja," ucap wanita paruh baya itu sambil melepaskan pelukannya.
"Terima kasih Tante Cintya," ucap Rafael sambil melepaskan pelukannya.
"Ayo silakan masuk," ucap Cintya.
Tak lama kemudian mereka masuk ke dalam ruangan itu, lalu Cintya menutup pintu. Liza menghentikan langkahnya karena takjub melihat sebuah gaun pengantin berwarna putih gading dengan potongan off shoulder di bagian atas gaun yang melekat di manekin. Sedangkan Rafael dan Cintya berjalan menghampiri sofa panjang, lalu mendudukinya.
"Apakah kamu sangat menyukai gaun itu?" tanya Cintya sambil menoleh ke Liza.
"Iya Tante Cintya," ucap Liza senang sambil menoleh ke Cintya.
"Gaun itu pilihan Maminya Rafael," ucap Cintya sambil menyilangkan kakinya.
"Oh ya Tante, sekarang Mami di mana?" tanya Rafael sambil menoleh ke Cintya.
"Mami sama Rachel sedang cari gaun pesta untuk acara pemberkatan pernikahan kalian."
__ADS_1
"Udah lama perginya Tante?" tanya Liza sambil berjalan menghampiri sofa single.
"Baru, sekitar sepuluh menit yang lalu. Kamu mau memakai gaun itu untuk acara pemberkatan pernikahan kalian?"
"Iya Tante," ucap Liza sambil menduduki tubuhnya di atas sofa.
"Ok. Kamu mau fitting gaun di sini atau di ruang fitting baju?"
"Terserah Tante aja," ucap Liza yang sopan.
"Ok, fitting gaunnya di sini aja ya," ucap Cintya sambil berdiri dari sofa panjang.
Liza menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan Cintya. Kemudian Cintya melangkahkan kakinya ke meja kerjanya untuk mengambil peralatan kerjanya. Rafael beranjak berdiri, lalu melengos pergi. Liza hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya melihat Rafael berjalan ke pintu ruang kerjanya Cintya. Cintya melangkahkan kakinya menghampiri Liza sambil membawa alat - alat kerjanya.
"Rafael kamu mau ke mana?" tanya Cintya sambil berjalan.
"Aku mau cari Mami," ucap Rafael sambil memegang handle pintu.
"Mami kamu berada di bagian baju pesta di lantai dua," ucap Cintya sambil menaruh peralatannya di atas meja.
Tak lama kemudian, Rafael keluar dari ruangan itu. Menutup pintu itu, lalu melangkah kakinya ke lantai dua. Melewati beberapa manekin dan etalase baju pengantin. Naik ke lantai atas, mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan di lantai dua untuk mencari sosok maminya. Dia melihat sosok Regina sedang memilah gaun pesta yang berada di dekat maminya yang sedang memilah gaun pesta juga. Rafael menghentikan langkahnya, lalu mengumpat di balik dua manekin sambil mengamati gerak - gerik Regina.
Ngapain juga Regina beli gaun pesta di sini?
Batin Rafael.
Dari kejauhan, Rafael melihat maminya sedang mengobrol santai dengan Regina sampai mereka tertawa renyah. Regina bersalaman sama maminya Rafael, lalu bersalaman sama Rachel. Rafael curiga dengan sikapnya Regina yang tiba - tiba mudah akrab dengan orang lain yang baru dikenal. Rafael mengeryitkan dahinya karena berfikir tentang dibalik sikap ramahnya Regina terhadap orang lain.
Ini pasti ada udang di balik batu.
Batin Rafael.
Rafael memantau Regina yang sedang berjalan ke arah ruang pas. Dia mengikuti langkahnya Regina dengan langkah kaki yang sangat hati - hati supaya tidak diketahui keberadaannya. Regina menutup tirai supaya tidak kelihatan dari luar. Membuka mini dress merahnya. Ketika dia ingin menggantungkan pakaiannya, tiba - tiba Rafael masuk ke dalam kamar pas. Regina sedikit terkejut melihat sosok Rafael yang datang menghampiri dirinya. Rafael mendorong tubuhnya Regina, mengungkung tubuhnya Regina di salah satu dinding kamar pas sehingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.
"Kamu menguntit diriku gara - gara semalam aku tidak datang ke apartemen kamu?"
__ADS_1
"Kamu jangan ge er, aku ke sini karena aku ingin membeli gaun pesta. Sebentar lagi kan kamu mau menikah sama Liza, jadi aku harus datang," ucap Regina sambil mengusap lembut senjata pamungkas milik Rafael.
Rafael tersenyum sinis, lalu berucap, "Kamu tahu dari siapa tentang itu?"
"Eehhmmm ... Edward. Oh ya tadi aku berkenalan sama Mami dan Adik kamu, mereka cantik semua, dan baik," ucap Regina santai.
"Kamu bilang sama mereka sebagai apanya aku?"
"Teman dekat. Apakah setelah kamu menikah, kita bisa dekat seperti biasanya?" ucap Regina sambil meremas lembut senjata pamungkas milik Rafael.
"Lihat aja nanti," ucap Rafael datar sambil merasakan sentuhan Regina yang sensual.
"Apakah nanti di acara pemberkatan pernikahan kalian aku diundang?"
"Tidak, yang diundang hanya keluarga dan para sahabat."
"Masa aku nggak diundang, padahal aku salah satu sahabatmu," ucap Regina sambil membuka kaitan ikat pinggangnya Rafael.
Rafael tertawa sumbang, lalu berucap, "Sahabat dari Hongkong, kamu tuch hanya sebagai salah satu mainanku di atas ranjang."
"Awalnya seperti itu, tapi lama kelamaan itu semua berubah menjadi satu - satunya wanita yang selalu bersama dengan dirimu di dalam ikatan pernikahan," ucap Regina sambil membuka kaitan celananya Rafael.
"Khayalanmu terlalu tinggi."
"Kita lihat saja nanti," ucap Regina sambil meremas senjata pamungkasnya Rafael tanpa ada penghalangnya.
Tak lama kemudian, Regina memiringkan mukanya, lalu mencium bibirnya Rafael dengan lembut sambil meremas senjata pamungkas milik Rafael. Rafael membalas ciuman dari Regina sambil membelai paha kanannya Regina. Lama kelamaan, ciuman mereka memanas. Bibirnya Regina beralih ke leher kokohnya Rafael sambil membuka celana panjangnya beserta kain segitiga milik Rafael.
Dengan cekatan, Regina menurunkan bahan yang menutupi bagian bawah tubuhnya Rafael. Berjongkok, lalu memberikan servis yang sangat memuaskan bagi Rafael, sehingga tanpa sengaja Rafael mengeluarkan *******. Tidak sengaja, Liza yang sedang mencari Rafael untuk memberi tahu informasi tentang pembelian setelan jas pernikahan, mendengar ******* Rafael.
"Sepertinya itu suara Rafael," ucap Liza sambil mempertajam dua gendang telinganya.
Untuk memastikan itu benar atau salah, Liza nekat masuk ke dalam kamar pas yang berada di sebelah kanan kamar pas yang sedang dipakai oleh Regina dan Rafael untuk melakukan hubungan intim. Liza naik ke atas meja untuk memastikan apakah dugaannya benar atau tidak. Liza membulatkan dua matanya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya karena terkejut melihat adegan yang telah dilakukan oleh Regina dan Rafael.
Aku harus siap lahir batin menerima dia apa adanya.
__ADS_1
Batin Liza.