
Hari ini Liza sudah kembali ceria karena dia tidak mau terhanyut sama masalahnya. Dia memasuki gedung tempat kerjanya dengan wajah yang sumringah. Seperti biasa dia selalu bersikap ramah kepada orang yang melihat dirinya dengan sopan. Bunyi hak high heels yang dipakai oleh Liza terdengar menggema saat menapaki lantai lobby. Melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya sambil melihat jam yang tertera di arloji miliknya.
Jam tangannya menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Liza berdiri di depan lift bersama karyawan yang lainnya. Liza melihat satu lift yang dipalang hingga terjadi penumpukan di depan lift yang lainnya. Liza menoleh ke samping kanan lift, dia melihat wajah tampannya Rafael yang sedang menelpon dengan aura wajah yang menyeramkan.
"Hey Liza!" sapa Rianto, teman kerjanya yang satu divisi dengan dirinya sambil menepuk bahu kanannya.
Rianto adalah senior Liza di tempat kerja. Mereka satu divisi di perusahaan konstruksi bangunan yang bernama IR Design And Contractor. Mereka bekerja di divisi produksi sebagai arsitek.
"Iya, ada apa Mas?" ucap Liza
"Kamu sudah menyelesaikan desain arsitektur eksterior tiga tipe rumah untuk proyek perumahan di Surabaya?" tanya Rianto.
"Sudah Mas."
"Bagus. Nanti pas dirapat akan dibahas. Kita harus persiapkan diri untuk berhadapan langsung dengan Pak Rafael saat rapat."
"What?" ucap Liza terkejut.
'Iya, nanti dia yang mimpin rapatnya," ucap Rianto.
Ting
Pintu lift terbuka lebar. Orang - orang masuk ke dalam lift, termasuk Liza dan Rianto. Rianto memencet tombol angka 8 di dinding lift. Pintu lift tertutup secara otomatis. Liza langsung menundukkan kepalanya karena bingung mencari cara untuk menata hatinya jika berhadapan dengan Rafael setelah masalah itu.
"Aku dengar dia orangnya galak dan bossy. Dan aku perhatikan, dia orangnya angkuh," ujar Rianto.
"Dia orangnya moody," celetuk Liza spontan.
"Moody? Berarti dia bersikap tergantung suasana hatinya? Kamu kenal dia sudah lama?"
"Ehmmm ... nggak juga. Dia kakak sambungnya salah satu sahabatku."
"Kamu sahabatnya siapa? Setahu aku, dia punya adik sambungnya yang bernama Maryam masih kecil."
"Aku sahabatnya Rachel."
"Rachel?"
"Iya. Dia sama Rachel satu ibu."
"Oooo. Oh ya, tolong nanti kamu yang bawa semua berkas proyek yang sedang dilakukan, yang sudah selesai dan yang akan dilakukan. Proyektor dan laptop aku yang bawa.
"Ok Mas."
Pintu lift terbuka lagi. Liza mengadahkan kepalanya. Mereka melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift. Menyusuri lantai delapan menuju ruang kerjanya. Rianto menggeser pintu ruang kerja mereka hingga pintunya terbuka. Liza menaruh tasnya di atas meja kerja. Mengambil portofolio desain eksterior berbagai macam tipe rumah di rak buku.
"Rapatnya jam delapan kan Mas?" tanya Liza sambil mengambil tasnya.
"Iya," ucap Rianto sambil mengutak - ngatik laptop.
"Aku duluan ke ruang rapatnya ya Mas," pamit Liza.
"Iya," ucap Rianto.
__ADS_1
Liza keluar dari ruangannya. Dia sengaja datang ke ruang rapat lebih dulu karena untuk menenangkan hatinya sebelum bertemu dengan Rafael. Liza melangkahkan kakinya dengan terburu - buru melewati beberapa kubikel. Liza menekan handle pintu ruang rapat ke bawah, lalu mendorong pintu hingga pintunya terbuka. Liza melebarkan dua netranya karena kaget melihat sosok Rafael yang sedang sibuk membaca berkas.
"Masuk kamu!" titah Rafael dingin ketika melihat Liza membalikkan badannya.
Spontan Liza mematung. Hatinya berdebar kencang. Liza membalikkan lagi badannya. Tersenyum kaku ke Rafael, lalu menutup pintu ruang rapat. Melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruang rapat. Aura wajah Liza menampakkan ketegangan dan grogi. Dia berjalan sambil meremas dua telapak tangannya dan menundukkan kepalanya.
"Silahkan duduk," ujar Rafael datar.
Tak berselang lama, Liza duduk di samping kanan Rafael dengan jarak tiga buah kursi kerja dari posisi Rafael duduk. Menaruh berkas - berkas di atas meja dan tasnya di atas lantai. Desiran lembut menelusuri aliran darahnya dan detak jantung yang tak beraturan berkecamuk di dirinya hingga dirinya menjadi gugup. Namun dia berusaha meminimalisir semua rasa yang ada di hatinya
"Eliza Fransisca Tobing, kenapa kamu menunduk terus?" tanya Rafael sambil menatap intens Liza yang masih menundukkan kepalanya.
"Eh ...," suara Liza gugup.
"Kamu gugup berduaan sama saya di sini karena rasa cinta kamu ke saya," ucap Rafael dengan penuh percaya diri.
Waduh kok dia bisa tahu?
Batin Liza
"Kamu tidak sopan karena kamu menundukkan kepala saat orang lain sedang berbicara denganmu," ujar Rafael sambil menatap Liza.
Liza mendongakkan kepalanya dengan rona merah di pipinya, lalu berucap, "Ma β af Pak."
Wajah cantiknya telah membuatku rindu pada malam pertama kami berhubungan intim. Wajah cantik yang menggoda, bibir ranumnya yang sensual, dua bola matanya yang indah. Sepertinya dia mau menjadi salah satu teman di atas ranjangku? Tapi, waktu itu dia menyesal telah melakukan berhubungan intim denganku. Aku harus mencari cara supaya dia mau.
Batin Rafael.
Rafael beranjak dari kursi rapatnya. Berjalan pelan ke samping kanan sambil memasuki kedua telapak tangannya ke dalam saku celana. Tatapan kedua mata Liza mengekori gerak - gerik Rafael dengan mimik muka yang gugup sambil meremas kuat dua telapak tangannya. Rafael menyeringai licik melihat mimik mukanya Liza dan rona merah yang menyelimuti pipinya. Rafael menarik kursi yang berada di samping kirinya Liza, lalu mendudukinya.
"I β ya, Pak," jawab Liza gugup karena pandangan mata mereka bertemu.
"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?"
"Su β dah, satu tahun Pak."
"Kalau tidak ada orang lain selain kita, panggil Bang El aja," ucap Rafael lembut.
"Iya Bang El."
"Apakah kamu mau makan malam bersamaku?" tanya Rafael lembut sambil menoleh ke Liza.
Apakah aku sedang bermimpi?
Batin Liza
"Eehhhmmm, benarkah Bang El mengajakku makan malam?" ucap Liza malu - malu kucing.
"Iya," ucap Rafael sambil menatap intens ke Liza
"Kapan makan malamnya?"
"Hari Sabtu."
__ADS_1
"Maaf Bang El, aku sudah ada janji sama teman - temanku," ucap Liza pelan.
"Oh ya? Sama Rachel?"
"Nggak. Rachel nggak bisa pergi."
"Memangnya mau pergi ke mana?"
"Kami janjian di Sate Senayan, Grand Indonesia."
"Sama siapa aja?"
"Vina, Bety, dan Citra. Kami sekalian cari baju untuk acara pemberkatan pernikahan Rachel."
Sialan dia telah menolak ajakanku.
Batin Rafael.
Rafael mendekatkan wajahnya ke wajah cantiknya Liza dengan tatapan mata yan intens. Tatapan matanya Rafael telah membuat desiran di rongga hatinya bergejolak dan detakan jantungnya bertambah kencang. Rafael tersenyum licik melihat dua mata milik Liza berbinar - binar. Rafael ******* dan menghisap daging tak bertulang milik Liza sambil memejamkan dua matanya. Liza sedikit kikuk mengikuti alur permainan Rafael karena dia takut melakukan berhubungan intim dengan Rafael lagi.
"Ups, sorry," ucap Rianto sambil memegang handle pintu.
Sontak Rafael melepaskan ciumannya, lalu berucap dengan nada suara yang ketus, "Jika mau masuk, ketuk pintu dulu. Masuk kamu, jangan lupa tutup pintunya!"
"Ma β af Pak, iya Pak" ucap Rianto gugup.
Rianto masuk ke dalam ruang rapat, lalu menutup pintu. Rafael mendorong kursinya, lalu beranjak berdiri. Melangkahkan kakinya ke kursinya, lalu mendudukinya dan membaca beberapa berkas pekerjaan. Rianto menyiapkan proyektor untuk presentasi proyek sambil melirik Liza yang sedang menundukkan kepalanya.
"Liz," panggil Rianto.
Liza menoleh ke Rianto, lalu berucap, "Ada apa Mas?"
"Siapkan file portofolio dan berkas proyek kita."
"Eh, iya Mas."
Tak lama kemudian, Liza menaruh portofolio dan berkas beberapa proyek yang ditangani oleh IR Design And Contractor di setiap meja peserta rapat. Ketika dia memberikan berkas dan portofolio beberapa proyek ke Rafael. Rafael menoleh ke Liza, lalu menghapus noda lipstik di pinggiran mulutnya Liza dengan ibu jari tangan kanannya. Liza terpaku mendapatkan perlakuan seperti itu dari Rafael. Tak sengaja Rianto melihat adegan itu. Rianto langsung mengalihkan pandangannya.
Rupanya Liza telah mengincar Pak Rafael.
Batin Rianto.
"Permisi Pak, saya mau ke toilet dulu," ucap Liza sedikit gugup.
"Iya, tapi jangan lama - lama, sebentar lagi rapat dimulai," ucap Rafael datar sambil membaca berkas.
Huh! Tadi romantis sekarang cuek. Dasar manusia yang tidak punya pendirian!
Umpat Liza di dalam hati.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah membaca novelku yang ini π. Jangan lupa kasih like, vote, hadiah, bintang lima, dan komentar ya π. Salam hangat dariku ππ.