
Apa yang harus aku lakukan?
Batin Liza ketika melihat Clara dan Rachel berjalan menghampiri dirinya, sedangkan Rafael sedang bercinta dengan seorang wanita panggilan di salah satu kamar yang berada di lantai atas.
Liza tersenyum kikuk ke Clara dan Rachel. Rachel dan Clara tersenyum manis ke Liza. Liza menyalim Clara ketika berada di depan Clara dan Rachel. Rachel langsung memeluk erat tubuhnya Liza setelah menyalim Clara. lol
Liza membalas pelukan Rachel. Sedangkan Clara berjalan ke ruang tamu sambil membawa tas jinjing. Clara mengedarkan pandangannya ke penjuru lantai dasar penthouse. Duduk di salah satu satu sofa single.
"Abdi sono ka anjeun," ucap Rachel sambil melepaskan pelukannya.
"Abdi sono ogé ka anjeun," ucap Liza sambil melepaskan pelukannya.
"Kumaha kaponakan abdi?"
"Alus."
"Duduklah Rachel," ucap Liza, lalu mereka berjalan ke ruang tamu penthouse.
"Dimana Rafael?" tanya Clara ketika melihat Liza berada di depannya Clara.
"Di lantai luhur Mi," ucap Liza sambil menduduki tubuhnya di sofa panjang.
"Naon anu anjeunna lakukeun di luhur?"
"Olahraga Mih. Mamah hoyong ngobrol sareng anjeunna?"
"Sumuhun."
"Kuring gé panggil anjeun Mi."
"Sumuhun."
"Antosan sakedap, mangga. Mami sareng Rachel hoyong nginum naon?" ucap Liza sopan.
"Anjeun teu kudu bikin, Mami jeung Rachel teu haus. Kusabab tadi peuting urang réngsé dinner jeung kulawarga Steve urang."
"Punten Mi, abdi mawa tas jinjing Mami ya?"
"Henteu, antepkeun éta Rafael."
"Sumuhun."
Liza beranjak berdiri dari sofa, lalu berjalan ke lantai atas. Melangkahkan kakinya di setiap anak tangga tanpa menoleh ke lukisan - lukisan karyanya Aisya karena dia cemburu. Dia cemburu karena Aisya masih ada di hatinya Rafael bukan dirinya. Setelah mencapai di puncak tangga, Liza menajamkan dua telinganya untuk mencari suara - suara yang bergairah nafsu. Setelah mendengar suara ******* wanita yang berada di dalam kamar Aisya yang dulu. Aisya melangkahkan kakinya ke ujung lorong lantai.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ...
Liza mengetuk pintu kamar itu berkali - kali tapi pintunya tidak dibuka juga. Akhirnya dengan keberanian, Liza menekan gagang pintu kamar itu ke bawah, lalu mendorongnya secara perlahan hingga pintunya terbuka. Liza menelan salivanya berulang kali. Tubuhnya kaku mematung tidak dapat digerakkan sama sekali dan nafasnya tercekat. Detak jantungnya berhenti berdetak, rasa sakit mencengkeram relung hatinya ketika melihat langsung Rafael sedang bergelut di atas tempat tidur dengan seorang wanita tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
Mereka nampak sedang memasuki satu sama lain dengan nafsu yang bergelora. Liza menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Jiwanya seakan dicabut oleh malaikat Izroil melihat ini semua. Dadanya terasa sangat sesak. Bibirnya Liza bergetar yang diiringi dengan tumpahan air matanya. Kemudian Liza melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar dengan langkah yang berat. Liza menutupi pintu kamar, supaya orang lain tidak tahu keadaan sekarang ini.
"Bang El ...."
Suara Liza terdengar sendu yang begitu pilu. Adegan hubungan intim antara Rafael dan wanita lain telah menyayat hatinya Liza. Liza memegang dadanya yang sangat sesak sambil menangis terisak untuk kesekian kalinya. Rafael dan wanita itu nampak begitu terkejut melihat keberadaan Liza di dalam kamar. Rafael mendengus kesal lalu mendorong tubuhnya wanita itu. Wanita itu melepaskan diri dari tubuhnya Rafael, lalu wanita itu duduk bersandar di atas ranjang. Rafael beranjak berdiri dari tempat tidur, lalu mengambil celananya yang tergeletak di atas lantai. Liza menundukkan kepalanya ketika Rafael menatap tajam ke dia sambil memakai celananya.
"Shittt! Gangguin permainan orang aja! Dasar orang yang tak punya otak, main masuk aja ke dalam kamar!" umpat Rafael.
Liza mengadahkan wajahnya, lalu berucap, "Hey! Kalau ngomong yang benar dong! Tadi aku udah mengetuk pintu kamar berkali - kali tapi nggak dibukain! Mamimu dan Rachel ada di bawah! Mereka ingin bicara sama kamu!" ucap Liza kesal.
Rafael mengerutkan keningnya, lalu berucap, "Ita kamu tetap di sini, jangan ke mana - mana! Nanti kita lanjutin lagi!"
"Siap Bos," ucap wanita itu yang bernama Ita.
Rafael melengos pergi ke pintu kamar. Menekan handle pintu ke bawah lalu menarik pintu kamar dengan kasar hingga pintu terbuka. Rafael melangkahkan kakinya dengan tergesa - gesa menuju lantai bawah. Liza melihat wanita itu sedang tersenyum sinis ke dirinya. Liza tidak mau ngambil pusing dengan sikap wanita j*l*ng itu. Dia langsung membalikkan badannya, lalu berjalan keluar dari dalam kamar.
"Dasar istri yang tak dianggap!" ucap Ita ketus ketika Liza berada di ambang pintu kamar.
Liza menarik nafas panjang, lalu menghela nafas dengan kasar. Dia keluar dari kamar, lalu menutup pintu kamar dengan kasar. Dia melanjutkan langkahnya, tapi entah ke mana. Dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya ke Rachel dan Mami. Dia menatap sebuah pintu kamar yang berada di samping kirinya sambil menangis tanpa mengeluarkan suara. Di menekan handle pintu kamar itu ke bawah, lalu mendorongnya dengan pelan hingga pintu kamar terbuka. Sebuah kamar yang didesain dengan ala klasik modern. Dia masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar itu.
Dia melanjutkan langkahnya ke kamar mandi yang berada di dalam kamar. Melewati pintu kamar mandi. Mendekati bibir westafel, lalu membuka kran. Membasuh mukanya berkali - kali supaya tidak ada lagi tetesan air mata yang mengalir. Dia menatap wajahnya sendiri di depan cermin. Tersenyum ke dirinya sendiri. Samar - samar, Liza mendengar derap langkah beberapa orang yang sedang menunju ke kamar yang dia singgahi. Dia keluar dari kamar mandi. Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Clara, Samuel, dan Rafael.
"Wilujeng wengi Om," sapa Liza sopan.
"Wilujeng wengi oge Liz."
"Ngapain kamu di sini?" tanya Rafael datar sambil melangkah kakinya masuk ke dalam kamar.
"Aku habis beresin kamar ini," ucap Liza spontan sambil berjalan menghampiri Samuel, lalu menyalin tangan kanannya Samuel. "Mami, Om, Liza pamit keluar ya."
"Enya," ucap Clara lembut.
"Punten," ucap Liza sambil berjalan melewati Clara, Samuel dan Rafael.
"Mangga."
Tak lama kemudian, Liza berjalan melewati pintu kamar menuju puncak tangga. Melewati beberapa ruangan yang berada di lantai dua. Begitu melewati kamarnya Aisya yang dulu, vhatinya bertambah luka. Liza menuruni anak tangga dengan langkah yang terburu - buru karena dia tsk kuasa menahan air matanya yang sudah tergenang di pelupuk matanya. Berlari ke kamar utama penthouse. Menutup pintu, lalu membuka kimono bahan satinnya. Melempar kimononya ke sembarangan tempat.
Berjalan ke arah tempat tidur. Naik ke ranjang, merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Meringkuk ke sebelah kanan sambil menangis terisak. Buliran demi buliran mengalir deras ke pipinya hingga mengenai bantal tidurnya. Pintu kamar terbuka secara perlahan. Liza menoleh ke pintu kamar. Dia melihat sosok Rafael yang sedang berjalan masuk ke dalam kamar, lalu menutup dan mengunci pintu kamar. Rafael melanjutkan langkahnya menghampiri Liza sambil menyeringai licik ke Liza. Tiba - tiba tubuhnya Liza menegang karena Liza tahu apa yang diinginkan oleh Rafael, Rafael menginginkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi," ucap Rafael lembut sambil naik ke atas tempat tidur.
"Maksud Bang El apa?" ucap Liza sedikit kikuk.
"Kamu harus dihukum karena permainan tadi belum usai. Kamu harus menyelesaikannya sekarang juga," bisik Rafael.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Translate
Abdi sono ka anjeun \= Saya kangen sama kamu
Abdi sono ogé ka anjeun \= Saya juga kangen sama kamu.
Kumaha kaponakan abdi \= Bagaimana keponakan saya.
Alus \= Baik.
Dimana Rafael \= ke mana Rafael.
Di lantai luhur \= Di lantai atas.
Naon anu anjeunna lakukeun di luhur \= Ngapain dia di atas.
Olahraga Mih. Mami hoyong ngobrol sareng anjeunna \= Olahraga Mi, Mami mau ngobrol sama dia.
Sumuhun \= Iya.
Kuring gé panggil anjeun Mi \= Saya mau panggil dia Mi.
Antosan sakedap, mangga. Mami sareng Rachel hoyong nginum naon \= Tunggu sebentar, permisi. Mami sama Rachel mau minum apa.
Anjeun teu kudu bikin, Mami jeung Rachel teu haus. Kusabab tadi peuting urang réngsé dinner jeung kulawarga Steve urang \= Kamu nggak usah bikin, Mami sama Rachel habis makan malam sama keluarganya Steve.
Punten Mi, abdi mawa tas jinjing Mami ya \= permisi Mi, saya mau bawa tas jinjingnya Mami ya.
Henteu, antepkeun éta Rafael \= jangan, biar Rafael aja.
Wilujeng wengi Om \= Selamat malam Om.
Wilujeng wengi oge Liz \= Selamat malam juga Liz.
Punten \= permisi.
__ADS_1
Mangga \= silakan.