Asa Diriku

Asa Diriku
Langkahi Dulu Mayatku!


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading 🤗


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


Edward menelisik gerak - gerik Liza beserta para bodyguardnya. Edward menyesap kopi Americano sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul enam sore. Dia memperhatikan Liza yang sudah selesai belanja di salah satu supermarket ternama di Jakarta. Edward berdiri dari kursinya setelah menaruh cup plastik di atas meja. Edward keluar dari coffee shop ternama di dunia. Mengikuti langkahnya Liza yang menyusuri lobby mall menuju pintu keluar mall.


"Liza!" panggil Edward sambil berlari kecil untuk menyusul langkahnya Liza.


Liza beserta para bodyguardnya menghentikan langkahnya, lalu Liza menoleh dan berucap, "Aa Edward?"


"Hai, apa kabar?" ucap Edward semangat sambil menoleh ke Edward.


"Baik. Kabar Aa Edward gimana?"


"Baik, eh, kamu sendirian aja? El masih di rumah sakit?"


"Iya. El udah pulang dari rumah sakit, tapi dia perlu beberapa kali terapi supaya bisa jalan lagi."


"Kamu udah balik ke rumah?"


"Masih di apartemen saudara."


"Kenapa belum balik?"


"Yah gitu dech."


"Pulang bareng yuk! Sekalian kita cerita - cerita."


"Tapi para bodyguardku gimana?"


"Mereka tetap di mobilmu, kamu naik mobilku, nanti mobilmu ngikutin mobilku. Gimana?"


"Ok dech," ucap Liza, lalu dia membalikkan badannya menghadap para bodyguardnya.


"Aku naik mobilnya Pak Edward, nanti kalian ikuti kita ya."


"Siap Nyonya," ucap Melinda.


Liza membalikkan menghadap Edward, lalu berucap, "Kamu parkir di mana?"


"Di valley."


"Ya udah ayo kita ke apartemen saudaraku."


Tak lama kemudian, mereka melangkahkan kakinya ke tempat parkir yang VVIP. Menelusuri bagian depan lobby mall hantu hingga keluar dari mall lewat pintu utama mall. Edward membelokkan langkahnya ke kiri, Liza mengikuti langkahnya Edward. Sedangkan para pengawalnya jalan lurus menyeberangi jalan pemberhentian sementara untuk mobil di depan pintu utama mall.


Edward menekan tombol di kunci pintu mobilnya sehingga berbunyi alarm. Edward dan Liza membuka pintu mobil. Masuk ke dalam mobil, lalu menutup pintu mobil. Memakai sabuk pengaman, lalu Edward mengunci semua pintu mobil. Edward menghidupkan mesin mobil, lalu memarkir mobilnya hingga melajukan mobilnya menuju pintu keluar parkiran mobil mall.


"Bagaimana kabarnya Florence?" ucap Liza sambil menoleh ke Edward.


"Nggak tahu," ucap Edward.


"Kok nggak tahu?"


"Kami sudah putus," ucap Edward sambil membuka kaca mobilnya untuk membayar uang parkir.


"Sayang banget kalian putus, padahal kalian pasangan yang serasi."


"Yah, namanya juga nggak jodoh," ucap Edward sambil menutup kaca jendela. "Kamu kenapa nggak balik ke rumah?" ucap Edward sambil melajukan mobilnya keluar dari pekarangan mall.


"Karena dia tidak mau."


"Kenapa dia nggak mau?"


"Karena dia mengira anak yang kukandung bukan anaknya dia," ucap Liza sedih sambil menundukkan kepalanya.


"Benar - benar kurang ajar sekali si El!" ucap Edward sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. "Oh ya, apartment saudara kamu di mana?"


"Apartemen Mega Kuningan," ucap Liza sambil melihat jalanan yang lumayan ramai.

__ADS_1


"Kita lewat jalan tikus ya, soalnya di depan macet," ucap Edward sambil memperhatikan jalanan.


"Terserah Aa Edward."


Tak lama kemudian, Edward membelokkan mobilnya ke arah kiri jalanan, lewati wilayah Antasari. Liza memandang gedung - gedung pencakar langit, ruko - ruko dan beberapa rumah penduduk menghiasi pinggir jalanan yang dilewati oleh mereka. Tak lama kemudian, Edward membelokkan mobilnya ke arah kanan jalanan.


"Kamu jauh banget belanjaannya," ujar Edward.


"Tadi aku sekalian tes pekerjaan."


"Kamu mau kerja lagi?"


"Iya."


"Minta aja sama mertuamu, pasti kamu keterima tanpa harus dites lagi."


"Aku nggak mau."


"Kenapa nggak mau?"


"Karena aku nggak mau berhubungan sesuatu yang bersangkutan dengan Rafael lagi. Rencananya lusa aku mau mengurus surat gugat cerai."


"Kamu mau cerai sama Rafael?"


"Iya."


"Udah yakin?"


"Iya."


"Sangat disayangkan."


"Kenapa sangat disayangkan?"


"Kasihan mereka, perceraian dapat menghambat perkembangan psikologi mereka."


"Aku sudah tidak tahan lagi bersanding sama Bang El," ucap Liza sambil melihat kaca spion. "Kok mobil mereka nggak ada ya? Padahal tadi mereka masih ngikutin kita."


"Masa sih?"


"Iya. Aku telepon Melinda, takut ada apa - apa," ucap Liza.


"Hallo selamat malam Nyonya, salah satu ban mobil kami bocor. Nyonya ke apartemennya Tuan Jack kan sama Tuan Edward?" ucap Melinda.


"Iya."


"Nanti kami nyusul ke sana Nyonya."


"Baiklah. Ya udah dulu ya Bu Melinda. Bye."


"Bye."


Liza menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya. Menyentuh ikon merah untuk memutuskan panggilan telepon itu. Menaruh smartphonenya di tempat semula, lalu menutup resleting tas selempangnya. Dia menoleh ke Edward yang sedang fokus mengendarai mobil. Tiba - tiba mobil oleng. Liza menjadi panik.


"A, kenapa mobilnya?"


"Kayaknya remnya blong," ucap Edward panik sambil mengarahkan mobilnya ke tepi jalan, lalu menarik rem tangan mobil hingga mobil berhenti mendadak.


"Ooppss," ucap Liza yang mau terpelanting ke depan.


"Aku cek dulu ya," ucap Edward sambil membuka sabuk pengaman.


"Iya."


Tak berselang lama, Edward membuka kunci pintu mobil, lalu membuka pintu kemudi mobil. Keluar dari dalam mobil. Berjalan ke bagian kap depan mobilnya. Membuka tutup kap mobilnya. Liza melihat area sekitar tempat pemberhentian mobilnya. Dia mengeryitkan keningnya karena di sekitarnya ada area tanah kosong.


Di daerah mana ini.


Batin Liza.


Liza membuka sabuk pengaman. Membuka pintu mobil, lalu keluar dari dalam mobil. Berjalan menghampiri Edward yang sedang mengutak - ngatik mobilnya. Liza menepuk pelan bahu kirinya Edward. Edward menoleh ke Liza.


"A kita berada di daerah mana?" tanya Liza sedikit takut.


"Pasar Minggu. Kamu tak perlu takut," ucap Edward sambil menegakkan badannya.

__ADS_1


"Telepon bengkel langganan Aa aja," ucap Liza yang masih ketakutan.


"Kamu tenang aja," ucap Edward santai.


Tiba - tiba ada mobil Jeep menghampiri mereka yang membuat Liza kaget. Ada dua orang keluar dari mobil Jeep itu. Dua orang yang memiliki body yang tinggi besar. Dua orang itu memakai seragam safari warna hitam. Mereka tersenyum licik ke Liza dan Edward. Liza menoleh ke Edward yang berjalan mendekati mereka.


"Maaf kalian siapa ya?" tanya Edward sopan.


Tanpa aba - aba salah satu dari mereka menonjok muka kirinya Edward hingga membuat Edward terjatuh dan keluar darah dari ujung kiri bibirnya. Liza berlari kecil ke Edward. Membantu Edward berdiri. Salah satu dari mereka langsung membekap Liza, lalu membius Liza dari hidungnya hingga tubuhnya Liza lunglai tak berdaya. Edward melepaskan dua tangannya Liza di bahu kanan kirinya.


"Kalau nonjok jangan keterlaluan lah," ucap Edward kesal ke orang yang menonjoknya.


"Yah ilah, cuma segitu aja ngeluh," ucap orang itu.


"Hey kalian!" ucap Jack yang sedang berlari menghampiri mereka.


Sontak Edward dan dua orang itu terkejut melihat sosok Jack yang sedang berlari menghampiri mereka. Tiba - tiba Edward menonjok orang byangbtadi menonjoknya dengan sangat keras sehingga orang itu terjatuh. Orang yang memegang tubuhnya Liza kaget karena tidak sesuai dengan rencana mereka.


"Ayo kamu berdiri!" ucap Edward penuh sandiwara sambil memasang kuda - kuda. "Jack kamu ambil Liza dari orang itu!"


Jack langsung menendang mukanya orang yang sedang membekap tubuhnya Liza hingga terjatuh. Dengan sigap, Jack meraih tubuhnya Liza. Jack menaruh tubuhnya Liza di atas jalanan. Jack melihat orang yang tadi dia tendang sedang beranjak berdiri. Jack memasang kuda - kuda.


"Kamu siapa? Bikin kacau rencana kita aja!" cerocos orang itu.


"Kamu tak perlu tahu siapa saya! Saya minta kalian jangan menculik Liza! teriak Jack kesal.


"Cih! Dasar anak ingusan, langkahi dulu mayat kita! ucap orang itu.


"Hey kalian yang dari komplotan The Dragonfly! Tolong hentikan rencana kalian!" ucap Aisyah yang tiba - tiba datang menghampiri mereka dan membuat mereka kebingungan


"Hah siapa lagi wanita itu!?" ucap orang itu sambil melihat Aisyah yang sedang berjalan santai.


"Saya minta kepada kalian untuk menghentikan rencana kalian," ucap Aisyah sopan.


"Hey Ibu haji, anda nggak usah ikut campur urusan kami," ucap penjahat yang satunya lagi.


"Wanita itu adalah saudara saya, jadi saya ingin melindungi dirinya."


"Untuk sekarang ini, Ibu haji nggak bisa melindunginya," ucap orang itu sopan.


"InsyaAllah saya bisa," ucap Aisyah yakin.


"Hahaha, Bu haji lagi lelucon sama kita," ucap yang satunya lagi.


"Tidak," ucap Aisyah mantap.


Benar apa yang pernah dikatakan oleh Rafael jika Aisyah adalah ahli bela diri. Tapi kenapa dia ada di sini, bisa runyam nich penculikannya. Sebaiknya dua cecenguk itu serang Aisyah dulu.


Batin Edward.


Tak lama kemudian, Edward memberikan kode ke dua penjahat untuk menyerang Aisyah secara bergantian. Dua orang penjahat itu langsung menyerang Aisyah. Mereka menendang Aisyah dari dua arah, tapi langsung Aisyah tangkis dengan tangannya. Aisyah mundur satu langkah, lalu menendang mereka dengan gerakan putaran yang sangat cepat hingga dua penjahat itu terpental. Edward dan Jack yang menyaksikan langsung melebarkan mata mereka.


"Jack! Bawa Liza pergi dari sini dan tolong antarkan Liza ke rumah barunya!" teriak Aisyah.


"Tapi,"


"Kamu tenang aja, aku bisa ngurus mereka bertiga," ucap Aisyah yakin.


"Bertiga? Kan penjahatnya cuma ada dua orang," ucap Jack bingung sambil mengangkat tubuhnya Liza.


"Tidak, di sini penjahatnya ada tiga orang. Edward kenapa kamu melakukan ini?" ucap Aisyah sambil menatap tajam ke Edward dan dua orang yang memiliki tubuh tinggi besar secara bergantian.


"Kamu mencurigai diriku?" ucap Edward ketus sambil menatap tajam ke Aisyah.


"Kamu tak perlu bersandiwara lagi, kamu telah bergabung sama mereka," ucap Aisyah serius.


"Hhhmmm, betul sekali. Aku melakukan ini karena aku dibayar mahal sama mereka."


"Berarti kamu telah mengkhianati arti dari sebuah persahabatan."


"Pers*t*n sama arti persahabatan!" ucap Edward kesal.


"Jika kamu dendam sama Rafael, jangan libatkan orang yang tak bersalah," ucap Aisyah serius.


"Peduli s*t*n dengan itu semua! Serang wanita itu!" ucap Edward.

__ADS_1


Tak lama kemudian, dua penjahat itu menyerang Aisyah. Dengan tangkas Aisyah menangkis serangan mereka, lalu Aisyah dengan gerakan kecepatan kilat membalas serangan mereka. Sedangkan Edward mengejar Jack yang sedang berlari sambil membawa tubuhnya Liza. Jack membuka pintu mobil, lalu memasuki tubuhnya Liza di jok mobil bagian belakang. Jack menutup pintu mobil. Ketika Jack mau membalikkan tubuhnya, tiba - tiba Edward melemparkan pukulannya, tapi dengan sigap Jack menghindar. Jack langsung memukul bagian perutnya Edward sehingga membuat Edward terjatuh.


"Jika kalian menginginkan Liza, langkahi dulu mayatku!


__ADS_2