
Semua penonton film keluar dari ruangan teater bioskop termasuk rombongan gengnya Liza. Mereka menyusuri lorong menuju lobby bioskop menembus keramaian orang - orang. Setelah sampai di lobby, mereka duduk di bangku panjang sambil menyandarkan bahu mereka.
"Liza, Abdi hoyong ka wc, abdi bakal ninggalkeun kantong abdi sareng anjeun," ucap Rachel sambil beranjak berdiri, lalu memberikan tasnya ke Liza.
"Iya," ucap Liza sambil menerima tasnya Rachel, tak lama kemudian Rachel melangkahkan kakinya menerobos keramaian para pengunjung bioskop.
"Si Rachel enak ya, dua tahun setelah lulus kuliah udah mau nikah aja sama Steve," ujar Citra.
"Iya, kapan sich acara pertunangan mereka?" ucap Vina.
"Minggu depan," kata Liza.
"Mereka udah lama ya pacarannya?" tanya Bety.
"Udah empat tahunan, benar nggak Liz?" ucap Vina sambil menoleh ke Liza.
"Iya. Empat tahun lebih lima bulan dua puluh satu hari," ucap Liza.
"Kamu bisa aja nambahi lamanya mereka pacaran," samber Bety.
"Emang segitu lamanya mereka pacaran."
"Kamu ngitungi Liz?" tanya Citra.
"Nggak juga, itu sich seingatku."
"Eh, kalian masih ingat nggak nama kakaknya Rachel siapa?" tanya Vina.
"Rafael, si Rachel manggilnya Bang El," celetuk Bety.
"Eh Vin, ada Oh Sehun tuch," ucap Citra sambil menunjuk Rafael yang sedang berjalan dengan dagunya, lalu Vina, Bety dan Liza menoleh ke arah dagunya Citra.
Anjirrrr, ternyata benar dugaanku. Orang yang aku tabrak tadi adalah kakaknya Rachel. Alah Makkkk gantengnya! Kalau ganteng begini, aku mau menjadi cinta sejatinya
batin Liza sambil menatap Rafael dengan tatapan mata yang berbinar.
"Panjang umur tuch orang," samber Bety dengan raut wajah yang terpesona melihat wajahnya Rafael.
"Anjirrrr, ganteng bangetttt Bang El," ucap Vina yang terkesima menatap wajahnya Rafael.
"Kira - kira dia mau nggak ya sama aku?" ucap Citra yang terpana melihat wajahnya Rafael.
"Ekhmmm," deheman Rafael yang membuyarkan mereka.
"Eh, ada Bang El," ucap Vina dengan nada suara yang genit.
"Bang El mau jemput siapa?" tanya Citra dengan nada suara yang menggoda.
"Rachelnya ke mana?" tanya Rafael datar sambil mengedarkan pandangannya.
"Lagi ke toilet," jawab Liza.
Rafael langsung menoleh ke Liza dengan tatapan mata yang tajam sambil mengerutkan dahinya. Liza langsung mematung sambil merasakan desiran lembut di relung hatinya. Citra, Vina dan Bety saling memandang bingung setelah melihat Rafael menatap tajam ke Liza, lalu mereka mengedikkan bahunya.
Maeumgwa bandaero apeun mari nawa
Neoreul himdeulge haetteon
Nado naega himdeun geol
Dajimgwa dareuge naajin ge eopseo
Neul shilmanghage haetteon
Nado huhwehaneun geol
Ijeul su eopseul geot gata
Barami chagaweojimyeon
Ipgimeul bureoseo
Sumkkyeoreul manjideon bam
Haengbokan useumsoriro
Pogeunhi kkeureoaneumyeo
Byeolppitcheoreom binnal
Naeireul kkumkkudeon bam
Bunyi dering smartphone milik Rachel berbunyi yang mengalihkan perhatian Liza. Liza membuka resleting tasnya Rachel, lalu mengambil smartphone milik Rachel. Liza melihat sebuah kata 'Mamiku' di layar smartphone milik Rachel. Rachel menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu, lalu mendekatkan benda pipih pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo, selamat malam Tante," sapa Liza yang sopan.
"Hallo Neng Geulis. Kumaha damang?" ucap Maminya Rachel yang bernama Clara atau sering di panggil dengan sebutan Tante Rara.
__ADS_1
"Baik Tante. Tante gimana kabarnya?
"Muhun. Mentang - mentang geus lila cicing di Jakarta, teu kungsi nyarita basa Sunda. Dimana Rachel?" ucap Clara dengan lembut.
"Hehehe, lagi ke toilet Tante."
"Naha adina Rachel datang pikeun ngajemput?"
"Udah Tante."
"Punten pasihan hp ka adina Rachel. Tante hoyong ngobrol sareng anjeunna."
"Iya Tante."
Tak lama kemudian, Liza memberikan handphonenya Rachel ke Rafael. Dengan gerakan cepat, Rafael mengambil benda pipih itu, lalu mendekatkan smartphone milik Rachel ke telinga kirinya.
"Iya Mami, ada apa?
"Mangga ajak Liza ka payuneun kosan. Mami hariwang mun balik peuting sorangan sorangan."
"Iya Mami," ucap Rafael dengan nada suara yang terpaksa.
"Kumaha sora anjeun henteu sapertos kitu? Mangga mantuan eta bakal diganjar. Anjeunna budak bageur, sering ngabantosan Mamih masak. Waktos Mamah ngantunkeun anjeunna kaluar wengi nyalira."
Rafael menghela nafas panjang untuk menetralkan rasa kesalnya sama Liza yang menodai kemejanya, lalu berucap, "Iya Mami."
"Punten pasihan hp, Mamih hoyong ngobrol sakedap."
"Iya Mami."
Tak lama kemudian, Rafael memberikan handphonenya Rachel ke Liza. Liza tersenyum manis sambil menerima handphone itu, tapi Rafael tidak respon senyuman Liza. Liza mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Iya Tante," ucap Liza yang ramah dan sopan.
"Engké anjeun bakal diantar ka imah jeung adina Rachel."
"Hatur nuhun Tante. Tapi ulah ngaganggu. Abdi tiasa mulih nyalira," ucap Rachel sopan dan sungkan yang membuat semua temannya terkejut.
"Teu bisa nolak. Kudu hayang Néng geulis."
"Iya Tante."
"Punten ka Rachel, énjing jam dalapan énjing-énjing badé uih deui ka Bandung. Engke di jemput ku papina mangga dugikeun salam ka Tante sadayana."
"Iya Tante."
"Wilujeng wengi Tante Rara geulis."
Tak berselang lama, hubungan telepon itu diputuskan oleh maminya Rachel. Liza menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya, lalu menaruhnya ke tempat semula. Semua temannya menoleh ke Liza dengan raut wajah yang iri. Liza menoleh ke semua temannya yang iri sama dirinya karena bisa pulang bareng sama Rafael yang mereka sukai. Liza menjadi salah tingkah dan merasa tidak enak hati melihat respon dari teman - temannya.
"Kalian semua dapat salam dari Tante Rara," ucap Liza sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Eh, geus aya Bang El," ucap Rachel dengan nada suara yang kikuk.
"Ayo kita pulang!" ajak Rafael datar.
"Hayu," ucap Rachel sambil mengambil tasnya yang berada di atas pangkuan Liza.
"Ajak pulang bareng temanmu itu," ucap Rafael datar sambil menunjuk Liza dengan dagunya.
"Hah? Dupi anjeunna dibawa ka bumi ogé?" ucap Rachel dengan nada suara yang bingung.
"Iya. Kakak disuruh Mami anterin dia."
"Liz, hayu urang balik," ajak Rachel.
"Iya," ucap Liza sambil beranjak berdiri.
"Rachel, aku boleh nggak pulang bareng kalian?" ucap Vina dengan nada suara yang manja.
"Tidak boleh," samber Rafael ketus.
"Yah ... padahal aku takut pulang sendirian," ucap Vina dengan nada suara memelas.
"Alah kamu Vin, bisa aja modusnya. Biasanya kamu juga sering pulang sendirian di malam hari," celetuk Bety.
Vina langsung mendelikkan ke dua matanya ke Bety, lalu berucap, "Ihhh kamu, nggak bisa dijaga tuch congor!"
"Udah jangan berantem. Guys kita pulang duluan ya," ucap Liza sambil menoleh ke Vina, Bety dan Citra.
"Iya. Semoga kamu beruntung," ucap Citra.
"Beruntung apaan?" tanya Liza.
"Beruntung mendapatkan hatinya Oh Sehun," jawab Citra.
"Hehehe," cengengesan Liza. "Ya udah teman - teman, kami pulang ya," pamit Liza.
__ADS_1
"Iya," ucap Bety.
"Ayo cepatan!" ucap Rafael sedikit ngebentak.
"Iya, meni nggak sabaran," celetuk Liza.
Rafael langsung menatap tajam ke bola matanya Liza. Sontak Liza menundukkan kepalanya. Rachel menggandeng tangan kirinya Liza. Liza dan Rachel menganggukkan kepalanya sebagai tanda pamit pulang. Vina, Bety dan Citra merespon kode itu dengan menganggukkan kepala mereka. Tak lama kemudian, Rachel, Liza dan Rafael melangkahkan kakinya keluar dari mall. Mereka berjalan berdampingan. Liza berada di tengah - tengah.
"Benar kata kamu. Bang El orangnya arogan, meni nyebelin pisan," bisik Liza.
"Husss," bisik Rachel memberi kode supaya Liza tidak membahas tentang Rafael di depan orangnya.
"Oh ya, tadi Mami kamu telepon. Tante Rara bilang, besok jam delapan pagi kamu harus pulang ke Bandung dan nanti dijemput sama Papi kamu."
"Sumuhun," ucap Rachel. "Heuh, kuring kakara inget. Bi Imah meuli baju pesta keur incuna. Bang El, ngiringan mésér baju, nya?" lanjut Rachel sopan sambil menoleh ke Rafael.
"Iya," jawab Rafael datar.
Mereka melangkahkan kakinya menuju toko baju anak - anak yang bermerek internasional. Rachel melepaskan tangannya dari tangannya Liza ketika mereka memasuki toko baju itu. Rachel berjalan menghampiri rak gantungan baju anak perempuan. Liza dan Rafael mengikuti langkahnya Rachel. Rachel memilah beberapa baju anak perempuan.
Ketika Liza hendak ingin membantu memilih baju, tiba - tiba Liza berteriak sambil melompat ke belakang, "Ya Tuhan apa itu!?"
Ternyata ada seorang anak kecil yang mendorong kakinya sehingga membuat Liza kaget setengah mati dan melompat ke belakang. Tak sengaja, Liza menabrak dada bidangnya Rafael sehingga Rafael spontan ke dua tangannya memegang erat pinggangnya Liza. Semua orang menoleh ke Liza. Liza hanya ketawa cengengesan ketika dia melihat semua orang menoleh ke dirinya.
"Dasar wanita ceroboh! Udah dua kali kamu menabrakku!" ucap Rafael ketus sambil melepaskan ke dua tangannya dari pinggangnya Liza.
Liza menoleh ke Rafael, lalu berucap, "Maaf, aku nggak sengaja."
"Oh ... rupanya kamu di sini Richard," ucap seorang wanita sambil membungkukkan badannya di depan rak baju anak perempuan.
"Hehehe," ketawa seorang anak laki - laki sambil keluar dari kolong rak baju anak perempuan.
"Maafkan anak saya ya Mbak," ucap wanita itu dengan memelas sambil menoleh ke Liza dan Rafael.
"Iya nggak apa - apa Bu, namanya juga anak - anak," ucap Liza sopan.
"Ayo Mom kita pergi dari sini," ucap anak itu sambil menarik rok ibunya.
"Iya, kami duluan ya Mbak," ucap wanita itu, lalu wanita itu dan anak laki - laki itu melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar toko baju itu.
"Sana, jangan terus - terusan dekati saya!" ucap Rafael ketus sehingga membuat Liza mendengus kesal.
Huhhh, dasar cowok sombong.
batin Liza.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Terima kasih ya sudah membaca novelku yang ini 😊. Jangan lupa ya kasih like, hadiah, komen dan bintang lima 😊.
Translate
Abdi hoyong ka wc, abdi bakal ninggalkeun kantong abdi sareng anjeun \= Aku mau ke toilet, aku titip tasku sama kamu.
Hallo Neng Geulis. Kumaha damang \= Hallo anak yang cantik. Bagaimana kabarnya.
Muhun. Mentang - mentang geus lila cicing di Jakarta, teu kungsi nyarita basa Sunda. Dimana Rachel \= Baik. mentang - mentang tinggal di Jakarta, nggak pakai bahasa Sunda. Ke mana Rachel.
Naha adina Rachel datang pikeun ngajemput \= Kakaknya Rachel udah ngejemput.
Punten pasihan hp ka adina Rachel. Tante hoyong ngobrol sareng anjeunna \= Tolong kasihkan handphonenya Rachel ke Kakaknya, Tante mau ngomong sama dia.
Mangga ajak Liza ka payuneun kosan. Mami hariwang mun balik peuting sorangan sorangan \= Tolong antar Liza pulang sampai ke kos - kosannya. Mama khawatir dia pulang sendirian di malam hari.
Kumaha sora anjeun henteu sapertos kitu? Mangga mantuan eta bakal diganjar. Anjeunna budak bageur, sering ngabantosan Mamah masak. Waktos Mamah ngantunkeun anjeunna kaluar wengi nyalira \= Kenapa kamu nggak ikhlas gitu? Berbuat baik itu mendapatkan pahala. Dia anak yang baik. Dia suka bantu Mami masak. Mami khawatir dia berada di luar sendirian di malam hari.
Punten pasihan hp, Mamih hoyong ngobrol sakedap \= Tolong kasihkan handphonenya, Mami mau ngobrol sebentar.
Engké anjeun bakal diantar ka imah jeung adina Rachel \= Nanti kamu pulang diantar sama kakaknya Rachel.
Hatur nuhun Tante. Tapi ulah ngaganggu. Abdi tiasa mulih nyalira \= Terima kasih Tante. Tapi jangan repot - repot. Aku bisa pulang sendiri.
Teu bisa nolak. Kudu hayang Néng geulis \= Tidak bisa nolak, kamu harus mau.
Punten ka Rachel, énjing jam dalapan énjing-énjing badé uih deui ka Bandung. Engke di jemput ku papina mangga dugikeun salam ka Tante sadayana \= Tolong bilangi ke Rachel, besok dia harus pulang ke Bandung jam delapan pagi. Nanti dijemput sama papinya. Tolong sampaikan salam Tante untuk semuanya.
Hayu, Tante rék saré. Wilujeng wengi nona geulis \= Udah dulu ya, Tante mau tidur. Selamat malam Nona cantik.
Wilujeng wengi Tante Rara geulis \= Selamat malam juga Tante Rara yang cantik.
Geus aya Bang El \= Udah ada Bang El.
Dupi anjeunna dibawa ka bumi ogé \= Dia juga diantari pulang.
Hayu urang balik \= Ayo kita pulang.
Sumuhun \= Iya.
__ADS_1
Heuh, kuring kakara inget. Bi Imah meuli baju pesta keur incuna. Bang El, ngiringan mésér baju, nya \= Oh ya, aku baru ingat. Bi Imah nitip beliin baju pesta untuk cucunya. Bang El mau menemani kami beli baju ya?