
"Hatiku kalut, Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Padahal sudah beberapa hari aku melayani suamiku dan itu semua sesuai dengan kewajibanku sebagai seorang istri dan isi surat perjanjian pernikahan kami, tapi dia tetap tidak mempedulikan dan menyentuhku sebagai istrinya. Semua ucapanku tidak pernah ditanggapi, sudah beberapa hari ini, dia sudah menyentuh beberapa wanita lain," gumam Liza di depan cermin setelah memakai baju di walking in closet.
Liza membuang nafas dengan kasar. Dia membalikkan badannya, lalu berjalan ke pintu kamar. Menyentuh beberapa ikon di layar pemindai untuk membuka kunci pintu dengan kode 21Mei1990. Menekan handle pintu kamar ke bawah, mendorong pintu secara perlahan hingga pintunya terbuka. Melanjutkan langkahnya keluar kamar menuju meja makan. Menyiapkan sarapan untuk sang suami. Dia menaruh tiga sendok kentang tumbuk, tiga sendok salad sayur, dan satu slice steak di atas piring untuk Rafael.
Bunyi derap langkah di beberapa anak tangga. Sosok Regina tersenyum sinis ke Liza ketika tatapan mata mereka bertemu. Beberapa hari ini, Rafael suka membawa seorang wanita untuk melayani kebutuhan biologisnya ke salah satu kamar di penthousenya. Itu yang membuat hatinya Liza tak keruan. Regina berjalan menghampiri Liza. Menarik kursi di samping kiri tempat duduknya Rafael, lalu mendudukinya tanpa mempedulikan kehadiran Liza. Liza memperhatikan Regina yang hanya memakai lingerie tipis hingga ********** kelihatan. Regina mengambil beberapa makanan untuk dirinya sendiri, lalu memakannya tanpa basa - basi dihadapan Liza. Liza mengelus dada melihat perilaku Regina.
Liza melangkahkan kakinya ke pintu lift untuk mencari udara segar. Samar - samar, Liza mendengar derap langkah yang tegas di beberapa anak tangga. Liza menoleh ke tangga. Dia melihat sosoknya Rafael yang mengenakan setelan jas. Liza tersenyum manis ke Rafael yang menatapnya dengan tatapan mata yang tajam. Liza menundukkan kepalanya karena ketakutan. Ketika Rafael berada di ujung bawah anak tangga, dia melengos ke pintu lift tanpa mempedulikan Liza.
"El, kamu nggak sarapan?" teriak Regina.
"Aku sarapan di kantor aja," teriak El tanpa menoleh ke Regina sambil menekan tanda panat ke bawah di dinding lift.
"Aku bungkusi ya makanannya untuk sarapan di kantor, biar kamu nggak beli lagi," ucap Liza.
Lalu dia berlari ke dapur untuk mengambil tempat makan. Membuka laci kitchen set satu persatu untuk mencari tempat makan beserta. Akhirnya, dia menemukan tempat makan. Liza berlari ke meja makan, lalu memasuki makanan dan sendok garpu ke dalam tempat makan dengan tergesa - gesa. Regina menatap sinis ke Liza. Liza tidak mempedulikan hal itu. Dia berlari menghampiri Rafael. Pintu lift terbuka lebar memperlihatkan sosok Edward dengan setelan jas. Edward tersenyum manis ke Rafael, tapi Rafael tak menggubrisnya.
"Aku datang ke sini karena ada urusan penting," ucap Edward sopan sambil berjalan keluar dari dalam lift.
"Ada urusan penting apa?" tanya Rafael.
"Nanti kamu juga tahu sendiri," ucap Edward sambil berjalan ke ruang tamu penthousenya Rafael.
Kring ... kring ... kring ...
Bunyi dering smartphone milik Edward. Rafael mengikuti langkahnya Edward. Edward duduk di sofa panjang, lalu membuka tas kerja untuk mengambil smartphonenya. Dia melihat nama Om Rogen di layar smartphonenya. Dia menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo selamat pagi Omku yang semakin ganteng," sapa Edward sedikit bercanda yang membuat Rafael tegang.
"Macam pula kau ini. Pagi - pagi udah ngegombal ke Om, seharusnya ngegombal ke Flo dong, bukan ke Om," semprot Rogen.
"Hehehe," Edward cengengesan.
"Kamu sudah sampai di penthousenya Rafael?"
"Iya Om."
"Tolong hpmu kasih ke Liza, Om mau ngomong sama Liza.
"Ok Om," ucap Edward, lalu Edward memberikan kode ke Liza agar Liza menghampirinya sambil menyodorkan smartphone miliknya.
Liza berlari pelan ke Edward, lalu menerima smartphonenya Edward dan berkata, " Hallo selamat pagi Om."
"Selamat pagi Liza, lain kali jangan manggil Om, panggil aja Papi," ucap Rogen ramah.
"Iya," ucap Liza sopan.
"Liza, hari ini kamu menerima semua uang gajinya Rafael yang bekerja di perusahaan Om sebagai CEO sebesar lima puluh juta. Lima puluh juta dibagi dua. Dua puluh lima juta untuk biaya keperluan rumah tangga dan yang dua puluh lima juta lagi untuk menafkahi kamu yang sebagai istrinya Rafael. Menurut kamu itu cukup nggak?"
__ADS_1
"Sangat cukup Pi, bahkan lebih. Terima kasih ya Pi."
"Jika lebih, bisa kamu tabung. Dan satu lagi, nanti jam sepuluhan, ada pihak wedding organizer yang datang ke penthousenya Rafael. Mereka ingin membahas tentang pesta resepsi pernikahan kalian. Semua biaya Papi yang tanggung. Pestanya di hotel Papi yang berada di Jakarta."
"Terima kasih ya Papi," ucap Liza.
"Boleh Papi minta nomor handphone kamu?"
"Boleh Papi."
"Berapa Nak?"
"Kosong delapan satu dua lima enam tujuh tiga empat lima enam."
"Ok. Terima kasih ya. Nanti Ummi akan memhubungimu. Dia ingin ngobrol sama kamu."
"Iya Pi."
"Udah dulu ya Nak. Bye."
"Iya Pi, bye."
Tak lama kemudian, hubungan telepon itu terputus. Liza memberikan benda pipih itu ke pemiliknya. Edward menerimanya sambil tersenyum manis, lalu menaruh smartphonenya di atas lantai. Edward memberikan kode ke Liza supaya duduk di samping kanannya. Liza menurutinya.
"Uangnya mau tunai atau ditransfer?" tanya Edward sopan.
"Ditransfer aja."
"Iya."
"Uang apa Ed?" tanya Rafael datar.
"Uang bulanan untuk Liza. Semua uang gaji elu dari perusahaan Om Rogen untuk uang bulanan Liza," ucap Edward serius.
"What!? Kok Papi nggak bahas itu ke gw?"
"Mungkin dia kesal kali sama elu gara - gara elu nggak nyimpan nomor handphonenya Liza. Elu ingat nggak, beberapa hari yang lalu, Papi elu telepon elu, terus elu lagi indihoy sama Regina hingga tidak fokus sama ucapan Papi elu dan dia minta nomor handphonenya Liza, elu bilang nggak punya. Akhirnya panggilan itu dimatiin sama Papi elu?"
"Oh my God! Damn it!" umpat Rafael sambil menghempaskan dua tangannya.
"Nah, setelah itu Papi elu telepon gw."
"Elu cerita ke Papi gw soal gw lagi indihoy sama Regina."
"Yah enggaklah. Ngapain juga gw bilang, emangnya gw tukang gosip."
"Bagus."
__ADS_1
"Bang El, ini makanannya," ucap Liza sopan sambil memberikan tempat makan ke Rafael.
"Oh so sweet," ledek Edward.
Rafael langsung menghempaskan tempat makan itu hingga terjatuh. Hatinya Liza bertambah kalut menerima perlakuan kasar lagi dari Rafael. Liza melihat makanan berserakan di atas lantai. Rafael melengos tanpa menghiraukan kehadiran Liza dan Edward. Edward menggeleng - gelengkan kepalanya melihat sikap Rafael ke Liza. Liza menghembuskan nafasnya dengan kasar. Liza berjongkok untuk membereskan tempat makan dan makanan yang berserakan di atas lantai.
"Bang El! Coba katakan apa salahku? Kenapa Bang El begini sama Liza?" ucap Liza dengan suara parau sambil memungut wadah tempat makan.
Rafael menghentikan langkahnya, lalu berucap, "Kamu pikirkan sendiri."
"Emangnya aku dukun, yang tahu isi pikiran orang lain?" ucap Liza sambil memungut steak.
"Malam hari setelah pesta pribadi, kamu tidak datang ke kamarku, sedangkan saat itu aku ingin dilayani secara biologis."
"Kan Bang El sendiri yang bilang jika Bang El mau, maka Bang El akan menyentuhku."
"Dasar tulalit, aku mau menyentuh kamu jika kamu berhasil menggodaku."
"Jadi aku harus godain Bang El sampai Bang El tergoda dan mau menyentuhku."
"Hhhmmm."
"Kamu pikir aku wanita murahan!" gertak Liza sambil berdiri, lalu menoleh ke Rafael.
"Heh, waktu itu kamu pernah menggodaku."
"Kapan?"
"Waktu kamu masuk ke dalam kamarku."
"Kamar yang mana?"
"Kamarku yang berada di rumah Om Samuel."
"Oh my God, waktu itu, aku nggak ada niat untuk menggoda Bang El."
"Kalau nggak ada niat, kenapa kamu memakai hotpants dan tank top dan duduk sambil memperlihatkan pahamu."
"Waktu aku terjatuh karena kaget."
"Alah, kamu nggak usah ngeles."
"Aku nggak ngeles Bang El! Apa karena itu Bang El tidak mempedulikan dan menanggapi diriku sebagai seorang istri?"
"El, elu benar - benar sudah akut otak nggak waras elu. Hanya karena itu elu menyia - nyiakan Liza! Gw yakin suatu saat nanti, elu bakal nyesel jika Liza pergi dari kehidupan elu!
Rafael tidak menanggapi lagi ucapan Liza dan Edward. Dia melanjutkan langkahnya ke pintu lift. Hatinya Liza bertambah kalut. Tiba - tiba air matanya mengalir lembut ke pipinya. Rafael memencet tombol panah ke bawah, lalu pintu lift terbuka lebar. Rafael masuk ke dalam lift tanpa mempedulikan orang - orang yang berada di sekitarnya. Pintu lift tertutup otomatis.
__ADS_1
"Kamu harus lebih sabar lagi menghadapi Rafael," ucap Edward sambil berdiri.
"Apakah aku harus menjadi wanita penggoda supaya dia tidak marah lagi kepadaku?"