
"Berita Yang Mengejutkan," gumam Liza sambil menaruh smartphonenya di atas nakas sebelah kanan ranjang.
"Berita apa yang mengejutkan?" tanya Vina yang sedang berbaring di sebelah kirinya Liza.
"Bang El meminta gw pulang ke penthousenya."
Vina langsung beringsut, lalu duduk dan berucap, "Elu jangan mau mengikuti permintaannya."
"Udah gw iyakan," ucap Liza sambil berdiri.
"Ya udah, itu si terserah elu. Gw heran, kemarin dia ngusir elu, eh belum sampai dua puluh empat jam udah minta elu balik," celetuk Vina sambil menoleh ke Liza.
"Gw titip dua koper ya, nanti gw ambil. Gw balik sekarang," ucap Liza sambil mengambil smartphone miliknya, lalu menaruhnya di dalam tas gembloknya.
"Elu nggak mandi dulu?"
"Nggak. Terima kasih ya atas tumpangannya," ucap Liza lembut sambil memakai tas gemboknya.
"Ok, hati - hati ya."
Tak lama kemudian, Liza melangkahkan kakinya ke pintu apartemen studio milik Vina. Menyentuh beberapa ikon untuk membuka kunci pintu. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya hingga pintu terbuka. Melanjutkan langkahnya keluar dari dalam apartemen. Menutup pintu apartemen milik Vina. Menyusuri lorong lantai lima ke lift. Menekan tombol panah ke bawah di dinding dekat pintu lift.
Ting
Pintu lift terbuka lebar. Liza terkejut melihat sosok Jack berada di dalam lift. Jack tersenyum manis ke Liza. Liza membalasnya, lalu Liza melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lift. Pintu lift ketutup secara otomatis. Liza memencet tombol lantai dasar. Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Rasa canggung menyelimuti jiwanya Liza, karena kejadian semalam. Tak sengaja, bibirnya Jack menyentuh bibirnya Liza ketika mereka berada di area parkiran apartemen milik Rafael. Waktu itu Liza terkejut saat dia ingin menyeberang, tiba - tiba mobil lewat, untung dengan sigap Jack menarik tubuhnya Liza. Selain itu Liza juga menceritakan semua masalah rumah tangganya ke Jack padahal Jack adalah orang yang baru dia kenal.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Jack mencairkan suasana.
"Baik," ucap Liza malu - malu sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu mau ke mana? Pakai piyama tapi bawa tas?"
"Aku disuruh balik."
"Balik ke mana?"
Ting
Pintu lift terbuka lebar, Liza keluar dari dalam lift tanpa basa - basi ke Jack karena masih canggung. Liza melangkahkan kakinya dengan tergesa - gesa menuju pintu lobby gedung apartemen. Berjalan melewati pintu lobby yang otomatis. Menghentikan langkahnya ketika berada di beranda gedung apartemen. Mengedarkan pandangannya untuk mencari taksi.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Smartphone miliknya berdering kencang. Liza melepaskan tali tas ranselnya, lalu menarik tas ranselnya ke depan. Membuka resleting tas ranselnya di bagian depan untuk mengambil smartphonenya. Liza melihat nama Melinda di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kanannya.
"Hallo selamat pagi Nyonya, maaf Nyonya saya baru baca pesan dari anda. Nanti saya ke apartemen Flamboyan City?"
"Nggak jadi, nanti kamu pulang aja ke apartemennya Rafael."
"Baik Nyonya."
"Kira - kira kamu sampai di sana jam berapa?"
"Kalau tidak macet, jam delapan pagi Nyonya."
"Ok. Udah dulu ya, daya mau ke apartemennya Rafael dulu, bye Bu Melinda."
"Bye Nyonya."
__ADS_1
Tak lama kemudian, dia menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kanannya. Menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon. Menaruh lagi smartphone miliknya di tempat semula. Menutup resleting tas, lalu memakai tali tas ranselnya lagi. Melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul lima pagi.
Tin ...
Bunyi klakson mobil yang mengagetkan dirinya. Sontak Liza menoleh ke sumber suara. Dia melihat Jack sedang tersenyum kepadanya. Liza mengalihkan pandangannya ke arah taman. Dia masih canggung berhadapan sama Jack.
"Aku anterin ya? teriak Jack dari dalam mobil sportnya.
"Nggak, terima kasih," ucap Liza tanpa menoleh ke Jack.
"Jam segini jarang ada taksi biasa maupun taksi online. Nanti kamu nunggunya kelamaan."
Benar juga yang dikatakan sama Jack. Tapi ... aku masih nggak enak hati karena kejadian semalam.
Batin Liza.
"Kamu nggak usah sungkan. Ayo!"
Liza menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan Jack. Liza berjalan menghampiri mobilnya Jack. Pintu bagian penumpang terbuka ke atas secara otomatis. Masuk ke dalam, lalu duduk di kursi penumpang. Pintu mobil itu ketutup otomatis. Liza membuka tali tas sebelah kanan, lalu menarik dan memangku tasnya di atas dua pahanya. Memakai sabuk pengaman.
"Kamu mau pergi ke mana?"
"Ke apartemen suamiku,' ucap Liza malu - malu sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu disuruh balik ke sana sama suami kamu?" tanya Jack sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
"Iya."
"Kenapa kamu mau disuruh balik ke sana?"
Liza mengalihkan pandangannya, melihat sang mentari bersinar merah kekuningan memberikan warna pendar di ufuk timur cakrawala. Seakan tersepuh mentari yang datang mengecup lembut nan santun. Melihat barisan bangunan pencakar langit yang tersusun rapih dan taman - taman kota yang terawat dengan baik sehingga kelihatan indah. Suasana kota Jakarta yang masih sepi. Jack menyetel salah satu lagu dari Opick yang berjudul Dealova.
Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Karena hati telah letih
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa 'ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Oh, bayangmu seakan-akan
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Kau selalu ada
Kau selalu ada
__ADS_1
....
"Kamu suka lagu itu?" tanya Liza sambil menoleh ke Jack.
"Biasa aja. Kamu suka?"
"Iya. Aku suka dengerin lagu ini jika sedang sendirian. Lagunya sangat menyentuh."
"Apakah karena lagu itu menggambarkan kecintaan dirimu terhadap suamimu?"
"Bisa juga, tapi yang lebih dalam adalah menggambarkan kerinduan diriku terhadap Tuhan."
"Kalau begitu, sering - seringlah beribadah biar kerinduan dirimu terhadap Tuhan terealisasikan."
"Sebenarnya kamu tinggal di mana?"
"Di Flamboyan Apartemen. Satu gedung sama Vina."
"Kamu tinggal sendirian?"
"Iya. Daddy tinggal di Jerman, Mommy tinggal di Bogor."
"Kenapa kamu tinggal di sini sendirian?"
"Lebih leluasa aja. Tapi nanti bulan depan aku ke Jerman lagi, di sini hanya untuk liburan aja."
"Aku kira tadi kamu warga negara Indonesia. Ternyata bukan."
"Aku memang warga negara Indonesia juga. Aku punya dua warga negara. Warga negara Jerman dan warga negara Indonesia."
"Wah asik dong punya dua warga negara."
"Dari wajah kamu, kamu blasteran ya?"
"Iya, Papi orang Batak Chinese, Mommy orang Jerman."
"Wah berarti kita sama - sama keturunan Jerman dong. By the way, kamu udah ke Jerman belum?"
"Belum pernah."
"Kenapa? Padahal di sana asyik loh. Ada Neuschwanstein yang dibangun pada awal abad ke sembilan belas, ada Rugia Island yang berada di antara Pomeranian dan Laut Baltic dan masih banyak lagi tempat - tempat yang menarik."
"Karena aku lupa sama Mommyku. Mommyku pergi meninggalkan Papi dan diriku sejak aku berusia tiga tahun. Yang aku tahu sampai sekarang adalah Mommy pergi ke Jerman dan tinggal di sana," ucap Liza sedih.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu. Kalau orang tuaku bercerai ketika aku berusia tujuh tahun. Mommy pulang ke negaranya setelah kontrak kerjanya habis, sedangkan Daddy dia lebih memilih daun muda."
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Smartphone milik Liza berdering. Liza langsung membuka tasnya untuk mengambil smartphonenya. Dia melihat tulisan my husband yang tertera di layar smartphonenya. Liza menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo, ada apa Bang El?"
"Kamu udah sampai mana?"
"Udah sampai Senayan, emangnya ada apa?"
"Suruh cepatan supirnya, Papi dan Ummi mau ngomong sama kamu di ruang keluarga. Aku kira tadi mereka mau tidur karena jetplag, tapi nyatanya tidak. Nanti kamu lewat pintu rahasia. Kalau sudah sampai di apartemen bawah, telepon aku," ucap Rafael panik yang membuat Liza terkejut.
__ADS_1