Asa Diriku

Asa Diriku
Aman Bersamamu


__ADS_3

Dilike ya guys 😊


Dikomen ya guys 😁


Divote ya guys 😊


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Liza membuka kedua kelopak netra secara perlahan setelah beberapa jam terpejam dengan kuat. Dua mata milik Liza mengerjap supaya bisa menyesuaikan bias cahaya lampu yang menyeruak masuk menembus kornea matanya. Dua kelopak matanya terbuka sempurna, Liza mengedarkan kepalanya ke sekeliling ruangan. Liza tertegun melihat sebuah kamar yang bernuansa putih dan tentu saja bukan kamarnya.


Liza terkejut ketika dirinya tidak sengaja melihat seorang wanita paruh baya yang tidak dikenalnya sedang duduk di sofa samping kanan tempat tidur yang dia tempati sekarang. Wanita anonim itu tersenyum sopan ketika mereka beradu pandang. Liza membalas senyuman wanita itu dengan senyuman yang tulus. Wanita paruh baya itu beranjak berdiri dari sofa, lalu berjalan menghampiri Liza yang sedang terbaring lemas di atas ranjang.


"Anda siapa, Nyonya?" ucap Liza sopan.


"Nama saya Melinda. Saya yang akan menemani anda Nyonya Rafael selama di sini dan yang akan merawat anda setelah pulang dari sini," ucap wanita itu dengan sopan.


"Memangnya saya sakit apa Nyonya?" ucap Liza bingung, lalu dia melihat ada jarum infusan di punggung telapak tangan kirinya.


"Sebaiknya anda tanyakan hal itu ke dokter," ucap Melinda sambil memencet tombol panggilan di ujung kanan atas ranjang.


"Memangnya ada apa dengan diriku? Oh ya, anakku, apakah dia baik - baik saja," ucap Liza panik sambil mengelus perutnya yang rata.


"Sebaiknya nanti anda tanyakan langsung sama dokter," ucap Melinda sopan.


Ceklek


Liza melihat dua orang perawat rumah sakit membuka pintu. Masuk ke dalam dengan langkah yang tergesa - gesa. Mereka berjalan menghampiri Liza dan Melinda sambil membawa perlengkapan medis. Tiba - tiba kepalanya Liza pusing dan nafasnya kembali memburu karena teringat kejadian yang menimpanya beberapa jam yang lalu. Salah satu perawat itu memasangkan tensimeter di tangan kanannya Liza dan memeriksa tekanan darahnya Liza dengan menggunakan tensimeter.


"Tidak usah terlalu ditakuti Bu, sekarang Ibu sudah aman berada di sini," ucap salah satu perawat sopan sambil memeriksa tekanan darahnya Liza dan sambil merasakan tremor yang kuat dari tangannya Liza.


"Bagaimana kondisi janin anak saya sus?" ucap Liza dengan nada suara yang sedih sambil menoleh ke perawat yang sedang merapihkan tensimeter.


"Biar dokter aja yang menjelaskannya, yang penting anda jangan stress," ucap perawat itu dengan sopan sambil membuka berkas catatan medis Liza.


"Saya ingin tahu kondisinya sus, please kasih tahu saya," ucap Liza memelas.


"Bu Liza, tunggu penjelasan dari dokter ya," ucap perawat itu sambil tersenyum penuh pengertian sambil menutup berkas catatan medis Liza.


"Kapan dokternya datang?" ucap Liza sedih.


"Besok pagi ya Bu, sebaiknya Ibu sekarang istirahat aja," ucap suster yang satunya lagi dengan sopan sambil menaruh suntikan di dalam wadah.


"Iya," ucap Liza lemas.


"Kami permisi dulu ya Bu," ucap perawat itu.


"Iya, terima kasih ya sus."


Dua perawat itu tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan Liza. Tak lama kemudian, dua perawat itu pergi keluar dari dalam kamar setelah pintu kamar tertutup. Liza melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari. Liza mendengus kesal karena dia belum mengetahui keadaan janin anaknya. Liza menoleh ke Melinda yang sudah kembali duduk di tempat semula. Melinda tersenyum sopan.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Melinda sopan.


"Ibu Melinda disuruh siapa menemani saya selama di sini dan merawat saya setelah pulang dari sini?"


"Pak Billy, Nyonya," jawab Melinda sopan.


"Sekarang Tulang Billy di mana?"


"Maaf Nyonya, saya kurang tahu."

__ADS_1


"Tadi Ibu sudah ketemu sama Tulang Billy?"


"Sudah Nyonya."


"Di mana?"


"Di kamar ini."


"Apakah Ibu ketemu juga sama Bang El?"


"Maksud anda Tuan Muda Rafael?"


"Iya."


"Iya, tadi saya juga ketemu sama Tuan Muda Rafael di sini."


Ada secercah kebahagiaan di lubuk hatinya Liza ketika mendengar ucapan kalimat yang terakhir dari Melinda. Liza melengkungkan bibirnya, membentuk sebuah senyuman kebahagiaan. Liza memalingkan wajahnya, menatap langit - langit kamar. Membayangkan wajahnya Rafael, tapi tiba - tiba rasa takut, sedih dan kecewa hinggap di hatinya Liza.


Apakah aku harus mempertahankan rumah tangga ini.


Batin Liza.


"Nyonya."


Liza menoleh ke Melinda, lalu berucap, "Iya, ada apa?"


"Anda mau tidur lagi?"


"Tidak, saya belum mengantuk."


"Sekarang Tuan Muda Rafael tinggal di mana?" tanya Melinda sopan.


"Tidak, saya bekerja di rumahnya Pak Billy."


"Tulang Billy punya rumah di Jakarta?"


"Iya. Kalian tinggal di lantai berapa?"


"Lantai empat puluh lima, satu lantai khusus untuk penthousenya Rafael."


"Lantai yang paling atas ya?"


"Iya."


"Di tower berapa?"


"Di tower A. Bu Melinda udah lama kerja di Tulang Billy?"


"Sudah, sekitar dua puluh delapan tahun. Seingat saya, sejak Tuan Muda Rafael tinggal sama Pak Billy. Nyonya sedang hamil ya?"


"Iya, tapi sejak kejadian itu, saya tidak tahu perkembangan janin anak saya."


"Memangnya Nyonya mengalami kejadian apa?"


"Memangnya Tulang Billy tidak memberi tahu ke anda?"


"Tidak. Makanya waktu tadi Nyonya menanyakan tentang apa yang terjadi terhadap Nyonya dan keadaan janin anak Nyonya, saya tidak bisa menjawabnya karena saya tidak tahu."


"Aku diperkosa," ucap Liza dengan nada suara yang sedih

__ADS_1


"Ya Tuhan, maaf aku telah membuka luka anda Nyonya. Semoga janin anak anda baik - baik saja."


"Amin. Tulang Billy pengusaha juga ya?"


"Dulu Tuan Billy, seorang perwira polisi, setelah pensiun dia bersama istrinya membuka usaha katering dan kafe di Malang. Apakah pelakunya sudah tertangkap?"


"Mungkin sudah. Bu, mata saya kok pegal ya?"


"Mungkin itu pengaruh dari obat. Sebaiknya anda tidur lagi," ucap Melinda dengan sopan.


"Ya udah saya tidur lagi."


Melinda tersenyum dengan sopan sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan untuk merespon ucapan Liza. Liza memalingkan wajahnya ke langit - langit kamar. Tak lama kemudian, Liza memejamkan dua matanya. Melinda mengambil handphone miliknya dari tasnya yang berada di samping kanan sofa bed sambil memperhatikan Liza. Memencet beberapa tombol untuk menelpon seseorang. Mendekatkan handphonenya ke telinga kanannya sambil beranjak berdiri dari sofa. Dia melihat Liza sudah berada di alam mimpi. Panggilan teleponnya tersambung.


"Hallo," ucap seseorang yang telah dihubungi oleh Melinda.


"Tuan, ada informasi yang sudah saya dapatkan," bisik Melinda sambil memperhatikan Liza yang terbaring lemas di atas ranjang.


"Apa informasinya?"


"Tuan Muda Rafael tinggal di Ziza apartemen park, tower A, lantai empat puluh lima, lantai yang paling atas tower itu khusus untuk penthousenya."


"Terus apa lagi?"


"Saya disuruh Tuan Billy untuk merawat istrinya Tuan Muda Rafael yang telah mengalami peristiwa pemerkosaan. Tadi saya bertemu Rafael di dalam kamar rawat inap istrinya. Raut wajahnya Tuan Muda Rafael terlihat muram. Dan raut wajahnya Tuan Billy menyeramkan."


"Apa yang mereka bicarakan?"


"Mereka ingin menyelesaikan masalah yang menimpa istrinya Tuan Muda Rafael."


"Bagus. Perhatikan terus mereka, lalu berikan semua informasi yang kamu dapat."


"Baik Tuan, tapi tolong besok pagi kirimkan foto cucu saya."


"Kamu tenang aja, selama kamu kooperatif sama saya, cucu kamu aman bersama kami."


Tiba - tiba pintu kamar rawat inap Liza terbuka. Melinda terkejut melihat sosok Billy yang sedang berjalan masuk ke dalam kamar dengan langkah tegas. Spontan Melinda memutuskan panggilan telepon itu, lalu buru - buru menaruh handphonenya di tempat semula. Melinda tergagap melihat Billy menatap tajam ke dirinya.


"Ada apa denganmu?"


"Tuan, apakah Tuan tahu kabar bahwa Tze Hang telah bebas dari penjara," ucap Melinda sambil menetralkan rasa terkejutnya.


"Sudah. Kamu tahu dari siapa?"


"Anjani Tuan. Tadi dia telepon saya untuk memberi tahu soal itu. Makanya tadi saya sempat kaget mendengar kabar itu."


"Makanya itu saya datang ke sini untuk memastikan keadaan Liza dan kamu."


"Iya Tuan. Tuan, apakah Tuan Muda tahu soal ini?"


"Tidak, dia tidak perlu tahu."


"Tapi Tuan, nyawa Tuan Muda pasti terancam, seenggaknya dia bisa berhati - hati untuk menjaga dirinya jika dia mengetahuinya."


"Soal itu, aku sudah siapkan beberapa pengawal untuk menjaga Rafael dan Liza. Oh ya aku dengar, Liza sudah sadar?"


"Sudah Tuan. Tadi, tapi dia tidur lagi, setelah dikasih obat."


"Ya udah, tolong jaga dia baik - baik, aku yakin dia aman bersamamu."

__ADS_1


__ADS_2