Asa Diriku

Asa Diriku
Kesepakatan Kita


__ADS_3

Ceklek


Pintu apartemen Regina terbuka secara perlahan. Regina tersenyum sinis melihat sosok Edward yang berada di hadapannya. Edward tertegun melihat Regina hanya memakai lingerie berbahan satin sehingga memperlihatkan sebagian benda sintal miliknya. Edward melengos masuk ke dalam apartemennya Regina karena tidak mau terlalu lama melihat sesuatu yang menggiurkan. Regina menutup, lalu mengunci pintu apartemennya. Dia membalikkan badannya. Regina melihat Edward sedang duduk manis di sofa panjang.


"Ada apa kamu malam - malam ke sini?" tanya Regina sambil berjalan ke dapurnya.


"Aku mau menagih bayaranku dan ada informasi penting untuk kamu," ucap Edward.


"Nanti aku bayar. Informasi apa yang kamu punya?" ucap Regina sambil menaruh teh di cangkir.


"Nanti aku kasih tahu setelah kamu membayar uang jasaku."


"Malam ini pasti aku bayar, katakan informasi yang kamu dapat?" ucap Regina sambil menyeduh teh.


"Pertama, Ferdy sudah menarik semua sahamnya di 2R group dan Cindy tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi."


"Bagus. Lalu yang kedua?" ucap Regina sambil mengaduk teh untuk Edward.


"Kedua, nanti aja setelah kamu membayar uang jasaku dulu."


"Fine," ujar Regina sambil berjalan membawa nampan ke Edward.


"Kamu ngomong apa ke Ferdy sampai dia menarik semua sahamnya?"


"Aku cuma ngomong, aku punya info tentang hubungan gelap Cindy dengan Rafael asalkan jangan menyakiti Rafael secara fisik maupun mental dan jauhi Cindy dari Rafael," ucap Regina.


"Cuma ngomong gitu doang sampai menarik semua sahamnya," komen Edward.


"Yah, mungkin Ferdy kesal sama Rafael, makanya dia menarik semua sahamnya. Yang penting, Rafael tidak dipukuli dan dibunuh," ucap Regina sambil memberikan nampan ke Edward dengan posisi membungkuk sehingga memperlihatkan benda sintal miliknya seutuhnya.


Edward menerima cangkir itu sambil merasakan sesuatu yang mengeras di bagian pusat tubuhnya, namun dia menahannya. Regina berdiri, lalu berjalan melewati Edward yang sedang minum teh buatan Regina. Edward terpana melihat dua paha putih nan mulus milik Regina. Cepat - cepat Edward menaruh cangkir itu di atas meja. Regina dengan santai duduk manis di samping kanannya Edward.


"Mana bayaranku?" tanya Edward sambil menoleh ke Regina yang sedang tersenyum manis ke Edward.


"Tapi kasih tahu dulu informasi yang kedua," ucap Regina sambil duduk menyilangkan kakinya hingga paha kanan mulusnya terlihat jelas.


"Kamu harus siap mendengarkanya," ucap Edward yang terpana melihat kecantikan Regina.


"Iya aku siap," ucap Regina sambil menguncir kuda rambutnya sehingga memperlihatkan leher jenjangnya.


"Liza hamil sama Rafael dan mereka segera menikah," ucap Edward.


"What?!" ucap Regina terkejut dengan raut wajah yang kaget sambil menoleh ke Edward.


"Iya, mereka akan segera menikah."


"Itu tidak benar," lirih Regina sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Itu benar."


"Aku harus menjauhkan Liza dari Rafael!" ucap Regina sinis.


"Aku tahu cara menjauhkan mereka?"


"Kamu sudah punya cara untuk menjauhkan mereka? Jangan - jangan kamu punya rasa sama Liza ya? Sudah kuduga," ucap Liza sedikit menyelidik.


"Tidak. Aku hanya kasihan sama kamu," kilah Edward.


"Hahaha, kasihan sama aku? Cuma kamu yang kasihan samaku. Jangan - jangan kamu suka samaku ya hahaha," ucap Regina sedikit ngawur.


"Kasihan sama suka beda," ucap Edward serius.


"Bedanya gimana?"


"Yah bedalah. Contohnya, aku memperhatikan, peduli, suka, sayang, cinta sama Flo sebagai seorang wanita, itu yang namanya suka atau pun cinta. Sedangkan aku peduli sama kamu hanya sebagai seorang teman, itunya kasihan atau rasa empatiku kepadamu."


"Alah munaroh, aku tahu kamu siapa, setiap seminggu sekali kamu suka bermain sama para ****** di hotel. Jangan sok suci kamu."


Kok Regina tahu ya.


Batin Edward.


"Siapa yang ngomong?" tanya Edward menyelidik.


"Nggak ada yang ngomong. Aku lihat sendiri, beberapa kali kamu masuk ke dalam kamar hotel bersama seorang wanita. Aku tahu kamu melakukan itu karena kamu belum dikasih yang enak - enak di atas kasur sama Flo, alias kamu haus belaian. Tenang aja, aku nggak bakalan bilang ke Flo, asalkan uang jasa kamu yang kemarin gratis."


"Hahaha, kamu lucu sekali kalau lagi berbohong dan panik. Kamu tenang aja, aku nggak bakal memberi tahu soal itu ke Florence asalkan uang jasa yang kemarin gratis," ledek Regina.


"Oh ya aku baru ingat, hari Minggu malam, kamu diboyong ke sebuah hotel sama Ferdy. Aku punya foto - fotonya. Kamu mau bayar atau tidak? Kalau kamu tidak mau bayar, aku akan memberikan itu semua ke Rafael."


"Kamu mau apa?"


"Aku mau uang jasaku dan informasi - informasi dariku yang kemarin tidak gratis."


"Fine, aku bayar sekarang," ucap Regina sambil berdiri.


"Buktikan" ucap Edward tersenyum licik.


Regina berjalan ke Edward, lalu membuka lingerie sehingga tubuhnya hanya dibalut sama kacamata kuda dan kain segitiga. Membuang asal lingerienya. Edward melongo melihat kelakuan Regina. Regina tersenyum licik ke Edward yang sedang tertegun melihat dirinya. Regina duduk di atas pangkuan Edward. Membuka satu per satu kancing kemejanya Edward dengan gerakan yang menggoda.


Edward yang sedari tadi tergiur melihat tubuh moleknya Regina yang terpampang jelas di depan matanya ditambah sentuhan lembut dari Regina sehingga membuat yang di bawah sana bertambah menegang. Edward meneguk salivanya untuk menahan hawa nafsunya yang bergelora. Regina menggoyangkan pinggulnya sambil meraba dada bidangnya Rafael, lalu mengusap lembut senjata pamungkas milik Edward.


"Aahh, kamu mau ngapain?" ucap Edward sedikit mendesah.


"Bagaimana caranya menjauhkan Rafael dari Liza?" bisik Regina menggoda sambil mengusap lembut senjata pamungkasnya Edward.

__ADS_1


"Aaahhh, bayarannya apa jika memberi tahu soal itu?"


"Dua ronde kita berhubungan intim. Sekarang apa yang harus aku lakukan untuk menjauhkan Liza dari Rafael?" ucap Regina dengan nada suara yang manja sambil menggerayangi senjata pamungkasnya Edward.


"Aaahhh, kamu harus dekatin Rafael terus sampai Rafael jatuh cinta sama kamu, karena Rafael tidak mencintainya. Mereka akan bercerai jika orang tuanya Rafael meninggal dunia. Kamu harus bersabar jika kamu ingin selalu bersama Rafael."


"Apakah kamu mau membantu aku untuk membunuh orang tuanya Rafael?" bisik Regina menggoda.


"Aaahhh, gila kamu ya."


"Aku bayar dengan tubuhku setiap hari selama dua tahun jika rencana itu berhasil," bisik Regina dengan nada sensual.


"Aaahhh, aku maunya uang sebesar satu setengah miliar, uang mukanya tujuh ratus lima puluh juta."


"Hahaha," ketawanya Regina yang hambar.


"Aaahhh, aku serius."


"Kamu serius tidak mau dibayar dengan tubuhku?"


"Tidak, aaahhh."


"Untuk apa uang itu?"


"Untuk membeli rumah, aaahhh."


"Bolehkah aku meminta foto maminya Rafael, papinya Rafael dan Liza?"


"Boleh aaahhh, tapi bayarnya satu ronde lagi. Nanti aku kasih foto mereka aaahhh."


"Ok," ucap Regina, lalu dia menghentikan gerakannya.


Regina menggantikan posisinya dari duduk di atas pangkuan Edward, lalu berjongkok di depan Richard sambil mendongakkan wajahnya dengan raut wajah yang menggoda sambil meremas lembut senjata pamungkas milik Edward sehingga membuat Edward merem melek.


"Aaahhh, apa yang mau kamu lakukan?"


"Aku akan membayar yang tiga ronde, sesuai dengan kesepakatan kita."


πŸ’πŸŒΈπŸŒΊπŸ’—πŸ’πŸŒΈπŸŒΊπŸŒ·πŸ’πŸŒΈπŸŒΊπŸŒ·πŸ’πŸŒΈπŸŒΊπŸŒ·


Terima kasih sudah membaca cerita novel ini 😊.


Divote ya 😊


Di-like ya 😊


Dikomen ya 😊

__ADS_1


Dikasih hadiah ya 😊


Dikasih koin ya 😊


__ADS_2