Asa Diriku

Asa Diriku
Entah Sampai Kapan


__ADS_3

Rafael melangkahkan kakinya di salah salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Menyusuri selasar - selasar mall yang resmi dibuka untuk umum pada 26 September 2012. Menikmati suasana mall yang ramai pengunjung. Masuk ke dalam toko departemen store yang berada di dalam mall. Menghampiri sebuah etalase yang memajang beberapa baju bayi.


Tiba - tiba ada seorang yang menarik lengan kanannya Rafael dari arah belakang, spontan Rafael menoleh ke belakang. Rafael menatap dengan tatapan dingin ke orang yang sudah menarik lengannya dan ternyata orang itu adalah Regina. Regina tersenyum manis ke Rafael. Sedangkan Rafael tersenyum kecut ke Regina.


"Kita telah dipertemukan oleh takdir," ucap Regina dengan nada suara yang menggoda.


"Mau apa kamu?" tanya James dengan ketus sambil menepis tangannya Regina yang bergelayut manja di lengannya Rafael.


"Aku ingin kita seperti yang dulu lagi," ucap Regina manja.


"Aku sudah bosan sama kamu, lagi pula setelah aku mengetahui bahwa kamu adalah pacar barunya Edward, aku tidak mau berhubungan lagi sama kamu," ucap Rafael datar.


"Apakah kamu tidak mau memberikan kesempatan untuk kita menjalin hubungan seperti kemarin?"


"Itu tidak akan pernah terjadi. Sekarang jangan ganggu kehidupan pribadiku lagi," ucap James dengan tatapan mata yang tajam dan nada yang serius.


"Aku akan memberi tahu soal hubungan gelapmu bersama seorang wanita yang tinggal di apartemen daerah sini ke orang tuamu," ucap Regina.


"Fine, tapi hubungan kita yang seperti dulu hanya berlaku untuk sehari," ucap Rafael kesal.


"Aku tidak mau."


"Terus kamu maunya apa?" tanya Rafael kesal.


"Selamanya."


"Itu tidak mungkin!"


"Kalau tidak mau, aku akan membongkarnya."


"Fine aku akan menuruti kemauanmu, tapi jangan ganggu wanita itu dan Liza, serta jangan bongkar hal itu ke siapa pun."


"Deal."


"Sekarang kamu mau apa?"


Regina mendekatkan mulutnya ke telinga kanannya Rafael, lalu berbisik dengan nada suara yang sensual, "Aku mau kamu sampai besok bersamaku di apartemenku. Aku akan memberikan servis yang sangat memuaskan untuk dirimu."


"Fine," ucap Rafael datar.


Tak lama kemudian, Regina mencium pipi kanannya Rafael. Rafael tidak merespon sikap Regina yang telah mencium pipi kanannya Rafael. Menggandeng tangan kanannya Rafael, lalu menggelayut manja di tangan kanannya Rafael. Regina mengajak Rafael keluar dari toko. Dari kejauhan, tak sengaja Liza melihat Regina sedang bergelayut manja di tangan kanannya Rafael sambil berjalan keluar dari toko.


Liza mendengus kasar melihat pemandangan yang menyakitkan. Liza melanjutkan langkah kakinya ke etalase yang memajang baju bayi. Melihat - lihat baju bayi yang menurutnya cocok untuk anak - anaknya, namun pikirannya tertuju ke Rafael dan Regina. Liza menepis pikirannya dengan menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Kamu sudah menemukan bajunya?" tanya Eliosia yang membuat Liza sedikit terkejut.


Liza menoleh ke Eliosia, lalu berucap, "Belum, aku bingung mau milih yang mana. Baju - bajunya bagus semua."


"Yang ini bagus Liz," ucap Eliosia sambil menunjukkan baju jumpsuit bayi warna hijau lumut bergambar gajah yang lucu.


Liza mengambil baju itu, lalu berucap, "Iya ini bagus. Warna dan gambarnya cocok untuk laki - laki dan perempuan. Mami sudah selesai belanjanya?"


"Sudah. Kita ambil satu lagi," ucap Eliosia sambil mengambil baju jumpsuit yang sama. "Kamu mau beli apa lagi?"


"Untuk sekarang yang ini aja sudah cukup. Aku sudah lelah soalnya dari jam delapan pagi aku sudah berada di luar rumah. Ayo kita ke kasir."

__ADS_1


"Liza, kamu nanti dijemput sama Rafael kan?" tanya Eliosia sambil berjalan ke kasir.


"Tadi siang dia bilang iya jemput aku di sini," jawab Liza sambil berjalan ke kasir dan membawa gamis.


"Coba kamu telepon dia lagi untuk konfirmasi jadi atau nggak."


Apa aku harus menelponnya? Sedangkan tadi aku lihat dia sedang pergi bersama Regina.


Batin Liza.


"Liza, kamu baik - baik aja kan?" ucap Eliosia khawatir sambil menoleh ke Liza yang sedang melamun.


"Eh, iya aku baik - baik aja. Iya aku telepon Bang El," ucap Liza sedikit kaget.


Tak lama kemudian, Liza membuka reselting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya, menyentuh beberapa ikon untuk menelpon Rafael. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Nada sambung berbunyi nyaring beberapa kali sehingga sambungan telepon itu dijawab.


"Hallo ada apa?" tanya Rafael datar.


"Kamu jadi jemput aku?" tanya Liza pura - pura tidak tahu.


"Ehm ... iya jadi, tunggu aja di depan pintu mothercare. Nanti aku ke sana."


Rafael menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kanannya, lalu menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menaruh smartphone miliknya di saku jasnya. Menghentikan langkah kakinya sehingga membuat Regina bingung.


"Kenapa berhenti?" ucap Regina sambil menoleh ke Rafael.


"Kamu duluan aja ke apartemenmu, nanti aku ke sana setelah urusanku selesai."


"Yah, waktunya berkurang dech," ucap Regina manja.


"Baiklah," ucap Regina sedikit kesal sambil melepaskan gandengan tangannya.


Lalu Rafael membalikkan badannya, melangkahkan kakinya ke sebuah toko yang menyediakan keperluan ibu hamil dan anak - anak. Regina menatap kesal dan penasaran karena Rafael tiba - tiba menunda waktu kebersamaan mereka yang sangat diimpikan oleh Regina sejak empat bulan yang lalu.


"Aku penasaran dia pergi ke mana," gumam Regina bermonolog.


Regina mengikuti langkahnya Rafael dengan hati - hati supaya tidak ketahuan sama Rafael. Mengendap - ngendap seperti penguntit. Tak sengaja Rafael melihat Sherly, salah satu wanita simpanannya di sebuah toko pakaian dalam khusus wanita. Rafael tersenyum licik melihat tubuhnya Sherly yang aduhai. Rafael membelokkan langkahnya menghampiri Sherly. Sedangkan Regina memicingkan matanya melihat sosok Rafael yang masuk ke dalam toko pakaian dalam wanita.


"Hayo lagi ngapain?" ucap Rafael sambil menarik pinggang rampingnya Sherly yang membuat Sherly terkejut.


"Eh, Bang El," ucap Sherly yang tersipu malu. "Bang kok ada di sini? Nggak jadi pulang ke rumah?" lanjut Sherly sambil menoleh ke Rafael.


"Aku lagi mau jemput seseorang," bisik Rafael lembut.


"Siapa?"


"Liza."


"Istri Bang El yang kurang ajar itu?"


"Iya."


"Ngapain juga dia minta jemput sama Bang El?"


"Hanya untuk sandiwara kita aja, soalnya tadi pagi Mamiku lagi ada di Jakarta."

__ADS_1


"Ooo."


"Kamu mau beli apa?"


"Mau beli ... lingerie."


"Kamu mau pakai lingerie baru itu saat kita berada di Bali?"


"Iya," ucap Sherly malu - malu.


"He kita ketemu lagi," ucap Regina yang tiba - tiba menggandeng tangan kanannya Rafael.


Sontak Rafael menoleh ke Regina lalu berucap dengan ketus, "Kamu mau ngapain lagi?"


Siapa wanita itu?


Batin Sherly.


"Sambil menunggu kedatangan kamu malam ini, aku sengaja ingin membeli lingerie baru untuk olahraga malam kita," bisik Regina dengan nada suara yang sensual.


"Siapa wanita itu?" ucap Sherly datar sambil menoleh ke Rafael.


"Aku kekasihnya Rafael," ica Regina pura - pura ramah.


"Regina! Jaga ucapanmu! Kamu bukan kekasihku!" geram Rafael sambil melepaskan tangannya Regina.


"Rafael! Ingat ucapan kita yang itu!" ucap Regina kesal.


"Huh ...," Rafael menghela nafas panjang, lalu menoleh ke Sherly. "Maafkan aku Sherly, aku harus pergi dari sini," lanjut Rafael lembut sambil melepaskan tangannya dari pinggangnya Rafael.


Tak terasa air matanya Sherly mengalir lembut. Tak kuasa menahan rasa sedih di hatinya, Sherly melangkahkan kakinya dengan sangat cepat. Rafael melengos pergi dari toko itu. Regina mengikuti langkahnya Rafael dengan kesal. Rafael menghentikan langkahnya lagi, lalu menoleh ke Regina.


"Ngapain kamu ngikutin aku? Bukannya kamu mau beli lingerie?"


"Nggak jadi."


"Kalau nggak, pulang sana," ucap Rafael ketus.


"Nanti kamu ketemu sama dia lagi," ucap Regina kesal.


"Untuk hari sampai hari Senin pagi, aku nggak akan nemuin dia, udah sana pergi!" ucap Rafael kesal.


"Terus kamu mau ngapain?"


"Itu bukan urusanmu!"


"Ta —."


"Tidak ada tapi - tapian, udah sana pulang! Nanti malam aku ke apartemenmu!"


"Baiklah," ucap Regina melunak sambil menundukkan kepalanya.


Liza tersenyum kecut melihat adegan antara Rafael, Sherly dan Regina sejak Rafael menghampiri Sherly hingga Regina menundukkan kepalanya. Luka di hatinya Liza terbuka lagi. Liza sudah biasa merasakan rasa nyeri di hatinya karena ulahnya Rafael. Liza tersembunyi di balik pilar antar toko.


Dia seperti itu entah sampai kapan.

__ADS_1


__ADS_2