Asa Diriku

Asa Diriku
Sandiwara Belaka


__ADS_3

Liza melangkahkan kakinya menuju ruang makan sambil membawa satu mangkok sup buntut. Menaruh mangkuk di atas meja makan. Liza tersenyum karena merasa senang karena dia bisa membuat makanan kesukaan ibu kandungnya Rafael. Mendengar derap langkah dari beberapa orang telah menghampiri dirinya. Liza menoleh ke sumber suara. Dia melihat Clara dan Rachel sedang berjalan ke ruang makan.


"Hatur nuhun Liza, anjeun parantos masak tuangeun karesep Mami," ucap Clara sambil menarik salah satu kursi makan.


"Sami - sami Mi," ucap Liza sambil menarik kursi makan yang berada di depan Clara.


"Raphael teu acan mulih ti padamelan?" ucap Clara sambil mengambil nasi.


"Enya, manéhna keur mandi. Ema tuang heula," ucap Liza sambil mengambil dua buah perkedel jagung.


"Iraha anjeun badé mariksa kakandungan deui?" ucap Clara sambil mengambil dua buah tempe bacem.


"Isukan Mi," jawab Liza sambil mengambil sop buntut.


"Mamih ngiring sareng abdi. Mami hoyong ningali perkembangan janin incu Mami," ucap Clara sambil mengangkat sendoknya.


"Sumuhun," ucap Liza sambil mengangkat sendoknya.


"Abdi ogé," ucap Rachel sambil mengunyah.


"Nuhun Hel," ucap Liza


"Wilujeng wengi sadayana," sapa Rafael ramah ketika berada di depan meja makan.


"Wilujeng wengi oge, Rafael," balas Clara sambil mengangkat sendoknya.


"Iraha dugi ka Jakarta?" tanya Rafael sambil menarik kursi makan yang berada di ujung kanan meja makan.


"Tadi jam opat soré. Kumaha ayeuna geus pinter maké basa Sunda?" ucap Clara sedikit bingung.


"Sabab kuring jeung Liza mindeng ngagunakeun basa Sunda Mi," ucap Rafael sambil mengambil sop buntut.


"Alus. Dupi anjeun damang?"


"Teu nanaon Mi."


"Anjeun geus ngaku maranéhna ogé anak anjeun?


"Enya Mi," jawab Rafael yang menyakinkan.


"Naha éta leres?" tanya Clara sambil menoleh ke Liza.


"Sumuhun Mi," ucap Liza berbohong demi sandiwara mereka.


"Kabar alus pisan. Isukan anjeun badé sumping sareng kami, ngiringan Liza mariksa kakandunganana."


"Hapunten Mi, abdi teu tiasa. Isukan abdi damel telat," ucap Rafael sambil mengambil sendoknya.


"Sadaya lembur, iraha aya waktos kanggo kulawarga?"


"Minggu hareup di kawinan Rachel."


"Upami teu kedah ditaroskeun deui, maksad Mami nalika anjeun sareng kulawarga alit."


"Kuring gé coba pikeun aranjeunna. Pikeun ayeuna - teu acan".


"Naha anjeun kantos ngiringan Liza mariksa kakandunganana?"


"Sakali."


"Naon hasil tina tés kakandungan?"


"Pangwangunanna saé. Aranjeunna kembar, jalu jeung bikang."


"Mami ngajak anjeun mundur ti perusahaan Irene."


"Hapunten Mi, abdi teu tiasa ngalakukeun éta."

__ADS_1


"Kunaon?"


"Gaji kuring ti perusahaan éta tiasa nambihan biaya hirup urang ka hareup. Urang rencana pikeun ngirim aranjeunna ka luar negeri. Nu merlukeun loba duit."


"Dupi anjeun tiasa naroskeun ka Papi pikeun nambihanana?"


"Kami henteu hoyong Mi, kami hoyong mandiri Mi. Barina ogé, urang geus meunang imah méwah ieu ti Papi, nalika urang ménta deui waragad sakola maranéhanana."


"Hola," salam Michelle yang ceria sambil berjalan ke meja makan.


"Selamat malam Tante," ucap Liza sopan sambil menoleh ke Michelle.


"Malam juga cantik," ucap Michelle sambil menarik kursi yang berada di sebelah kanan Liza. "Wah ada sop buntut, siapa tuch yang ingin bertarung?" lanjut Michelle dengan nada suara yang sedikit bercanda sambil menduduki kursinya.


"Emang ada hubungannya antara sop buntut dan bertarung?" ucap Liza bingung.


"Ada Neng cantik, sop buntut mampu meningkatkan kualitas tenaga kita untuk bertarung sampai pagi," ucap Michelle santai sambil mengambil sop buntut.


"Mohon topik pembicaraannya dihentikan, di sini ada anak yang masih di bawah umur," ucap Clara kesal sambil melirik ke Rachel.


"Alah, nanti sebentar lagi juga ngalami, ya nggak Hel?" ucap Michelle dengan nada suara yang bercanda sambil menurun naikan alisnya menghadap ke Rachel.


"Hehehe," ucap Rachel cengengesan.


"Ada apa Tante ke sini?" tanya Rafael sambil mengangkat sendoknya.


"Tante mau berhenti menjadi asisten kamu El," ucap Michelle sambil mengangkat sendoknya.


Wah kesempatan yang bagus nich, aku bisa bebas melakukan apa aja yang aku inginkan, tapi aku tidak boleh kelihatan suka mendengar ucapan Tante.


Batin Rafael.


"Kenapa Tante mau berhenti? Padahal aku masih membutuhkan Tante untuk menjalankan perusahaan," tanya Rafael yang berpura - pura sedih sambil menoleh ke Michelle.


"Yah ... gimana ya ... Tante sering bertengkar sama suami Tante. Kadang - kadang Om Joshua suka nggak jelas marah - marahnya. Masa masalah di kantor sampai dibawa ke rumah, tolong cariin penggantinya Tante, atau Liza aja yang gantiin Tante?" ucap Michelle sambil mengunyah yang membuat Liza melongo.


Boleh juga usulan Tante. Dia bisa tutup mulut tanpa mengeluarkan uang.


Batin Rafael.


Bisa gawat kalau Papi menyetujuinya.


Batin Liza.


"Mami tidak menyetujuinya jika Liza bekerja. Mami tidak mau kehilangan cucu Mami lagi," ujar Clara.


"Terus menurut Mami siapa yang bisa menggantikan Tante? Sedangkan kita lagi krisis kepercayaan sama orang lain," ucap Rafael sedikit terkejut sambil menoleh ke Clara.


"Mami yang akan menggantikannya."


Waduh kalau Papi menyetujui Mami yang menggantikan Tante bisa tambah susah curi waktu untuk bersenang - senang.


Batin Rafael.


"Ok, nanti aku bilang ke Papi dulu," ucap Rafael sambil menaruh sendok garpunya di atas piring, lalu berdiri dan berjalan menghampiri Liza.


"Aku tunggu kamu di kamar," ucap Rafael lembut ke Liza, lalu mencium puncak kepalanya Liza.


"Iya," ucap Liza.


"Ciyeee, yang udah baikan," ucap Michelle yang ngegodain Rafael dan Liza.


Rafael tersenyum manis ke Michelle, lalu berucap, "Nggak kuat marahan terlalu lama."


"Nggak kuat marahan atau nggak kuat nahan auw - auw?" ledek Michelle.


"Tante bisa aja," ucap Rafael malu - malu, lalu Rafael melangkahkan kakinya ke kamar utama.

__ADS_1


"Kapan kalian baikan?" tanya Michelle kepo.


Waduh aku harus jawab apa?"


"Kemarin," celetuk Clara.


Michelle dan Liza sontak menoleh ke Clara, lalu Michelle berucap, "Kamu tahu dari siapa?"


"Santi, salah satu maid di sini."


Berarti di sini ada mata - mata. Aku harus pintar bersandiwara supaya tidak ketahuan seperti Rafael.


Ucap Liza di dalam hatinya.


"Kamu naruh mata - mata di sini?"


"Bukan, tapi Bang Billy."


"Bisa dipercaya nggak tuch orang? Jangan sampai kayak si Melinda lagi."


"Kalau itu aku nggak tahu. Oh ya, by the way, gimana perkembangan kasus - kasus itu?"


"Dalangnya sudah ketangkap Mi," ucap Liza.


"Siapa dalangnya?" tanya Clara.


"Namanya aku lupa Mi, seingatku dia bandar narkoba yang pernah ditangkap sama Tulang Billy."


"Ooo dia yang biang keladinya," samber Michelle.


"Memangnya kamu tahu siapa dalangnya?" ucap Clara sambil menoleh ke Michelle.


"Nama dedengkotnya, Tonny Tse. Dia dulu itu temannya Abang."


"Ooo si Tonny. Kalau itu sich aku juga tahu orangnya, gara - gara dia Abang Rogen masuk penjara," celoteh Clara.


"Iya gara- gara dia melakukan transaksi di pub milik Abang," celetuk Michelle.


"Papi punya pub?" tanya Liza bingung sambil menoleh ke Michelle.


"Dulu punya, tapi udah dijual," jawab Michelle.


"Permisi, maaf Nyonya, anda dipanggil sama Tuan," ucap salah satu maid yang berdiri di samping kirinya Liza.


"Ciyeee ... udah ke sana buruan, si Abang El udah nggak nahan," ledek Michelle sambil menoleh ke Liza dengan raut wajah yang jenaka.


"Ah Tante bisa aja," ucap Liza sambil menaruh gelas di atas meja.


"Gara - gara makan sop buntut, dia udah bergelora. Kasih servis yang memuaskan Liz biar Rafael nggak celap - celup lagi," ledek Michelle.


Liza hanya cengengesan setelah mendengar ucapan Michelle. Tak lama kemudian, Liza berdiri dari kursi makannya. Melangkahkan kakinya menuju kamar. Menyentuh beberapa ikon di layar pemindai untuk membuka kunci pintu. Setelah lampu hijau menyala, Liza menekan handle pintu ke bawah.


Mendorong daun pintu sehingga pintu terbuka secara perlahan. Masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar. Melanjutkan langkahnya menghampiri Rafael yang sedang duduk menyilang di sofa panjang. Rafael menepuk samping kirinya supaya Liza duduk di situ. Lalu Liza duduk di samping kirinya Rafael.


"Kita bersandiwara sampai Mami pulang ke Bandung," ujar Rafael yang memulai pembicaraan mereka.


"Itu tidak bisa," ucap Liza sambil menoleh ke Rafael.


"Kamu baper setelah kita bersandiwara?" tanya Rafael dengan ketus.


"Kamu jangan ge er dulu. Di sini ada mata - mata yang menyelidiki perkembangan hubungan kita."


"Siapa orangnya yang menjadi mata - mata?"


"Aku lupa namanya," kilah Liza.


"Apakah kamu sanggup bersandiwara setiap hari?"

__ADS_1


"Iya, aku sanggup bersandiwara setiap hari."


"Harus diingat sejak makan malam tadi sampai seterusnya hanya sandiwara belaka."


__ADS_2