
"Hallo, Ed, elu ya memberi tahu Liza tentang Aisyah nyuruh gw belajar mencintai Liza?" tanya Rafael ketika Edward mengangkat panggilan telepon darinya sambil duduk bersandar di headboard ranjang.
"Nggak. Udah sebulan lebih gw nggak ngobrol sama dia. Emangnya kenapa El?" ucap Edward dengan suara yang parau.
"Dia tahu soal itu sampai dia pergi dari sini."
"Lah? Nggak elu tahan supaya nggak pergi?"
"Nggak, gw malas nahannya, biar aja dia melakukan apa yang ingin dia lakukan, gw nggak mau memaksanya. Lagipula gw udah nggak mau melakukan apa yang Aisyah inginkan dari pernikahan gw. Oh ya, Ed, elu bisa hari ini datang jam tujuh pagi?"
"Ngapain?"
"Bantuin gw bikin surat perjanjian perceraian gw sama Liza."
"What? Baru kali ini gw denger surat perjanjian perceraian. Emangnya dia mau bercerai sama elu?"
"Mau. Bisa nggak bantuin gw!?"
"Eh, biasa aja kali, jangan pakai sewot. Iya gw bisa, tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Gw pinjam Regina nanti malam."
"Gila elu ya, gw ngga mau, karena bisa menyakiti perasaan Florence."
"Gw ama Flo sudah putus."
"Yah udah gw dukung elu jadian sama Regina, biar dia nggak nyusahin hidup gw lagi."
"Hahaha emang elu kira gw mau menjadi kekasihnya? Itu nggak mungkin, gw ingin jadiin dia boneka **** gw."
"Oh ... silakan aja. Gw mah gampang, tinggal cari yang lain."
"Hahaha, habis manis, sepah dibuang. Berarti deal ya?"
"Iya deal."
Tanpa basa - basi, Rafael menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya, lalu menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon. Menaruhnya di atas nakas sebelah kiri tempat tidur. Dia menoleh ke Regina yang sedang menatap menggoda ke dirinya. Rafael tersenyum sinis melihat kelakuan Regina. Ketika Rafael hendak ingin berdiri, tangan kanannya Rafael ditahan dana Regina.
"Kamu mau ngapain pagi - pagi begini? Mendingan kita bergulat di sini," ucap Regina dengan nada suara yang sensual.
__ADS_1
"Lepaskan! Ada urusan penting!" ucap Rafael datar sambil menepis tangan kanannya Regina.
"Tapi kan ini baru jam setengah lima, lagipula kantor kamu dekat dari sini."
"Apa urusan kamu melarangku pergi, kamu bukan siapa - siapa aku. Kamu itu hanya boneka **** bagiku! Camkan itu! Oh ya, mulai nanti malam aku sudah tidak menginginkan dirimu lagi karena Edward akan menginginkanmu sebagai boneka seksnya, aku tidak mau memakai seseorang berbarengan sama sahabatku. Jadi aku tidak akan memanggil dirimu dan kamu jangan ke sini lagi! Perlu diingat, jangan gangguin hidupku lagi! Oh ya, sebaiknya sekarang kamu keluar dari penthouseku! Nanti aku transfer biaya pelayananmu semalam," ucap Rafael serius, lalu melangkah kakinya ke kamar mandi tanpa mengenakan pakaiannya.
Damn! Kalian berdua sama aja!
Batin Regina.
"Huhh ...," Regina menghela nafas panjang sambil beringsut ke tepian kanan ranjang.
Regina mengambil smartphone miliknya yang berada di atas nakas sebelah kanan ranjang. Menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Edward. Menyentuh ikon hijau untuk melakukan panggilan. Mendekatkan benda pipih ke telinga kirinya. Regina hanya mendengar suara nada sambung sampai panggilan ke lima, panggilan telepon itu diangkat.
"Hallo," sapa seorang perempuan.
"Edward ada?" tanya Regina sambil berdiri dari ranjang tanpa sehelai kain yang menutupi tubuh proporsionalnya.
"Ed, ini ada telepon untukmu," ucap seorang wanita.
"Hallo, ada apa Re?"
"Ngapain elu ngomong mau jadiin gw boneka **** elu sana Rafael, apa maksud elu!?" ucap Regina kesal sambil melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Bullshit! Gara - gara itu, dia nggak akan hubungi gw lagi dan gw gw dilarang datang ke penthousenya! Bilang ke Rafael, elu nggak jadi pakai gw!"
"Ya elah segitunya. Iya nanti gw bilang ke Rafael."
"Jangan sampai rencana kita berantakan gara - gara itu!"
"Iya."
Regina menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya. Menyentuh ikon merah untuk mematikan panggilan telepon. Regina menaruh smartphonenya di tempat semula. Regina berjalan ke arah kamar mandi. Menekan handle pintu ke bawah, lalu mendorongnya hingga pintu kamar mandi terbuka. Regina masuk ke dalam kamar mandi. Melihat Rafael yang sedang berdiri di bawah kucuran air. Regina menyeringai licik sambil berjalan menghampiri Rafael. Memeluk Rafael dari belakang, lalu dua tangannya menggerayangi bagian bawah tubuhnya Rafael hingga ke pusat tubuhnya Rafael. Bermain - main menggoda di sana hingga terdengar suara yang bergairah.
"Aku tidak mau jauh dari dirimu, Ed membatalkan keinginannya. Tetaplah bersamaku," ucap Regina dengan nada suara yang sensual sambil memainkan senjata pamungkasnya Rafael.
"Aaahhh ... untuk hari ini iya, sabuni badanku, ucap Rafael, lalu Rafael membalikkan badannya.
Dengan sigap Regina menurunkan badannya, lalu menghisap lollipop dengan kelembutan. Rafael meremas rambutnya sambil menikmati pelayanan dari Regina. Dengan lihainya, Regina melahap lollipop. Regina berdiri, dengan sigap Regina mengangkat kaki kanannya, lalu memegangnya. Rafael memasuki senjata pamungkasnya ke gua. Tak lama gua dibombardir dengan liar. Suara pemilik senjata dan suara pemilik gua saling bersahutan di dalam pergulatan mereka.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
__ADS_1
Bunyi pesawat telepon yang dikhususkan untuk panggilan interkom mengagetkan mereka berdua. Sontak Rafael menghentikan kegiatannya, lalu melepaskan penyatuannya. Mendorong tubuhnya Regina. Dia langsung memberikan kode ke Regina untuk tidak melanjutkan kegiatan panas mereka dengan mengangkat telapak tangannya, lalu menggoyangkannya. Mengambil sabun cair yang berada di tembok, lalu membasuh sabun itu ke badannya. Regina mengerucutkan bibirnya karena melihat sikap Rafael yang tiba - tiba menghentikan kegiatan panas mereka pagi ini.
"Kamu harus tetap di sini sampai keadaan aman terkendali," ucap Rafael sambil menyabuni badannya dengan tergesa - gesa.
"Memangnya itu telepon dari siapa sich? Sampai menghentikan kegiatan intim kita?" ucap Regina pura - pura sedih.
"Itu telepon dari satpam yang dibawah. Itu menandakan ada hal yang penting. Pokoknya kamu tetap harus berada di sini. Nanti aku kabari lagi jika keadaan aman," ucap Rafael sambil membilas badannya.
"Huh ...," Regina menghela nafas panjang, lalu dia berjalan ke bathtub.
Rafael mematikan kran shower. Berjalan pelan ke pintu kamar mandi, lalu mengambil handuk yang tergantung di dinding kamar mandi. Melilitkan handuk ke pinggangnya. Keluar dari kamar mandi. Melanjutkan langkahnya ke pesawat telepon yang berada di atas meja samping kiri sofa panjang. Mengangkat gagang pesawat telepon, lalu memencet tombol untuk menghubungi satpam yang tadi menelpon.
"Hallo Tuan."
"Iya ada apa?"
"Tuan Besar dan Nyonya Besar datang ke sini. Mereka sudah naik ke atas."
Waduh! Gimana ini! Bisa gawat kalau ketahuan.
Batin Rafael.
"Ok, terima kasih atas informasinya," ucap Rafael dengan nada suara yang sedikit panik.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rafael pada dirinya sendiri. "Telepon Liza!" lanjut Rafael dengan nada suara yang lega karena dia merasa melakukan yang tepat.
Rafael langsung bergegas ke nakas sebelah kiri tempat tidur. Menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Liza. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Mendengar suara nada tidak aktif dari nomor handphonenya Liza. Rafael mendengus kecil karena kali ini nasibnya tidak mujur. Rafael menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya sambil mengerutkan keningnya. Dia menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Melinda, tapi hasilnya juga sama. Dengan kesal Rafael melempar smartphone miliknya ke atas ranjang. Menduduki tubuhnya di tepian ranjang.
"Damn it!" ucap Rafael sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Smartphone milik Rafael berbunyi. Rafael langsung mengambil smartphone miliknya. Rafael tersenyum senang melihat nama Liza yang tertera di layar smartphonenya. Dengan gerakan cepat, Rafael menyentuh ikon hijau untuk menerima panggilan dari Liza. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo ada apa?" tanya Liza sinis.
"Masa sama suami sendiri jutek begitu," ucap Rafael lembut.
"Kalau begini, pasti Bang El ada maunya. Apa yang kamu inginkan?" ucap Liza yang masih jutek.
"Tolong kamu datang ke sini secepatnya."
__ADS_1
"Memangnya ada apa?"
"Papi dan Ummi datang ke sini. Aku mohon kamu datang ke sini."