
Rafael duduk di singgah sananya sambil mengepalkan dua telapak tangannya dengan tatapan matanya yang tajam dan dengan kening berkerut. Pikirannya benar - benar tak bisa tenang semenjak Liza selalu berdekatan dengan Jack dan semenjak hatinya menjadi ragu akan janjinya yang ingin belajar mencintai Liza sedangkan dirinya masih mencintai Aisyah. Rafael tidak suka melihat Liza memiliki hubungan asmara sama Jack. Karena itu dia marah sama Liza dan menjadi ragu dengan hatinya. Sudah beberapa hari dia tidak menyapa maupun bicara sama Liza dan dia sering menghindar dari Liza.
"Apakah aku harus mempertahankan rumah tanggaku bersama Liza? Sepertinya aku tidak bisa mempertahankan rumah tangga ini karena tidak ada rasa cinta di antara kami. Aku sudah berusaha untuk menghilangkan rasa cintaku kepada Aisyah, namun hasilnya masih seperti yang dulu. Dari hasil laporan para pengawal pribadinya Liza, terutama dari Bu Melinda, Liza melakukan perselingkuhan. Dasar wanita munafik! Dia yang melarang aku selingkuh, malah dia yang selingkuh! Wanita serigala berbulu domba! Untung sejak tahu Liza, selingkuh, aku tidur di kantor terus tanpa ada sentuhan dari wanita. Untung tadi aku telepon Regina, dia masih mau melayani kebutuhan biologisku tanpa aku bayar dan sepertinya Regina tidak marah kepadaku karena semalam aku tidak jadi ke apartemennya. Dan siang ini, dia mau datang ke sini. Aku harus membuat surat perjanjian perceraian sama Liza. Setelah surat itu selesai, aku berikan salinan ke Liza dan memberikan surat perjanjian pernikahan kontrak kami tanpa- seorang pun tahu hal itu," gumam Rafael bermonolog.
Kring ....
Panggilan interkom dari pesawat telepon yang mengagetkan Rafael. Dia mengangkat gagang pesawat telepon itu untuk menjawab panggilan itu, lalu mendekatkan gagang telepon itu ke telinga kirinya.
"Selamat siang Pak, ada Pak Edward ingin bertemu dengan anda."
"Suruh dia masuk."
"Baik Pak."
Rafael menaruh gagang telepon itu ke tempat semula. Dia beranjak berdiri untuk menyambut sahabat sekaligus asisten dia di perusahaan papinya. Rafael sangat bersyukur mengenal sosok Edward yang sangat pengertian akan dirinya. Rafael melangkahkan kakinya ke tempat perjamuan tamu setelah menutup pintu. Pintu ruang kerjanya terbuka lebar menampakkan sosok sahabat lamanya yang sedang berjalan menghampiri dirinya sambil tersenyum hangat. Rafael membalas senyuman itu.
"Selamat siang Tuan Rafael," sapa Edward dengan sopan sambil mengulurkan tangan kanannya ke Rafael.
"Selamat siang juga," ucap Rafael sambil membalas uluran tangan kanannya Edward, lalu mereka berjabat tangan.
"Sudah beberapa hari kita tidak berjumpa," ucap Edward sambil melepaskan uluran tangan kanannya.
"Iya, aku sibuk mengurus perusahaan ini," ucap Rafael sambil menurunkan tangan kanannya. "Silahkan duduk."
Edward menduduki tubuhnya di atas sofa panjang, lalu berucap sambil memberikan sebuah tas yang berisi beberapa map ke Rafael, "Ini berkas - berkas yang harus kamu tanda tangani."
Rafael menerima sebuah tas yang diberikan oleh Edward, lalu berucap, "Saya pelajari dulu semua berkas ini. Bagaimana keadaan perusahaan 2R Group?"
"Masih stabil."
"Saya minta kamu untuk membuat surat perjanjian perceraian."
"Untuk siapa?"
"Untuk saya."
"Gile elu ya! Baru nikah udah mau menceraikan istri elu! Apa kata dunia, elu berpisah dari Liza!? Yang ada bonyok elu murka!" ucap Edward spontan.
__ADS_1
"Eeiiuttsss, ingat masih jam kerja!" ucap Rafael tegas untuk memberi batasan ke Edward.
"Maaf Tuan. Isi surat perjanjiannya seperti apa?"
"Besok kita bahas tentang isi surat perjanjian perceraiannya."
"Kenapa Tuan ingin bercerai?"
"Karena sudah tidak ada lagi rasa cinta di antara kita. Lagipula dia selingkuh dan aku masih mencintai Aisyah, padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakan Aisyah."
"Benarkah dia selingkuh?"
"Iya, aku pernah lihat langsung dia berpelukan sama seorang pria dan aku sudah mendapatkan beberapa laporan bahwa dia telah berselingkuh."
"Dia selingkuh sama siapa?"
"Sama Jack."
"Apakah keluarga kamu tahu hal itu?"
"Berani juga dia melakukan itu," komentar Edward.
"Namanya juga wanita murahan yang munafik. Dalam liar, luar kalem."
"Kapan kalian akan bercerai?"
"Sedang aku pikirkan."
"Apakah pesta pernikahan kalian tetap diadakan?"
"Tunggu kabar dari keluarga."
Waduh gawat kalau Rafael sama Liza jadi bercerai, pasti Regina mepet Rafael terus. Aku harus bisa mempengaruhi Rafael untuk tidak menceraikan Liza.
Batin Edward.
"Kalau menurutku sebaiknya kamu memaafkan dirinya
__ADS_1
"Ngapain juga aku memaafkannya."
"Dia kan juga pernah memaafkan kesalahan kamu yang telah melakukan hubungan **** sama wanita lain."
Rahang muka Rafael mengeras, lalu berkata, "Itu beda masalah."
"Beda masalah apanya? Kamu selingkuh, dia memaafkannya, masa dia selingkuh, kamu tidak mau memaafkannya."
Rafael beranjak berdiri dari sofa, lalu berucap, "Sebaiknya kamu pergi dari sini karena nanti ada tamu spesial yang akan memuaskan diriku."
Edward langsung berdiri, lalu mengulurkan tangan kanannya. Rafael membalas uluran tangan kanannya Edward. Tak lama kemudian mereka berjabat tangan. Edward melepaskan uluran tangan kanannya, lalu Rafael menurunkan tangan kanannya. Pintu ruang kerjanya Rafael terbuka. Menampilkan sosok Regina yang mengenakan rok span selutut warna hitam dan tank top putih yang ditutupi sama blazer warna hitam. Regina tersenyum sumringah melihat sosoknya Rafael yang dia rindukan sejak papinya Rafael datang ke Indonesia.
Regina masuk ke dalam ruangan setelah menutup pintu. Berjalan anggun yang menggoda. Rahang muka Edward mengeras melihat Regina yang sedang memperlihatkan mimik wajah yang menggoda ke Rafael. Edward melangkahkan kakinya menjauh dari Rafael. Regina berjalan melengos melewati Edward tanpa mempedulikan kehadiran EdwardRegina langsung mengalungkan dua tangannya di leher kokohnya Rafael ketika tubuhnya Regina di hadapan Rafael, lalu mengecup bibirnya Rafael.
Edward menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badannya. Tangan kirinya Rafael langsung menarik pinggangnya Regina sehingga tubuh mereka merapat. Rafael mencium bibirnya Regina dengan buas. Regina mengimbangi permainan Rafael. Tangan kanannya Rafael menjelajah area sintal milik Regina, lalu meremasnya dengan keras sehingga Regina mendesah di dalam ciumannya. Edward sudah muak melihat adegan seperti itu.
Ini yang terakhir melihat kalian bermesraan secara langsung.
Kata hatinya Edward yang sedang menatap tajam ke dua orang yang sedang berciuman.
Edward membalikkan badannya, lalu melanjutkan langkah kakinya menuju pintu. Edward menyentuh tombol untuk membuka kunci pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka secara otomatis. Edward melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya Rafael. Pintu tertutup secara otomatis setelah Edward keluar. Ciuman mereka memanas. Rafael menggiring Regina ke depan kursi kerjanya. Rafael menghentikan kegiatan panasnya. Nafas mereka tersengal - sengal. Mereka saling mengatur nafas mereka agar kembali normal.
Rafael mengangkat gagang pesawat telepon, lalu memencet tombol untuk melakukan panggilan interkom dan berucap, "Wira, tolong kunci pintu ruangan saya dan jika ada yang mencari saya, bilang saya sedang rapat dengan tamu penting."
"Baik Tuan."
Rafael memencet tombol untuk memutuskan panggilan telepon itu, lalu menaruhnya di tempat semula. Rafael duduk di kursi kebesarannya, lalu membuka dua pahanya. Menyeringai licik ke Regina. Regina tahu maksud dari seringai Rafael. Regina langsung berjongkok di depan senjata pamungkasnya Rafael yang masih diselimuti. Regina mengadahkan wajahnya ke Rafael. Regina memberikan sebuah senyuman yang menggoda.
"Puaskan diriku."
💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐
Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😊😊😊🥰🥰🥰.
Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna 😊😊😊.
Dukung novel ini dengan like, komen, kasih vote, kasih bintang lima dan kasih hadiah ya, love you 😁😁😁😘😘😘
__ADS_1