Asa Diriku

Asa Diriku
Kenapa Kamu Termenung?


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading 🤗


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


"Kenapa kamu termenung? Apakah kamu tidak senang dengan hasil pemeriksaan dokter umum tadi?" ucap Eliosia dengan nada suara yang khawatir melihat kondisi anaknya yang selalu termenung setelah tahu hasil pemeriksaan dokter umum.


"Aku senang, tapi aku bingung, bagaimana memberi tahu soal ini ke Rafael, sedangkan hubungan kami sudah mau selesai, aku khawatir dengan perkembangan psikologi anak ini jika kami bercerai, nanti dia menjadi manusia yang penakut karena sering di bully dan memiliki trauma karena perlakuan kasar," ucap Liza sambil menundukkan kepalanya.


"Kamu sering di bully ya?" tanya Eliosia yang merasa iba melihat kesedihan di wajahnya Liza.


"Iya, sejak aku berusia empat tahun, tepatnya sejak aku sekolah di TK A. Aku sering di bully karena tidak punya seorang ibu. Sejak itu aku meminta seorang ibu sama papi. Akhirnya papi menikah sama tante Magdalena, tapi tante Magdalena selalu berbuat kasar dan selalu mencaci maki diriku. Aku tidak mau anakku mengalami seperti itu. Tapi di sisi lain, aku ingin sekali mengakhiri pernikahan kami. Aku jadi bingung," ucap Liza sendu.


"Kamu tak perlu sedih, Mommy jamin anakmu bahagia tanpa seorang ayah."


"Awalnya aku bahagia hidup tanpa seorang ibu, tapi ketika aku sekolah, aku mulai di bully sama teman - temanku."


"Kalau begitu kamu cari seorang pria yang benar - benar mencintaimu," ucap Eliosia semangat.


"Susah mencari orang yang tulus mencintaiku," ucap Liza sedih.


"Nggak susah kok. Di dekat kamu, ada orang yang tulus mencintaimu."


"Siapa?" tanya Liza penasaran sambil menoleh ke Eliosia.


"Anak tiri Mommy," ucap Eliosia yakin.


"Jack?" tanya Liza ragu.


"Iya. Menurut Mommy dia mencintaimu."


"Itu tidak mungkin. Dia sudah mempunyai kekasih."


"Tapi si Etta tukang selingkuh, beberapa kali dia kepergok sedang berjalan berduaan sama seorang pria, namun Etta selalu menyangkalnya, dia bilang hanya temanan. Dan Mommy sangat yakin jika Jack mencintaimu dengan tulus."


Liza tersenyum sinis, lalu berucap, "Kenapa anda beranggapan seperti itu?"


"Karena Mommy melihat perlakuan Jack ke kamu begitu manis dan lembut, feeling Mommy mengatakan bahwa Jack mencintaimu dengan tulus."


"Belum tentu feeling anda benar," ucap Liza sambil menundukkan kepalanya.


"Ibu Eliza Fransisca Tobing silakan masuk," ucap salah satu perawat rumah sakit sambil berdiri menyamping di depan pintu.


Liza dan Eliosia beranjak berdiri dari bangku di ruang tunggu depan ruang kerja dokter spesialis kandungan rumah sakit ibu dan anak kawasan Kemang. Liza dan Eliosia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang praktek dokter. Liza tersenyum ramah ke perawat yang tadi memanggil namanya ketika mereka berpas - pasan. Melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Selamat malam dokter!" sapa Liza dan Eliosia kompak ketika melihat dokter sedang membuka dokumen data riwayat.


Dokter itu menoleh, lalu tersenyum sopan dan berucap, "Selamat malam juga, silakan duduk."

__ADS_1


Tak lama kemudian, Liza dan Eliosia duduk di hadapan dokter. Sang dokter kembali membaca dokumen data Liza dalam waktu sekejap. Lalu dia menoleh lagi ke Liza dan Eliosia sambil tersenyum sopan ke mereka.


"Dengan Nona Liza?"


"Iya Dok."


"Kamu telat datang bulan sudah berapa hari?"


"Sudah satu minggu lebih dari jadwal rutinitas menstruasi saya, Dok. Biasanya saya menstruasi setiap tanggal satu, tapi tanggal satu bulan ini belum menstruasi. Tadi siang saya sudah periksa ke dokter umum, disuruh testpack, hasilnya positif."


"Berarti kamu terakhir menstruasi tanggal satu bulan kemarin?"


"Iya."


"Kamu selesai menstruasinya tanggal berapa?"


"Tanggal tujuh."


"Kalian terakhir berhubungan intim kapan?"


"Sekitar dua mingguan Dok."


"Benarkah anda pernah mengalami keguguran?"


"Iya."


"Kapan kejadiannya?"


"Sekitar dua bulan yang lalu."


"Tidak, waktu itu dokternya bilang tak perlu dikiret."


"Mari ikut saya!" ajak bu dokter itu sambil beranjak berdiri, lalu berjalan menuju ke tempat tidur.


Liza dan Eliosia beranjak berdiri dan mengikuti langkah kaki dokter itu. Dokter itu menyiapkan alat - alatnya bersama seorang suster. Liza naik ke tempat tidur. Sedangkan Eliosia berdiri di sebelah kiri tempat tidur pasien. Ketika Liza membaringkan badannya di atas tempat tidur, dia merasakan gugup sampai tangannya basah karena keringat dingin. Dia gugup karena dia masih bimbang untuk menjalankan takdir kehidupannya. Dokter itu menghampiri Lily dengan membawa stetoskop. Kaosnya disingkap, dadanya diperiksa oleh dokter itu dengan menggunakan stetoskop.


Kemudian suster itu membawa proben USG dan sebuah salep. Dokter itu membuka tutup tube salep itu untuk mengeluarkan isinya. Setelah salepnya yang berupa gel dikeluarkan, perut bagian bawah Liza dibaluri oleh gel itu. Tak lama kemudian, dokter itu memberikan tube gel itu ke suster. Kini dokter meletakkan proben USG di bagian bawah perut Liza, lalu menggerakkan proben itu.


Liza bisa melihat dengan jelas semburat kebahagiaan di raut wajah Eliosia. Seulas senyuman kebahagiaan ketika Liza melihat layar monitor yang menampilkan gambar yang tak dimengerti oleh dirinya. Tubuh Liza seketika menghangat saat tangan Eliosia menggenggam telapak tangan kiri Liza untuk memberikan rasa nyaman yang Robin sendiri tahu bahwa Liza saat ini sedang gugup.


"Bagaimana hasilnya, Dok? Anak saya benar - benar hamil kan?" tanya Robin.


"Iya Nyonya, hasilnya positif," ucap dokter yakin.


Mendengar ucapan dokter, kedua mata Liza seketika berbinar sambil mendongakkan sedikit wajahnya, lalu berkata, "Saya benar - benar hamil Dok?"


"Iya Nona Liza," ucap dokter membenarkan. "Dan kemungkinan Nyonya akan melahirkan bayi kembar karena ada dua kantung yang tumbuh di rahim anda," ucap dokter sambil menunjukkan dua kantung kecil yang tertera di layar monitor tersebut.


"Bayi kembar?" tanya Liza dan Eliosia kompak dengan detakan jantung mereka yang berdegup cepat karena terkejut mendengar ucapan dokter tersebut.


"Iya Nyonya. Kamu akan memiliki bayi kembar. Dari ukuran janin, usia kehamilan Nona Lily saat ini berusia dua minggu dan keadaan bayi kembar kamu sehat. Selamat ya," ucap dokter itu sambil menjauhkan proben USG itu dari perut Liza, lalu dia merapihkan peralatannya.


Hari ini adalah hari yang sangat berkesan dalam hidup Eliosia. Sesuatu menggetarkan dadanya saat mengetahui bahwa dirinya akan menjadi seorang nenek. Liza juga merasakan getaran di dadanya saat mengetahui bahwa dirinya hamil lagi. Getaran kebahagiaan yang menyelimuti Liza telah menyemangati jiwanya Liza.

__ADS_1


Aku harus semangat dan tak perlu bersedih hati lagi demi perkembangan dan pertumbuhan anak kembarku.


Batin Liza.


"Terima kasih Dok," ucap Liza sambil menurunkan kaosnya yang tersingkap.


Senyuman Liza dan Eliosia mengembang sempurna di setiap guratan wajahnya ketika mendengar pernyataan dokter tadi. Kebahagiaan yang bertubi - tubi terasa menghujani mereka malam ini. Tak lama kemudian, Liza dituntun turun dari tempat tidur pasien oleh Eliosia. Eliosia langsung menggandeng tangan kiri Liza. Eliosia memapah Liza untuk duduk di salah satu kursi. Mereka duduk di tempat yang tadi mereka duduk. Hati mereka sama - sama bahagia dan bersyukur telah mendapatkan anugerah yang terindah dari Tuhan.


"Di trimester pertama kehamilan, mungkin sangat rentan, apalagi jika mengandung anak kembar dan anda pernah mengalami keguguran. Jadi saya harap, Nyonya Liza lebih bisa memperhatikan kesehatan dan jangan terlalu capek. Selain itu di trimester awal ada proses terjadinya pembentukan organ inti dari tubuh manusia. Seperti otak, organ tubuh dan tulang belakang. Karena itu saya harap Nyonya Liza untuk memenuhi asupan nutrisi maupun gizi yang cukup."


"Baik, Dok," ucapan Liza sambil tersenyum yang masih tak memudar sedikit pun dari raut wajahnya.


"Saya kasih resep vitamin terlebih dahulu ya, Nyonya Liza," ucap dokter sambil menulis resep itu.


"Iya, dok," ucap Liza dengan nada suara yang bahagia.


"Terima kasih karena telah mengandung cucu kembarku," ucap Eliosia dengan nada suara yang lembut sambil menoleh ke Liza, lalu dia menggenggam telapak tangan kanan Liza untuk memberikan dukungan agar Liza lebih semangat lagi.


"Ini resep dan foto hasil USG nya," ucap dokter sambil memberikan resep dan selembar foto.


"Terima kasih banyak Dok," ucap Liza sambil menerima resep dan foto itu.


"Kami pamit pulang, selamat malam Dok," pamit Liza dengan sopan.


"Iya, selamat malam juga."


Kemudian Liza dan Eliosia beranjak berdiri, berbalik dan melangkah kakinya keluar dari ruangan itu. Pintu dibuka oleh suster. Suster itu memegang handle sambil tersenyum kepada mereka ketika tatapan mata mereka bertemu. Liza membalas senyuman itu dengan sopan sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih. Kemudian Liza dan Eliosia berjalan keluar dari ruangan itu. Ketika mereka berada di depan pintu ruang praktek dokter spesialis kandungan, Liza melihat sosok Vina sedang duduk santai di ruang tunggu depan ruang praktek sambil menatap ke arah mereka dengan tatapan mata yang penuh dengan tanda tanya.


Sedang apa Vina di sini?


Batin Liza.


"Kamu tunggu aja di sini, Mommy mau nebus vitamin untuk kamu," titah Eliosia sambil memberikan tas jinjingnya Liza.


"Iya."


Sedetik kemudian Eliosia melangkahkan kakinya menuju apotek. Duduk di barisan pertama bangku untuk para pasien atau pun untuk orang yang mempunyai kepentingan sama dokter. Liza membuka resleting tas jinjingnya. Mengambil smartphone miliknya. Menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Rafael. Bagaimana pun juga Rafael harus mengetahui tentang kehamilannya kali ini. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Maaf, nomor telepon yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Teleponlah beberapa saat lagi," suara operator.


"Huh ...," Liza menghela nafas panjang sambil menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya.


"Liza, kamu hamil lagi?" tanya Vina yang tiba - tiba datang menghampiri Liza.


"Itu bukan urusan dirimu," ucap Liza ketus tanpa menoleh ke Vina.


"Maafkan aku Liz," ucap Vina sendu yang tidak dipedulikan oleh Liza. "Aku sedang mengandung anaknya Bang El," ucap Vina ketika Liza sedang menyentuh beberapa ikon untuk menelpon Rachel.


Liza menghentikan keinginannya, lalu menoleh ke Vina dan berucap, "Kamu yakin itu anaknya Bang El?"


"Iya, sudah lama aku tidak pernah berhubungan intim, tapi karena ada seseorang yang memasuki obat perangsang di minumanku dan di Bang El, kami melakukan hubungan intim," ucap Vina penuh kehati - hatian.


Kalau sudah begini, sebaiknya aku mengakhiri rumah tanggaku dengan Bang El. Aku harus semangat menjalankan kehidupan ini tanpa Bang El demi anak yang kukandung.

__ADS_1


Batin Liza.


__ADS_2