Asa Diriku

Asa Diriku
Keluargaku


__ADS_3

Liza menatap gumpalan awan berbentuk tipis transparan dengan tampilan filamen seperti sutra membentang di langit biru. Cahaya sang fajar di pagi bersinar cerah menyinari kota Jakarta. Waktu terus berputar mengiringi perjalanan dari bandara Halim Perdanakusuma menuju hotel milik Papinya Rafael. Rafael, Rogen, Irene, Ira dan Michelle menjemput Andre, Zayn, Amstrong, Benny, Lily, Roby, Roly, Sofia, dan Sarah di bandara tersebut.


Roda mobil berputar meninggalkan wilayah bandara yang juga merupakan markas komando operasi angkatan udara I negara Indonesia. Liza teringang - ingang sama sikembar Roly dan Roby, dua bocah laki - laki yang cerdas dan penyayang. Liza tersenyum mengingat kejadian ketika Sarah terjatuh, dengan sigap sikembar membantu dan menenangkan Sarah yang menangis karena terjatuh.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Rafael.


Liza menoleh ke Rafael, lalu berucap, "Hatiku tersentuh sama perilaku sikembar ketika menolong dan menenangkan Sarah yang menangis karena terjatuh. Aku ingin memiliki anak seperti itu."


"Kalau mau, kita bikin lagi, di sini," ucap Rafael santai.


"Ngaco kamu," ucap Liza ketus, lalu menoleh lagi ke pemandangan di luar jendela set wajah yang cemberut.


Rafael menggenggam telapak tangan kanannya Liza, lalu berucap, "Kamu mau anak kembar?"


Liza menoleh ke Rafael, lalu berucap, "Mau, kalau Tuhan mengijinkannya."


"Kita bisa dapat anak kembar dengan program inseminasi," ucap Rafael sambil menoleh ke Liza.


"Tak perlu melakukan itu, karena keturunan di keluarga ada yang kembar, dan kita meminta ke Tuhan."


"Baiklah, kalau itu maumu."


"Bang El, besok nggak jadi jemput keluarga dari Medan di bandara?"


"Nggak, jadwalku padat. Nanti sore kamu sama Rachel dan Rania jadi pergi ke mall?"


"Jadi. Kamu mau ikut nggak?"


"Nggak. Tapi, sebelum makan malam, kamu harus sudah sampai di apartemen."


"Iya, tenang aja. Aku pasti on time."


"Oh ya, nanti tolong sekalian beliin cemilan khas Indonesia untuk mereka."


"Emangnya mereka doyan masakan Indonesia?" tanya Liza terkejut.


"Doyan banget, apa lagi semur jengkol."


"Ah!? Masa sich mereka doyan semur jengkol?" ucap Liza kaget.


"Iya benaran. Waktu pertama kali aku lihat mereka makan itu, aku juga kaget."

__ADS_1


"Nanti beli apa buat cemilan mereka?"


"Martabak bulan, kacang, cokelat, susu. Beli tiga bungkus."


"Kalau untuk anak - anak beli apa ya?"


"Pizza aja, beli dua bungkus yang ukuran large."


"Ok."


"Kenapa menepi Pak?" tanya Rafael ketika supir menepikan mobil yang ditumpangi sama Rafael, Liza dan seorang bodyguard.


"Itu mobil rombongan kita yang di depan berhenti, pasti ada apa - apa," ucap supir sambil mematikan mesin mobil.


"Apa yang telah terjadi? Di depan kan mobil yang ditumpangi Ummi, Papi, Tante Michelle dan Tante Ira, apa yang telah terjadi dengan mereka?" ucap Liza khawatir sambil melihat keadaan di depan mobilnya.


"Saya turun dulu ya Tuan," ucap supir sambil membuka kunci mobil.


"Iya."


Tak lama kemudian, supir membuka pintu mobil, keluar dari dalam mobil. Menutup pintu mobil, lalu melangkahkan kakinya menghampiri mobil yang berada di depannya. Sekilas Liza melihat sosoknya Jack yang sedang marah - marah kepada supir yang membawa mobil yang ditumpangi Irene, Rogen, Michelle dan Ira. Sontak Liza membuka pintunya, lalu menepiskan tangan kanannya sehingga membuat Rafael menoleh ke dirinya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Rafael.


"Jack?"


"Iya, Jack yang waktu itu anterin aku pulang," ucap Liza sambil menoleh ke Rafael.


"Huhhh ...," Rafael menghela nafas panjang.


'Kamu tunggu aja di sini," ucap Liza sambil keluar dari dalam mobil.


Liza melangkahkan kakinya ke Jack. Jack langsung berhenti mengoceh ketika melihat Liza sedang berjalan menghampiri dirinya. Liza tersenyum sopan ke Jack. Jack membalasnya. Semua supir langsung tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya ke Liza. Liza tersenyum sopan ke mereka.


"Jack, maafkan Bapak ini," ucap Liza lembut.


"Ya udah Pak, saya maafkan. Sebaiknya kalian pergi dari sini. Saya mau bicara sama Nyonya kalian."


Tak lama kemudian, para supir menoleh ke Liza untuk meminta respon Liza atas ucapan Jack. Liza tersenyum manis ke mereka. Para supir melangkahkan kakinya balik ke mobil. Jack berjalan pelan mendekati Liza. Liza memundurkan dirinya sedikit karena merasa tidak enak jika jarak mereka sangat dekat. Lapi pula posisi mereka sekarang berada di depan keluarga besarnya Rafael. Jack menghentikan langkahnya, lalu melihat sekelilingnya.


"Mereka siapa kamu?" ucap Jack.

__ADS_1


"Mereka adalah keluarga besar suamiku."


"Oh ya, kamu kan sebentar lagi mau merayakan pesta pernikahan kalian. Kamu sekarang sudah bahagia hidup bersama suamimu?"


"Iya."


Kringgg ...


Bunyi dering yang berasal dari smartphone milik Liza. Sontak Liza membuka resleting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya sambil melihat nama Rachel yang tertera di layar smartphonenya, lalu menyentuh ikon hijau di layar smartphonenya untuk menjawab panggilan telepon dari Rachel. Lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo Liza, ini teh Teh Rania. Nanti sore kita nggak jadi ke mall, ke mallnya besok sore ya, Liza bisa kan nemani kami?"


"Bisa Teh."


"Terima kasih ya Liza, udah dulu ya, bye Liza."


"Bye Teh Rania."


Tak lama kemudian, panggilan telepon itu terputus. Liza menaruh smartphone miliknya di tempat semula. Menutup reselting tas selempangnya. Ketika Liza memundurkan badannya lagi, dia tersandung batu yang berada di belakang kakinya hingga tubuhnya oleng. Dengan sigap tangannya Jack menarik pinggangnya Liza sehingga tubuh mereka menempel. Tatapan mata mereka bertemu.


"Lepaskan istriku!" ucap Rafael dengan nada suara yang marah.


Jack melepaskan pinggangnya secara perlahan, lalu berucap, "Jagalah Liza dengan baik, jika tidak, aku akan mengambilnya dari dirimu."


"Kamu ngomong apaan sich Jack! Dari awal sampai seterusnya kita temanan!" ucap Liza kesal, lalu menggandeng tangan kirinya Rafael.


Rafael tersenyum licik, lalu berkata, "Dia aja tidak menganggap kamu sesuatu yang spesial, jadi jangan terlalu berharap untuk mendapatkan dirinya."


"Kita lihat aja nanti."


Tak lama kemudian, Jack melangkahkan kaki ke mobilnya. Rafael menatap tajam ke Liza sehingga membuat Liza ketakutan. Tiba - tiba Rafael menarik tangannya Liza dengan kasar, lalu menggiring Liza ke mobilnya. Pintu mobil terbuka. Tubuhnya Liza didorong sama Rafael dengan kasar hingga badannya Liza terpental ke dalam mobil. Liza meringis kesakitan ketika tangan kanannya kebentur sama dinding pintu di sebelahnya. Rafael masuk ke dalam mobil, lalu menutup pintu dengan keras.


Brakkk


"Jalan Pak!" titah Rafael.


"Baik Tuan," ucap supir, lalu supir melajukan lagi mobil.


"Dasar wanita murahan!" ucap Rafael sinis sambil menoleh ke Liza dengan tatapan mata yang tajam.


"Kami tidak melakukan apa - apa. Tadi aku tersandung, untung Jack menolongku supaya aku tidak terjatuh."

__ADS_1


"Cih! Tapi mata kalian saling memandang, kamu tadi sedang berusaha menggoda dia, dan akhirnya dia tergoda. Aku malu sama keluargaku, ketika kamu berada dekat sama Jack, mereka memperhatikan kamu sama Jack. Mereka tidak suka melihat seorang istri berdekatan sama lelaki lain selain suaminya. Tolong jaga nama baik keluarga ini! Jika kamu tidak bisa menjaga nama baik keluargaku, aku sangat malu sama keluargaku."


__ADS_2