Asa Diriku

Asa Diriku
Dasar Manusia Berhati Batu


__ADS_3

Pintu ruang kerja Rafael yang berada di lantai delapan terbuka lebar. Rafael melangkahkan kakinya di atas lantai yang terbuat dari kayu menuju ruang kerja Liza. Para karyawan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ketika melihat Rafael. Rafael membalas senyuman mereka. Rafael menggeser pintu ruangan khusus Arsitek. Rafael hanya melihat tiga orang laki - laki yang sedang fokus menggambar.


"Permisi, Liza ke mana ya?" tanya James dengan sopan.


Spontan tiga orang itu menoleh ke sumber suara. Mereka bertiga langsung berdiri ketika melihat Rafael sedang berdiri di ambang pintu ruangan dengan gerakan kikuk. Mereka bertiga tersenyum ke Rafael sambil menganggukkan kepalanya.


"Liza sedang ke kamar mandi, Pak," jawab Rianto.


"Oh, ok," ucap Rafael.


Tak berselang lama, Rafael menutup pintu ruang kerjanya Liza. Melanjutkan langkah kakinya menuju toilet di lantai ini. Rafael mengedarkan pandangannya ketika berada di depan pintu toilet wanita. Dia menelisik keadaan di sekitarnya yang sepi. Karena sepi, tanpa ragu - ragu, dia mendorong pintu toilet hingga terbuka, lalu masuk ke dalam toilet wanita setelah menutup pintu. Dia melihat Liza sedang keluar dari bilik toilet. Liza menghentikan langkahnya karena tersentak kaget melihat sosoknya Rafael. Rafael menatap tajam ke Liza. Liza kebingungan harus berbuat apa.


"Kamu bikin aku kaget! Mau ngapain kamu ke sini?" ucap Jane.


"Kenapa kamu tidak datang ke ruanganku?" tanya Rafael sambil berjalan menghampiri Liza.


Waduh aku harus jawab apa? Apakah aku harus jawab, aku lagi kesal sama dia? Apakah aku harus berbohong?"


Batin Liza.


"A — ku, karena aku lagi kesal sama kamu," jawab Liza sedikit terbata - bata.


"Kenapa kamu kesal?" tanya Rafael sambil menatap tajam ke Liza


"Karena ... kemarin kamu bercumbu dengan Vina saat acara lamaran masih berlangsung," jawab Liza, lalu menundukkan kepalanya karena tak kuasa melihat tatapan tajam dari Rafael.


Ternyata dia cemburu karena masih mencintai diriku. Aku yakin, dia pasti mau menuruti semua yang kuinginkan.


Batin Rafael.


Rafael menyeringai licik, lalu mengangkat dagunya Liza. Tatapan mata mereka bertemu saling memaku hingga Liza merasakan ada desiran lembut menjelajahi rongga hatinya. Rafael menarik tengkuk leher jenjangnya Liza dan pinggangnya Liza. ******* benda kenyal milik Liza. Liza mengalungkan dua tangannya sambil membalas ******* Rafael sehingga ciuman mereka memanas. Tangan kiri James menyingkap rok klop selutut yang dipakai oleh Jane untuk mengusap pahanya Jane dengan lembut.


Rafael membimbing tubuhnya Liza ke bilik yang paling pojok kamar mandi tanpa melepaskan cumbuan mereka. Mendorong tubuhnya Liza dengan pelan hingga membuat pintu bilik terbuka, lalu dengan lincah Rafael mengunci pintu bilik itu. Menyenderkan tubuhnya Liza di salah satu dinding bilik. Menaruh kaki kirinya Liza ke pinggiran ****** tanpa menghentikan kegiatannya. Menjelajahi landasan datar yang panjang sambil membidik gunung kembar. Tak lama kemudian, menelusuri area gua dengan gerakan yang pelan. Mengeluarkan senjata pamungkas dari sarungnya, lalu mengokangnya sebentar. Tak mau membuang waktu, Rafael langsung membidik gua dengan senjatanya. Sedetik kemudian, membombardir gua dengan gerakan pelan. Suara - suara menggema menyelimuti udara.


Tanpa disadari mereka, Lusi masuk ke dalam kamar mandi. Lusi mengerutkan dahinya karena bingung mendengar suara ******* dan lenguhan dari bilik yang paling ujung kamar mandi. Karena penasaran siapa yang sedang melakukan hubungan intim di dalam bilik. Mbak Lusi mempertajam gendang telinganya untuk menemukan titik lokasi tempat mesum yang sedang terjadi. Akhirnya dia menemukannya.


Lusi mendorong pintu bilik yang berada di sebelah kanan bilik yang dipakai oleh Rafael untuk menyetubuhi Liza. Lusi naik ke ******. Lusi mendelikan dua matanya ketika melihat Liza yang sedang mengadahkan wajahnya sambil memejamkan dua matanya dan membuka mulutnya. Sedangkan sang lelakinya sedang asyik menyusuri leher jenjangnya Liza dengan mulut dan menghujam inti tubuhnya Liza dengan gerakan yang cepat. Lusi hanya menggeleng - gelengkan kepalanya karena tak habis pikir melihat Liza telah berhubungan intim dengan seorang laki - laki di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Aaahhh."


"Aaahhh."


Suara lenguhan dari Liza dan Rafael setelah letusan larva putih. Melepaskan senjata pamungkasnya dari gua. Membuka alat pengaman, lalu membuangnya ke tempat sampah. Menyelimuti senjata pamungkasnya. Liza menurunkan kakinya, lalu merapihkan letak kain segitiganya. Mengancingkan kemejanya dengan gerakan cepat.


"Aku tunggu kamu di ruanganku," ucap Rafael pelan sambil merapihkan kemejanya.


"Iya," ucap Liza sambil merapihkan roknya.


Tak lama kemudian, Rafael membuka kunci bilik itu, lalu membukanya. Sedangkan Liza mengunci pintu bilik itu setelah Rafael keluar karena Liza ingin membuang air kecil. Lusi tercengang melihat sosok Rafael keluar dari bilik itu. Rafael menatap tajam ke Lusi. Lusi menundukkan kepalanya karena takut melihat tatapan tajam dari bosnya sambil ******* - ***** semua jemarinya.


"Jangan sampai hal ini bocor ke yang lain. Jika itu terjadi, saya pecat kamu!" ucap Rafael ketus.


"Iii — ya Pak," ucap Lusi sedikit gemetaran.


Tak berselang lama, Rafael melongos pergi keluar dari kamar mandi. Lusi mengangkat wajahnya setelah Rafael keluar dari kamar mandi. Pintu bilik itu terbuka, lalu Liza keluar dari bilik itu. Liza kaget melihat Lusi yang sedang melihat dirinya dengan raut wajah yang penasaran. Liza speechless dan malu sama Lusi.


"Apa yang kalian lakukan di dalam kamar mandi?" tanya Lusi menyelidik.


"Ma — af Mbak Lusi, untuk saat ini aku belum bisa menjelaskannya," ucap Liza sedikit grogi.


Ada beberapa pegawai melihat Liza sedang berjalan ke ruangan Rafael. Liza tersenyum menyapa ke para pegawai yang sedang melihat dirinya. Liza tersenyum manis ketika berada di depan meja kerja sekretarisnya Rafael. Sekretaris itu membalas senyuman Liza. Liza memegang salah satu gagang pintu ruang kerjanya Rafael, lalu mendorongnya sehingga pintu itu terbuka. Liza masuk ke dalam ruangan CEO. Menutup pintu itu, lalu melanjutkan langkahnya menghampiri Rafael yang sedang duduk santai di singgasananya sambil menatap tajam ke Liza.


Liza duduk dihadapan Rafael. Rafael mendorong pelan sebuah amplop cokelat yang berada di atas meja kerjanya ke Liza. Liza mengambil amplop cokelat itu. Membuka amplop cokelat itu. Mengambil tiga buah kertas dari amplop cokelat itu. Liza mengerutkan keningnya ketika membaca tulisan surat perjanjian pernikahan.


"Kamu harus mentandatangani surat perjanjian itu," ucap Rafael tegas.


"Kenapa kamu membuat surat perjanjian ini?" tanya Liza sambil menoleh ke Rafael.


"Karena aku terpaksa menikahimu. Aku tidak mau kebebasanku dikekang oleh ikatan pernikahan yang tidak kuinginkan."


Sebuah kalimat yang terlontar dari mulutnya Rafael itu telah membuka luka di hatinya. Liza menundukkan kepalanya karena tidak mau memperlihatkan kesedihannya di depan Rafael. Liza mengalihkan perhatiannya ke surat perjanjian itu supaya bisa melupakan luka di hatinya walaupun hanya sebentar. Membaca satu persatu pasal yang tertera di dalam surat perjanjian itu. Pasal - pasal itu telah menodai arti kesucian sebuah pernikahan.


"Untuk apa kamu terpaksa menikahi diriku?" tanya Liza pelan.


"Untuk status anak yang berada di dalam rahimmu itu. Orang tuaku menginginkan anak itu memiliki status yang jelas dan menginginkan aku untuk bertanggung jawab penuh atas kehidupan dirimu beserta anak itu demi masa depan kalian berdua."

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan terhadap anak ini tanpa ada paksaan dari orang tuamu?"


"Sebenarnya aku hanya ingin membiayai semua keperluan dirinya."


"Kalau begitu kamu bisa menolaknya."


"Aku tidak bisa menolaknya."


"Kenapa?"


"Jika aku menolaknya, semua fasilitas dari Papi akan dihentikan dan aku tidak mendapatkan warisan dari Papi dan Mami satu sen pun."


"Ternyata kamu menilai hidup ini hanya dilihat dari segi materi."


"Uang memang bukan segalanya tapi segalanya membutuhkan uang."


"Tidak juga. Contohnya kebahagiaan, kebahagiaan tidak memerlukan uang."


Kok pemikirannya sama seperti pemikiran Aisya mengenai hal itu.


Batin Rafael.


"Kebahagiaan diriku hanya Aisya."


"Berarti kamu tidak bahagia telah memiliki seorang anak?"


"Tidak."


"Aku akan menolak pernikahan ini."


"Tidak bisa juga, jika kamu menolaknya, aku juga tidak mendapatkan fasilitas lagi dari Papi dan warisan dari Papi Mami se sen pun. Dan jika kamu melakukan itu, masa depan anak itu akan suram."


"Tidak juga."


BRAKKK


"KAMU MAU HIDUPKU HANCUR!? JIKA ITU TERJADI HIDUPMU JUGA HANCUR DAN JANGAN HARAP ANAK ITU BISA HIDUP LEBIH LAMA LAGI!" ucap Rafael dengan nada suara yang marah sambil berdiri setelah menggebrak meja kerjanya.

__ADS_1


Karena rasa marah yang bergelora di jiwanya Liza, dia langsung berdiri, lalu mengumpat, "DASAR MANUSIA BERHATI BATU!"


__ADS_2