Asa Diriku

Asa Diriku
Aku Harus Sabar


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading 🤗


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


Aku harus sabar.


Kata hati Liza yang terluka ketika melihat Rafael sedang bercumbu dengan Regina di atas sofa ruang keluarga villa.


Liza langsung menundukkan kepalanya sambil berjalan menelusuri ruang keluarga villa menuju ke dapur dan melewati beberapa ruangan. Liza melihat di dapur villa sudah ada Florence dan Edward yang sedang sibuk memasak dan mempersiapkan makanan untuk sarapan. Sejak kedatangan mereka di villa, Florence dan Edward yang menyiapkan makanan selama mereka berada di villa.


"Selamat pagi Nyonya Muda Rafael," ucap Florence ramah sambil menoleh ke Liza.


Liza tersenyum manis, lalu berucap, "Selamat pagi Flo."


"El, lagi ngapain Liz?" tanya Edward sambil mengaduk masakan.


"Ehmmm —."


"Lagi bercumbu tuch sama wanita kegatalan," celetuk Clarisa yang tiba - tiba datang dan memotong ucapan Liza.


"Ada - ada aja kamu bercandanya, nanti ada yang cemburu tuch," samber Florence sambil memotong tomat.


"Gw nggak bercanda, kalau gw sich apa pun alasannya ogah bermain gila sama laki orang. Lagipula si El benar - benar kebangetan brengseknya. Kalau udah nikah tuch ngasih ketegasan dan batasan sama teman - teman wanitanya, jangan seperti itu walaupun dia terpaksa menikahi Liza. Itu sama aja menodai arti pernikahan," cerocos Clarisa.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Liza mengalihkan topik pembicaraan sambil berjalan ke Florence.


"Tidak usah, tuan rumah tinggal duduk manis aja," ucap Florence ramah.


"Jangan begitu. Aku jadi nggak enak hati sama kamu," ucap Liza sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari piring.


"Huh! Memangnya apa yang bisa kamu lakukan di sini? Biasanya juga Flo yang memasak jika kami menginap di sini," ucap Regina dengan nada suara yang sinis.


"Selamat pagi Regina," sapa Florence ramah.


"Pagi Flo," balas Regina datar.


"Pagi ini kamu masak apa Flo?" ucap Rafael sambil berjalan menghampiri mereka.


Liza menelan salivanya berulang kali melihat kissmark di area leher dan dadanya Rafael. Sayatan hatinya melebar ketika mengingat kejadian Rafael dan Regina yang sedang bercumbu di ruang keluarga. Untuk meminimalisir kesedihannya, Liza membuka salah satu pintu kitchen set. Tiba - tiba pinggangnya Liza dipeluk dari belakang hingga membuat bulu kuduk Liza merinding.


"Malam ini kamu dihukum karena semalam kamu nggak ke kamarku," bisik Rafael sambil memeluk pinggangnya Liza.


Maksudnya apa?


Batin Liza


"Sayang!" pekik Regina.

__ADS_1


Rafael melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke Regina. Berjalan ke Regina, lalu mencium bibirnya Regina dengan panas. Regina membalas ciuman Rafael. Rafael melepaskan ciumannya. Menarik tangannya Regina yang hanya memakai lingerie berbahan satin. Rafael dan Regina berjalan keluar dari dapur. Clarisa hanya menggeleng - gelengkan kepalanya berulang kali melihat kelakuan mereka. Liza menarik nafas dengan kasar, lalu membalikkan badannya.


"Permisi Nyonya Rafael, sarapan sudah siap di meja makan," ujar Florence sambil membawa nampan yang berisi mangkuk besar.


"Terima kasih Flo," ucap Liza dengan sopan.


"Iya sama - sama, aku ke ruang makan Nyonya Rafael," pamit Flo, lalu dia berjalan ke ruang makan.


"Lain kali jangan panggil aku Nyonya Rafael," ucap Liza.


"Ok, terus panggil apa?" teriak Flo.


"Liz atau Liza aja."


"Ok."


Tak lama kemudian, Liza mengikuti langkahnya Flo menuju ruang makan. Di ruang makan tidak ada siapa - siapa. Liza melihat semua peralatan makan sudah disiapkan. Sudah ada garlic bread yang sudah ada di atas meja. Florence menaruh mangkuk besar di atas meja. Liza menarik kursi yang berada di sebelah kanan meja, lalu mendudukinya.


"Flo ayo kita makan?" ucap Liza dengan sopan sambil menoleh ke Florence.


"Kamu aja duluan, aku mau taruh nampan dulu," ucap Florence, lalu dia berjalan ke dapur.


Tak sengaja Liza mendengar suara ******* dua orang di dalam kamar mandi dekat ruang makan. Sayatan hatinya Liza bertambah lebar mengingat tangannya Regina ditarik sama setelah adegan ciuman di dapur. Liza menghembuskan nafasnya dengan kasar mendengar suara - suara yang telah menyakiti hatinya. Liza berdiri dari kursinya karena dia ingin meredam rasa sedih dan kecewa yang sering dia alami sejak mengenal Rafael. Liza melangkahkan kakinya ke dapur. Langkahnya berhenti ketika berada di balik tembok antara ruang makan dan dapur karena tak sengaja dia mendengar percakapan Clarisa, Florence dan Edward. Dia mengintip dari balik tembok.


"Dia seperti itu sejak Papinya masuk penjara," ujar Edward.


"Apakah Liza tahu penyebabnya Rafael menjadi player?" ucap Florence.


"Nggak. Aku kasihan sama Liza, selalu disakiti sama Rafael. Aku aja lihat suami selingkuh, aku langsung gugat cerai. Kalau aku jadi Liza, setelah lahiran, aku langsung gugat cerai. Capek pikiran dan hati jika rumah tangga seperti itu dipertahankan."


"Sampai kapan ya Rafael seperti itu? Aku juga kasihan sama Liza jika disakiti melulu," ucap Florence polos.


"Mungkin sampai Liza bisa menaklukkan hatinya Rafael," ucap Clarisa.


Apakah aku bisa menaklukkan hatinya Rafael.


Batin Liza.


"Menurutku tidak ada yang bisa menaklukkan hatinya Rafael selain Aisya," celetuk Edward.


"Udah ah ngomongin orang, sebaiknya kita temani Liza dan sarapan," ucap Florence.


"Ayo," ucap Clarisa.


Liza langsung membalikkan badannya. Lari ke meja makan, lalu duduk di kursi yang tadi dia duduki. Mengambil spaghetti dari mangkuk. Edward, Clarisa, dan Edward berjalan menghampiri Liza yang sedang memotong spaghetti. Edward dan Florence menarik kursinya masing - masing, lalu mendudukinya. Clarisa berjalan ke kamar mandi.


Tok ... tok ... tok ...


"El, cepatan keluar! Gw mau pipis nich!" pekik Clarisa.


"Aaahhh, tunggu sebentar, lagi tanggung!" teriak Rafael dari dalam kamar mandi.


"Eh, elu berdua benar - benar kebangetan ya!" umpat Clarisa kesal.

__ADS_1


"Aaahhh ... elu ke kamar mandi yang lainnya aja! Aaahhh," ucap Rafael.


"Dasar manusia nggak punya otak!" umpat Clarisa kesal.


"Aaahhh ... awas elu ya! Aaahhh ... nanti gw hukum elu aaahhh ... aaahhh ... aaahhh ...."


"Sebelum elu kasih hukuman ke gw, gw bunuh elu duluan!"


Clarisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Clarisa melanjutkan langkahnya ke kamar mandi yang lainnya. Florence hanya menggeleng - gelengkan kepalanya sambil mengambil spaghetti dari mangkuk. Liza memasuki spaghetti ke dalam mulutnya sambil mendengar suara lenguhan yang panjang dari dalam kamar mandi.


"Spaghettinya enak Flo," ucap Liza yang mengalihkan dirinya dari sesuatu yang menyakitkan.


"Terima kasih ya Liz," ucap Florence.


Pintu kamar mandi terbuka. Rafael dan Regina keluar dari kamar mandi sambil bergandengan tangan. Mereka duduk di seberang Liza. Liza berdiri, lalu mengambil spaghetti untuk Rafael. Rafael menatap tajam ke Liza yang sedang mengambil dua buah garlic bread sehingga gerakan Liza menjadi kikuk. Liza kembali duduk sambil menundukkan kepalanya, lalu memotong spaghetti.


"Sayang, nanti kamu tinggal di rumah atau di penthouse?" ucap Regina dengan nada suara yang manja sambil mengambil spaghetti.


"Di penthouseku," ucap Rafael datar.


"Nanti aku boleh ke sana lagi?" ucap Regina sambil mengambil garlic bread.


"Iya, tapi saat aku sedang membutuhkan tubuhmu. Kamu boleh datang setelah aku panggil kamu. Di mana Clarisa?" ucap Rafael yang masih menatap tajam ke Liza.


"Ke toilet," jawab Liza sambil mengunyah.


"Sayang, spaghettinya dimakan, aku suapi ya," ucap Regina dengan lembut sambil melilitkan spaghetti. "Aaa sayang," lanjut Regina sambil menyodorkan satu garpu spaghetti ke mulutnya Rafael, lalu Rafael membuka mulutnya dan Regina menyuapi Rafael.


"El, lusa ada rapat sama klien kita yang berasal dari Belanda. Nanti yang pergi elu atau gw?" ucap Edward sambil melilitkan spaghetti.


"Elu aja Ed," samber Regina sambil mengunyah.


"Kok elu yang jawab?" ucap Edward kesal sambil mengunyah.


"Iya sama elu aja. Soalnya gw mau indihoy lagi sampai seminggu," ucap Rafael sambil mengunyah.


"Njirrr, elu kan dikasih jadwal untuk indihoy sampai besok," ucap Edward sambil memotong garlic bread.


"Nanti gw minta tambahan waktu sama Papi gw," ucap Rafael sambil disuapi sama Regina.


"Alah, palingan elu minta izin indihoy sama Papi elu untuk bulan madu, tapi nyatanya bulan madunya zonk. Elu malah asyik indihoy sama Regina atau cewek yang lainnya," ucap Edward sambil mengunyah.


"Yup, tapi nanti gw juga akan indihoy sama Liza," ucap Rafael sambil mengunyah yang membuat Liza keselek.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...." Liza batuk setelah keselek sambil memegang dadanya.


Florence langsung memberikan satu gelas air putih ke Liza. Liza menerimanya, lalu meminumnya. Liza tersenyum sambil menganggukkan kepalanya ke Florence. Florence membalasnya. Regina menatap sinis ke Liza. Rafael memperhatikan gerak - geriknya Liza dengan memberikan kode agar Liza melayaninya juga saat berada di meja makan walaupun Liza sudah mengambilkan makanan untuk dirinya dan itu juga tertera di salah satu pasal surat perjanjian pernikahan mereka. Karena jengah sama perilaku Rafael dan nafsu makannya hilang, Liza beranjak berdiri dari kursinya. Melangkahkan kakinya keluar dari ruang makan tanpa mempedulikan Rafael, Edward dan Regina.


"Hahaha, emangnya enak dicueki ama bini," ledek Edward yang membuat Rafael kesal.


Rafael langsung berdiri dengan kesal, lalu mengikuti langkahnya Liza. Regina cemberut kesal melihat tingkahnya Rafael yang telah meninggalkannya. Rafael berjalan cepat menyusul Liza yang sedang berjalan ke arah kamarnya. Rafael menarik tangan kanannya Liza hingga membuat Liza menoleh ke arahnya.


"Ikut aku!" titah Rafael sambil mencengkram pergelangan tangan kanannya Liza, lalu menyeret Liza ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2