
Sang surya bersinar cerah memancarkan cahaya menyilaukan yang membentang di cakrawala. Membangkitkan semangat semua manusia untuk beraktifitas. Begitu juga dengan Liza, Rafael dan para karyawan PT. IR Design And Contractor bagian produksi. Mereka sedang berkutat di ruang rapat. Rafael duduk di singgah sananya sambil memperhatikan Liza yang sedang presentasi desain arsitektur rumah model kuldesak karyanya untuk pengajuan proyek selanjutnya. Tatapan matanya Rafael yang tajam telah menghunus relung hatinya Liza yang terluka. Liza tetap fokus menjelaskan tentang desainnya.
"Demikian penjelasan tentang desain arsitektur eksterior yang saya buat. Jika ada yang bertanya, kritik dan memberikan masukan, saya persilahkan," ucap Liza dengan sopan.
"Rumah model kuldesak yang kamu buat terlalu standar dan tidak memiliki nilai jual yang tinggi. Jika kamu mengajukan desain seperti itu, tidak akan ada klien yang mau. Buat yang lebih menarik lagi. Contohnya seperti dari luar tidak kelihatan berlantai tiga, tapi sebenarnya rumah itu berlantai tiga. Coba diperhitungkan lagi struktur rumah model kuldesak yang saya kasih contoh tadi," ucap Rafael datar dan ketus.
"Baik Pak. Saya akan desain ulang lagi dan hitung strukturnya dari awal lagi," ucap Liza dengan sopan.
"Oh ya, hari kamis dan jum'at aku mau lihat perkembangan proyek perumahan dan apartemen di Surabaya dan Malang. Liza, kamu nanti temani saya mantau proyek - proyek itu karena kamu adalah penanggung jawab atas proyek - proyek itu."
Oh my God. Kenapa mesti dia juga yang ikut mantau proyek - proyek itu.
batin Liza.
"Iya Pak," ucap Liza dengan sopan.
"Jadi kesimpulan hasil rapat ini adalah, yang pertama hitungan struktur pada proyek pembangunan pabrik kelapa sawit di Mamuju, di review ulang lagi sesuai dengan kondisi lapangan dan permintaan klien. Yang kedua review proyek pembangunan mall di kota Tasikmalaya sudah di acc. Yang ketiga, anggaran proses pembangunan perumahan dan apartemen di Surabaya dan di Malang sudah di acc dan yang keempat review desain rumah model kuldesak dan struktur rumahnya. Jadi fix ya hasil rapat hari ini? ucap operator dengan sopan.
"Iya Pak," ucap peserta rapat lainnya kompak.
"Ok, sebelum bubar sebaiknya kita berdoa menurut ajaran agama masing - masing. Berdoa dimulai," ucap moderator.
Tak lama kemudian, moderator mengangkat dua telapak tangannya seperti orang berdoa. Lalu semua orang yang ada di ruang rapat berdoa.
"Aamiin Ya Robbal'alamiin," ucap moderator sambil mengusap wajahnya.
"Cukup sekian rapat hari ini. Sampai jumpa di rapat divisi produksi bulan depan. Assalamu'alaikum. Selamat siang," ucap moderator.
"Wa βalaikumus salam wa rahmatullahi wabarakatuh," ucap sebagian besar peserta rapat.
"Selamat siang," ucap beberapa peserta rapat, termasuk Liza dan Rafael.
Semua peserta rapat beranjak berdiri dari kursinya masing - masing termasuk Liza dan Rafael setelah merapikan beberapa berkas rapat. Liza sengaja membuang muka ketika Rafael menatap tajam ke arahnya. Liza tidak mau lagi terbuai oleh perasaan cintanya. Liza sesegera mungkin pergi dari ruang rapat. Liza berlari kecil menembus kerumunan orang - orang dengan sopan.
Sedangkan Rafael hanya menatap tajam ke sosoknya Liza dan menyeringai licik ketika Liza berlari kecil menembus kerumunan orang - orang seperti orang ketakutan. Rafael berjalan santai ke ruangannya. Menyusuri lorong lantai delapan. Dia melengos begitu saja tanpa menghiraukan sapaan dari sekretarisnya ketika berada di depan pintu ruang kerjanya. Menekan handle pintu ke bawah untuk membuka pintu ruang kerjanya.
"Selamat siang Pak Rafael," ucap Edward ketika Rafael membiarkan pintu ruang kerjanya.
Rafael menoleh ke Edward, lalu berucap, "Ayo masuk!"
__ADS_1
"Sudah seminggu kita tak bertemu Bro, sepertinya sibuk banget" ujar Edward sambil berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya Rafael.
"Iya, yah begitulah. Silahkan duduk," ucap Rafael sambil menutup pintu.
Kemudian mereka berjalan santai ke sofa - sofa yang telah disediakan. Rafael duduk di atas sofa tunggal. Edward duduk di atas sofa panjang yang berada di samping kanan Rafael. Mereka duduk sambil menyilangkan kaki.
"Bagaimana kabar elu Bro?" tanya Rafael.
"Eh, nggak formil nich ngomongnya?"
"Iya."
"Baik. Gw ke sini minta tanda tangan elu untuk beberapa surat perjanjian dengan para klien sekalian gw mau cerita," ucap Edward sambil membuka tas kerjanya.
"Cerita tentang apa?"
"Semalam Liza nangis karena dia kecewa sama elo," ucap Edward sambil beberapa berkas.
"Memangnya dia cerita apa sama elo?"
"Nggak semua, tapi semalam dia menangis karena elo. Tuch anak elo apain? Jangan - jangan dia salah satu korban elo ya?" ucap Edward sambil memberikan beberapa berkas ke Rafael.
"Nggak," ucap Rafael sambil menerima beberapa berkas dari Edward.
"Terserah elo mau percaya atau nggak," ucap Rafael sambil membuka lembaran berkas.
"Elo benaran jadian sama Vina?"
"Iya. Gw jadian ama dia hanya untuk mencari pengalaman. Selama ini kan gw belum pernah pacaran sama cewek - cewek yang lebih muda. Ternyata mereka sama aja."
"Maksud elo?"
"Jam terbang cewek yang lebih muda sama aja dengan cewek yang seumuran dengan kita," ucap Rafael datar sambil membaca berkas.
"Emangnya elo udah cobain Vina?"
"Udah. Hasilnya udah jebol duluan," ucap Rafael yang masih membaca berkas.
"Kalau Liza udah elo cobain?"
__ADS_1
"Oh of course. Dia beda dengan yang lain."
"Taraaaa, elo udah jebolin Liza. Pantesan tuch anak nangis. Pasti semalam dia lihat elo berdua jalan."
"Eh, tungguw hanya cobain bibirnya aja," kilah Rafael yang masih membaca berkas.
"Nggak usah munafik dah elo. Gw yakin elo udah jeboli Liza. Kapan kejadiannya?"
"Iya. Tapi itu bukan kesalahan gw 100 persen. Waktu itu ada yang campuri jus gw dengan obat perangsang, gw udah nahan banget karena saat itu gw berada di rumah Om Samuel. Gw mana berani bawa pelacur atau Regina ke sana. Tiba - tiba Liza masuk ke dalam kamar gw, saat gw lagi ****. Yah wajar dong gw disikat habis si Liza."
"Emangnya dia mau diajakin begituan?" tanya Edward kepo.
"Maulah, masa orang ganteng ditolak," ucap Rafael dengan penuh percaya diri.
"Dia masih perawan?"
"Of course. Karena itu gw ketagihan sama dia sampai kita melakukan itu sebanyak tiga ronde Dan kita melakukan itu lagi di mobil dan di apartemen gw."
"Anjirrrr! Aji gila elu ya, dan gw nggak nyangka dia doyan juga begituan. Elu sama dia jadian?"
"Nggaklah. Terus elo sama Vina kenapa jadian. Elo kan bisa melakukan itu tanpa ada ikatan yang biasanya elo lakukan sama cewek yang lainnya?"
"Dia yang nembak gw duluan, terus gw sengaja terima dia sebagai cewek gw untuk sebagai umpan supaya gw bisa menikmati tubuhnya setiap saat ketika gw menginginkannya dan supaya Liza cemburu," jawab Rafael datar.
"What!? Benar - benar sinting elo ya! Dia pasti cemburu lah! Elo tega banget gituin anak orang."
"Dianya yang nolak gw. Tadinya gw jadikan dia wanita gw, tapi dia nggak mau."
"Ya iyalah, dia akhirnya sadar juga dari jebakan buaya kayak elo. Terus, pas elu lakuin itu sama dia, elu pakai ****** nggak?"
"Enggak, tapi gw suruh dia minum obat kontrasepsi."
"Anjirrrr! Setahu gw percuma minum obat itu setelah melakukan hubungan intim, seharusnya elo pakai ****** atau dia minum obat itu sebelum melakukan hubungan intim. Kalau begitu, bisa - bisa dia hamil."
Rafael menoleh ke Edward, lalu berucap, "Semoga itu tidak terjadi."
ππ·πΉππ·πΉππ·πΉππ·πΉππ·πΉπ
Terima kasih sudah membaca novelku yang ini ππππ₯°π₯°π₯°.
__ADS_1
Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna πππ.
Dukung novel ini dengan like, komen, kasih vote, kasih bintang lima dan kasih hadiah ya, love you ππππππ