
Sesuai dengan permintaan sang psikolog tanpa sepengetahuan Liza, jam sepuluh pagi Rafael menemani Liza yang sedang melakukan terapi. Hampir dua jam Liza melakukan terapi untuk menangani masalah yang dia hadapi. Di dalam ruangan yang begitu besar, tenang dan nyaman, Liza tertidur pulas setelah melakukan terapi. Kini waktunya membicarakan hipotesis hasil analisa psikolog tentang psikis Liza dan perkembangan psikis Liza setelah melakukan tiga kali terapi kepada Rafael.
"Silakan duduk Tuan Rafael," ucap psikiater dengan sopan.
"Iya, Dok," ucap Robin sambil menarik kursi, lalu menduduki pantatnya.
"Saya sangat senang Tuan Rafael telah menyediakan waktu untuk menemani Nyonya Liza datang ke sini. Dari hasil penelitian saya selama Nyonya Liza menjalankan tiga terapi sekaligus, Nyonya Liza mengalami tekanan batin dan gangguan stress paska trauma sejak dia berusia lima tahun. Ditambah lagi dengan luka batin di hatinya yang disebabkan oleh pelecehan seksual terhadap dirinya dan luka batin akibat kehilangan janinnya," ucap psikiater dengan lembut sambil menatap ramah ke Rafael.
"Kenapa dia mengalami tekanan batin sejak dia masih kecil Dok?" tanya Rafael datar.
"Waktu dia berusia lima tahun, dia sering di-bully sama teman - temannya dengan mengejeknya. Ketika dia berusia enam tahun dia disiksa tanpa melakukan kesalahan, tanpa pembelaan dan ketika dia berusia enam tahun, dia diperbudak sama ibu tirinya. Suatu hari dia pernah dibuang ke kebun liar sama ibu tirinya," ucap psikiater.
"Berapa lama dia kembali normal Dok?" tanya Rafael datar.
"Saya inginnya dia cepat kembali normal, tapi itu semua juga tergantung dari orang - orang yang berada di sekitarnya, khususnya anda, karena anda adalah suaminya dia. Saya mohon bantuan anda untuk membimbing Nyonya Liza kembali normal."
"Apa aja yang harus saya lakukan untuk membimbingnya?"
"Jaga dia, jangan sampai dia mengisolasi diri dan usahakan dia untuk tetap memiliki interaksi dengan orang lain karena komunikasi akan mempercepat proses penyembuhan dari trauma. Ajak dia untuk tetap berpartisipasi dalam aktivitas sosial. Ajak dia untuk bergabung dalam kelompok pendukung yang berisikan orang-orang dengan pengalaman sama sehingga dia tidak merasa sendirian. Ajak dia menjadi seorang sukarelawan untuk menggantikan perasaan tidak berdaya yang seringkali menemani para penderita trauma. Dengan menolong orang lain, dia dapat kembali merasa kuat. Ajak dia untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara teratur. Berikan tugas - tugas berskala lebih kecil dan dapat dikontrol agar lebih mudah diselesaikan dan memberikan dia perasaan senang karena berhasil menyelesaikan sesuatu. Berikan aktivitas yang dapat dia kerjakan dan mengalihkan pikiran dia dari traumanya dia. Jangan membiarkan dia menghindari perasaan yang dia rasakan mengenai traumanya dan bimbing dia untuk menerima apa adanya sebagai bagian dari proses kehidupannya. Berikan perhatian yang lebih dari sebelumnya, sering ngajak ngobrol, sering ngajak melakukan olahraga, refreshing, pergi ke gereja, memberikan sentuhan yang manis, jalan - jalan dan hal - hal yang positif. Apakah anda pernah melakukan itu selama dia mengalami trauma?"
"Pernah. Tapi saya hanya mengajak dia mengobrol dan memberikan sentuhan yang manis."
"Berapa kali?"
"Baru semalam."
"Bagaimana reaksinya?"
"Dia sangat senang berada dekat dengan saya."
"Itulah obat inti dari permasalahan dirinya. Dia membutuhkan kebahagiaan yang berasal dari orang yang dia cintai. Saat ini dia belum bisa menciptakan kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Karena itu perlu bantuan dari luar. Saya mohon anda dapat melakukan itu semua."
"Saya tidak bisa janji untuk melakukan semua itu Dok."
"Itu semua untuk kebaikan kalian, bukan hanya untuk kebaikan Nyonya Liza aja. Jika anda melakukan itu semua, otomatis kalian mempunyai quality time. Kalian sering berkomunikasi, berinteraksi dan bersosialisasi."
"Baiklah saya akan berusaha untuk melakukan semuanya. Terapi apa aja yang dijalani dia selama ini?" ucap Rafael.
"Terapi eye movement desensitization and reprocessing, terapi somatik, terapi kognitif behaviora."
"Metode penanganan yang bagus. Semoga istri saya cepat sembuh."
"Mohon maaf sebelumnya, apakah anda pernah melakukan terapi?" ucap psikiater penuh dengan hati - hati.
"Saya rasa anda tak perlu tahu," ucap Rafael sedikit kesal.
Psikiater itu tersenyum manis setelah mendengar ucapan Rafael, lalu berkata, "Saya akan memberikan terapi somatik lagi dengan memberikan beberapa obat agar dia bisa mengendalikan dirinya, melupakan peristiwa itu dan melupakan janinnya.
"Iya, berikan yang terbaik untuk dia Dok."
"Baiklah," ucap dokter sopan, lalu dokter itu menulis resep.
Seketika suasana hening. Tak lama kemudian, Liza membuka kedua kelopak matanya. Liza mengerjapkan dua matanya agar bisa menyesuaikan bias sinar lampu yang menyeruak masuk menembus kornea matanya. Liza mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dia tersenyum manis melihat Rafael duduk di depan psikiater yang sedang menulis resep.
__ADS_1
"Ekhm," suara Liza yang membuyarkan keheningan di dalam ruangan itu.
"Eh, Nyonya Liza sudah bangun, bagaimana perasaan kamu sekarang? Sudah enakan?" ucap psikiater itu sambil menoleh ke Liza
"Sudah, Dok," ucap Liza, lalu dia beranjak berdiri dari sofa yang comfortable.
"Ini resepnya," ucap psikiater sambil memberikan resep ke Rafael.
"Terima kasih ya, Dok," ucap Robin sambil menerima resep itu.
"Sama - sama," ucap psikiater.
"Terima kasih ya, Dok," ucap Liza sambil berjalan menghampiri Rafael
"Sama - sama."
Rafael dan Psikiater beranjak berdiri dari kursi, lalu Rafael mengulurkan tangan kanannya dan berucap, "Selamat siang, kami pamit pulang, terima kasih atas segala bantuannya."
Psikiater itu berjabat tangan sama Rafael, lalu berucap, "Sama - sama Tuan Rafael."
"Mari Dok," ucap Liza sopan sambil menoleh ke psikiater yang sedang melepaskan jabat tangannya.
"Iya," ucap psikiater, lalu dia tersenyum ke Liza.
Liza membalas senyuman psikiater itu sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan. Tak lama kemudian Rafael dan Liza berbalik. Mereka melangkahkan kakinya ke pintu ruangan. Pintu ruangan itu terbuka otomatis. Mereka berjalan keluar dari ruangan. Tiba - tiba Rafael menggenggam telapak tangan kanannya Liza.
"Kamu mau makan siang di mana?" tanya Rafael dengan nada suara yang lembut sambil menoleh ke Lily.
"Ok. Setelah makan kita jalan yuk!" ajak Rafael sambil berjalan.
"Ayo!" ucap Liza senang.
"Kamu mau jalan ke mana?"
"Ke pasar malam aja."
"Kamu yakin mau ke sana?"
"Iya."
"Kenapa kamu mau ke sana?
"Karena aku suka ke sana."
Kok kesukaan Liza sama seperti kesukaan Aisyah.
Batin Rafael.
"Liza?!" tanya Immanuel yang tiba - tiba berada di sekitar mereka.
"Immanuel? Kamu sedang ngapain di sini?"
"Aku lagi ada bisnis di sini. Kamu lagi ngapain di sini?"
__ADS_1
"Habis konsul sama dokter."
"Kamu sakit apa?"
"Itu bukan urusan anda," jawab Rafael sinis tanpa menoleh ke Immanuel.
"Dia kan calon kakak iparku!" ucap Immanuel kesal sambil mendelikan dua matanya ke Rafael.
"Ayo kita pergi dari sini!" ucap Rafael sambil menarik tangan kanannya Liza.
"Immanuel aku pergi dulu ya," pamit Liza sambil berjalan mensejajarkan langkahnya dengan langkah Rafael.
"Kamu jangan dekat - dekat sama dia."
"Memangnya kenapa? Kamu cemburu?"
"Aku tidak suka orang yang kepo," jawab Rafael datar.
"Permisi!" teriak seorang wanita yang membuat mereka kaget sambil membawa brankar.
Semua orang yang berada di lorong rumah sakit itu merapatkan tubuhnya di depan tembok. Dua orang wanita sedang membawa brankar, melewati Rafael dan Liza. Rafael melebarkan dua matanya karena dia melihat sosok Cindy yang terkulai lemas dan berlumuran darah di atas brankar itu. Liza mengerutkan dahinya ketika melihat sosok Cindy yang berada di atas brankar.
Sepertinya aku pernah lihat wanita itu? Tapi di mana ya?
Batin Liza.
Kasihan sekali Cindy sampai seperti itu. Ada apa dengan Cindy?
Batin Rafael.
"Bang El," ucap Liza sambil menoleh ke Rafael.
"Iya."
"Sepertinya wanita yang tadi dibawa sama suster - suster itu adalah temannya Bang El?"
"Iya, dia memang temanku."
"Dia sakit apa sampai tubuhnya berlumuran darah?"
"Aku tidak tahu."
"Kamu tidak pernah menjenguknya?"
"Tidak, lagipula aku tidak tahu tentang dia yang sedang dirawat di sini."
"Kamu kok tidak peduli sama teman kamu sendiri?"
"Bukannya aku tidak peduli, tapi karena aku terlalu sibuk sama pekerjaan, jadi aku jarang kumpul lagi sama teman - teman. Jangankan ngumpul bareng sama teman - teman, ngajak kamu ngobrol aja baru ada waktunya semalam."
"Bang El senang pergi seharian bersamaku?"
"Iya, aku sangat senang bisa seharian bersama dirimu," ucap Rafael, lalu dia mengecup puncak kepalanya Liza.
__ADS_1