Asa Diriku

Asa Diriku
Ketemu Lagi


__ADS_3

"Dok, boleh nggak saya minum obat anti depresi?" tanya Liza.


Dokter langsung menoleh ke Liza, lalu berucap, "Tidak boleh. Anda lagi stres?"


Dari awal pernikahan, saya mengalami stres.


Batin Liza.


"Nggak juga, saya lagi sedih aja Dok."


"Memangnya kenapa anda sedih? Apa karena sampai sekarang suami anda tidak pernah menemani anda periksa kehamilan?"


"Iya sich Dok."


"Anda tak perlu khawatir, suami sibuk kerja karena ingin kehidupan kalian tercukupi. Anda jangan terlalu berfikir negatif, pikiran negatif anda akan mempengaruhi perkembangan kehamilan anda."


"Dok, boleh saya minta obat anti kram? Soalnya saya mau pergi ke Inggris."


"Anda tak perlu minum obat anti kram karena kondisi Anda dan bayi anda sehat. Anda masih minum multivitamin yang saya anjurkan?"


"Masih Dok."


"Anda kan mau pergi ke Inggris, sebaiknya minum multivitamin itu secara rutin, beli aja Aquila comforting body cream, jika kamu kram tinggal oleskan cream itu ke bagian yang kram. Pakai stocking selama di dalam perjalanan dari Indonesia ke Inggris dan dari Inggris ke Indonesia untuk mencegah pembengkakan pada kaki. Pilihlah tempat duduk yang nyaman, misalnya dekat dengan lorong untuk memudahkan pergerakan keluar dan masuk, pergi ke toilet, atau meminta bantuan pramugari. Cukupi kebutuhan cairan tubuh selama perjalanan untuk mencegah dehidrasi.


Gerakkan anggota badan setiap tiga puluh menit untuk mencegah pembekuan darah, terlebih jika penerbangan berlangsung hingga lebih dari lima jam. Gunakan kaos kaki panjang atau stocking untuk mencegah pembengkakan kaki. Pasang sabuk pengaman di bagian bawah perut untuk berjaga-jaga bila suatu saat terjadi guncangan di dalam pesawat. Kapan anda pergi ke Inggrisnya?


"Bulan depan."


"Sehari sebelum berangkat, periksa lagi kesehatan kalian."


"Baik Dok."


"Ini foto usgnya," ucap dokter sambil menyodorkan foto itu ke Liza.


"Terima kasih banyak ya Dok," ucap Liza sambil menerima resep dan foto itu.


"Saya pamit pulang, selamat malam Dok," pamit Liza dengan sopan.


"Iya, selamat malam juga."


Kemudian Liza beranjak berdiri, berbalik dan melangkah kakinya keluar dari ruangan itu. Pintu dibuka oleh suster. Suster itu memegang handle sambil tersenyum kepada Liza ketika tatapan mata mereka bertemu. Liza membalas senyuman itu dengan sopan sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih. Tak lama kemudian, Liza berjalan keluar dari ruangan itu. Ketika mereka berada di depan pintu ruang praktek dokter spesialis kandungan, Liza melihat sosok Vina sedang duduk santai di ruang tunggu depan ruang praktek sambil menatap sendu ke Liza.


Sedetik kemudian Liza melanjutkan langkah kakinya menuju apotek tanpa menghiraukan kehadiran Vina. Tiba - tiba ada yang menyentuh bahu kirinya Liza sehingga Liza menghentikan langkah kakinya. Liza menoleh ke sebelah kirinya. Dia melihat wajah Vina yang sendu. Vina menurunkan tangan kanannya dari bahu kirinya Liza.


"Aku mau ngomong sesuatu samamu," ucap Vina memelas.


"Kamu mau ngomong apa?" ucap Liza datar sambil melihat perut Vina yang datar.


"Aku mohon maaf sebesar - besarnya atas semua kesalahanku baik disengaja maupun tidak disengaja kepadamu," ucap Vina sedih.

__ADS_1


"Sudah kumaafkan. Bisakah kamu pergi dari hadapanku?" ucap Liza datar.


Tak lama kemudian, Vina menundukkan kepalanya, lalu membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya dengan lemas tak berdaya. Liza memperhatikan langkah kakinya Vina yang tak seperti biasanya. Liza mengerutkan dahinya karena sedang berfikir tentang sesuatu yang ganjal di tubuhnya Vina, tapi entah itu apa. Liza menggelengkan kepalanya berulang kali untuk menepis pikiran yang negatif tentang Vina.


"Hei my angel," sapa Eliosia semangat yang mengagetkan Liza.


Liza menoleh ke Eliosia, lalu berucap, "Mami?"


"Kamu kaget ya Mami tiba - tiba bisa datang ke sini? Tadi rapatnya hanya sebentar. Bagaimana perkembangan my little angels?"


"Bagus."


"Kamu sudah bisa diperbolehkan pergi ke luar negeri?"


"Sudah Mi."


"Bagus kalau begitu, nanti habis dari London ke Berlin ya."


"Iya."


"Tadi kamu ngomong sama siapa?"


"Vina."


"Vina selingkuhannya Rafael?"


"Iya Mi."


"Dia yang memaksa Mi."


"Dia ngomong apa aja?"


"Dia hanya minta maaf."


"Kok perutnya masih datar aja ya?"


"Aku nggak tahu Mi."


"Kamu mau ke apotik?"


"Iya mau beli multivitamin."


Tak lama kemudian, Eliosia dan Liza melangkahkan kakinya menuju apotik di rumah sakit. Tak sengaja, Liza melihat Rafael sedang duduk di ruang tunggu depan apotik. Liza mengerutkan keningnya karena bingung melihat sosoknya Rafael. Liza menghentikan langkahnya ketika melihat ada seorang wanita menghampiri Rafael. Wanita itu mengajak Rafael mengobrol.


"Kita ke apotik yang lain aja ya," ujar Eliosia sambil menghentikan langkahnya.


"Tunggu sebentar Mi," ucap Liza sambil menahan tangan kanannya Eliosia.


"Ngapain juga kamu lihatin mereka?"

__ADS_1


"Sepertinya wanita itu adiknya Aisyah."


"Mana mungkin dia adiknya Aisyah, wajah mereka sangat berbeda."


"Sebenarnya Aisyah dulu diculik, terus ditengah perjalanan, penculiknya mau buang air besar, lalu menaruh Aisyah di belakang mobil pengangkut sayuran. Yang nyetir mobil itu, ayahnya wanita itu. Aisyah ditemukan sama wanita itu ketika mobil itu lagi mau isi bensin. Terus Aisyah diasuh sama orang tua wanita itu."


"Kasihan juga Aisyah sempat nggak tahu keluarga aslinya. Terus ngapain mereka berada di sini?"


"Mungkin ibunya lagi kontrol."


"Terus kamu sekarang mau mata - matain mereka?"


"Mungkin," ucap Liza sambil melihat seorang wanita paruh baya berada di kursi roda bersama seorang perawat menghampiri Rafael.


Rafael langsung berdiri ketika wanita tua itu berada di hadapannya, lalu menyalim tangan kanannya wanita itu. Liza melihat Rafael sedang mengobrol sana wanita itu dengan akrab. Liza membuka resleting tas jinjingnya. Mengambil smartphone miliknya. Menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Aisyah. Liza menghubungi Aisyah untuk memastikan apakah wanita itu ibu angkatnya Aisyah.


"Hallo selamat siang Liz, ada apa?" ucap Aisyah ramah.


"Selamat pagi Syah, bagaimana kabarmu?"


"Baik, kalau kamu bagaimana kabarnya? Si kembar gimana kabarnya?"


"Baik, si kembar juga baik. Oh ya, gimana kabarnya Asiah?"


"Baik. Kamu lagi di mana? Kok ramai banget?" ucap Aisyah sambil mendengarkan suara bising di sekitar Liza.


"Di rumah sakit. Oh ya, ibu kamu sering kontrol di rumah sakit Setia Ibu?"


"Kok kamu bisa tahu?" tanya Aisyah bingung.


"Soalnya aku lihat Mariana, Rafael dan wanita separuh bersama seorang perawat yang memakai seragam warna biru langit."


"Ada Rafael? Ngapain dia di sana?"


"Aku juga nggak tahu. Nggak sengaja aku lihat mereka dari jarak lumayan jauh."


"Aku nggak pernah menyuruh Rafael nemenin ibuku kontrol," ujar Aisyah yang merasa tak ingin Liza jadi salah paham.


Apakah karena inisiatif Bang El yang ingin nemenin ibunya Aisyah kontrol?


Batin Liza.


"Oh ya Aisyah aku mau ke apotik dulu ya. Bye Aisyah," ucap Liza yang merasa tak enak hati.


"Bye Liza, salam untuk keluarga kita yang ada di sana ya. Bye Liza."


Tak lama kemudian, Liza menyentuh ikon merah untuk memutuskan panggilan telepon. Menaruh smartphone miliknya ke tempat semula. Menutup reselting tas jinjingnya. Menoleh ke arah Rafael yang sedang berbicara di telepon. Tak sengaja tatapan mata mereka bertemu. Rafael menatap tajam ke Liza dengan mimik wajah yang marah. Liza langsung menundukkan kepalanya. Eliosia menoleh ke Liza yang memancarkan ekspresi wajah yang sedih.


"Kita beli vitaminnya di tempat lain aja yuk!" ajak Eliosia.

__ADS_1


Eliosia dan Liza membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya menuju pintu keluar rumah sakit. Menerobos kerumunan orang - orang. Selama melangkahkan kakinya, Liza menundukkan kepalanya untuk menahan kesedihannya sehingga dia tak sengaja menubruk seseorang. Liza menoleh ke orang yang dia tabrak.


"Hallo, kita ketemu lagi."


__ADS_2