Asa Diriku

Asa Diriku
Telah Mencintai Diriku


__ADS_3

Dilike ya guys 😊


Divote ya guys 😊


Dikasih bintang lima ya guys 😁


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Sang mentari memancarkan sinarnya yang menghangatkan bumi dan seisinya. Cahayanya menelusup ventilasi udara dan celah - celah gorden dan ke dalam kamar utama penthousenya Rafael sehingga pencahayaan di kamarnya tampak temaram. Silau cahayanya matahari mengusik tidurp lelapnya Liza. Dua netranyanya Liza mulai bergerak pelan, lalu mengerjap berkali - kali dengan perlahan untuk menyesuaikan dengan cahaya temaram di dalam kamar.


Dia menguletkan tubuhnya dengan mata yang masih belum terbuka sempurna. Liza menggantikan posisinya, dari posisi terlentang ke posisi duduk sambil menyandarkan punggungnya di headboard. Mengucek dua kelopak matanya. Menoleh ke samping kirinya, sudah tidak ada sosok Rafael yang sedang tidur. Liza menghembuskan nafas lega karena penghukuman atas dirinya sudah selesai.


"Whoammm," Liza menguap sambil merentangkan dua tangannya.


Tok ... tok ... tok ...


"Nyonya! Sarapan sudah siap," ucap Eti dengan volume suara yang keras sambil mengetuk pintu kamar utama.


"Iya, tunggu sebentar!" teriak Liza sambil beringsut ke tepian ranjang.


Liza meringis pelan ketika dia beranjak berdiri dari tempat tidur karena rasa sakit di area inti tubuhnya. Liza memungut pakaian dalam dan daster pendeknya yang tergeletak di atas lantai kamar, lalu memakainya. Berjalan lemas dan tertatih - tatih ke pintu kamarnya. Membuka kunci pintunya dengan menyentuh beberapa ikon di alat pemindai. Menekan handle pintunya ke bawah, lalu mendorong pintu dengan perlahan hingga pintu terbuka. Keluar dari dalam kamar, lalu melanjutkan langkahnya ke ruang makan sambil merasakan sakit di area inti tubuhnya. Liza tersenyum sambil menganggukkan kepalanya ke Clara, Samuel dan Rachel ketika dia berada di dekat meja makan. Dia menarik kursi yang kosong, lalu mendudukinya.


Ke mana Bang El? Kok dia nggak kelihatan? Apakah dia masih marah kepadaku?


Batin Liza.


"Tungtungna Rafael murag asih jeung anjeun ogé. Mami nganuhunkeun pisan sareng bungah yén éta parantos kajantenan. Mami yakin yén pernikahan anjeun bakal langgeng, ngan maot anu misahkeun anjeun duaan," ucap Clara sambil mengambil nasi goreng di piringnya.


Kenapa Mami ngomong seperti itu? Mami tahu dari mana bahwa Bang El sudah mencintai diriku? Apakah Bang El membohongi Maminya jika dia sudah mencintai diriku?


Batin Liza.


"Sumuhun Mi," ucap Liza berbohong mengikuti alur yang ada sambil mengambil nasi goreng di dalam mangkuk.


"Abdi ogé bagja, tungtungna Bang El bogoh ka anjeun," ucap Rachel sambil mengambil makanan di piringnya.


"Liza, dinten ieu kami ngahaja sumping ka dieu pikeun mantuan anjeun nyiapkeun sagala kaperluan kawinan anjeun. Naha anjeun parantos nyiapkeun naon waé pikeun resepsi kawinan anjeun?" ucap Samuel setelah menelan makanannya.


"Hatur nuhun kana kasaean Om, tapi urang teu hoyong ngaganggu, janten nganggo jasa wedding organizer. Kami parantos nyiapkeun konsép pésta resepsi kawinan dina gaya pésta kebon. Tempat pikeun pesta resepsi kawinan urang di taman hotél Toyou. Resepsi pernikahan kami dinten Saptu, kaping tujuh Juli 2018 sareng jam dalapan énjing. Katering sareng hiasan parantos disatujuan," ucap Liza sambil mengambil makanan di piringnya.


"Saha anu nangtukeun éta?" tanya Clara setelah menelan makanannya.


"Abdi sareng Papi," ucap Liza sambil mengunyah.


"Naha Rafael teu ilubiung dina nangtukeun éta?" tanya Samuel.


"Kusabab urang nikah, Bang El, sibuk pisan Mi. Anjeunna ninggalkeun sagalana pikeun kuring, ucap Liza sambil mengambil makanan di piringnya.

__ADS_1


"Teu anéh isuk-isuk, manéhna indit ka pagawéan. Ti saprak damel di perusahaan Ummi-na, kagiatanana ningkat pisan. Naha anjeun parantos ngabahas ondangan, dandanan, perhiasan, makeup sareng, dokumentasi dan cinderamata?" ucap Clara sambil mengambil makanannya di piring.


"Teu acan Mi," ucap Liza sambil mengunyah.


"Janten, hayu urang milarianana babarengan. Rachel ogé pilari invitations, dresses, make-up, perhiasan sarta souvenir. Mami gaduh kenalan anu gaduh usaha dina sagala widang ieu," ucap Clara sambil mengangkat sendok.


"Hapunten Mi, kamari parantos janjian sareng Aisyah kanggo nyiapkeun sadayana."


"Naha anjeun parantos janji sareng Aisyah Khumairah, tilas kabogoh Rafael?"


"Sumuhun Mi."


"Anjeun geus nyaho ngeunaan manéhna?'


"Sumuhun Mi."


"Naha anjeunna di dieu? Naha manéhna ogé mantuan Sadérék pikeun nyiapkeun kabéh éta?"


"zzz we? ka dieu kusabab indungna kaserang stroke. Manéhna dipénta ku Ummi pikeun mantuan kuring nyiapkeun kabéh."


"Enya kitu. Iraha anjeun angkat nyiapkeun sadayana?"


"Dinten ieu Mi. Tabuh salapan."


"Teu lila."


"Sumuhun Mi."


"Wah sepertinya di sini ada acara keluarga, bolehkah aku bergabung sama kalian?" ucap Regina ramah.


"Boleh atuh, silakan duduk Gina," ucap Clara ramah.


Regina menarik kursi yang berada di samping kanannya Liza, lalu mendudukinya dan berkata, "Tante tambah cantik aja."


"Terima kasih Gina. Tante berdandan seperti ini kalau ada acara di luar. Tante mau cari souvenir untuk acara pesta resepsi pernikahan Rachel. Kamu ke sini mau ketemuan sama Rafael?"


"Iya Tante, tapi di mana Rafaelnya?"


"Dia sudah berangkat kerja dari tadi."


"Yah ... berarti aku telat datang ke sininya."


"Memangnya kalian tidak janjian?" tanya Rachel sinis.


"Nggak. Aku ke sini juga ada urusan mendadak."


"Permisi, Nyonya Liza ada tamu untuk anda," ucap Eti yang tiba - tiba datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Liza sopan sambil menoleh ke Eti.


"Ehmmm ... Nyonya Aisyah. Dia nunggu di ruang tamu."


"Mami, Om dan Rachel saya permisi dulu," ucap Liza setelah menaruh sendok dan garpu di piringnya yang kosong dengan rapi.


"Iya."


Tak lama kemudian, Liza mendorong kursinya dengan pelan. Berdiri dari kursi, lalu berjalan ke ruang tamu untuk menemui Aisyah. Berjalan tertatih - tatih karena menahan rasa sakit. Aisyah berdiri dari sofa, lalu tersenyum sopan ketika melihat Liza berjalan ke arahnya. Liza membalas memberikan senyuman sopan ke Aisyah.


"Selamat pagi Liza," ucap Aisyah sambil mengulurkan tangan kanannya ke Liza.


"Selamat pagi juga," ucap Liza sambil membalas uluran tangannya Aisyah, lalu mereka berjabat tangan.


"Silakan duduk," ucap Liza sambil melepaskan uluran tangannya. "Kalau boleh tahu, kenapa datangnya jam delapan?" lanjut Liza.


"Memangnya Tante Michelle tidak memberi tahu kamu?" ucap Aisyah bingung sambil menurunkan tangan kanannya.


Liza mengerutkan keningnya, lalu berucap, "Memberi tahu tentang apa?"


"Tante Michelle ada acara yang mendadak, makanya kedatangan kita dipercepat, biar nggak bentrok."


"Kok saya nggak dikasih tahu soal itu?" tanya Liza bingung.


"Yah, kasihan sekali kamu Liz, nggak dianggap sebagai keponakan sama Tante Michelle," celetuk Regina dengan nada suara yang meledek.


Aisyah dan Liza menoleh ke Regina yang sedang berjalan menghampiri mereka dengan raut wajah yang dingin. Karena merasa nggak enak hati, Aisyah menduduki tubuhnya di tempat semula sambil menundukkan kepalanya. Liza dengan hati yang sedikit kecewa karena merasa tak dianggap sama Michelle dan ledekan dari Regina, langsung menundukkan kepalanya. Tak lama kemudian, melangkahkan kakinya ke kamar utama. Masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar. Mengunci pintu kamar, lalu melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.


Kring ... kring ... kring ...


Smartphone milik Liza berbunyi. Liza membelokkan langkahnya ke nakas sebelah kiri tempat tidur. Liza mengambil smartphonenya untuk menjawab panggilan telepon. Liza melihat sebuah tulisan 'Tante Michelle' di layar smartphonenya. Liza menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Liza mendekatkan benda pipih miliknya ke telinga kirinya.


"Hallo sayangku, bisa nggak kamu datang ke sininya lebih cepat? Soalnya Tante ada acara yang mendadak dan waktunya bentrok sama waktu yang kalian rencanakan untuk datang ke sini," cerocos Michelle.


"Bisa Tante."


"Maaf ya baru dikasih tahu sekarang, soalnya Tante ada keperluan genting yang tak bisa ditunda."


"Iya Tante."


"Tante tunggu dibutik Tante ya."


"Iya Tante."


"Bye Liza."


"Bye Tante."

__ADS_1


Sambungan telepon terputus. Liza menjauhkan benda pipih itu, lalu menaruhnya di tempat semula. Melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Masuk ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintu kamar mandi. Berjalan mendekati westafel. Liza tercengang melihat ruam merah - merah di area lehernya. Baru kali ini dia mendapatkan kissmark dari Rafael. Telapak tangan kanannya menyentuh jejak - jejak akibat bergulat di atas ranjang.


"Apakah karena kissmark - kissmark ini yang membuat Mami berfikir bahwa Bang El telah mencintai diriku?"


__ADS_2