
Di like ya guys ๐
Di vote ya guys ๐
Di komen ya guys ๐
Happy reading ๐ค
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Pelan - pelan Liza membuka dua kelopak matanya. Mengerjapkannya beberapa kali untuk menyesuaikan bias sinar matahari yang menembus melalui kaca jendela kamar. Liza melihat sosok wanita paruh baya yang anggun dan baik hati sedang tersenyum hangat ke dirinya sambil mengelus tangan kanannya Liza. Liza membalas senyuman wanita itu.
"Sayang," lirih Clara sambil menatap Liza dengan tatapan mata yang khawatir dan sedih.
"Mami, Liza takut kehilangan janin bayi Liza," lirih Liza sambil menatap sendu ke Clara dan memegang erat pergelangan tangan kanannya Clara.
"Kamu harus lebih sabar lagi ya, semua cobaan pasti ada hikmahnya. Tuch lihat, Rafael mengirimkan puluhan karangan bunga untuk kamu," ucap Clara yang berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Liza mengerutkan keningnya karena merasa heran, lalu berucap, "Karangan bunga Mi?"
"Iya, coba kamu lihat. Sini Mami bantu kamu untuk duduk," ucap Clara, lalu membimbing Liza untuk duduk bersandar.
Antara bahagia dan kaget yang diperlihatkan oleh Liza ketika dia melihat puluhan karangan bunga untuk dirinya dari Rafael sehingga memenuhi kamar rawat inapnya. Liza menutup mulutnya yang ternganga - nganga dengan dua telapak tangannya sambil menggelengkan kepalanya melihat apa yang telah dilakukan oleh Rafael terhadap dirinya yang membuatnya syok.
"Kamu senang?" ucap Clara lembut.
"Iya Mami," ucap Liza sambil melepaskan dua telapak tangannya dari mulutnya.
Ceklek
Pintu kamar rawat inap Liza terbuka, memperlihatkan seorang dokter pria yang tua dan seorang suster. Mereka berjalan hati - hati menghampiri Liza dan Clara. Suster itu memasangkan tensimeter di tangan kanannya Liza dengan telaten untuk memeriksa tekanan darahnya Liza.
"Wahhh..., Nak Liza sudah baikan. Kamu hebat bisa melampaui masa kritis kamu. Bagaimana kabar kamu? Bagian mana yang terasa sakit?" tanya dokter itu dengan nada suara yang ramah sambil memasangkan dua ujung stetoskop ke telinganya.
"Kabar aku sudah lebih baik dari kemarin Dok, cuma saya masih khawatir dengan keadaan janin anak saya. Apakah dia baik - baik saja?" ucap Lily sambil membukakan beberapa kancing piyamanya.
"Sebelum kami minta maaf, karena janin anak kamu tidak bisa diselamatkan setelah kami berusaha seoptimal mungkin untuk mempertahankan janin anak kamu. Kamu harus sabar ya," ucap dokter itu sambil memeriksa Liza dengan menggunakan stetoskop.
"ITU TIDAK MUNGKIN!" pekik Liza tiba - tiba.
Sontak Clara, dokter dan suster terkejut. Air mata Liza mengalir lagi tanpa diminta. Liza menangis terisak - isak. Suster itu melepaskan alat tensimeter dari tangan kanannya Liza dan dokter merapihkan stetoskopnya. Clara langsung memeluk erat tubuhnya Liza. Liza menangis menderu - deru di dalam pelukan Clara. Clara mengusap punggungnya Liza dengan lembut agar Liza tenang.
"Nyonya Liza, saya mohon anda harus tulus menerima takdir ini supaya kesehatanmu cepat pulih," ucap dokter lembut.
__ADS_1
"Kamu harus ikhlas ya, Rafael sangat menyesal atas kejadian itu, tolong maafi Rafael ya," bisik Clara.
Liza tidak merespon ucapan Clara dan dokter. Dia masih terhanyut di dalam kesedihannya. Menangis menderu - menderu. Clara melepaskan pelukannya ketika melihat dokter dan perawat itu berjalan ke arah pintu kamar rawat inap. Clara berlari kecil mengejar dokter dan suster itu. Clara menepuk pelan pundak dokter itu ketika berada di belakang dokter sehingga dokter menghentikan langkahnya dan menoleh ke Clara.
"Boleh kita bicara sebentar?" ucap Clara sopan.
"Boleh."
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?"
"Dia sudah lebih baik dari kemarin. Tekanan darahnya masih sedikit tinggi, banyaki istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran."
"Bagaimana hasil CT Scan dan hasil visum putri saya Dok?"
"Hasil visum Nyonya Liza menunjukkan luka - luka di area vaginanya, leher, dada, dan mukanya. Hasil CT Scan Nyonya Liza tidak menunjukkan adanya luka dalam. Keadaan fisiknya tidak perlu dikhawatirkan, Bu. Kita pantau terus keadaannya selama delapan jam kedepan, ya Bu. Kalau tidak ada masalah nanti malam pasien sudah boleh pulang."
"Putri saya tak perlu dikuret Dok?"
"Tidak perlu."
"Kenapa Dok?"
"Karena Nyonya Liza mengalami keguguran abortus komplit, di mana semua isi kandungan sudah keluar dan tidak ada jaringan janin atau plasenta yang tertinggal di dalam rahim Nyonya Liza."
"Terus masalah psikisnya gimana Dok?"
"Terima kasih banyak ya Dok."
"Kami permisi dulu, jika perlu sesuatu bisa panggil kami," pamit pak dokter.
Kemudian dokter dan perawat itu membuka pintu kamar rawat inap, lalu keluar dari kamar rawat inap setelah pintu kamar tertutup secara otomatis. Clara berjalan lunglai menghampiri Liza yang masih menangis tersedu - sedu. Clara menjadi sedih dan kasih melihat keadaan Liza. Clara duduk di tepian ranjang sebelah kanan. Mendekap Liza dengan kasih sayang. Clara merasa bersalah sama Liza karena perbuatan anak kandungnya sendiri. Liza masih terbelenggu di dalam kesedihannya karena harus kehilangan janin anaknya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka lagi. Rachel, Citra, Bety berjalan masuk ke dalam kamar untuk menghampiri Liza setelah pintu tertutup secara otomatis. Mereka membawa parcel buah untuk Liza. Mereka melongo melihat karangan bunga yang memenuhi kamar rawat inap Liza sambil berjalan. Mereka bertambah kaget ketika melihat Liza menangis tersedu - sedu di dalam dekapan Clara. Mereka mempercepat langkahnya mereka menuju Liza. Mereka turut bersedih melihat Liza menangis.
"Mami, kunaon Liza ceurik?" tanya Rachel sendu.
"Kusabab anjeunna kaleungitan orokna," jawab Clara sambil melepaskan dekapannya.
"Naon anu lumangsung ka Liza, Tante?" tanya Citra.
"Liza diperkosa jadi keguguran," jawab Clara sambil menoleh ke Citra
__ADS_1
"Saha palakuna Tante?" tanya Betty
"Mi, Naha palakuna katรฉwak?" tanya Citra.
"Lalaki รฉta dirawat ku Tulang Billy."
"Saha Mi?" tanya Rachel.
"Anjeun teu kedah terang."
"Naha Bang El terang ngeunaan ieu Mi?" tanya Rachel.
"Sumuhun."
"Dimana Vina? Naha anjeunna henteu sumping ka dieu?"
โEhmmm... Vina jarang nongkrong di urang mah, Tante."
"Oh ya, Mami rek ka bagian informasi rumah sakit, punten jaga Liza," ucap Clara sambil beranjak berdiri dari tempat tidur.
โEnya," ucap Rachel.
"Tong hariwang Tante. Liza kedah aman di sabudeureun urang," ucap Citra yakin.
Clara hanya tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan Rachel dan Citra. Tak lama kemudian, Clara berjalan ke pintu kamar rawat inap. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya sehingga pintu terbuka secara perlahan. Melangkah keluar sambil memegang handle pintu. Melepaskan handle pintu sehingga pintu tertutup otomatis. Rachel, Citra dan Betty sedih melihat wajah piasnya Liza yang masih menangis tersedu - sedu. Mereka duduk di tepian ranjang sisi kanan dan kiri.
"Liza, kamu harus ikhlas menerima takdirmu ini, aku yakin ada hikmah dibalik semua yang terjadi pada dirimu. Kalau kamu begini terus, kasihan anak kamu, dia akan ikut sedih melihat ibunya menangis terus," ucap Citra lembut sambil mengusap pelan bahu kirinya Liza.
"Bener ceuk Citra. Maneh oge kudu kuat jeung ulah teuing kabawa ku kasedih sabab bakal ngarugikeun diri sorangan, jalani ieu kahirupan kalawan ikhlas sangkan bisa ngaliwatan ieu kabeh," ucap Rachel sambil mengelus bahu kanannya Liza.
"Wah, karangan bunganya bagus semua," ucap Betty yang mengalihkan pembicaraan mereka dengan nada suara yang ceria sambil menatap takjub ke sekeliling kamar.
"Iya benar, siapa yang ngirim Liz?" tanya Citra dengan nada suara yang ceria sambil melihat beberapa karangan bunga.
"Huhuhu ... Bang El huhuhu ....."
"So sweet ... enak ya mendapatkan seorang suami yang romantis seperti Bang El," celetuk Betty.
Ceklek
Pintu kamar terbuka lagi. Mereka semua tertegun melihat sosok Rafael yang sedang melangkah masuk ke dalam kamar sambil memegang handle pintu kamar. Rafael melepaskan handle pintu setelah dia masuk ke dalam kamar. Berjalan menghampiri mereka. Rafael menjadi kasihan melihat Liza menangis tersedu - sedu. Dia juga menyesali perbuatannya yang telah menggugurkan janin yang dikandung oleh Liza dan kebahagiaan Liza.
"Tolong tinggali kami berdua," ucap Rafael tegas.
__ADS_1
Sontak Rachel, Betty dan Citra berdiri secara kompak. Mereka bertiga melangkahkan kakinya ke pintu kamar. Rachel menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya hingga pintu terbuka secara perlahan. Mereka keluar dari dalam kamar, lalu Rachel melepaskan gagang pintu sehingga pintu tertutup secara otomatis. Rafael tersenyum manis ke Liza. Liza sempat terpana melihat senyuman manis dari Rafael yang baru pertama kali dia lihat di dalam tangisannya.
"Aku berjanji tidak akan memperkosa dan menyakiti dirimu lagi. Aku akan berusaha untuk mencintai dirimu. Liza, maafkan diriku."