Asa Diriku

Asa Diriku
Kasus Yang Kemarin


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading πŸ€—


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Tambah ganteng aja suamiku," ucap Liza semangat setelah menyisir rambutnya Rafael sedang yang memasang wajah datar. "Ayo kita ke balkon belakang," ucap Liza sambil menaruh sisir di atas meja hias.


Kalau bukan permintaan dari Papi Billy, aku tak sudi tinggal bersama Liza lagi.


Batin Rafael.


"Kamu aja yang ke sana, aku mau di sini aja," ucap Rafael ketus ketika Liza mau menarik kursi roda yang diduduki oleh Rafael.


"Baiklah," ucap Liza sambil melepaskan kedua telapak tangannya dari pegangan kursi roda.


Tak lama kemudian, Liza membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya ke pintu kamar. Menyentuh beberapa ikon untuk membuka kunci pintu. Setelah lampu hijau di gagang pintu menyala, Liza menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya hingga pintu terbuka secara perlahan. Keluar dari dalam kamar. Tersenyum ramah ke para pengawal, lalu melanjutkan langkahnya ke balkon belakang.


Menyusuri ruang keluarga villa milik Rogen. Melewati pintu balkon bagian belakang villa yang terbuka lebar. Sambil berjalan, Liza melihat Irene yang sedang menyesap teh seorang diri di sebuah meja makan. Liza menghampiri Irene, lalu menyalimnya. Liza duduk di samping kanannya Irene.


"Ke mana Rafael?" tanya Irene sambil menoleh ke Liza.


"Dia lagi nggak mau keluar dari kamar Ummi," jawab Liza sopan.


"Diminum tehnya Liz," ucap Irene lembut.


"Iya Ummi," ucap Liza sopan sambil mengambil secangkir teh, lalu menyesap teh tersebut.


"Rasa tehnya beda, ini lebih menyegarkan," ucap Liza yang menyukai rasa teh.


"Ini namanya Darjeelings black tea," ucap Irene lembut.


"Teh dari mana itu?"


"Dasar orang tak berkelas!" gerutu Rafael ketus yang membuat Irene dan Liza terkejut hingga menoleh ke dirinya.


"Rafael kamu tidak boleh ngomong seperti itu," tegur Irene.


Liza beranjak dari kursinya, lalu Rafael berkata, "Aku nggak perlu bantuanmu."


"Baiklah," ucap Liza sambil menduduki tubuhnya lagi.


"Kamu nggak boleh galak begitu sama istrimu," tegur Irene.


"Dia bukan istriku lagi sejak dia hamil anak kembar," ucap Rafael ketus sambil mengarahkan kursi rodanya ke arah pekarangan tempat latihan berkuda.


"Mereka itu anakmu El."


"Ummi bisa membuktikan jika mereka anakku?" ucap Rafael datar sambil melihat Aisyah dan anak - anaknya latihan berkuda dan memanah.


"Tidak perlu bukti untuk membuktikan bahwa mereka anakmu, Ummi yakin bahwa Liza tidak melakukan hal - hal yang melanggar aturan agamanya itu," ucap Irene lembut.


"Aku ingin tes DNA mereka dan kita lihat hasil testnya."


Bang El benar - benar tidak percaya bahwa mereka adalah anaknya.


Batin Liza.


"Itu tidak perlu dilakukan El."


"Bagiku perlu."


"Baiklah. Tapi jika dilakukan test DNA pas anak itu masih di dalam perutnya Liza, itu akan membahayakan nyawa mereka, Liza bisa keguguran lagi."


"Terus aku harus nunggu Liza lahiran gitu?"


"Iya."


"Cih, lama sekali!" ucap Rafael ketus.


"Liza, kenapa kamu melamun? Kamu baik - baik aja kan?" ucap Irene lembut sambil menoleh ke Liza.


"I β€” ya Ummi," ucap Liza gelagapan.

__ADS_1


"Aisyah tambah mahir aja berkudanya dan memanahnya," ujar Rafael sambil melihat Aisyah yang sedang berkuda sambil memanah.


"Wajar dia tambah mahir, karena dia sering latihan."


"Ummi nggak latihan berkuda sambil memanah?"


"Sudah tadi."


"Papi ke mana Ummi?"


"Dari pagi dia pergi sama Billy."


"Ngebahas tentang dedengkot mafia yang mau menculik aku sama Liza?"


"Yah begitulah."


"Bu Melinda jadi ditangkap Mi?" tanya Liza.


"Jadilah!" ucap Rafael ketus.


"El, nggak boleh begitu," tegur Irene.


"Aku nggak nyangka soal Bu Melinda adalah mata - mata dedengkot mafia itu."


"Semua itu bisa terjadi," ucap Irene lembut."


"Oh ya Mi, di Inggris ada kebiasaan minum teh di sore hari ya?" tanya Liza mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya, namanya afternoon tea."


"Dari dulu orang - orang Inggris seperti itu Mi?" tanya Liza polos.


"Iya. Di Inggris memiliki sejarah tersendiri dalam hal meminum teh. Pada zaman dulu, kebiasaan meminum teh di Inggris dipopulerkan oleh Raja Charles II dan istrinya Catherine. Kecintaannya terhadap teh itulah yang menjadikan teh sebagai minuman kelas atas istana. Munculnya konsep meminum teh di sore hari muncul pada abad ke sembilan belas. Tradisi ini diperkenalkan oleh Anna Duchess pada tahun 1840. Sejarahnya, Anna akan merasa lapar sekitar pukul empat sore. Sedangkan makan malam di rumahnya disajikan pada jam delapan malam. Hal ini menyisakan jeda waktu yang lama antara makan siang dan makan malam. Lantas Anna Duchess berinisiatif meminta nampan berisi teh, roti, dan mentega untuk dibawakan ke kamarnya pada sore hari. Pada akhirnya menjadi sebuah kebiasaan rutin dan ia mulai mengundang teman-temannya untuk bergabung. Pada era 1880-an, masyarakat wanita kelas atas berganti pakaian panjang, lengkap dengan sarung tangan dan topi untuk menikmati teh di sore hari. Sampai sekarang sebagian besar masyarakat di Inggris melakukan tradisi minum teh bersama - sama," penjelasan Irene.


"Seperti sekarang ini ya Mi, kita minum teh bareng sambil ngobrol - ngobrol dan makan kue?"


"Yah seperti inilah, kebiasaan minum teh di Inggris."


"Ummi udah lama tinggal di Inggris?"


"Sudah sekitar tiga puluh satu tahun. Kamu mau pergi liburan ke Inggris? Kalau mau hayo ikut Ummi," ucap Irene ramah.


"Ok, dimakan atuh kuenya."


"Iya Ummi, Ini nama kuenya apa?" ucap Liza sambil mengambil cup kue.


"Raspberry Ricotta Pot."


"Kuenya enak Ummi," ucap Liza setelah menyicipi kuenya.


"Terima kasih sayang."


"Assalamu'alaikum Ummi," ucap Aisyah sopan yang tiba - tiba datang, lalu dia menyalim tangan kanannya Irene.


"Walaikumsalam," ucap Irene sambil menurunkan tangan kanannya.


"Kamu tambah hebat aja berkudanya," puji Rafael.


"Terima kasih El," ucap Aisyah sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Anak - anak kamu belum selesai latihannya?" tanya Rafael.


"Nanti, satu jam lagi," ucap Aisyah sambil berjalan melewati pintu balkon.


"Hubungan kamu sama Zayn udah baikan?" tanya Irene sambil menoleh ke Rafael.


"Belum Ummi."


"Sebaiknya kamu jaga jarak sama Aisyah El, Ummi nggak mau kejadian yang di rumah sakit terulang lagi dan Ummi nggak mau hubungan persaudaraan kalian renggang," ucap Irene serius.


"Sebelum Aisyah kenal Zayn, hubungan kami sudah dekat."


"Sekarang kan beda, Aisyah sudah memiliki seorang suami. Wajar jika Zayn cemburu dan marah sama kamu. Ummi mohon sama kamu untuk melupakan cintamu ke Aisyah. Kalau kamu masih mencintainya, itu akan menyakiti dirimu sendiri, Zayn dan Aisyah. Ummi tidak mau kalian sakit hati karena cinta terlarangmu."


"Ummi tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengambil Aisyah dari Zayn."


"Walaupun kamu tidak akan mengambil Aisyah dari Zayn, tapi tetap aja hilangi cintamu terhadap Aisyah."

__ADS_1


"Benar apa yang dikatakan Ummi Bang El," samber Rafael.


"Kamu tak perlu ikut berkomentar," ucap Rafael ketus.


"El, hargailah istrimu," ucap Irene serius.


"Lebih baik aku masuk ke kamar aja," ucap Rafael kesal, lalu dia menggerakkan kursi rodanya.


"Halloha," sapa Michelle ramah sambil berjalan melewati pintu balkon.


"Hallo juga Tanteku yang cantik," balas Rafael.


"Kamu mau ke mana El? tanya Michelle ketika berada di depan Rafael setelah menghentikan langkahnya.


"Mau ke kamar dulu Tanteku yang cantik," ucap Rafael sambil menggerakkan kursi rodanya dengan memencet tombol.


"Nggak ikut ngerumpi sama kita - kita," celetuk Michelle.


"Nggak ah," ucap Rafael cuek.


"Ya wes," ucap Michelle sambil melanjutkan langkahnya menghampiri Irene dan Liza.


"Hai Iren, apa kabar sister in law?" ucap Michelle sambil mengulurkan tangan kanannya ke Irene.


"Baik, kamu gimana kabarnya?" ucap Irene sambil membalas uluran tangan kanannya Michelle, lalu mereka cipika - cipiki.


"Baik," ucap Michelle sambil melepaskan tangan kanannya.


"Silakan duduk Chel," ucap Irene ramah sambil menurunkan tangan kanannya ke Liza.


"Hai Liza, apa kabar?! ucap Michelle sambil mengulurkan tangan kanannya ke Liza, lalu Liza berdiri dan menyalim tangan kanannya Michelle.


"Kabarku baik Tante, kabar Tante gimana?" ucap Liza sopan sambil melepaskan tangannya.


"Baik," ucap Michelle sambil menduduki tubuhnya di atas kursi. "Ke mana abangku sayang?" ucap Michelle sambil menolah ke Irene.


"Lagi pergi. Di minum tehnya."


"Iya. Ke mana perginya?" ucap Michelle sambil mengangkat sebuah cangkir teh.


"Kantor polisi."


"Perginya sendiri?" tanya Michelle setelah menyesap tehnya.


"Enggak, dia pergi sama Billy."


"Lagi ngurusin kasus penculikan Rafael dan kasus penculikan Liza?"?


"Iya.


"Assalamu'alaikum," salam Rogen sambil berjalan melewati pintu balkon.


"Walaikumsalam," balas Irene.


"Hallo cintaku," ucap Rogen senang, lalu mengecup bibirnya Irene secara mendadak.


"Wuuiihh main nyosor aja," ledek Michelle.


"Iihhh kamu, main cium aja, ada Michelle dan Liza, bikin malu aja," ucap Irene yang risih atas perlakuan Rogen terhadap dirinya.


Liza beranjak berdiri, lalu menyalim tangan kanannya Rogen. Rogen duduk di samping kirinya Irene. Liza kembali duduk di tempat semula. Rogen mengambil sebuah cangkir teh, lalu menyesapnya. Liza tersenyum manis melihat anak - anaknya Aisyah yang sedang latihan memanah dan berkuda.


Mereka sungguh hebat, seperti para pahlawan.


Batin Liza.


"Ke mana Bang Billy Bang?" tanya Michelle.


"Dia masih di kantor polisi," jawab Rogen sambil mengambil kue.


"Ke mana Rafael?" tanya Rogen sambil menoleh ke Liza.


"Di kamar Pi," jawab Liza.


"Tolong panggilin dia, bilang Papi mau ngomong penting sama kalian," ucap Rogen sopan.


"Iya Pi," ucap Liza, lalu Liza berdiri.

__ADS_1


Sepertinya Papi mau membahas kasus yang kemarin.


Batin Liza.


__ADS_2