Asa Diriku

Asa Diriku
Jatuh Cinta Kepadanya


__ADS_3

Sebuah taksi online warna hitam berhenti di depan sebuah sebuah teras bangunan dua lantai yang berdiri di Resor Dago pakar. Liza menurunkan dua kaki jenjangnya dari mobil dan mengayunkan kakinya dengan lemah gemulai memasuki rumah mewah milik Om Samuel, papinya Rachel.


Beberapa tamu yang datang ke acara pertunangan Rachel dengan Steve masuk ke dalam rumah itu, termasuk Liza. Liza mengedarkan pandangannya, Liza melihat sosok Citra, Vina, dan Bety di sudut kanan ruangan yang sedang mengobrol dengan seorang wanita paruh baya. Lily melangkahkan kakinya menghampiri mereka.


"Hai guys!" sapa Liza, lalu mereka cipika - cipiki.


"Liz, masih kenal nggak sama wanita ini?" tanya Vina sambil memegang bahu kiri wanita paruh baya.


Liza mengerutkan dahinya, lalu berucap, "Ehm ... Tante Yohanna?"


"Iya Liza, kamu tambah cantik aj," ucap Yohanna.


"Ya ampun Tante, bisa aja. Tante kali yang tambah cantik," ucap Liza ramah.


"Hahaha, kamu memuji atau meledek?" ucap Yohanna.


"Memujilah, bagaimana kabar Tante?" ucap Liza dengan sopan.


"Baik. Tante dengar kamu kerja di Jakarta juga?"


"Iya Tante. Kami berempat kerja di Jakarta," ucap Liza.


"Sesekali mainlah ke rumah Tante, sekarang Tante tinggal di Jakarta. Tadi udah kasih tahu mereka, alamat Tante di Jakarta," ucap Yohanna sambil menunjuk ke Bety, Vina dan Citra menggunakan dagunya.


"Iya. Om Morgan sekarang dinas di Jakarta Tante?" tanya Citra.


"Iya. Udah sekitar tujuh bulan lalu pindah dinas ke Jakarta."


"Tante, tahu alamat rumahnya Bang El yang di Jakarta?" tanya Vina.


"Tahulah, pengen pdkt yah sama El?" ucap Yohanna dengan nada suara yang ngegodain Vina.


"Ingat Vina, kamu udah punya pacar," celetuk Citra.


"Ah kamu rese," umpat Vina.


"Ya dah, Tante kasih tahunya alamatnya. Dicatat ya, komplek permata hijau satu, blok A1. Dekat pos keamanan komplek."


"Nanti setelah acara ini, kita main yuk ke sana," ucap Vina semangat.


"Giliran tahu alamat rumahnya Bang El semangat," ucap Yohanna dengan nada suara bercanda.


"Ya nggak Tante. Kita semangat kok. Nanti sebelum main ke rumahnya Bang El, kita main ke rumah Tante. Kita karaokean," ucap Liza ramah.

__ADS_1


"Tante Bang El udah punya pacar?" tanya Bety.


"Belum. Kalian mau pdkt sama El?"


"Iya," ucap Vina, Bety, Citra dan Liza kompak.


"Hahaha, kalian ternyata mengidamkan El. Tante dukung aja kalian melakukan pdkt sama El. Tapi jika tidak ada yang terpilih atau ada yang terpilih jangan ada yang sakit hati ya. Setahu Tante, El belum punya pacar. Dulu sekitar tujuh tahun yang lalu, dia pernah pacaran tapi dia ditinggal nikah sama ceweknya. Setelah itu, El belum pacaran lagi."


"Kenapa mereka putus?" tanya Citra kepo.


"Beda agama."


"Siapa nama ceweknya?"


"Seingat Tante Aisya."


"Tante, sekarang Rachel di mana?" tanya Liza yang tak ingin mendengar lagi kisah tentang Rafael.


"Di dalam kamarnya."


"Aku mau ke Rachel dulu Tante," ucap Liza.


"Iya."


Tak lama kemudian, Liza berjalan menerobos kerumunan orang - orang. Dia tersenyum sopan ketika setiap berhadapan langsung dengan wajah orang. Menelusuri keramaian para kerabat keluarga besar Rachel. Tiba - tiba tangan kanannya Liza ditarik ke belakang. Liza menoleh ke orang yang menarik tangan kanannya.


Pintu terbuka, Rafael masuk ke dalam kamar sambil menarik tangan kanannya Liza. Rafael menutup, lalu mengunci pintu kamar itu. Mendorong tubuhnya Liza ke salah satu sisi dinding kamar dengan pelan. Mengungkung tubuhnya Liza. Jarak wajah mereka sangat dekat. Tatapan mata mereka bertemu. Hembusan nafas hangat Rafael menerpa kulit wajahnya Liza. Liza menelan salivanya berulang kali menatap wajah gantengnya Rafael dengan tatapan mata yang berbinar.


"Hari ini kamu cantik sekali," ucap Rafael pelan sambil membelai wajahnya Liza.


Rafael ******* bibir ranumnya Liza dengan lembut sambil meraba lekuk tubuhnya Liza. Liza merasakan desiran - desiran lembut menyelubungi rongga hatinya hingga tak sadar telah menjatuhkan tas pestanya. Liza terlena dengan perlakuan Rafael sehingga dia membalas ciuman Rafael sambil mengalungkan dua tangannya di lehernya Rafael. Mereka saling menukar saliva, saling *******, saling menghisap, saling menautkan lidah mereka dan saling menguasai rongga mulut. Mata mereka terpejam menikmati ciuman panas mereka.


Mulutnya Rafael menelusuri leher jenjangnya Liza sambil merayapi dua buah semangka milik Liza. Suara hasrat yang bergelora keluar mulut ranumnya Liza. Perlahan tangan kirinya Rafael membuka resleting dressnya Liza. Menurunkan gaun dan kacamata kuda yang dipakai oleh Liza hingga terlihat buah semangka milik Liza. Tanpa basa - basi, Rafael melahap buah semangka itu secara bergantian.


Hawa gairah menyelimuti ruangan itu. Gerakan dua tangannya Rafael menjadi liar menjelajahi tubuhnya Liza. Liza meremas rambutnya Rafael dengan gairah se*ks yang bergelora. Tangan kanannya Rafael menyingkap gaunnya Liza hingga menemukan gua hutan tandus dibalik penutupnya. Membelai lembut gua itu sambil melahap salah satu buah semangka.


Tok ... tok ... tok ...


"Rafael! Rafael! Cepatan keluar! Sebentar lagi acara dimulai!" pekik seseorang.


Sontak Rafael dan Liza menghentikan kegiatan mereka setelah mendengar ucapan itu. Rafael langsung menjauhkan dirinya dari tubuhnya Liza. Liza langsung menegakkan badannya, lalu menutup resleting gaunnya. Rafael merapikan kemeja dan jasnya. Rafael merapikan rambutnya yang acak - acak.


"Kamu keluarnya belakangan aja, setelah aku keluar. Sebaiknya kamu merapihkan tatanan rambutmu," ucap Rafael sambil menggeserkan tubuhnya ke daun pintu.

__ADS_1


"Iya," ucap Liza sambil menundukkan kepalanya sambil menetralkan detak jantungnya.


Rafael menekan gagang pintu kamarnya ke bawah. Perlahan membuka sedikit pintunya. Keluar dari kamar, lalu langsung menutup pintu kamarnya. Liza masing bergeming di tempatnya. Detak jantungnya masih belum teratur. Dia memegang dada sebelah kirinya sambil merasakan gelayar halus yang merayapi relung hatinya. Dia melihat pintu kamar mandi yang terbuka, lalu berjalan ke kamar mandi. Masuk ke dalam kamar mandi. Menatap dirinya sendiri di depan cermin westafel.


"Oh my God! Dia telah mencium diriku, apakah dia menyukai diriku?" ucap Liza.


Tululut ... tululut ... tululut ...


Bunyi dering smartphone milik Liza yang mengalihkan perhatian Liza. Liza mengedarkan pandangannya mencari tas pestanya. Dia melangkah kakinya ke tempat semula dia berdiri di kamar itu. Dia mendapati tas pestanya. Dia berjongkok untuk memungut tas pestanya. Membuka tas pestanya, lalu mengambil smartphone miliknya. Menggeser ikon hijau di layar smartphonenya.


"Hallo," sapa Liza setelah mendekatkan benda pipih itu ke wajahnya.


"Kamu di mana? Sebentar lagi acara dimulai," tanya Vina.


"Aku di dalam kamar mandi," bohong Liza.


"Ngapain kamu di dalam kamar mandi?"


"Lagi rapihi riasanku."


"Memangnya kamu habis ngapain?"


"Tadi aku habis jatuh," ucap Liza yang berbohong.


"Jatuh di mana? Kamu baik - baik aja."


"Iya aku baik - baik aja."


"Udah cepatan ke sini."


"Iya."


Tut ... tut ... tut ...


Tiba - tiba sambungan telepon terputus. Liza memasuki smartphone miliknya ke tempat semula. Dia menutup tas pestanya. Berdiri sambil memegang tas pestanya. Melangkahkan kakinya ke kamar mandi lagi. Bercermin lagi sambil membelai bibirnya. Menatap dirinya dengan tatapan mata yang berbinar.


"Aku merasakan kebahagiaan jika bersama Bang El. Apakah aku telah jatuh cinta kepadanya?"



💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Terima kasih ya telah membaca novel ini 😊.

__ADS_1


Jangan lupa dukungan darimu dengan memberikan like, vote, hadiah, bintang lima dan komentarmu ya 😊.


Salam hangat dariku 🤗


__ADS_2