
"Bang El!"
Liza berteriak ketika melihat Rafael memaksa untuk mencium Aisyah di tembok pembatas ruang keluarga dengan ruang makan. Tubuhnya Aisyah dihimpit oleh tembok dan tubuhnya Rafael. Raut wajahnya Aisyah tak berdaya dan memelas untuk meminta bantuan. Beberapa helai rambut keluar dari jilbabnya. Dua tangannya Aisyah dicengkeram di atas kepalanya.
Rafael menatap Liza dengan tatapan mata yang tajam. Muka dan dua matanya Rafael memerah seakan dirinya dibutakan oleh nafsu. Dengan secepat kilat Aisyah menendang alat pamungkasnya Rafael sehingga Rafael melepaskan cengkeramannya. Rafael membungkuk badannya sambil memegang inti tubuhnya dan meringis kesakitan. Aisyah secepat kilat berlari ke arah pintu lift.
"Terima kasih Liza," ucap Aisyah sambil berlari melewati Liza.
"Iya, sama - sama," ucap Liza sambil menoleh ke Aisyah yang sedang memencet tombol panah ke bawah.
"Aaarrrggghhh!" ucap kekesalan Rafael sambil berlari menyusul Aisyah.
Sekilas Liza mencium bau alkohol dari mulutnya Rafael ketika Rafael berlari melewati dirinya. Liza melihat Rafael memukul tembok karena kesal tidak bisa menyusul Aisyah masuk ke dalam lift. Rafael menatap tajam ke Liza dengan raut wajah yang penuh dengan emosi jiwa. Liza masih ingat dengan mimik wajahnya Rafael yang seperti itu. Mimik wajahnya sama seperti mimik wajahnya Rafael yang ingin memperkosanya. Liza memundurkan tubuhnya secara perlahan. Rafael menghampiri Liza dengan langkah yang tegas seakan ingin menangkap Liza. Liza berlari ke kamar utama, tapi di tengah perjalanannya, Rafael berhasil menangkap Liza.
"Bang El, aku mohon jangan lakukan itu lagi, aku mohon," ucap Liza memelas sambil menggeliatkan tubuhnya yang ditarik oleh Rafael, namun usaha itu sia - sia.
"INI SEMUA SALAHMU!" bentak Rafael sambil menggiring tubuhnya Liza ke sofa.
Rafael menghempaskan tubuhnya Liza ke sofa dengan kasar. Dengan secepat kilat, Rafael mengungkung tubuhnya Liza. Menarik dua tangannya Liza ke atas, lalu mencengkramnya. Rafael meraup bibirnya Liza dengan brutal. Tangan kirinya men *ja*mah tubuhnya Liza dengan kasar. Liza meronta - ronta supaya dirinya lepas dari kunkungan Rafael, tapi usahanya tidak membuahkan hasil karena tenaganya tidak sekuat Rafael sehingga dia tidak bisa melepaskan dirinya dari bekapan Rafael.
Rafael menghisap, meraba, merengkuh, dan meremas, dan gigitan dengan liar tanpa mempedulikan kesehatan Liza. Jiwanya Rafael diselimuti oleh hawa nafsu belaka dan emosi jiwa yang bergejolak. Liza melihat langit - langit ruang keluarga dengan tatapan mata yang kosong. Jiwanya kembali terjatuh ke dasar jurang, tapi kali ini jurangnya lebih dalam lagi. Hatinya luluh lantah mengalami kejadian seperti ini lagi. Sudah payah dia telah menata dirinya untuk menjalani kehidupannya dengan tulus bersama Rafael di dalam rumah tangga mereka, namun Rafael masih berbuat semena - mena terhadap dirinya. Air mata kembali mengalir lembut dari dua matanya Liza. Liza menangis dalam diam merasakan kehancuran dirinya.
"Rafael!" pekik Billy sambil melihat perlakuan Rafael terhadap Liza.
Sontak Rafael menghentikan gerakannya, lalu menoleh ke tulangnya. Secepat kilat Rafael melepaskan senjata pamungkasnya dari gua milik Liza, lalu memungut celananya yan tergeletak di atas lantai. Berlari secepat kilat ke kamarnya. Billy melihat wajahnya Liza yang pias, dan pucat. Tak sengaja Billy melihat luka memar di dua pergelangan tangannya Liza, di area leher dan di sekitaran dadanya Liza. Billy melihat tatapan kosong dan aliran air mata dari dua matanya Liza. Liza tidak merespon kehadiran Billy. Billy tidak tega melihat tubuhnya Liza yang terkulai lemas di atas sofa tanpa sehelai benang apa pun. Billy langsung berlari ke kamarnya Rafael untuk mengambil selimut untuk Liza.
__ADS_1
Melewati pintu kamar yang terbuka. Mengambil selimut yang berada di atas tempat tidur. Billy mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar untuk mencari sosoknya Rafael, tapi dia tidak menemukannya. Melangkahkan kakinya ke ruang keluarga dengan tempo yang sangat cepat. Billy langsung menyelimuti tubuhnya Liza dengan selimut itu. Billy menghembuskan nafasnya dengan kasar. Menggeleng - gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak asuhnya. Billy berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuhnya Liza. Billy menepuk pelan bahu kanannya Liza berulang kali sehingga Liza menolehnya.
"Tulang?" lirih Liza sambil mengeluarkan air matanya.
"Iya, kamu mau melaporkan hal ini ke pihak yang berwajib?"
Liza menggelengkan kepalanya sambil meringis kesakitan di dalam tangisannya. Liza menurunkan kaki kirinya dari sandaran sofa sambil meringis menahan rasa sakit yang sangat luar biasa di sekujur tubuhnya. Liza memegang erat perutnya karena perutnya seperti ditusuk - tusuk sambil meringis. Buliran keringat dingin bermunculan di sekujur tubuhnya Liza. Wajahnya Liza pucat pasi.
"Kamu mau ke rumah sakit lagi?" tanya Billy khawatir.
"Tidak Tulang," lirih Liza.
"Yakin kamu nggak kenapa - napa?"
"Iya, aku hanya perlu istirahat," lirih Liza yang masih menangis.
Liza menggelengkan kepalanya dengan lemah sebagai jawabannya. Billy mengusap puncak kepalanya Liza berulang kali dengan penuh kasih sayang sebagai seorang paman sambil tersenyum sopan. Billy beranjak berdiri, lalu berjalan ke kamar utama penthousenya Rafael. Melewati pintu yang terbuka. Samar - samar Billy mendengar suara kucuran air dari shower. Billy mendekatkan dirinya ke pintu kamar mandi supaya dapat mendengar dengan jelas. Menempelkan daun telinga kanannya di daun pintu kamar mandi. Dia hanya mendengar suara kucuran air, tapi tidak mendengar suara orang yang sedang mandi. Billy mengangguk - anggukkan kepalanya.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Smartphone milik Liza berdering. Spontan Billy menoleh ke benda pipih itu yang berada di atas nakas sebelah kiri ranjang. Billy melangkahkan kakinya ke nakas tersebut. Mengambil smartphone itu. Billy melihat nama Edward di layar smartphone. Tak sengaja ikon berwarna hijau kesentuh sama Billy. Billy segera menyentuh ikon berwarna merah untuk memutuskan panggilan itu.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Billy segera berlari menghampiri Liza sambil membawa smartphone milik Liza. Dua mata Liza terpejam. Billy tidak tega untuk membangunkannya. Billy melangkahkan kakinya ke kamar lagi sambil membawa smartphone milik Liza. Kemudian Billy menaruh benda pipih itu ke tempat semula. Billy melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar. Berjalan ke pantry penthouse. Mengambil smartphone miliknya dari saku sebelah kanan celananya. Menyentuh beberapa ikon untuk menelpon Edward. Tak lama kemudian, mendapatkan benda pipih itu ke telinga kanannya.
__ADS_1
"Hallo selamat malam Tulang, ada apa ya?" ucap Edward sopan.
"Edward, jawab dengan sejujurnya, ada apa dengan pernikahan Rafael sama Liza?"
"Ehmmm ... maaf Tulang aku tidak bisa menceritakannya."
"Kamu tak perlu takut sama Rafael, semua menjadi tanggung jawab Tukang jika terjadi sesuatu denganmu jika kamu dipecat atau diapa - apain sama Rafael. Cepat dijawab!"
"Sebenarnya, Rafael terpaksa Rafael terpaksa menikahi Liza karena Liza hamil duluan. Rafael dipaksa sama orang tuanya untuk segera menikahi Liza. Rafael hanya ingin membiayai semua keperluan anak mereka, tapi keinginan Rafael tidak disetujui oleh orang tuanya Rafael. Akhirnya Rafael mengikuti perintah orang tuanya, tapi ...."
"Tapi kenapa?" ucap Billy dengan tegas.
"Rafael tidak pernah menganggap Liza sebagai istrinya. Rafael hanya menganggap Liza sebagai salah satu boneka pelampiasan nafsunya. Beberapa kali Rafael menyakiti Liza baik fisik maupun mentalnya. Aku sudah berusaha menasehati Rafael, tapi Rafael tidak pernah menggubrisnya, sampai akhirnya aku tidak bisa berbuat apa - apa lagi. Maaf Tulang, aku pamit ke belakang," ucap Edward sopan
"Iya, terima kasih ya Edward. Selamat malam Edward."
"Malam juga Tulang."
Tak lama kemudian, Billy menjauhkan benda pipih itu dari telinga kanannya, lalu menaruhnya ke tempat semula. Billy melangkahkan kakinya ke ujung bawah tangga sambil bertolak pinggang. Mukanya mengeras, hidungnya kembang kempis dan semburat merah menyelimuti wajahnya. Rafael terkejut melihat sosok Billy yang sedang menunggunya di bawah sehingga menghentikan langkahnya. Mau tak mau Rafael melanjutkan langkahnya menghampiri tulangnya. Rafael melihat sosok tulangnya yang diselimuti oleh emosi. Suasana tegang ketika Rafael berada di hadapan Billy.
Bug
Billy melayangkan sebuah pukulan ke wajahnya Rafael. Pukulan dari Billy tepat mengenai bibirnya Rafael. Rafael terjungkal ke kiri. Walaupun sudah tua, tenaga Billy masih sangat kuat. Rafael membersihkan darah yang keluar dari sudut kanan bibirnya. Billy mendelikan dua matanya ke Rafael sambil menahan emosi yang bergejolak di jiwanya.
"KAMU HARUS MINTA MAAF SAMA LIZA! DAN UBAH SIFAT SIKAP BURUKMU SAMA LIZA!" bentak Billy.
__ADS_1
"Iya Tulang," ucap Rafael tak berdaya di hadapan orang yang telah mengurusnya sejak umur dua tahun.
"Aauuwww!" pekik Liza yang mengagetkan mereka berdua.