
Waktu terus berputar mengiringi perjalanan Rafael dan Liza dari gedung IR Group menuju ke rumah sahabatnya yang berada di kawasan Condet dengan menggunakan mobil Lamborghini milik Rafael. Mobilnya Rafael yang ditumpangi oleh Liza menembus keramaian kota Jakarta yang lumayan macet.
"Sebenarnya kita mau pergi ke mana?" tanya Liza sambil menoleh ke Rafael.
"Ke salah satu sahabatku," jawab Rafael sambil menyetir.
"Dia tinggal di mana?"
"Di Balekambang. Aku mau bertemu dengannya sebelum dia pergi ke Abu Dhabi."
"Dia kerja di sana?"
"Iya, dulu dia kerja di IR Contractor And Desain bareng Aisya, tapi bagian teknik sipilnya," ucap Rafael senang
"Berarti dia temannya Aisya juga?"
"Masih saudaranya Aisya sama masih saudaranya Zayn."
"Zayn siapa?"
"Anak kandungnya Ummi yang menikah sama Aisya."
Rafael membelokkan mobilnya ke kiri, memasuki sebuah kebon yang sangat luas. Kanan kiri ditumbuhi pohon - pohon yang menjulang tinggi, beberapa bangunan rumah dan orang - orang yang sedang melihat mobilnya Rafael dengan tatapan mata yang takjub. Di ujung kebon ada rumah adat suku Betawi yang bernama rumah Kebaya. Mobilnya Rafael berhenti di depan rumah itu.
Rafael dan Liza membuka sabuk pengaman setelah mesin mobil mati. Pintu mobil terbuka otomatis setelah mereka membuka sabuk pengaman. Mereka keluar dari mobil. Pintu mobil otomatis tertutup. Liza mengedarkan pandangannya ke penjuru pekarangan. Dia melihat beberapa orang sedang berbisik - bisik. Liza tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya ke mereka. Mereka pun membalasnya.
Liza mengikuti langkahnya Rafael ke dalam teras rumah. Di teras rumah itu, dia melihat seorang pria tua yang menggunakan kaos oblong putih dan celana wangsi warna hitam sedang tidur pulas di atas bale bambu. Dia melihat salah satu daun pintu terbuka dan mendengar suara beberapa orang yang berada di dalam rumah. Rafael dan Liza mendekati pria paruh baya itu.
"Assalamu'alaikum!" salam Alfonso pelan.
"Walaikumsalam," ucap pria tua itu, lalu dia duduk sambil mengerjapkan kedua matanya.
"Permisi Babe, saya ke sini mau cari Zarkasih," ucap Rafael ramah.
"Eh, ada Koko El," ucap pria paruh baya itu sambil menggantikan posisi badannya dari telentang ke duduk. "Shifa!" teriak pria tua itu sambil menoleh ke pohon mangga.
Tak lama kemudian, Rafael dan Liza menyalin pria paruh baya itu. Rafael duduk di samping kiri pria tua itu, sedangkan Liza duduk di depan orang itu. Seorang bocah perempuan turun dari atas pohon mangga. Berlari menuju ke pria tua itu, Rafael, dan Liza. Bocah itu mengerutkan dahinya ketika menatap Rafael.
"Encang, teman kerjanya Babe di Abu Dhabi ya?" tanya Shifa.
"Bukan, encang teman Babe elu waktu masih muda."
"Ooo, aye panggil babeh dulu."
"Eh Shifa, babeh elo emangnya ada di mane?"
"Lagi di toko bangunan Nkong."
"Yah udah, sana dech lo, panggilin babeh elo. Buruan yak."
"Okidoki Nkong."
"Ape itu okidoki?"
"Iya Nkong."
"Buruan sana!"
Tak berselang lama, Shifa berlari menuju toko bangunan. Pria tua mengerutkan dahinya lagi karena bingung melihat Liza.
"Tuch perempuan siapa elu Tong?" tanya pria tua itu sambil menoleh ke Rafael.
"Calon bini aye Beh."
"Wah hebat elu, udah bisa lupain Aisya," ucap pria tua itu dengan bangga.
"Kami terpaksa menikah Beh."
"Kenapa terpaksa? Pan calon bini elu cantik banget kayak bidadari," ucap pria paruh baya itu yang membuat Liza malu sendiri.
"Yah ... ada dech."
"Gimana kabar Papi ama Ummi elu?"
"Baik Beh."
Dari kejauhan, melihat melihat Zarkasih berlarian menghampiri dirinya, Liza dan Babeh. Nafasnya Zarkasih terengah - engah sambil berdiri di depan Liza, Rafael dan enkong. Zarkasih mengedarkan pandangannya ke setiap orang yang berada di depan matanya.
"Njar, si El mau nikah. Nich calon bininya," celoteh pria paruh baya itu sambil menunjuk ke Liza
__ADS_1
"Beh sebaiknya masuk ke dalam rumah dech, Nyak nyariin Babeh," ucap Zarkasih.
"Ya udeh, gw masuk ke dalam rumah," ucap pria tua itu, lalu Babeh masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang di Condet, Contoh Daerah Elit," ucap Zarkasih sambil melebarkan dua tangannya.
Rafael berdiri, memeluk badannya Zarkasih, lalu berbisik, "Tempat kenangan kita."
"Buset dach, elo benaran datang kemari. Gw kaga mimpi pan? Gw kirain elo cuma basa - basi pengen datang kemari," cerocos Zarkasih sambil melepaskan pelukannya, menduduki badannya di kursi sebelah kirinya Rafael.
"Gw serius mau datang ke sini," ucap Rafael sambil menduduki tubuhnya di tempat semula.
"Dalam rangka apa elo ke sini?"
"Gw mau ngundang elu ke acara pemberkatan nikah gw."
"Yah ... besok gw udah balik ke Abu Dhabi. Bujug buneng ... elu benaran mau nikah?"
"Iya," ucap Rafael lesu.
"Wah keren banget elu udah bisa move on, gitu dong. Ini calon bini elu?" cerocos Zarkasih.
"Biasa aja kali Njar. Iya," ucap Rafael datar.
"MasyaAllah, cantik banget," komentar Zarkasih yang membuat Liza bertambah malu.
"Masih cantikan Aisya," ujar Rafael yang menolehkan luka di hatinya Liza.
"Elu gila ya, depan calon bini masih muji bini orang," ucap Zarkasih spontan. Zarkasih mengalihkan pandangannya ke Liza Karena dia tidak enak hati sama Liza, lalu berucap, "Namanya siapa?"
"Eliza, panggil Liza aja."
"Nama yang bagus. Kerja di mana?"
"Di IR Contractor And Desain."
"Wah, dulu gw kerja di sono. Elu kerja di bagian mana?"
"Bagian Desain."
"Wah, berarti elu arsitek dong?"
"Iya."
"Di kantor."
"Kantor?" ucap Zarkasih sambil mengerutkan keningnya karena bingung.
"Sekarang kerjaan gw double sob," samber Rafael.
"Ooo, elu kerja di sana sebagai apa?" ucap Zarkasih sambil menoleh ke Rafael.
"CEO juga. Ngomong - ngomong elu cepat banget di Indonesianya?"
"Yah, gw ke Indonesia cuma untuk ngurus visa sama paspor, ini juga dibantuin ama teman gw yang kerja di Imigrasi. Elu kesini, sekalian ke yayasan sama ke rumahnya Nyak Rogaya?"
"Iya."
"Titip salam ya buat si Marimar," ucap Zarkasih.
"Modus, ogah ah. Elu ya Njar, udah nikah masih main salam - salaman," ucap Rafael datar.
"Yey ... pikiran elu udah negatif aja. Salam bukan berarti kesemsem sama Marimar. Maksud gw salam silaturahmi keluargaan, soalnya gw nggak sempat ke sana. Dan yang kemarin - kemarin gw dengar, Nyak Rogaya masuk ke rumah sakit. Tapi gw nggak tau, udah pulang atau belum dah."
"Sakit apa?"
"Yang gw dengar kena serangan stroke."
"Eh, ada tamu jauh," ucap seorang wanita yang tiba - tiba datang menghampiri mereka sambil membawa nampan yang berisi empat gelas teh manis hangat sama uli goreng. "Eh El, besok Aisya mau pulang ke sini," lanjut wanita itu sambil menaruh nampan di atas bale.
"Dia sendiri ke sininya?" tanya Rafael antusias.
"Enggak, dia ke sini sama anak - anaknya. Pan si Zayn lagi di Venus," ucap wanita itu sambil duduk di samping kanannya Liza.
"Jam berapa dia ke sini?"
"Katanya dari sana berangkatnya besok pagi."
"Naik pesawat komersil atau naik pesawat jet pribadi?"
__ADS_1
"Katanya sich naik pesawat komersil," ucap wanita itu.
"Kalau gitu, besok malam gw jemput dia di bandara," ujar Rafael semangat.
"Aji gila elu yak, udah mau nikah masih nyosor aja sama bini orang," celetuk Zarkasih.
"Elu mau nikah El?" tanya wanita itu spontan.
"Iya Maimunah."
"Siapa calonnya?"
"Itu di samping ayang Beb," samber Zarkasih.
Maimunah menoleh ke Liza, cengengesan, lalu berucap, "Namanya siapa?"
Liza mengulurkan tangan kanannya ke Maimunah, lalu berucap, "Eliza, panggil Liza aja."
"Aye Maimunah," ucap Maimunah sambil mengulurkan tangan kanannya ke Liza. "Maaf ye kalau ada kata yang salah," lanjut Maimunah yang nggak enak hati sama Liza sambil melepaskan uluran tangan kanannya.
"Iya nggak apa - apa," ucap Liza sambil menurunkan tangan kanannya.
"Makanya kalau mau ngomong dilihat dulu kondisi dan situasinya Maimunah," celetuk Zakarsih.
"Iya. Eh ngomong - ngomong kapan kalian nikah?"
"Pemberkatannya hari Sabtu, resepsinya dua bulan lagi."
"Cepat amat," celetuk Maimunah.
"Itu terpaksa kami lakukan karena permintaan orang tua."
"Kalian dijodohin?" tanya Maimunah kepo.
"Enggak."
"Terus kenapa?"
"Karena kecelakaan dan hamil, maka itu gw terpaksa menikahinya," celetuk Rafael yang membuat torehan luka di hatinya Liza bertambah.
"Elu masih main gila sama perempuan?" tanya Zarkasih penasaran.
"Iya."
"Terus dia salah satu korban elu?" ucap Zarkasih sedikit meninggi nada suaranya.
"Biasa aja kali Bro."
"Benar - benar tega elu yak, dia itu gadis baik - baik kenapa dijadiin korban?"
"Kita lakuin itu atas dasar sama - sama mau. Waktu itu gw nanya ke dia, terus dia mau gw ajakin begituan. Elu tertipu dengan mukanya, kalau dia wanita baik - baik mana mungkin dia mau diajakin begituan."
Liza sontak berdiri, lalu berkata dengan emosi jiwa, "Asal Bang El tahu, aku sangat menyesal dan kecewa sama kebodohan diriku sendiri yang telah melakukan itu bersama Bang El! Aku sangat kecewa sama Bang El karena telah membeberkan tentang kita!"
Tiba - tiba air matanya Liza mengalir lembut. Karena tidak mau memperlihatkan kesedihannya, Liza langsung berlari keluar rumah. Zarkasih menghembuskan nafasnya dengan kasar. Maimunah melongo melihat kepergian Liza, sedangkan Rafael santai menanggapi itu semua.
"El, dia itu sangat mencintai diri elu, kenapa elu menyia - nyiakan dirinya?"
"Iya gw tahu, dia sangat mencintai gw. Karena dia bukan wanita yang baik - baik dan wanita gampangan, tidak seperti Aisyah."
"Gila elu yah berpikiran kayak gitu. Gw yakin dia mau melakukan itu karena hatinya luluh sama elu dan gw yakin dia wanita yang baik - baik. Udah saatnya elu berubah menjadi lebih baik lagi untuk mendapatkan dirinya. Gw minta, elu jangan menyia - nyiakan dirinya."
"Elu ngomong gitu karena elu kasihan sama dia?"
Zarkasih menggeleng - gelengkan kepalanya, lalu berucap, "Karena kita sahabat."
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Terima kasih sudah membaca cerita novel ini 😊
Kasih like ya 😊
Kasih hadiah ya 😊
Kasih vote ya 😊
Kasih bintang lima ya 😊
Kasih komentar ya 😊
__ADS_1