Asa Diriku

Asa Diriku
Sebaiknya Aku Pulang


__ADS_3

Secara pelan - pelan kedua kelopak netra milik Rafael mulai terbuka karena memudarnya pengaruh dari obat - obatan yang sempat merapatkan kedua matanya dengan kuat. Rafael mengedipkan beberapa kali kedua matanya supaya bisa menyesuaikan pancaran cahaya lampu yang menerobos masuk menembus kornea kedua matanya. Setelah kedua kelopak matanya terbuka sempurna, Rafael mengedarkan kepalanya ke sekeliling ruangan. Bingung adalah reaksi pertama yang dia tampakkan ketika dia melihat kamar yang bernuansa putih yang memenuhi kedua matanya setelah terpejam dalam waktu yang dia sendiri tidak tahu sudah berapa lama.


Ketika Rafael hendak mau duduk, dia meringis kesakitan, hingga dia tidak jadi duduk. Di dalam ruangan hanya dia seorang. Rafael menoleh ke tangan kanannya dia melihat selang infusan tertancap di punggung telapak tangan kanannya. Dia mendengus kesal. Pintu ruangannya terbuka, menampilkan Billy. Billy berjalan menghampiri Rafael yang terbengong melihat mereka. Billy tersenyum hangat ke Rafael ketika dia berada di hadapan Rafael.


"Akhirnya kamu sadar," ucap Billy lembut sambil mengusap puncak kepalanya.


"Kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Rafael bingung.


"Dua hari yang lalu, kamu ditemukan tergeletak lemah di tengah kebun sama Ardi.


"Kenapa aku bisa tergeletak lemah di tengah kebun?" tanya Rafael yang masih bingung.


Waktu kamu mau lihat gudang kosong yang dijual di daerah sini, rombongan mobil kamu diserang sama komplotan mafia. Waktu mereka mengejar kamu yang kabur dari jebakan mereka, betis kamu ditembak, lalu kamu pingsan karena kehabisan darah, untung kamu ditemukan sama Ardi, pemuda yang menolong kamu dari kejaran mereka," ucap Billy sambil memencet tombol untuk memanggil dokter maupun suster.


"Yang lainnya selamat?" lanjut Rafael sambil menoleh ke Billy.


"Selamat, tapi Devi melarikan diri. Dia tidak ada di TKP ketika personil rombongan mobil kamu menyadarkan diri. Kemungkinan besar Devi bekerja sama dengan komplotan mafia itu."


Ternyata dia mata - mata dari komplotan mafia itu. Sekarang aku baru ingat, dia ngotot mau ikut ke sini.


Batin Rafael.


"Ada hubungan apa kamu sama Devi?" tanya Billy serius.


"Tidak ada apa - apa," kilah Rafael.


"Kamu tidak usah berbohong sama Tulang, El," ucap Billy sambil menatap tajam ke Rafael.


Rafael mendengus kesal, lalu dia berkata, "Kamu sering berhubungan intim, awalnya aku cuma isengi dia, tapi lama - kelamaan aku tergiur sama tubuh dan dirinya."


"Apakah karena itu juga, Liza kabur dari rumah?"


"Nggak, Liza kabur dari rumah karena hanya melihat aku dan Vina yang sedang bercumbu di kamar hotel."


"Kamu sudah kelewatan El. Mana janjimu yang ingin berubah?"


"Tidak secepat itu aku bisa berubah, apalagi ada godaan dari Devi, semakin susah aku untuk berubah."


"Dan lihat sekarang, karena wanita itu mereka bisa menyentuhmu. Untung kamu bisa kabur dari serangan mereka."


"Apakah polisi sedang mencari dia?"


"Iya."


"Sebenarnya siapa dalang dari penyerangan itu?"


"Mantan narapidana internasional. Dia bandar narkoba terbesar di Asia."


"Kenapa dia menjadi musuhnya Papi?"


"Karena Papimu yang membocorkan soal jaringannya di Indonesia. Dulu sebelum dijual, tempat perjudian dan club Papimu dijadikan tempat transaksi perdagangan narkoba yang dilakukan oleh jaringannya. Waktu itu ada razia narkoba yang dipimpin oleh Tulang. Dari razia itu, Tulang menangkap Papimu dan rekan - rekan bisnis gelapnya. Salah satu rekan bisnis gelapnya Papimu itu adalah komplotan mafia itu. Dan Tulanglah yang menangkap big boss komplotan mafia itu ketika dia berada di Indonesia."


"Pantesan dia mengincarku."

__ADS_1


Pintu kamar rawat inap Rafael terbuka. Tak lama kemudian suara derap langkah memasuki ruang rawat inap Rafael. Seorang dokter dan seorang perawat datang menghampiri tempat tidur Rafael. Perawat itu memasangkan tensimeter di tangan kanannya Rafael dan memeriksa tekanan darahnya Rafael dengan menggunakan tensimeter.


"Wah hebat kamu, mampu bertahan dimasa kritis! Bagaimana keadaan dirimu? Masih ada yang sakit?" ucap dokter itu sambil memasangkan stetoskop ke telinganya.


"Saat aku mau duduk, dari pinggang sampai kaki aku sakit banget Dok," ucap Rafael.


"Saya akan meresepkan obatnya," lanjutnya sambil melepaskan stetoskop dari kedua telinganya.


"Dokter bagaimana keadaan anak saya?"


"Dia sudah membaik Pak."


"Bagaimana hasil CT Scan putra saya Dok?"


"Hasil CT Scan Pak Rafael normal semua, Pak Keadaan fisiknya tidak perlu dikhawatirkan lagi, Pak. Kita pantau keadaannya selama delapan jam kedepan, ya Pak. Kalau tidak ada masalah nanti malam pasien sudah boleh pulang."


"Baik Pak dokter."


"Kami permisi dulu, jika perlu bantuan bisa panggil kami," pamit pak dokter, lalu dokter dan perawat itu keluar dari kamar rawat inap.


"Papi tahu soal ini?" tanya Rafael setelah perawat yang tadi datang menutup pintu kamar rawat inapnya Rafael


"Tahu. Nanti dia dan Irene mau menjengukmu."


"Kalau Mami?"


"Belum tahu."


"Kenapa nggak dikasih tahu?"


"Kalau Aisyah?"


"Ngapain juga Aisyah perlu tahu? Dia bukan siapa - siapa kamu. Lagipula dia lagi sibuk ngurus visa nasional dan visa baru untuk saudaranya."


"Kalau Liza?"


"Dia tahu. Oh ya, nanti dia ikut ngejenguk kamu. Dan satu lagi, Liza sedang mengandung anak kembar kalian."


"Masa sih?!" ucap Rafael tidak percaya.


"Iya."


"Padahal hampir dua minggu kami tidak berhubungan intim lagi," ucap Rafael datar yang menampilkan raut muka yang tidak suka mendengar kabar tentang kehamilan istrinya.


"Berarti benar itu anakmu, Liza hamil dua minggu. Kamu kenapa kelihatan tidak suka dengan berita kehamilan Liza sekarang? Kamu curiga jika Jack itu adalah ayah mereka?"


"Iya," ucap Rafael yakin."


"Itu tidak benar, sebenarnya Jack adalah kakaknya Liza."


"Setahuku dia tidak punya seorang kakak."


"Jack itu kakak tirinya Liza."

__ADS_1


"Apakah mereka punya hubungan darah?"


"Tidak, tapi Jack itu adalah anak bawaan dari suaminya Eliosia, Eliosia itu adalah ibu kandungnya Liza."


"Jadi bisa aja kan, jika mereka bukan anakku."


"Huh ... . Kalau kamu tidak yakin mereka adalah anakmu, kamu bisa tes DNA."


"Itu yang akan aku lakukan. Tapi selama dia mengandung mereka, aku tidak mau Liza tinggal bersama diriku."


"Rafael!" bentak Rogen sambil membuka handle pintu kamar rawat inap Rafael.


Billy dan Rafael menoleh ke Rogen. Di belakang Rogen ada Irene dan di samping kanannya Irene ada Liza yang sedang menundukkan kepalanya. Irene sontak menggenggam telapak tangan kanannya Liza dengan penuh kasih sayang untuk memberikan menguatkan Liza. Rogen melangkahkan kakinya dengan derap langkah yang tegas menghampiri Rafael. Irene menuntun Liza untuk mengikuti langkahnya Rogen. Billy memangkas tangan kanannya Rogen yang hendak ingin menampar Rafael.


"Biar aku yang ngurus soal itu Gen," ucap Billy serius.


Rogen menurunkan tangan kanannya, lalu berucap, "Kamu selalu manjakannya."


"Aku lihat kondisi dan situasinya untuk menasehati Rafael. Kalau sekarang kurang tepat untuk menasehatinya," ucap Billy serius.


"Selamat pagi Rafael, kamu sudah mendingan?" ucap Irene lembut sambil menatap Rafael penuh dengan kasih sayang sebagai seorang ibu.


"Yah beginilah," ucap Rafael datar.


"Apakah kamu sudah bisa digerakkan?" tanya Liza polos.


"Memangnya kenapa dengan kakiku?" tanya Rafael bingung sambil menoleh ke Liza yang gelagapan, lalu langsung menyingkap selimut. "Oh my God! Ada apa dengan kakiku!?" ucap Rafael terkejut melihat kakinya yang diperban.


"Kaki kirimu habis dioperasi," ucap Billy lembut.


"Kenapa dioperasi?" sambil menatap Billy dan Rogen secara bergantian.


"Kaki kirimu harus dijahit karena ditembak sama komplotan itu," ucap Rogen.


"Ini semua salahnya Papi!" ucap Rafael marah yang membuat Rogen mengeraskan rahang mukanya.


"Kamu tidak boleh ngomong seperti itu," ucap Billy tegas.


"Jika Papi tidak memiliki bisnis di dunia gelap, semuanya ini tak akan pernah terjadi! Pantesan Ummi tidak mau dinikahi sama Papi karena waktu itu Papi masih bergelut di dunia hitam dan Mami Papi tidak akan bercerai jika Papi tidak terlalu sibuk sama urusan bisnis gelapnya Papi!"


"RAFAEL!!" pekik Liza spontan karena Liza tidak suka melihat seorang anak yang memarahi orang tuanya.


"Ohhhh, sekarang kamu sudah berani membentak diriku! PERGI DARI SINI!" ucap Rafael murka sambil menatap tajam ke Liza.


Liza langsung melangkah kakinya dengan langkah yang cepat, lalu berucap di dalam hatinya, "Sebaiknya aku pulang."


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih sudah membaca novelku yang ke empat 😊😊😊🥰🥰🥰.


Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna 😊😊😊.


Di like ya 🥰🥰

__ADS_1


Di komen ya 🥰🥰


Di vote ya 🥰🥰


__ADS_2