
Dilike ya guys π
Divote ya guys π
Dikomen ya guys π
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Hujan turun dengan derasnya, gumpalan awan hitam cumulonimbus menghiasi langit yang kelam, sekelam hatinya Liza. Kilatan petir telah menyambar langit malam hari ke hamparan parkiran di sekitar coffee shop. Liza duduk menyendiri di pojok kanan coffee shop, termenung meratapi kenyataan hidupnya sambil memandang pekarangan coffee shop itu yang telah diguyur hujan deras melalui kaca jendela dan menghirup semerbak wangi aroma khas kopi yang mengharumkan seluruh ruangan coffee shop.
"Huhhh..., " Liza menghembuskan nafas yang panjang.
"Seharusnya aku tidak bertindak bodoh karena mengatasnamakan cinta kepadanya. Menyesal pun tak ada gunanya. Mau tidak mau aku harus tabah menerima sikap dan sifat buruknya Rafael selama Tante Rara dan Om Rogen belum meninggal demi anak yang aku kandung," gumam Liza.
Julia baru saja menabahkan dirinya sendiri, namun genangan air mata bertengger di dua pelupuk matanya. Tak terasa buliran air mata itu mengalir lagi dengan sekali kedipan dari dua maniknya. Entah sudah berapa kali buliran air matanya mengalir bebas membasahi pipinya sehingga membuat dua netranya sembab.
Ayolah Liza! Jangan menangis lagi, sudahi tangismu hari ini! Kuatkan dirimu menghadapi semua ini! Ingat kamu harus jaga kesehatan karena di dalam perutmu ada nyawa yang tidak bersalah!
Kata Julia di dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri.
Julia memalingkan pandangannya ke sebuah cangkir kopi yang sudah tandas hanya menyisakan ampasnya, sisa potongan kecil kue pie susu di wadah piring kecil, satu kotak tisu di atas meja. Ia mengambil beberapa lembar tisu untuk menyeka air matanya. Menyudahi segala kesedihannya untuk hari ini. Tujuan Liza datang ke coffee shop untuk menenangkan dirinya dari rasa gudah gulana yang sejak dari tadi pagi menerjang dirinya. Sudah dua jam menenangkan dirinya, namun hatinya tetap gelisah tak karuan.
"Liza?" ucap Immanuel yang tiba - tiba datang menghampiri dirinya.
Liza langsung mendongakkan kepalanya, lalu berucap dengan suara yang parau, "Eh Immanuel."
Immanuel langsung menduduki tubuhnya di kursi yang berada di hadapan Liza, lalu berucap, "Kamu kenapa?"
Liza langsung menundukkan kepalanya, lalu berucap, "Aku nggak kenapa - kenapa."
"Kamu jangan bohong Liza, aku sangat tahu dirimu. Aku yakin, kamu pasti punya masalah yang sangat serius sehingga melukai hatimu. Apakah Rafael melukai dirimu?"
"Yah ... begitulah," lirih Liza.
__ADS_1
"Sudah kuduga. Dari dulu aku sudah tahu siapa Rafael yang sebenarnya. Awalnya aku ingin memberi tahu tentang jati dirinya Rafael ke kamu, tak enggan aku ceritakan karena kamu pasti tidak percaya kepadaku. Apakah dia terpaksa menikahimu?"
"Yah ... begitulah," ucap Liza dengan nada suara yang parau.
"Apa rencana kalian setelah anak itu lahir? Apakah akan bercerai seperti yang kami lakukan?"
"Kalian akan bercerai?"
"Iya, aku sudah membicarakan hal ini sama Erika, dan dia menyetujui. Kalau kalian gimana?"
"Ehmmm ... kami saling memberi waktu untuk mengenal lebih jauh lagi. Jika cocok berlanjut, jika tidak cocok kami berpisah," ucap Liza berbohong karena dia tidak mau Immanuel tahu semua tentang hubungan dia sama Rafael. "Sedang apa kamu di sini? Bukannya kamu di Bandung," lanjut Liza mengalihkan pembicaraan.
"Aku habis ketemu sama klien. Kamu masih suka karaokean nggak?"
"Masih."
"Kita karaokean yuk! Samping coffee shop ini, ada tempat karokean, hilangi stress," ajak Immanuel.
Boleh juga ajakan Immanuel. Dari pada aku mikirin orang yang yang belum tentu mikiri aku, mendingan aku karokean. Tapi ... nanti Erika marah jika tahu hal ini.
Batin Liza.
"Aku jamin dia tidak marah."
"Baiklah, ayo," ucap Liza semangat.
Tak lama kemudian, mereka berdiri. Liza memakai kacamata hitamnya, topi dan masker. Mengikuti langkahnya Immanuel ke pintu keluar coffee shop. Ketika keluar dari coffee shop, tak sengaja Liza melihat Regina dan Edward sedang berjalan berduaan saling bergandengan tangan. Liza mengerutkan keningnya karena melihat kepalanya Regina menyandar di bahu kanannya Edward. Edward dan Liza berjalan ke arah sebuah apartemen mewah yang berada di dekat coffee shop. Sebuah pemandangan yang menarik perhatian Liza.
Kok salah satu wanitanya Bang El pergi ke apartemen sama Aa Edward? Pasti ada yang tidak beres nich.
Batin Liza.
"Immanuel!" panggil Liza.
__ADS_1
Immanuel langsung menoleh ke Liza, lalu berkata, "Ada apa?"
"Maaf aku nggak jadi karaokean. Aku baru ingat ada janji sama salah satu temanku," ucap Liza.
"Ya udah kalau gitu, hati - hati ya," ucap Immanuel.
"Iya."
Akhirnya mereka berpisah. Liza mengikuti langkahnya Edward dan Regina. Masuk ke dalam apartemen setelah melewati pintu metal detektor gedung apartemen. Dari jarak dua meter, Liza bisa melihat jelas wajahnya Edward dan Regina yang sedang berjalan menuju lift. Keadaan di pintu lift hanya ada Regina dan Edward. Liza mengintip di balik pilar. Liza melihat Edward sedang berciuman sama Regina. Sontak Liza melebarkan dua matanya.
Ting
Pintu lift terbuka lebar. Regina dan Edward masuk ke dalam lift, disusul Liza. Regina menekan angka tiga puluh lima pada dinding Lift. Liza menekan tombol angka tiga puluh empat di dinding lift dengan asal. Pintu lift otomatis tertutup. Liza sengaja menghadap ke pintu lift dan menundukkan kepalanya supaya tidak ketahuan. Sekilas Liza mendengar suara ******* berulang kali. Dari pantulan cermin di dinding lift, Liza melihat kaki kirinyanya Regina diangkat. Liza mendongakkan kepalanya, dia melihat Edward sedang berhubungan intim sama Regina.
Gila juga tuch cewek, udah sering main sama Bang El, sekarang malah main sama Aa Edward. Apakah Bang El tahu hal ini? Apa perlu aku kasih tahu, tapi untuk apa aku kasih tahu? Dari gelagatnya, mereka mencurigakan.
Batin Liza.
Angka yang berada di atas pintu lift menunjukkan angka tiga puluh empat. Pintu lift terbuka, Liza keluar dari dalam lift. Pintu lift tertutup secara otomatis. Liza Celingak - celinguk di lantai itu. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia ragu antara ingin menyelidiki hubungan antara Edward dan Regina. Akhirnya dia menekan tombol panah ke atas di dinding lift. Dia penasaran sama hubungan asmara antara Edward dan Regina.
Ting
Pintu lift terbuka lebar. Liza masuk ke dalam lift. Menekan angka tiga puluh lima di dinding lift. Pintu lift otomatis tertutup. Beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka. Liza keluar dari dalam lift. Pintu lift otomatis tertutup. Di depannya, Liza melihat Edward ditarik masuk ke dalam apartemen sama Regina. Liza melanjutkan langkahnya ke kamarnya Regina untuk mengetahui nomor unit apartemennya Regina.
Ting
Tiba - tiba pintu lift terbuka. Sontak Liza menoleh ke belakang, dia melihat sosok Rafael keluar dari dalam lift. Liza langsung panik, dia mengedarkan pandangannya. Dia menemukan dua buah sofa dan satu meja di ujung lorong lantai itu. Dia melangkah kakinya dengan tempo yang sangat cepat agar tidak ketahuan sama Rafael. Liza menduduki tubuhnya di salah satu sofa, lalu mengambil satu majalah yang berada di atas meja. Membuka majalah itu, lalu pura - pura baca.
Tadi Aa Edward datang ke sini sama wanita itu, sekarang Rafael datang ke sini. Jangan - jangan Bang El dan AA Edward mendatangi apartemennya wanita itu. Dan mereka melakukan hubungan intim.
Batin Liza.
Sekilas Liza mendengar ucapan Rafael yang ingin masuk ke dalam apartemen itu dengan berulang kali. Liza menghembuskan nafasnya dengan kasar mendengar teriakkan Rafael yang seperti orang mabuk. Tak lama kemudian, suara Rafael sudah tidak ada. Liza menggeleng - gelengkan kepalanya karena dia tidak menyangka bahwa Rafael suka gaya threesome.
__ADS_1
Benar - benar sudah gila.