Asa Diriku

Asa Diriku
Sebaiknya Aku Pergi


__ADS_3

Terima kasih kepada para pembaca yang sudi membaca novel saya ini 😊, memberikan like😊, memberikan vote 😁 dan memberikan komentar di novel saya ini 😁. Happy reading πŸ€—


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Waktu terus berputar mengiringi putaran roda mobil yang ditumpangi oleh Liza. Roda mobil milik Rafael terus berputar melintasi jalanan kota Jakarta yang masih ramai oleh aktivitas masyarakatnya. Liza melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul dua belas malam. Mengalihkan pandangannya ke jalanan. Mobil sedan Mercedes - Benz E - Class Saloon yang ditumpangi oleh Liza menembus gelapnya hari.


Di dalam mobil, Liza hanya termenung memikirkan informasi yang dia dapat dari Regina. Sebuah informasi yang membuat Liza antara percaya dan tidak percaya. Regina mengatakan bahwa Rafael dan Vina sedang bercinta di salah satu kamar di Star Hotel. Untuk membuktikan itu, Liza nekat datang ke sana. Detak jantungnya berdegub kencang karena rasa gelisah yang menyelimuti dirinya.


"Nyonya, apakah anda baik - baik aja?" tanya Melinda khawatir sambil menoleh ke Liza.


Liza menoleh ke Melinda, lalu berucap, "Aku nggak tahu."


"Dari tadi saya perhatikan anda sedang gelisah dan memikirkan sesuatu."


"Aku mendapatkan kabar bahwa salah satu sahabatku telah melakukan hubungan intim sama Bang El. Dia itu mantan pacarnya Bang El. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak."


"Karena itu anda ingin membuktikannya?"


"Iya."


"Nyonya, kita sudah sampai," ucap supir pribadinya Liza ketika mereka berada di depan pintu utama lobby hotel.


Tak lama kemudian, Liza, Melinda, dan satu orang bodyguard membuka seat belt, lalu mereka membuka pintu mobil. Mereka melangkahkan kakinya dengan tergesa - gesa menuju lobby hotel. Mereka masuk ke dalam hotel melewati pintu utama hotel yang terbuka otomatis. Mereka berjalan ke meja resepsionis.


"Selamat malam, boleh saya minta kunci cadangan kamar yang telah dibooking atas nama Vina Marlina?" ucap Liza sambil memberikan tiga lembar uang seratus ribuan ke resepsionis yang perempuan.


"Baik Nyonya," ucap resepsionis itu sambil mengambil uang dari Liza, lalu dia memasuki uang itu ke dalam kantung jasnya dan mengambil kunci cadangan yang diminta sama Liza.


"Liza?" sapa Jack sambil menoleh ke Liza.


Liza menoleh ke Jack, lalu berucap, "Ngapain kamu di sini?"


"Aku ingin menemui meine Stiefmutter


"Ibu tirimu lagi di sini?"

__ADS_1


"Iya, dia nginep beberapa hari di Indonesia untuk mengurusi bisnis perusahaan Vater."


"Nyonya ini kuncinya, di lantai tiga ya," ucap resepsionis itu sambil memberikan kunci cadangan yang diminta sama Liza.


"Terima kasih ya Mbak," ucap Liza sopan sambil menerima kunci itu.


"Kamu mau nginep di hotel ini?" tanya Jack penasaran.


Sebaiknya aku tidak mengatakannya.


Batin Liza.


"Aku duluan ya," ucap Liza, lalu melangkah kakinya ke lift.


"Nyonya apakah anda sudah siap dengan konsekuensinya jika informasi itu benar?" ucap Melinda sambil mengikuti langkahnya Liza yang sedang menuju ke lift.


"Iya," ucap Liza sambil menoleh ke seorang wanita separuh baya tanpa menghentikan langkahnya.


Sepertinya aku mengenali wanita itu? Dia seperti wajah ibuku. Yah, dia sangat mirip sama ibuku.


Batin Liza sambil melihat sosok wanita itu.


"Dia sangat mirip sama ibuku," ucap Liza sambil menoleh ke Melinda.


"Mungkin saja dia itu ibumu."


"Itu tidak mungkin, ibuku berada di Jerman," ucap Liza sambil menghentikan langkahnya.


"Siapa tahu, dia datang ke sini," ucap Melinda sambil menekan tombol panah ke atas di dinding dekat pintu lift.


"Kalau iya, ngapain juga dia ke sini?" ucap Liza sambil masuk ke dalam lift setelah pintu lift terbuka.


"Mungkin dia sedang mencarimu," ucap Melinda sambil menekan tombol angka tiga di dinding lift, lalu pintu lift ketutup secara otomatis.


"Entahlah."

__ADS_1


Seketika suasana hening. Mereka saling membisu. Tak terasa, pintu lift terbuka lebar lagi. Liza, Melinda dan satu orang bodyguard keluar dari dalam lift. Liza melihat nomor kamar yang tertera di key card. Nomor yang tertera di key card adalah tiga ratus empat belas. Liza melihat kanan kiri untuk mencari nomor empat belas. Hingga Liza menemukan nomor kamar itu.


"Kalian tunggu di sini aja," ucap Liza sambil menoleh ke Melinda dan satu orang bodyguard lainnya secara bergantian.


"Baik Nyonya," ucap Melinda sopan.


Liza menempelkan key card itu dihandle pintu sehingga muncul lampu hijau di gagang pintu. Liza menekan handle pintu ke bawah, lalu mendorongnya. Samar - samar dia mendengar suara ******* dan lenguhan. Degup jantung Liza bertambah cepat. Masuk ke dalam kamar. Liza menelan salivanya. Nafasnya tercekat, tubuhnya kaku mematung tidak dapat digerakkan sama sekali. Jantung milik Liza berhenti berdegup, rasanya sangat sakit ketika melihat Rafael tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya sedang berhubungan intim sama Vina.


Ini sudah kesekian kali, Liza melihat Rafael bercumbu sama wanita lain selain dirinya. Vina berada di atas pangkuan Rafael. Mereka nampak sedang memasuki satu sama lain dan bermain kuda - kudaan. Liza menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Liza tidak mempercayai dengan ini semua. Dadanya terasa begitu sesak. Bibir Liza bergetar, air matanya tumpah membasahi pipinya. Lily menutupi pintu apartemen Benny, supaya orang lain tidak tahu keadaan sekarang ini. Lagi pula lorong apartemen ini pasti memiliki CCTV.


"Bang El."


Suara Liza terdengar sendu yang begitu pilu. Adegan itu menyayat hati Liza. Dia memegang dadanya yang terasa begitu sangat sesak. Liza menangis terisak untuk kesekian kalinya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Rafael dan Vina nampak begitu terkejut melihat keberadaan Liza di dalam kamar. Buru - buru Vina melepaskan diri dari pangkuan Rafael dan lari ke kamar mandi tanpa mengenakan sehelai benang pun karena panik. Rafael yang kelihatan tak panik, malah dia duduk santai di atas sofa single.


"Ngapain kamu di sini? Gangguin kesenangan orang aja!" ucap Rafael ketus.


"Kita harus mengakhiri hubungan ini!" ucap Liza dengan suara yang parau.


"Itu tidak bisa untuk sekarang ini. Kamu harus ingat dengan surat perjanjian perceraian kita," ucap Rafael datar.


"Persetan dengan surat perjanjian itu!" ucap Liza sambil meneteskan air matanya.


"Liza," ucap Vina yang melangkahkan kakinya menghampiri Liza dengan mengenakan handuk.


"Kamu telah membohongi diriku, kamu bilang tidak akan berhubungan lagi sama Bang El! Tapi nyatanya kamu telah berbohong, sebuah kebohongan yang amat menyakitkan!"


"Liz, dengerin aku dulu, sayang. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan," ucap Vina sambil berdiri di depan Liza.


Lily menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menangis terisak. Tidak percaya lagi dengan Vina yang pernah bilang tidak akan pernah berhubungan lagi sama Rafael. Sebuah kebohongan yang sangat menusuk di hatinya Liza. Liza langsung membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya ke pintu.


"Aku bisa jelasin semuanya ke kamu, Liz. Liz tolong dengerin aku dulu!" ucap Vina yang tampak panik dan wajahnya begitu pias merasa bersalah yang menghentikan langkahnya Liza.


"Jelasin apa lagi, Vin? Semuanya sudah jelas," ucap Lily dengan suara yang sendu bercampur isakan kesedihan tanpa menoleh ke Vina.


"Ini nggak seperti yang kamu bayangkan, Liz."

__ADS_1


Liza sudah tidak percaya lagi dengan wanita yang ada di belakangnya. Liza melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan ucapan Vina yang mengatakan bahwa dia telah dijebak. Liza menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya hingga pintu kamar terbuka. Liza keluar dari dalam kamar tanpa mempedulikan suara tangisan dari Vina. Menutup pintu kamar hotel.


"Jika sekarang tidak bisa mengakhiri pernikahan yang penuh dengan toxic, sebaiknya aku pergi."


__ADS_2