Asa Diriku

Asa Diriku
Rahasia


__ADS_3

"****! Dirijek!" umpat Liza sambil menjauhkan ponsel dari telinga kirinya.


"Nyonya, kenapa nggak langsung naik ke atas aja?" ucap salah satu penjaga.


"Kata Tuan El, saya tunggu di sini dulu sebelum naik ke atas. Oh ya, memangnya Tuan Besar sama Nyonya Besar datang ke sini?" ucap Liza sopan sambil menoleh ke penjaga itu.


"Iya Nyonya, tadi jam setengah lima pagi."


"Ada tambahan bodyguard?" tanya Liza sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya yang dipenuhi dengan beberapa orang pengawal.


"Iya Nyonya, ini mah udah biasa kalau Tuan Besar dan Nyonya Besar datang ke sini."


"Biasanya mereka datang berapa kali dalam setahun?"


"Setahun sekali, pas Idul Fitri. Nyonya dari mana? Kok pagi - pagi udah keluar?"


"Saya habis nginap di apartemen saudara saya. Mang Ujang udah lama kerja di sini?"


"Udah Nyonya, udah delapan tahun."


"Mang Ujang kenal sama Nyonya Aisyah?"


"Kenal atuh. Dia mah orangnya ramah dan baik kayak Nyonya. Saya mah bersyukur, Tuan mendapatkan seorang istri seperti Nyonya. Nggak seperti Nyonya Regina."


"Memangnya kenapa Nyonya Regina?"


"Orangnya songong, beleguk," ucap Mang Ujang polos.


"Mang Ujang tadi masuk kerja jam berapa?"


"Jam empat pagi Nyonya."


"Pantesan semalam saya tidak melihat Mang Ujang di sini."


Pintu lift terbuka lebar, memperlihatkan sosoknya Rafael. Rafael langsung menarik tangan kanannya Liza supaya Liza masuk ke dalam lift dengan kasar sehingga tubuhnya Liza bertabrakan dengan tubuhnya Rafael. Pintu lift ketutup otomatis. Bibir mereka bersentuhan. Liza merasakan debaran hati yang bergejolak dan jantungnya Liza semakin cepat dan tak beraturan.


Tak sungkan - sungkan, Rafael langsung ******* bibirnya Liza yang dia inginkan sejak semalam. Liza membalas ciuman Rafael. Dua tangan mereka saling menjelajah. Menjadi ninja Hatori yang suka mendaki gunung dan turun ke lembah. Tak terasa pintu lift terbuka. Rafael langsung menyadari hal itu, dia langsung melepaskan ciumannya. Menarik tangan kanannya Liza keluar dari lift, lalu berjalan dengan tergesa - gesa menuju tangga. Menaiki tangga dengan langkah yang terburu - buru.


Rafael berjalan sambil menarik tangan kanannya Liza ke ruang kerjanya. Menyentuh beberapa ikon untuk membuka kunci pintu. Menekan handle pintu ke bawah, lalu mendorongnya hingga terbuka. Masuk ke dalam, lalu menutup pintu ruang kerjanya yang otomatis terkunci. Mereka melanjutkan langkahnya menuju jalan rahasia. Rafael merubah posisi sebuah lukisan, hingga sebuah pintu rahasia terbuka. Liza terperangah melihat sebuah tangga yang berada di balik tembok. Mereka menuruni tangga itu. Otomatis pintu rahasia itu ketutup ketika mereka menuruni anak tangga.


Liza melihat kanan kiri tangga yang berupa tembok. Tembok itu diselimuti oleh foto - fotonya Aisyah. Liza tersenyum kecut melihatnya. Hingga akhirnya mereka berada di depan sebuah pintu. Rafael menyentuh beberapa ikon di layar pemindai yang berada di daun pintu. Pintu kebuka otomatis, Liza melihat di depannya adalah kamar utama penthousenya Rafael. Mereka melanjutkan langkahnya. Pintu rahasia ketutup secara otomatis. Mereka melewati kamar mandi. Tak sengaja Liza melihat Regina sedang berendam di dalam bathtub. Liza langsung menepis tangan kanannya sehingga pegangan tangannya Rafael terlepas. Liza langsung berlari ke ranjang yang berantakan, lalu menduduki tepian ranjang.


"Sebenarnya apa maumu Bang El?"


"Aku mau kamu tinggal di sini lagi selama orang tuaku nginap di sini," ucap Rafael lembut.


"Terus ngapain di wanita gila itu ada di sini? Mau menyakiti diriku yang ingin menolong dirimu agar kejelekan kamu tidak diketahui lagi sama orang tuamu?"


Rafael menduduki tubuhnya di samping kirinya Liza, lalu berucap, "Nanti dia pulang pas orang tuaku tidur. Sebaiknya kamu mandi."


"Mau mandi gimana? Aku nggak mau mandi kalau ada wanita gila itu," gerutu Liza sambil menoleh ke Rafael


"Ya udah gini aja. Kamu keluar dari sini lewat pintu biasa setelah aku pergi dari sini lewat pintu rahasia. Kamu pura - pura bangun tidur. Kamu ke ruang keluarga, lalu basa - basi sama mereka. Jangan sampai mereka tahu jika mulai semalam tempat tinggal kita terpisah. Jika nanyain aku, kamu jawab tidak tahu karena kamu baru bangun tidur," ucap Rafael serius sambil menoleh ke Liza.


"Iya."


"Terima kasih banyak ya Liz," ucap Rafael lembut.


"Hhhmmm."


Tak lama kemudian, Rafael beranjak berdiri. Melangkah kakinya ke pintu rahasia. Rafael berdiri di depan sebuah cermin beberapa saat hingga pintu rahasia itu terbuka secara otomatis. Rafael menaiki tangga, lalu pintu rahasia ketutup secara otomatis. Liza menghela nafas panjang. Beranjak berdiri, lalu melangkahkan kakinya ke pintu kamar. Menyentuh beberapa ikon untuk membuka kunci pintu.

__ADS_1


Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya hingga pintu terbuka. Liza melangkahkan kakinya ke ruang keluarga. Liza menyalim tangan kanannya Rogen, lalu duduk di sofa single. Liza menundukkan kepalanya karena ada rasa sungkan dan canggung bertemu sama papinya Rafael yang sedang sibuk memperhatikan layar laptopnya.


"Ke mana Rafael?" tanya Rogen ramah.


"Saya tidak tahu karena saya baru bangun tidur," jawab Liza sopan.


"Bagaimana kabarmu?"


"Baik Om."


"Panggil Papi aja."


"Iya Pi. Papi bagaimana kabarnya?"


"Baik."


"Ke mana Ummi?"


"Lagi di dapur, nyiapin sarapan. Kamu masih kerja kan?"


"Masih Pi."


"Eh, sayangku udah bangun," ucap Rafael ramah yang tiba - tiba datang, lalu dia mengecup puncak kepalanya Liza.


Pintar sekali sandiwaranya.


Batin Liza.


Rafael duduk di penyanggah tangan sofa sebelah kanan, lalu berucap, "Ke mana Ummi Pi?"


"Lagi di dapur. Kamu tadi dari mana?"


"Dari bawah, ada urusan sedikit."


Liza langsung berdiri setelah melihat Irene membawa nampan, lalu berucap, "Biar aku yang bawa Ummi."


"Terima kasih cantik," ucap Irene lembut sambil memberikan nampan itu ke Liza.


"Sama - sama Ummi," ucap Liza sambil membawa nampan.


"Ummi bikin minuman apa?"


"Susu untuk kalian, oh ya Liz, kamu suka kan susu putih?" ucap Irene sambil berjalan menghampiri suaminya.


"Suka Ummi," ucap Liza sambil melangkah kakinya ke meja.


"Ke mana Maryam?"


"Lagi tidur," jawab Irene sambil menduduki tubuhnya di samping kirinya Rogen.


"Ini susunya," ucap Liza sopan sambil menaruh susu di atas meja.


"Kami ingin bicara sama kalian berdua," ucap Rogen serius.


"Liza kamu duduk aja dulu, taruh nampannya nanti aja," ucap Irene sopan, lalu Liza duduk di samping kirinya Rafael.


"Kami mohon sama kalian untuk selalu menjaga keutuhan rumah tangga kalian hingga maut memisahkan kalian. Rafael kamu harus menghilangkan sikap dan sifat burukmu terhadap Liza dan Liza, Papi mohon sama kamu, sabar menghadapi Rafael," ucap Rogen serius.


"Aku sudah menghilangkan sikap dan sifat burukku Pi."


"Bagus jika kamu sudah berubah," ucap Rogen.

__ADS_1


Pintar sekali berbohong, dasar munafik.


Batin Liza


"Liza, tolong katakan dengan sejujurnya, apakah benar dia sudah berubah?" lanjut Rogen sambil menoleh ke Liza.


Waduh, aku harus jawab apa.


Batin Liza


"Sudah Pi," ucap Liza dengan perasaan hati yang tak tenang.


"El, apakah sekarang kamu sudah mulai mencintainya?" tanya Irene sambil menoleh ke Rafael.


"Udah Mi, tapi ada sifat Liza yang tidak baik bagi El."


Benarkah yang diucapkan oleh Rafael tadi?


Batin Liza.


"Apa itu?"


"Cemburuan, masa dia cemburu sama Aisyah gara - gara aku nolongin Aisyah karena dia kepeleset, padahal aku sudah tidak mencintai Aisyah." celetuk Rafael.


Berarti kejadian yang waktu di dalam kamar rawat inap itu, Aisyah terpeleset terus ditolongi sama Rafael. Maaf kan aku Aisyah."


"Benarkah itu Liza?" tanya Irene sambil menoleh ke Liza.


"Nggak, aku cuma salah paham, jadi aku beranggapan mereka sedang bermesraan."


"Liza, kamu harus percaya sama suamimu. Dia sudah berubah menjadi lebih baik lagi, jangan sampai kamu salah paham," ucap Irene lembut.


"Iya Umi," ucap Liza.


"Maaf Ummi sama Papi, aku mau ke ruang kerja dulu, ada urusan bisnis sebentar, klienku teleponi terus," ucap Rafael ketika merasakan getaran yang ke sepuluh kali dari handphonenya yang berada di dalam kantung celana sebelah kanan.


"Iya," ucap Ummi.


Rafael mengecup puncak kepalanya Liza, lalu berbisik, "Ajak mereka sarapan dulu, aku ada urusan sama Regina."


****! Kalau ada maunya pasti berbuat manis.


Gerutu Liza di dalam hati.


Rafael bergegas mengambil smartphone miliknya di dalam kantung celana yang sebelah kanan. Rafael melihat nama Regina yang tertera di layar smartphonenya. Rafael langsung beranjak berdiri sambil mematikan panggilan itu, lalu berjalan ke lantai atas dengan langkah yang terburu - buru. Rafael menyusuri ruang tamu, lalu menaiki beberapa anak tangga hingga dia berada di lantai atas.


Melanjutkan langkahnya ke ruang kerjanya. Menyentuh beberapa ikon untuk membuka kunci pintu ruangan itu. Handle pintu di tekan ke bawah, lalu mendorongnya hingga pintu terbuka. Masuk ke dalam, lalu menutup pintu yang otomatis terkunci. Menuruni tangga yang merupakan jalan rahasia. Menyentuh beberapa ikon di daun pintu rahasia. Pintu otomatis terbuka. Rafael melihat Regina yang sedang menatap bingung ke dirinya.


"Kamu lewat pintu rahasia?" tanya Regina heran karena dia baru mengetahui tentang pintu rahasia.


"Iya. Ada apa kamu teleponin aku terus?" ucap Rafael datar.


"Sayang, aku bosen berada di sini terus, aku ingin keluar dari sini. Kalau perlu, kenali aku sama Papi dan Ummimu," ucap Regina dengan nada suara yang menggoda.


"Kalau begitu kamu pulang aja."


"Aku mau tetap di sini bersama kamu."


"Itu tidak mungkin Regina!" ucap Rafael kesal.


"Terus aku keluar dari sini lewat apa?" tanya Regina dengan nada suara yang pura - pura murung.

__ADS_1


"Lewat pintu rahasia."


__ADS_2