
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Langit malam di acara festival Condet dengan gagahnya memperlihatkan lukisan bintang - bintang yang bertaburan dan bulan sabit. Angin semilir malam menyelimuti acara tahunan yang diselenggarakan setiap setahun sekali. Para pengunjung festival menikmati suasana festival, termasuk Liza dan Rafael. Mereka menikmati suasana festival yang menyuguhkan berbagai macam kuliner khas Betawi, kuliner yang lainnya, permainan khas Betawi maupun bukan dan hiburan musik.
Keadaan area festival sangat hidup dengan segala hiruk pikuk dari aktivitas para pengunjung maupun pengisi acara festival. Festival yang dikenal dengan festival budaya Betawi selalu ramai dikunjungi oleh para pengunjung. Rafael dan Liza berdampingan melangkahkan kakinya menyusuri jalan raya condet yang digunakan untuk acara festival condet. Melewati beberapa kios kuliner. Membaur dengan pejalan kaki yang lainnya.
Liza melihat di atas panggung ada beberapa pemuda sedang asyik memainkan alat musik dan satu orang wanita lagi sedang bernyanyi sambil menggerakkan badannya. Di depan panggung ada kerumunan orang - orang yang sedang menggoyangkan tubuhnya. Di pojok kanan belakang panggung ada kelompok yang terdiri dari enam wanita yang sedang asyik bersenda gurau. Di sekitar kelompok wanita itu ada beberapa para pedagang makanan sedang berteriak dengan suara lantang untuk menawarkan dagangannya. Rafael menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Liza.
"Kamu mau makan apa Liz?" tanya Rafael sambil menoleh ke Liza ketika mereka berhenti di depan penjual kerak telor.
Liza menoleh ke Rafael, "Aku bingung mau makan apa, soalnya banyak banget jenis makanannya."
"Bagaimana kalau kita beli kerak telor."
"Apa itu kerak telor?" tanya Liza bingung.
"Makanan khas Betawi, rasanya enak banget."
"Iya, aku mau coba makan itu."
"Bang pesan dua kerak telor," ucap Rafael sambil menoleh ke penjual.
"Yak, tunggu sebentar yak," ucap penjual sambil memasak.
"Kamu suka makan itu?" tanya Liza.
"Suka. Kalau makanan khas Sunda yang kamu sukai apa?"
"Siomay. Dari aku kecil, aku suka banget sama siomay. Bang El, sejak kapan suka kerak telor."
"Sejak delapan tahun yang lalu."
Berarti Bang El suka kerak telor sejak dia mengenal Aisyah. Jangan - jangan Aisyah juga menyukai kerak telor?
Batin Liza.
"Aisyah juga menyukai kerak telor?"
"Iya. Dia yang pertama kali memberikan aku kerak telor," ucap Rafael dengan mata yang berbinar - binar.
"Sepertinya tempat festival ini jaraknya dekat sama rumahnya Abang Zarkasih."
"Iya. Kamu mau main ke sana?"
"Boleh. Aku sekalian nanyain, sisa undangan yang belum jadi."
"Kamu pesan undangan di Zarkasih?"
"Iya. Itu atas rekomendasi dari Ummi."
"Baguslah. Pekerjaan mereka bagus."
"Iya, kemarin Mami minta tambahan undangan untuk saudara - saudaranya yang berada di Manado."
"Mami minta tambahan berapa?"
"Seratus undangan."
"Oh ya, kamu udah list nama - nama yang mau diundang?"
"Sudah, tinggal diketuk dan stikernya tinggal ditempeli."
"Niatnya kamu mau ngundang berapa orang?"
"Lima ratus orang termasuk undangan keluarga. Bang El mau ngundang teman Bang El yang lain nggak?"
"Nggak, yang kemarin aja sudah cukup."
"Hallo Om El!" ucap seorang bocah laki - laki yang berdiri di samping kirinya Rafael.
Rafael menoleh ke orang yang menyapanya, lalu berucap, "Utsman?"
__ADS_1
Utsman menyalami tangan kanannya Rafael dan Liza, lalu berucap, "Apa kabar Om?"
"Baik, kamu ke sini sama siapa?"
"Sama Ummi,"
"Ummi kamu di mana?"
"Di kios. Ummi buka kios makanan."
"Di mana kiosnya?"
"Itu kiosnya, yang ada bacaan makanan khas Betawi Mpok Rogaya," ucap Utsman sambil menunjuk ke sebuah stand makanan yang jaraknya tiga stand ke depan dari tempat dia berdiri.
"Utsman ke sini pasti mau beli kerak telor untuk Ummi ya?"
"Kok Om tahu?"
"Iyalah Om tahu, Om kan udah tahu kesukaan Ummi kamu."
Utsman hanya menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan Rafael, lalu dia menoleh ke Liza dan berkata," Om, ini istri Om?"
"Pak, ini pak kerak telornya," ucap penjual sambil memberikan dua bungkus kerak telor.
"Terima kasih ya pak, ini uangnya, sekalian kerak telor yang dibeli sama anak yang ini ya pak," ucap Rafael sambil menerima dua bungkus kerak telor dan memberikan uang seratus ribu ke penjual.
"Yak," ucap penjual sambil menerima uang dari Rafael.
"Terima kasih ya Om," ucap Utsman.
"Iya sama - sama," ucap Rafael sambil mengelus puncak kepalanya Utsman.
Bang El sangat menyayangi anak itu.
Batin Liza yang sedang melihat interaksi antara Rafael dan Ustman.
"Ayo kita ke kiosnya Aisyah," ajak Rafael.
Tak lama kemudian mereka melangkah kakinya ke standnya Aisyah. Liza mengedarkan pandangannya ke panggung yang sedang mempertunjukkan seorang wanita yang sedang bernyanyi. Liza tersenyum mendengar lagu yang dinyanyikan oleh wanita itu. Wanita itu menyanyikan lagu dari Dewi Lestari yang berjudul Malaikat Juga Tahu. Tak sengaja Liza menabrak tubuhnya Rafael yang tiba - tiba berhenti. Liza mengusap keningnya dengan kasar.
"Widihhh, ada kembaran laki gw nich datang," celetuk Maimunah yang sedang berdiri di depan mereka.
"Assalamu'alaikum," salam Rafael.
Rafael masuk ke dalam standnya Aisyah. Liza mengikuti langkahnya Rafael. Rafael duduk di bangku panjang. Liza menduduki tubuhnya di samping kanan Rafael. Maimunah menghampiri mereka. Duduk di depan mereka, lalu tersenyum sopan ke mereka. Liza menundukkan kepalanya karena dia takut nggak dihargai lagi sama Rafael.
"Ke mana Aisyah?"
"Lagi cuci piring di belakang. Kalian mau makan apa?"
"Ka β," ucap Liza terpotong karena tiba - tiba Rafael menepuk paha kirinya sebagai kode untuk tidak melanjutkan ucapannya.
"Nasi uduk komplit dan spesial dua porsi sama bir pletok dua ya. Cepatan ya, gw udah nggak sabaran mau makan nasi uduk buatan Aisyah," jawab Rafael santai.
"Ok bos, elu udah kangen yak sama nasi uduk buatan Aisyah?" ucap Maimunah semangat, lalu beranjak berdiri.
"Iya. Ke mana Mariana? Kok dia nggak bantuin Aisyah jualan sich?"
"Dia pan orangnya egois, hanya mikirin dirinya sendiri. Mana mau dia jualan di sini. Pas Nyak Gaya mau jualan di sini, Mariana langsung bilang ogah bantuin. Coba anak macam apa itu," ucap Maimunah sambil berjalan ke etalase makanan.
"Sejak kapan Nyak jualan di sini?"
"Sejak kemarin. Tapi Aisyah melarang Nyak yang jualan dan yang masak semuanya, jadi yang masak semua dan yang jualan adalah Aisyah," ucap Maimunah sambil mengambil bihun goreng.
"Bukannya dari dulu yang masak dan yang jualan Aisyah?"
"Yak juga yah, si Nyak Gaya hanya kasih tahu resep ama ngarahi Aisyah doang."
"Laki elu kapan pulang lagi dari Abu Dhabi?"
"Pas lebaran El," ucap Maimunah sambil mengambil ayam goreng.
"Mpok, yang satu nggak pakai sambel ya," ucap Liza ketika melihat Maimunah mau menaruh sambel ke piring kedua.
"Ok Non yang cakep," ucap Maimunah sambil membalikkan badannya.
"Eh, ada El sama Liza," ucap Aisyah sopan.
"Mereka mau makan nasi uduk buatan elu Syah, si El katanya kangen ama nasi uduk buatan elu," ucap Maimunah polos.
__ADS_1
Waduh bisa kacau ini perasaannya Liza.
Batin Aisyah.
"Liz, jangan dimasukin ke hati omongan mereka. Mereka suka ngebanyol," ucap Aisyah yang sedang berjalan ke etalase makanan sambil membawa tumpukan piring.
"Iya Syah," ucap Liza sedikit sedih.
"Nich nasi uduknya," ucap Maimunah sambil memberikan dua piring ke Rafael dan Liza.
"Terima kasih ya Mpok," ucap Liza lembut.
"Iye sama - sama, selamat makan tamu agung," ucap Maimunah, lalu dia berjalan ke etalase makanan.
"Assalamu'alaikum," salam seorang laki - laki.
"Walaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," ucap Aisyah sopan.
"Buset dah, mantan - mantan elu datang ke sini semua Syah," ucap Maimunah spontan yang membuat Rafael menghentikan makannya sebentar.
"Ihh, Munah, elu kalau ngomong disaring dulu apa!" ucap Aisyah kesal.
"Eh ... bujug buneng, emang benar apa adanya, gw pan orang yang jujur," ucap Maimunah sewot sambil memberikan dua gelas bir pletok.
"Masuk Bang Juned," ucap Aisyah sopan.
"Iya," ucap Ahmad Junaidi yang sering dipanggil dengan sebutan Juned.
"Ke mana Syarifa? Kok dia nggak ikut?" ucap Aisyah.
"Dia lagi pulang ke Arab, Abinya lagi sakit," ucap Juned sambil berjalan ke meja makan.
"Semoga cepat sembuh ya mertuanya Bang Juned," ucap Aisyah sopan.
"Terima kasih Aisyah. Syah tolong siapin nasi uduk yang komplit dan yang spesial ya satu porsi," ucap Juned sambil menduduki tubuhnya di samping kiri Rafael.
"Elu kayak Rafael aja, pesan nasi uduknya yang komplit dan yang spesial," celetuk Maimunah spontan.
"Ohh ... ternyata ada tamu jauh," ucap Juned sambil menoleh ke Rafael yang sedang asik makan nasi uduk. "Udah, makan aja dulu, nanti kalau makan sambil ngomong bisa keselek," lanjut Juned ketika melihat Rafael ingin ngomong sambil mengunyah.
"Eh, ada dua tamu yang ganteng - ganteng nich," ucap seorang wanita sambil melihat Juned dan Rafael.
"Eh elu Mei, masuk Mei," ucap Aisyah.
"Elu ke mana aja Mei? Baru sekarang datang ke sini," samber Maimunah.
"Maaf, baru bisa datang sekarang. Soalnya opung gw masuk ke rumah sakit," ucap Mei sambil berjalan menghampiri meja makan.
"Opung elu sakit apa Mei?" ucap Aisyah yang sedang berjalan menghampiri mereka sambil membawa pesanan Juned.
"Stroke," ucap Mei sambil menduduki tubuhnya di depan Rafael dan Liza.
Semoga cepat sembuh opung elu Mei," ucap Aisyah sambil memberikan satu porsi nasi uduk ke Junaidi.
"Terima kasih Aisyah," ucap Juned sopan ketika Aisyah memberikan satu porsi nasi uduk.
"El, itu cewek elu?" tanya Mei.
"Bini gw," ucap Rafael sambil mengunyah makanan.
"Kok mirip gw yak," ucap Mei.
"Pret," samber Maimunah spontan sambil memberikan piring yang berisi nasi uduk ke Mei.
"Ih sirik," ucap Mei sambil menerima piring nasi uduk dari Maimunah.
"Udah jangan berisik, malu sama umur," ucap Aisyah yang duduk di samping kanannya Mei.
"Tuch yang bikin berisik," ucap Mei sambil menoleh ke Maimunah.
"Oh ya Liz, kenali nich temannya aku. Yang diujung sana namanya Maimunah, yang ditengah namanya Meira dipanggil Mei, dan yang berada di samping kiri Rafael, namanya Ahmad Junaidi, kita biasanya panggil Bang Juned," ucap Aisyah sopan.
Liza hanya mengangguk kecil sambil mengunyah makanan. Tiba - tiba segerombolan orang masuk ke dalam standnya Aisyah dengan wajah yang panik dan bingung. Aisyah, Mei, Maimunah, Juned, Rafael dan Liza menoleh ke segerombolan orang itu dengan tatapan mata yang bingung.
"Ada apa?" ucap Juned sopan setelah mengunyah makanan.
"A β nu Pak Ustadz, si Utsman ditusuk sama copet," ucap seorang pemuda dari salah satu gerombolan orang itu.
Aisyah langsung berdiri, dan berlari keluar dari stand makanannya. Disusul Rafael dan Juned. Maimunah dan Meira menggelengkan kepalanya secara kompak melihat kejadian itu. Ada irisan luka dihatinya Liza melihat langsung perilaku Rafael terhadap Aisyah dan anaknya. Liza tersenyum kecut harus menelan takdir pahit hidupnya.
__ADS_1
Ternyata Bang El masih belum mencintaiku.
Batin Liza.