Asa Diriku

Asa Diriku
Membiarkan Semua Ini Terjadi


__ADS_3

"Whoaammm," Liza menguap sambil merentangkan dua tangannya ke atas.


"Ternyata kamu sudah bangun," ucap Rafael yang mengagetkan Liza.


Liza langsung menduduki tubuhnya di depan headboard ranjang, lalu berucap, "Bang El nggak tidur?"


"Aku baru bangun tidur. Waktu sehari sebelum kita merayakan pesta, kamu bilang kewanitaanmu nggak boleh disentuh dulu karena ada luka lecet di dindingnya, tapi kenapa kamu bercinta sama seseorang?" ucap Rafael ketus.


"Asal Bang El tahu, setelah Bang El memperkosaku waktu itu aku tidak melakukan hubungan intim sama siapa pun, dan aku hanya melakukan hubungan intim sama Bang El doang!" ucap Liza kesal.


"Cih, dasar pembohong! Kenapa ada beberapa kissmark di tubuhmu!"


"Hey! Itu semua karena perbuatanmu kemarin pagi!"


"Aku?! Itu tidak mungkin."


"Waktu itu Bang El lagi mabuk, Bang El langsung menerkamku, tapi belum sampai penyatuan diri!"


Rafael mengerutkan dahinya seperti sedang berfikir, lalu berucap, "Kapan kamu sembuh?"


"Dua hari lagi. Bang El, nanti malam mau pergi lagi?"


"Iya. Kamu di sini aja, jangan ke mana - mana," ucap Rafael ketus.


"Iya. Bang El, nanti kita jenguk Asiah yuk! Dari kemarin kita belum sempat jenguk," ucap Liza.


"Kamu aja yang pergi."


"Memangnya kenapa nggak mau ikut?"


"Aku ada kerjaan," ucap Rafael datar.


"Kerjaan apa? Bukannya kamu ambil cuti sampai lusa?"


"Nanti kamu tahu sendiri."


Tok ... tok ... tok ...


"Tuan, Nyonya, ada Nona Regina yang sudah punya janji ketemuan di kamar hotel," teriak salah satu pengawal dari luar.


"Iya," ucap Rafael sambil berdiri dari sofa panjang.


"Ngapain Regina datang ke sini?" tanya Liza sedikit was - was sambil melihat jam yang menunjukkan pukul enam pagi.

__ADS_1


"Nanti kamu juga tahu," ucap Rafael santai sambil berjalan menuju pintu kamar hotel.


"Maksud kamu apa mengundang Regina datang ke sini?"


"Seperti biasa," ucap Rafael.


"Aku tak sudi kalian berhubungan intim di sini!" ucap Liza tegas.


"Kamu lupa sama salah satu isi dari surat perjanjian pernikahan kita bahwa aku bebas melakukan apa pun di depanmu, salah satunya bercinta dengan wanita lain di depanmu," ucap Rafael yakin yang mengingatkan Liza akan hal itu.


"Shittt! Damn it!" ucap Liza sambil berdiri dari tempat tidur.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku mau ke kamar mandi!" ucap Liza ketus sambil berjalan ke kamar mandi.


Dari pada aku melihat sesuatu yang menyakitkan, mendingan aku berendam air hangat.


Batin Liza.


Liza masuk ke dalam kamar melewati pintu uang sudah terbuka. Menutup pintu kamar mandi, lalu menguncinya. Sedangkan Rafael membuka kunci pintu kamar. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya sampai pintu terbuka secara perlahan. Regina tersenyum menggoda ke Rafael ketika Rafael berada di hadapannya.


"Masuk," ucap Rafael datar.


Rafael memiringkan tubuhnya agar Regina bisa masuk ke dalam. Regina melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan langkah kaki yang menggoda. Rafael menutup pintu kamar, lalu menguncinya. Rafael mengikuti langkahnya Regina yang sedang menuju ke tempat tidur.


"Di kamar mandi," ucap Rafael sambil berdiri dihadapan Regina.


"Wah bagus dong kalau gitu, kita bisa leluasa bermain di atas ranjang atau di mana pun," ucap Regina dengan nada suara yang sensual sambil mendongakkan kepalanya.


"Yah udah kita mulai aja, puaskan diriku," ucap Rafael sambil membuka bathrobenya.


"Dengan senang hati, lagipula sudah hampir seminggu kita tidak melakukan itu," ucap Regina menggoda sambil meremas senjata pamungkas milik Rafael dengan gerakan yang sensual.


Tak lama kemudian, Regina mengocok, mengurut, mengocok, menghisap dan mengulum laras panjang milik Rafael beserta dua buah pelurunya sehingga mengeluarkan suara - suara yang bergelora untuk bermain. Tangan kanan Rafael menyatukan semua rambut panjangnya Regina agar mempermudah gerakan Regina. Sedangkan tangan kirinya Rafael meremas dua buah sintal secara bergantian.


"Aahh ...," ******* Rafael sambil menikmati pelayanan dari Regina.


Setelah puas sama pelayanan Regina, Rafael melepaskan laras panjangnya. Regina langsung membuka mini dress yang dia pakai hingga dia hanya mengenakan g - string, lalu membukanya. Rafael mendorong Regina hingga terbaring, lalu Regina memberingsutkan tubuhnya ke tengah ranjang. Regina membuka lebar dua kakinya, lalu menekuknya. Rafael langsung menindihi tubuhnya Regina. Memasuki senjata laras panjangnya ke gua milik Regina, lalu membombardirnya dengan liar sambil menjelajahi gunung kembar secara bergantian. Suara - suara yang bergelora menggema di dalam kamar.


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


Siapa yang telepon sich? Gangguin kesenangan orang aja! Lagian udah tahu mau berhubungan intim, handphone masih aja aktif.

__ADS_1


Batin Regina.


Smartphone milik Liza berdering yang telah mengganggu kegiatan panas mereka. Fokus Rafael yang ingin memuaskan kebutuhan biologis dirinya menjadi pecah. Rafael menoleh ke nakas sebelah kiri ranjang. Rafael menghentikan gerakannya tanpa melepaskan penyatuan mereka. Regina mendengus kesal karena Rafael secara sepihak menghentikan kegiatan mereka.


Rafael berusaha meraih smartphone milik Liza hingga dia berhasil mendapatkannya. Sekilas Rafael melihat nama Vina yang tertera di layar smartphone milik Liza. Rafael menyentuh ikon hijau untuk menerima panggilan telepon itu sambil smirk. Mendekatkan ponsel itu ke telinga kirinya.


"Hallo Vina yang cantik, ada apa?" ucap Rafael dengan nada suara yang menggoda.


Shittt! Ternyata Vina yang telepon. Lihat aja nanti kalian berdua! Aku akan membuat kalian saling membenci.


Batin Regina.


"Eh, Lizanya ada Bang El?" ucap Vina sedikit grogi.


"Liza lagi ke kamar mandi. Kapan kamu mau main ke kantorku lagi?"


Oh ternyata handphonenya Liza yang masih diaktifi. Lihat aja kalian berdua. Aku akan membuat perhitungan kepada kalian!


Batin Regina.


"Aku nggak tahu."


"Padahal aku ingin bertemu sama kamu. Apakah besok jam sepuluh malam kita bisa ketemu di star club?"


"Baiklah, besok malam kita ketemuan di sana. Aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu."


"Ok. Siapkan dirimu cantik."


Besok aku akan menjebak kalian.


Batin Regina.


Tut ...


Tiba - tiba sambungan telepon terputus secara sepihak. Rafael menjauh benda pipi itu dari telinga kirinya sambil tersenyum licik, lalu menaruhnya di tempat semula. Dengan gerakan cepat, Regina menjatuhkan tubuhnya Rafael ke samping kanan, lalu Regina menindihi tubuh kekarnya Rafael. Regina tersenyum menggoda sambil menatap binal ke Rafael.


"Kali ini aku yang mimpin permainan dan aku akan puaskan dirimu," ucap Regina dengan nada suara yang sensual.


"Buktikan."


Tak lama kemudian, Regina menggerakkan tubuhnya di atas tubuhnya Rafael. Menggerakkan maju mundur, memutar, dan turun naik pinggulnya dengan tempo yang pelan. Rafael sangat menikmati gerakan Regina lihai dalam urusan kegiatan di atas ranjang sambil meremas dua buah squisy milik Regina.


Lama kelamaan tempo gerakan Regina semakin cepat hingga ranjang ikut bergoyang. Regina membungkukkan badannya, lalu menghisap leher kokohnya Rafael sambil memutarkan pinggulnya. Rafael memeluk Regina dengan erat. Keringat peluh membasahi tubuh mereka karena kegiatan mereka semakin memanas sehingga suara - suara gairah mereka terdengar sampai kamar mandi. Liza yang sedang berendam menutup dia telinganya supaya dia tidak mendengar suara - suara yang menyakitkan dirinya.

__ADS_1


Mau tidak mau, aku harus membiarkan semua ini terjadi.


Batin Liza.


__ADS_2