
Terima kasih sudah membaca novelku ini π
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
ππππππππππππππππ
Rafael melangkahkan kakinya menghampiri ranjang setelah menutup pintu kamar. Duduk di tepian ranjang sebelah kiri. Melihat sekeliling kamar dengan cahaya yang temaram. Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga dini hari. Melihat ke arah kamar mandi yang pintunya terbuka. Rafael mengeryitkan keningnya karena tidak melihat sosok Liza.
"Ke mana Liza? Biasanya kalau pergi, dia selalu bilang ke aku," gumam Rafael bermonolog.
Rafael mengambil gagang telepon di atas nakas sebelah kiri ranjang. Menekan beberapa tombol untuk melakukan panggilan interkom ke bagian pengawal. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Panggilan telepon itu tersambung tapi belum juga diangkat.
"Hallo, selamat malam Tuan, ada yang bisa dibantu," ucap seorang pria dengan nada suara yang lembut.
"Tolong panggilkan Bu Melinda, saya ingin bicara sama dia," ucap Rafael datar.
"Baik Tuan, tunggu sebentar," ucap orang itu dengan sopan.
Rafael mendengus kesal sambil melihat - lihat beberapa foto pernikahan mereka yang dipajang di atas buffet. Rafael tersenyum manis ketika melihat foto pernikahan mereka bersama keluarganya Aisyah. Tak lama kemudian, senyumnya menghilang ketika Rafael mengingat kejadian di rumah sakit yang mengakibatkan pertikaian antara dirinya sama Zayn.
"Hallo, selamat malam Tuan, ada apa ya?" ucap Melinda sopan yang mengalihkan Rafael dari kenangan buruknya.
"Kamu tahu di mana Liza berada?"
"Nyonya Liza berada di dalam kamarnya Tuan."
"Dia tidak ada di sini!" ucap Rafael kesal.
"Tadi setelah kita pergi dari hotel, kita pulang Tuan, Nyonya masuk ke dalam kamar. Setelah itu saya gantian shif sama Ronald Tuan. Coba Tuan tanyakan itu ke Ronald."
"Baiklah," ucap Rafael datar.
Beberapa detik kemudian memencet tombol untuk memutuskan sambungan telepon interkom itu. Menaruh gagang telepon itu ke tempat semula. Beranjak berdiri dari tempat tidur. Melangkah kakinya ke pintu kamar. Menyentuh beberapa ikon di layar pemindai untuk membuka kunci pintu. Setelah muncul lampu hijau, Rafael menekan handle pintu ke bawah. Menariknya hingga pintu terbuka secara perlahan.
__ADS_1
"Ronald," panggil Rafael.
Seketika Ronald membalikkan badannya menghadap ke Rafael, lalu berucap, "Iya Tuan."
"Di mana Liza?"
Ronald mengerutkan keningnya karena bingung, lalu berkata, "Nyonya di dalam kamar Tuan."
"Tidak ada Nyonya di dalam kamar! Cari Nyonya Liza sekarang!" ucap Rafael dengan nada suara yang kesal.
Beberapa detik kemudian, Rafael membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Menutup pintu dengan kasar sehingga menimbulkan suara dentuman pintu kamar. Melanjutkan langkahnya ke balkon kamarnya yang menghadap taman dan kolam renang. Rafael mengamati pintu balkon kamar yang tidak tertutup rapat, lalu dia berasumsi jika Liza kabur dari rumah baru mereka lewat pintu balkon kamar.
Rafael menarik handle pintu balkon kamar hingga pintunya terbuka. Berjalan keluar dari dalam kamar menuju balkon. Dari balkon kamar, Rafael melihat penjagaan di sekitar taman dan kolam renang sangat ketat. Rafael menoleh ke sisi kanan balkon. Dia melihat ada jejak kaki di atas rerumputan. Memperhatikan taman yang menghubungkan balkon dengan garasi mobil dan pintu samping.
"Pasti Liza kabur lewat sini," gumam Rafael sambil memperhatikan jejak - jejak kakinya Liza. "Apakah aku harus meneleponnya untuk mengetahui keberadaannya? Sebaiknya biar para pengawalnya aja yang menghubunginya."
Rafael memperhatikan area taman dan kolam renang yang berada di rumah baru mereka. Rumah yang diberikan oleh papinya Rafael yang bernama Rogen. Sekeliling kolam renang dihiasi dengan aneka tanaman hias yang bisa menyegarkan mata, beberapa lampu hias, gazebo yang memiliki ukiran yang unik, beberapa kursi santai, dan meja bundar. Rafael sangat senang mendapatkan rumah seperti yang dia harapkan.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Smartphone milik Rafael berdering. Rafael mengambil smartphone miliknya di dalam saku jasnya. Melihat tulisan my mom yang tertera di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Tak lama kemudian mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Kalian tarung deui? Naon anu anjeun lakukeun dugi ka Liza kabur ti bumi? Gancang ngajawab jujur!" cerocos Clara.
"Ah!? Hey, manΓ©h kudu sadar yΓ©n manΓ©h jangji rΓ©k robah jadi lalaki bageur, siga baheula."
"Nggak secepat itu aku bisa seperti dulu lagi, semua perlu proses."
"Tong nyieun alesan! Buru-buru milarian Liza dugi ka anjeun mendakan anjeunna, upami henteu mami bakal nyarioskeun ieu ka papa anjeun."
"Iya Mam."
"Buru-buru milarian anjeunna!"
"Iya Mam."
Tut ...
Sambungan telepon itu terputus secara sepihak. Rafael menaruhnya di tempat semula. Memandang langit malam yang dihiasi dengan cahaya bulan purnama dan sinar para bintang. Tiba - tiba pinggangnya Rafael dipeluk dari belakang. Rafael membiarkan salah satu wanitanya itu memeluknya. Rafael merasakan kehangatan yang disalurkan dari tubuh wanita belia itu.
__ADS_1
"Tuan, aku bisa memuaskan anda di sini selama Nyonya Liza menghilang," ucap wanita belia itu dengan penuh kelembutan.
"Kamu sekarang sudah berani ya," ucap Rafael yang ngegodain wanita belia itu.
Wanita itu tersenyum malu sehingga menimbulkan bercak kemerahan di pipinya. Rafael melepaskan pelukan tangan wanita belianya. Membalikkan badannya hingga berhadapan sama wanita itu. Wanita belia itu mendongakkan wajahnya ke atas. Sedangkan Rafael membungkukkan badannya. Tatapan mata mereka bertemu, saling mengunci.
"Sebaiknya, untuk sementara ini kita tetap menyembunyikan hubungan kita. Lebih baik kamu sekarang kamu keluar dari kamar ini. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada dirimu karena itu akan merugikan kesehatan Ibumu," ucap Rafael penuh dengan kehati - hatian sambil memegang bahu wanita belia itu.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Tiba - tiba smartphone milik Rafael berbunyi lagi. Rafael mengambil smartphone miliknya di dalam kantong jasnya. Melihat nama Aisyah yang tertera di layar smartphonenya. Rafael tersenyum senang. Dengan gerakan cepat, Rafael menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo Aisyah, ada apa malam - malam begini telepon aku?" ucap Rafael senang.
Ada raut kekecewaan yang terpancar dari wanita belia itu setiap Rafael berbicara sama Aisyah. Wanita belia itu membalikkan badannya. Melangkah kakinya masuk ke dalam kamar. Membuka kaos, celana training, dan ********** hingga tubuhnya telanjang bulat. Duduk di tepian bagian bawah tempat tidur yang menghadap ke arah balkon. Menyilangkan kaki kirinya. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Rafael tertegun melihat posisi wanita belianya yang sudah siap melayani dirinya. Rafael segera menutup, lalu mengunci pintu balkon itu. Mengambil kaos, celana training, dan dalaman wanita belianya. Memberikan itu semua ke wanita belianya.
"Aku mohon turuti ucapan diriku."
"Aku ingin hidup bahagia, dan salah satu kebahagiaanku adalah berada dekat dengan dirimu," ucap wanita belia itu tanpa menghiraukan uluran tangannya Rafael.
"Besok aku temui dirimu di tempat biasa, kita habiskan waktu bersama," ucap Rafael menyakinkan wanita belianya.
"Memangnya malam ini kenapa nggak bisa?"
"Aku harus mencari Liza."
"Sama Nyonya Aisyah?"
"Iya, sama Rafa juga."
"Siapa Rafa?"
"Kakaknya Aisyah."
"Huh ...," wanita belia itu menghela nafas panjang, lalu dia mengambil pakaiannya. "Besok jam berapa?"
"Jam sebelas siang."
__ADS_1
"Benar kamu akan datang?"
"Aku pasti datang."