
Hingar bingar musik disco klub malam yang dimainkan oleh seorang DJ yang terkenal di Jakarta mengiringi gerakan para pengunjung. Kerlap - kerlip lampu disko menyinari setiap sisi klub malam elite yang berada di pusat kota Jakarta di mana banyak orang golongan atas dan memiliki kantong tebal yang dapat berkunjung ke klub malam itu untuk menghabiskan malam dengan hanya sekedar bersenang - senang, ada juga yang ingin melampiaskan nafsu, ada juga yang ingin bertransaksi jual - beli, dan ada juga yang ingin mengadakan rapat.
Para pelayan klub malam dengan memakai pakaian yang seksi dan selalu menebarkan senyuman menawan yang hilir mudik menyuguhkan aneka minuman ke seluruh pengunjung. Ada juga pelayan plus ataupun pekerja **** komersial yang khusus dipesan oleh pengunjung klub malam hanya untuk menemani minum ataupun melayani pengunjung yang lebih dari menemani minum di ruang VVIP yang berada di dalam klub malam.
Salah satu pengunjung club malam itu adalah Rafael. Dia duduk di salah satu meja VVIP sambil bercumbu dengan salah satu lotte yang terkenal di club itu. Tanpa ada rasa malu mereka berciuman sambil meraba area sensitif. Kehidupan seperti itu sudah lumrah bagi Rafael. Sejak kuliah Rafael sudah mengenal hidup bebas dan **** bebas karena kuliah di Amerika Serikat.
"Ekhm," deheman Edward yang tiba - tiba datang di depan mereka.
Rafael menghentikan kegiatannya, lalu berucap, "Sialan elu, gangguin orang yang lagi senang - senang aja."
"Boleh gw gabung," ucap Edward sambil merasakan sentuhan lihai dari lotte yang menyentuh senjata pamungkasnya dan menciumi leher kokohnya.
"Boleh, tapi elu jadi kambing congek ya," ucap Rafael yang merasakan gairah seksnya yang membuncah.
"Gw mau bilang, Regina lagi menuju ke sini," ucap Edward pelan sambil melihat Rafael sedang melahap salah satu buah melon lotte itu hingga lotte itu mendesah.
Rafael tidak merespon ucapan Edward. Dia malah asik bergelut nafsu dengan lotte itu. Edward mendengus kesal karena ucapannya dicuekin. Edward mengalihkan pandangannya ke koridor khusus para tamu VVI, lalu menepis tangannya lotte itu. Ketika dia hendak ke tempat itu, Regina berjalan cepat menghampiri mereka. Raut muka Edward menegang melihat sosok Regina yang sedang marah.
"Wah, akan ada perang dunia ketiga ini mah," ucap Edward sambil melihat Regina yang sedang berjalan ke arah mereka dengan jarak dua meter.
Tak lama kemudian, Regina berdiri di depan Rafael yang sedang menikmati sentuhan liar dan lihai dari seorang lotte. Edward yang sedang berdiri mematung di samping kanan Regina. Regina mendengus kesal melihat adegan itu. Regina menjambak rambut lotte itu hingga lotte itu menghentikan kegiatannya dan berteriak kesakitan.
"Aauuwww!" pekik lotte.
"JANGAN GANGGU PACARKU!" teriak Regina, lalu Regina melepaskan rambut lotte itu dan langsung menendang lotte itu hingga lotte itu jatuh tersungkur ke meja dan pelipis kanan lotte itu berdarah.
"REGINA!!" bentak Rafael sambil berdiri dari sofanya. "KAMU PERGI DARI SINI!" lanjut Rafael sambil menunjuk pintu keluar.
Regina menoleh ke Rafael, lalu menggelengkan kepalanya berulang kali. Rahang mukanya Rafael mengeras, dua telapak tangannya mengepal, dan dua matanya memerah. Rafael langsung menarik tangan kanannya Regina dengan kasar.
"Ward, urus wanita itu, dan tolong bayar bil nya, gw tunggu di depan meja bar," ucap Rafael datar, lalu dia membawa Regina keluar dari club dengan langkah kaki yang kasar hingga jalannya Regina terhuyung - huyung.
"El, aku mohon, jangan marahi aku. Aku begitu karena aku mencintaimu. Aku tidak mau orang lain mengambil dirimu dariku. Aku wajar marah dan cemburu melihat itu karena aku pacar kamu," ucap Regina dengan nada suara yang memelas.
"SUDAH AKU KATAKAN DARI AWAL, KITA BERHUBUNGAN HANYA SEBAGAI TEMAN PEMUAS NAFSU DI RANJANG! TIDAK LEBIH DARI ITU! bentak Rafael sambil berjalan menembus kerumunan orang - orang.
"Tapi El, semakin ke sini, aku jatuh cinta kepadamu."
"TIDAK ADA CINTA DIHUBUNGAN KITA! HUBUNGAN KITA HANYA UNTUK MENYALURKAN KEBUTUHAN BIOLOGIS AJA!"
"Aku mohon, jadilah kekasihku," ucap Regina.
"Itu tak akan terjadi!" ucap Rafael ketika melewati pintu keluar jalur VVIP.
"Kenapa?"
"Karena kamu adalah salah satu boneka seksku," ucap Rafael ketus sambil menghempaskan tubuhnya Regina di tempat parkiran VVIP hingga Regina hampir terjatuh.
Regina menangis terisak - isak diperlukan dengan kasar oleh Rafael. Rafael masa bodo melihat tangisan Regina. Dia malah berkacak pinggang dengan tatapan dingin ke Regina. Rafael mendengus kesal.
"Jangan ganggu aku lagi!" sarkas Rafael.
Tak lama kemudian Rafael berjalan ke pintu yang tadi dia lewati tanpa mempedulikan Regina. Melengos pergi tanpa mempedulikan berbagai macam tatapan mata dari orang - orang dan sapaan dari orang - orang. Derap langkah kakinya menelusuri lorong khusus untuk para tamu VVIP. Dia memasuki ruangan yang dia pesan tadi. Mengambil tasnya, lalu pergi keluar lagi dari ruangan itu.
Menyusuri koridor khusus tamu VVIP menuju meja bar dan lantai dansa tanpa mempedulikan pemandangan vulgar dan beberapa suara ******* maupun lenguhan. Menarik salah satu kursi di depan bartender, lalu mendudukinya. Memijit di area pelipis kanannya karena merasakan sakit di kepalanya akibat banyak minum.
"Mau minum?" tanya salah satu bartender di club itu.
Rafael hanya menggeleng - gelangkan kepalanya berulang kali. Rafael mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tak sengaja dia melihat Liza sedang berduaan dengan seorang pria di salah satu meja yang berhadapan dengan meja bar. Rafael tersenyum sinis melihat Liza bersama seorang pria.
Tiba - tiba Edward menepuk bahu sebelah kiri Rafael, lalu berucap, "Eh Bro, ayo kita pulang! Semuanya sudah gw urus."
"Ngapain balik, kita minum dulu," ucap Rafael sambil menarik tangan kanannya Edward.
__ADS_1
"Alah elu Bro, udah minum banyak begitu, masih aja mau minum lagi," ucap Edward sambil menduduki badannya di kursi sebelah kiri Rafael.
"Elu mau minum apa?" tanya Rafael sambil menoleh ke Edward.
"Nggak, gw lagi nggak mau minum," ucap Edward sambil menoleh ke Rafael.
"Kenapa tiba - tiba Regina datang ke sini?"
"Tadi dia telepon gw karena dari tadi dia telepon elu nggak diangkat - angkat. Terus nanyain keberadaan elu."
"Terus elu jawab apa?"
"Gw jawab nggak tahu. Terus dia minta sharelock live gw lewat aplikasi wa. Yah, gw kasih. Eh ternyata, dia tahu bahwa gw pergi ke sini sama elu. Pas gw lihat dia di dekat pintu masuk. Gw langsung ke ruangan elu."
"Ooo."
"Tadi elu bawa ke mana si Regina sampai dia nggak nongol lagi?"
"Gw bawa ke tempat parkiran club dan gw bentak dia supaya jangan ganggu gw lagi."
"Sadisss."
"Eh, Edward. Gw bingung. Waktu selesai acara tunangan Rachel, gw minum jus dan jus itu sudah dicampur sama obat perangsang. Gw bingung siapa yang naro obat itu ke sirup yang tersaji di meja makan."
"Waktu ada siapa aja?"
"Hanya gw aja."
"Di dalam rumah elu ada CCTV?"
"Enggak ada."
"Gelas sirupnya ada berapa?"
"Satu."
"Iya, waktu itu gw ketemu sama tante gw. Dan ... oh ya gw baru ingat, pas gw buka pintu kamar gw, tante gw ngomong, 'Ada jus untuk kamu'. Apa dia yang menaruhnya?"
"Bisa jadi."
"Masa tante Yohanna yang menaruhnya?"
"Maybe."
"Maksud dia menaruh obat itu untuk apa?"
"Mana gw tahu."
"Apa perlu gw membahas tentang ini?"
"Kalau menurut gw iya jika itu mengganggu pikiran elu."
"Ehmmm ... baiklah, gw akan membahas ini sama tante Yohanna."
Edward mengalihkan pandangannya ke lantai dansa. Sekilas dia melihat Liza sedang dipeluk nakal oleh seorang pria. Edward langsung berdiri. Ketika hendak melangkah kakinya. Edward bertemu dengan Florence. Florence dengan raut wajah yang panik berlari kecil menghampiri dirinya. Edward mendengus kecil melihat itu.
"Honey, tadi Regina telepon aku pas aku lagi nungguin dia di dalam mobil. Dia lagi nangis honey, katanya dia diputusi sama Rafael. Dia minta aku jemput dia. Tiba - tiba teleponnya mati. Aku kasihan sama dia. Nemenin aku ya, cari Regina," ucap Florence sedikit memelas.
"Iya, tadi kamu ke sini sama dia?" ucap Edward yang tak enak menolak permintaan kekasihnya.
"Iya, tapi aku nggak mau masuk ke dalam karena aku masih trauma. Yuk Honey kita cari Regina!"
"Bro, tadi elu bawa Regina ke tempat parkiran mana?" lanjut Edward sambil menoleh ke Rafael.
__ADS_1
"Tempat parkiran VVIP club."
Tak lama kemudian, Florence dan Edward melangkahkan kakinya menuju tempat parkiran VVIP club. Rafael tersenyum sinis melihat tingkah pasangan kekasih itu. Tak disangka, Rafael melihat Liza sedang meronta - ronta di dalam pelukan pria yang tadi. Rafael langsung mendorong kursi itu, lalu berdiri. Rafael melangkahkan kakinya ke Liza.
Sesampainya Rafael di depan Liza dan pria itu, Rafael menonjok kencang mukanya pria itu hingga pria itu terjatuh ke lantai. Pria itu bangkit, lalu membalas pukulan Rafael, namun pukulan itu bisa ditangkis sama Rafael. Dengan gerakan cepat, Rafael menendang kencang pria itu hingga pria itu terpental. Semua orang melihat perkelahian itu.
"Jangan ganggu dia lagi?" sarkas Rafael.
Liza yang berada di dalam pengaruh obat perangsang dan alkohol tidak mendengar ucapan Rafael. Liza hanya diam membisu melihat perkelahian itu tanpa tahu siapa yang menyerang pria itu. Dua orang satpam club datang menghampiri mereka. Satu satpam menahan tubuhnya Rafael yang ingin memukul lelaki itu lagi. Yang satunya lagi membantu pria itu berdiri, lalu membawa pria itu ke pos keamanan.
"Lepaskan saya!" hardik Rafael sambil meronta - ronta.
"Akan saya lepaskan jika Anda sudah tenang," ucap satpam itu.
"Baik saya tenang, tolong lepaskan saya," ucap Rafael melembut.
Satpam itu melepaskan kuncian di tangan dan kakinya Rafael, lalu berucap, "Sebaiknya Tuan ikut kami ke pos keamanan."
"Bilang ke bos kamu untuk mengurusi semua ini."
"Memangnya kamu tahu siapa nama bosku?"
"Tahu, namanya Jacob Putranda Rahardian."
"Nama anda?"
"Rafael Darmawan Pandjaitan."
"Baik, nanti saya sampaikan."
"Urus pria itu. Pria itu telah melakukan pelecehan seksual terhadap kekasihku."
"Baik Tuan," ucap satpam itu dengan sopan.
Tak lama kemudian, satpam itu pergi. Rafael menarik tangan kanannya Liza hingga Liza terjatuh dari kursinya. Rafael meraih, lalu menggendong Liza ala bride style. Melangkahkan kakinya sambil menggendong tubuhnya Liza ke tempat parkiran mobilnya. Menyusuri lorong penghubung ruangan VVIP. Liza merasakan kegerahan padahal semua AC di dalam club itu dinyalakan. Liza juga merasakan gelombang gairah merasuki rongga hatinya.
"Leo, kamu nggak apa - apa kan?" ucap Liza pelan.
"Hhmm."
"Leo mulutmu sakit banget ya sampai nggak bisa ngomong?"
"Hhmm."
"Kamu kok sekarang kayak bosku. Kalau ngomong sering 'Hhmm', kayak orang bisu. Udah orangnya nyebelin banget, masa hasil karyaku dibilang nggak kreatif. Disuruh ulang lagi gambarnya, tanpa dikasih arahan sesuai dengan keinginannya. Nyuruh tanpa dipandu. Bikin kesal aja. Mending dia jago gambar, huh," celoteh Liza.
"Hhhmmm," suara Rafael sambil menurunkan Liza.
Liza berdiri sempoyongan sedangkan Rafael membuka pintu mobil penumpang bagian depan. Antara sadar dan tidak sadar Liza cengengesan melihat Rafael sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kemudian Rafael menggiring Liza masuk ke dalam mobilnya. Rafael menutup pintu mobilnya, lalu mengitari setengah mobilnya ke tempat kemudi. Membuka pintu kemudinya, lalu menutupnya. Rafael memasang sabuk pengaman Liza dan dirinya. Rafael menghidupi mesin mobilnya, lalu melajukan super mobilnya membelah jalanan kota Jakarta.
"Kok gerah banget ya?" ucap Liza sambil membuka jaketnya. "AC nya udah nyala, tapi kenapa aku gerah dan tubuhku nggak nyaman gini, kayak geli - geli gimana gitu," lanjut Liza sambil memeriksa AC.
"Sialan! Orang itu telah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu," ucap Rafael datar.
"Ahh, ahh," desah Lily sambil menggeliatkan tubuhnya sehingga Rafael ikut terangsang.
Rafael meminggirkan mobilnya di tepi jalan. Memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Menoleh ke Liza yang sedang menggeliatkan tubuhnya hingga belahan buah pepayanya terlihat menggoda bagi jiwa Rafael sebagai seorang pria yang normal. Rafael tersenyum licik melihat pemandangan yang menggiurkan. Rona merah menyeruak di wajahnya Liza. Liza menoleh ke Rafael, lalu melepaskan sabuk pengaman. Liza langsung duduk di pangkuan Rafael. ******* bibirnya Rafael dengan gairah yang membuncah. Rafael membalas ciuman Liza hingga perbuatan mereka diselimuti oleh nafsu yang bergelora.
Akhirnya takdir berpihak kepadaku, dia masuk ke dalam permainanku.
batin Rafael.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah membaca novelku yang ini π. Jangan lupa kasih like, vote, hadiah, bintang lima, dan komentar ya π. Salam hangat dariku ππ.