Asa Diriku

Asa Diriku
Apakah Kalian Bahagia?


__ADS_3

Tolong divote ceritanya dan kasih sarannya ya πŸ™‚.


Silahkan tinggalkan jejak dengan mengklik like di bawah cerita setiap babnya 😊.


Kasih bintang lima ya 😊.


Happy reading πŸ€—.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸




Liza memberikan polesan lipstik warna merah di bibirnya, lalu menaruh lisptiknya di atas meja hias. Dia tersenyum bahagia karena semalam Rafael bersikap lembut dan berniat ingin belajar mencintai dirinya tanpa disuruh. Liza melihat dirinya yang di make up natural dan rambut panjangnya dibiarkan terurai. Memakai baju lengan panjang dipandu sama celana jins. Dia mengatur beberapa helai rambut untuk menutupi kissmark buatan Rafael.


"Kenapa kamu tutupi sama rambut kamu?" tanya Rafael sambil berjalan menghampiri Liza.


"Aku malu," ucap Liza tersipu malu.


"Malu kenapa? Kan wajar, kamu sudah menikah," ucap Rafael lembut lalu memeluk pinggangnya Liza dari belakang.


"Yah malu aja."


"Tak perlu malu," bisik Rafael, lalu menciumi lehernya Liza.


"Udah ah, tadi kan udah. Ini udah hampir jam delapan, kita sudah janjian sama orang, lagi pula kita belum sarapan," cerocos Liza sambil menepis dua tangannya Rafael.


"Tadi aku udah sarapan," ucap Rafael.


"Sarapan apaan? Dari tadi kita bikin anak melulu," celoteh Liza sambil berjalan.


"Sarapan kamu, tapi pengen nambah lagi," ucap Rafael dengan nada suara yang manja.


"Ih, jangan kebanyakan gituan nanti pingsan. Udah ah jangan mesum melulu."


Tiba - tiba Rafael menggenggam erat telapak tangan kanannya Liza sehingga menghentikan langkahnya Liza. Liza menoleh ke Rafael, Rafael tersenyum manis ke Liza. Tak lama kemudian, Rafael mengajak Liza berjalan keluar dari walking on closet menuju pintu kamar. Rafael menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya hingga pintu terbuka. Mereka keluar dari dalam kamar. Rafael menutup pintu kamar.


"Ciyeee ... yang habis berduaan di dalam kamar," ucap Aisyah dengan nada suara yang bercanda sehingga membuat Liza dan Rafael menoleh ke dirinya.


Rafael melepaskan genggaman tangannya seperti ketakutan karena ketahuan selingkuh, lalu berucap, "Kamu dari tadi di sini?"


Kok tiba - tiba Bang El melepaskan genggaman tangannya seperti orang ketakutan karena ketahuan selingkuh setelah mendengar suara Aisyah?


Batin Liza.


"Iya, aku disuruh jagain Maryam."


"Kamu sama siapa ke sininya?" ucap Rafael sambil berjalan menghampiri Aisyah yang sedang duduk di sofa panjang.


"Sama anak - anak."


"Di mana anak - anak?" tanya Rafael sambil menduduki tubuhnya di atas sofa single.


"Di kolam renang," ucap Aisyah sambil membuka lembaran koran.


"Gimana Utsman? Udah baikan?"


"Udah," jawab Aisyah datar.


"Aisyah, Ummi ke mana?" tanya Liza sambil berjalan ke dapur untuk mencari air minum untuk menyegarkan pikirannya.

__ADS_1


"Ummi, masih di dapur."


Pikiran Liza menjadi kacau setelah melihat gerak - gerik Rafael yang kikuk ketika mengetahui kedatangan Aisyah. Mendingan cari minuman untuk menyegarkan pikirannya dari pada melihat kecanggungan Rafael. Liza menghentikan langkahnya ketika melihat mertuanya yang sedang berciuman dengan penuh kelembutan. Liza membalikkan badannya, lalu melanjutkan langkahnya ke ruang keluarga untuk bergabung sama Aisyah dan Rafael.


"Kamu udah ketemu sama Ummi?" tanya Rafael sambil menoleh ke Liza.


"Udah, tapi ...."


"Tapi kenapa?" tanya Rafael bingung.


"Umminya lagi ciuman sama Papi," ucap Liza malu - malu.


"Wah nggak bisa dibairin ini mah," ucap Rafael Sambil beranjak berdiri dari sofa.


"Memangnya kenapa? Toh mereka suami istri?" ucap Liza bingung.


"Kalau dibiarin bisa kebablasan. Aku yakin ini pasti permintaan Papi. Kalau kebablasan Ummi bisa hamil, sedangkan Ummi umurnya udah sekitar enam puluh tahun, nanti kasihan Ummi, udah tua ngurusin bayi, aku nggak tega, kalau Ummi sich pasti nurutin semua permintaan Papi," cerocos Rafael sambil berjalan ke dapur.


"Ummi kan udah menopause," ucap Liza yang mengikuti langkahnya Rafael.


Rafael menghentikan langkahnya, lalu berucap, "Menopause? Apa itu menopause?"


"Menopause adalah masa berakhirnya siklus menstruasi secara alami, yang biasanya terjadi saat wanita memasuki usia 45 hingga 55 tahun. Seorang wanita dikatakan sudah menopause bila tidak mengalami menstruasi lagi, minimal dua belas bulan sehingga wanita tidak bisa hamil lagi."


"Jadi tidak bisa hamil lagi?"


"Iya. Jadi kamu tenang aja."


Rafael membalikkan badannya lagi, lalu berucap, "Tapi itu harus dihentikan sebelum ketahuan anak - anak."


Tak lama kemudian, mereka melanjutkan langkahnya ke dapur. Mereka seketika berhenti karena melihat sang Papi berada di dalam rok Irene yang sedang mendesah. Liza langsung menundukkan kepalanya, sedangkan Rafael menggeleng - gelengkan kepalanya melihat kelakuan orang tuanya. Tiba - tiba kaki kirinya Irene terangkat, suara ******* Irene bertambah banyak.


"Auwww! Kepalaku sakit!" pekik Rogen.


"Papi keluar! Jangan auw - auw di sini! Nanti ketahuan sama anak - anak dan orang lain!"


Ucapan Rafael telah membuat Irene malu. Rona pipi Irene bertambah merah. Tak lama kemudian, Rogen keluar dari roknya Irene dengan hati - hati sehingga tidak memperlihatkan aurat Irene di depan Rafael. Setelah Rogen keluar, Irene langsung berlari kecil sambil menundukkan kepalanya. Rogen memasuki kain segitiga milik Irene ke dalam kantung celananya.


"Dasar anak kurang ajar! Gangguin kesenangan orang tuanya!"


"Kalau mau begituan, jangan di sini! Di dalam kamar!"


"Kamu mau ngapain ke sini!? Mau bercinta di sini?"


"Mau minumlah, lagi pula tadi udah puas," ucap Rafael sambil membuka kulkas, lalu mengambil satu botol minuman air mineral.


"Iya puas, sampai lupa sarapan," ucap Rogen. "Oh ya Liz, nanti berangkatnya jam sepuluh aja ya?"


"Uhukkk ... !" Rafael keselek.


"Kamu nggak apa - apa?" tanya Liza khawatir sambil mengusap punggungnya Rafael.


"Iya nggak apa - apa," ucap Rafael dengan nafas terengah - engah. "Kalau tahu begitu, mendingan kita tidak usah mandi dulu Liz," lanjut Rafael sambil menaruh gelas di atas meja pantry.


"Eh, ngaco kamu! Kamu kan ada janji sama Tante Magdalena dan Immanuel!"


"Kan bisa diundur."


"Diundur mbahmu!"


"Kenapa sih Pi? Mereka perginya diundur?"

__ADS_1


"Kayak kamu nggak tahu aja, yah ... mau lanjutin yang tadi," jawab Rogen, lalu melangkahkan kakinya.


"Ya elah, ini si Kakek, makin tua makin menjadi aja kelakuannya."


"Wajar dong begituan sama istri."


"Wajarlah, asalkan tidak berlebihan."


"Udah jangan banyak ngomong!" ucap Rogen sambil berjalan menuju tangga agar bisa menyusul Irene.


"Ada - ada aja," ucap Rafael yang nggak habis pikir melihat kelakuan Papinya.


"Kayak kamu nggak aja, berbuat mesum nggak lihat tempat dan situasi," celetuk Liza.


"Hehehe," Rafael cengengesan.


"Permisi Tuan dan Nyonya, ada tamu, namanya Tuan Immanuel, Nyonya Erika dan Nyonya Magdalena, mereka nunggu di ruang tamu," ucap Eti.


"Cepat amat mereka datangnya, pada hal baru jam tujuh lewat lima puluh satu menit," ucap Rafael sambil melihat arlojinya.


"Berarti mereka orangnya on time," celetuk Liza.


"Bukan on time, tapi menggebu - gebu."


"Ayo kita temuin mereka!" ajak Liza.


"Nggak usah, kamu sarapan aja," ucap Rafael.


"Tapi aku harus kasih undangan pesanan Tante Magdalena."


"Biar aku yang kasih, di mana undangannya?"


"Di dekat lampu hias dan jendela ruang tamu."


"Ok, sana kamu sarapan."


"Kamu nggak sarapan?"


"Aku masih kenyang, udah sana sarapan. Makan yang banyak, nanti malam kita bertempur lagi."


"Iya."


Tak lama kemudian, Liza menjalankan kakinya ke ruang makan, sedangkan Rafael ke ruang tamu. Liza menarik kursi, lalu mendudukinya ketika dia berada di ruang makan. Liza membuka tudung saji, lalu melihat meja makan penuh dengan aneka makanan sarapan untuk para penghuni penthouse ini. Di atas meja makan tersedia timun, daun selada, daun kemangi, leunca, terong bulat, kol, pohpohan, antanan, sambal bawang, ikan gurame bakar, wortel, kecipir, petai, dan kacang panjang, jeruk, apel, dan pear. Liza mengerutkan dahinya karena sarapan hari ini adalah lalapan dan aneka buah. Liza menaruh tudung saji di tempat yang kosong. Dia ambil piringnya, lalu mengambil ikan gurame, daun selada, timun, sambal, leunca, dan wortel.


"Ke mana Rafael?" tanya Aisyah yang tiba - tiba berdiri di samping kirinya Liza.


"Lagi di ruang tamu, nemuin keluargaku," ucap Liza sambil mecocol timun ke sambel.


"Kamu nggak nemuin keluargamu?" ucap Aisyah sambil menarik kursi yang berada di samping kirinya Liza, lalu mendudukinya.


"Aku disuruh sarapan sama Rafael. Sarapan yuk!"


"Iya, udah tadi," ucap Aisyah. "Kamu suka lalapan juga?"


"Sukalah, aku kan lahir di Bandung, walaupun Papi orang Batak dan Mami orang Jerman. Kamu orang mana? ucap Liza sambil mengunyah.


"Nyak sama Babe orang Betawi, sedangkan Umma orang Bogor dan Abah orang Solo."


"Kamu punya dua pasang orang tua?"


"Iya, Nyak sama Babe orang tua yang mengasuhku sejak usiaku dua bulan sampai umur dua puluh tiga tahun. Sedangkan Umma sama Abah orang tua kandungku. Dulu aku diculik, terus nggak sengaja Babe nemuin aku di bak mobilnya. Mohon maaf sebelumnya, kalau aku boleh tahu, selama beberapa hari ini, apakah kalian bahagia?"

__ADS_1


__ADS_2