Asa Diriku

Asa Diriku
Apakah Aku Benar - Benar Hamil?


__ADS_3

Liza memandang langit malam kota Surabaya yang dipenuhi oleh kerlap - kerlip bintang. Begitu syahdunya cahaya rembulan. Hembusan angin sepoi - sepoi menerpa kulit wajahnya. Sejak pagi, dirinya tidak tenang karena dia pergi seharian bersama Rafael untuk melihat perkembangan proyek perumahan. Selama memantau proyek, Rafael bersikap cuek dan angkuh terhadap Liza.


Berdiri di balkon sebuah hotel yang bersejarah di kota Surabaya sambil menikmati keindahan alam di malam hari dan keindahan bentuk bangunan hotel yang dibangun pada tahun seribu sembilan ratus sepuluh. Liza sangat kagum dengan arsitektur bangunan hotel yang bergaya art - deco. Menatap kagum bangunan hotel yang didominasi oleh warna putih, warna kesukaan Liza.


"Ekhmmm," deheman Rafael yang mengalihkan perhatian Liza.


Sontak Liza membalikkan badannya. Dia melihat sosok Rafael yang sedang berjalan menghampiri dirinya sambil menatap tajam ke Liza. Liza langsung membuang mukanya karena hatinya tak kuasa menahan gejolak rasa cintanya kepada Rafael ketika dua mata mereka saling memandang.


"Kenapa kamu sering membuang mukamu ketika mata kita saling menatap?" tanya Rafael ketika berada tepat di depan Liza.


"Itu bukan urusanmu," ucap Liza tanpa menoleh ke Rafael.


"Apakah kamu sudah meminum obat kontrasepsi?"


"Memangnya kenapa kalau udah? Dan emangnya kenapa kalau belum?"


Oh ****! Sekarang wanita itu sudah berani sama aku.


Batin Rafael.


"Kalau sudah itu bagus, tapi ... kalau belum, nanti kamu bisa hamil," ucap Rafael datar.


"Emangnya kenapa kalau aku hamil?" tanya Liza dengan nada suara yang menantang sambil menoleh ke Rafael.


"Gugurkan kandunganmu secepat mungkin sebelum dia membesar."


"Aku tidak akan mau menggugurkannya."


"Kamu harus menggugurkannya, karena itu kesalahanmu! titah Rafael.


"Kesalahanku!? Hey playboy cap kadal buntung! Itu sama aja pembunuhan namanya! Jika kamu tidak mau bertanggung jawab, aku bisa mengurusnya," ucap Liza dengan nada suara yang kesal.


"Jika kamu minum obat itu, kamu tidak akan hamil."


"Hamil tidak hamil, itu urusanku!" ucap Liza marah sambil melotot ke Rafael.


"Hai El! Apa kabar?" sapa seorang wanita.


Rafael menoleh ke samping kanan, dia menemukan sosok salah satu teman di atas ranjangnya ketika masih kuliah di Harvard. Rafael tersenyum manis ke wanita itu. Wanita itu juga tersenyum manis. Liza menoleh ke arah tatapan matanya Rafael. Liza melihat sosok wanita blasteran seperti dirinya. Tapi wanita itu lebih dominan ke bulenya. Liza tersenyum simpul melihat wanita yang memakai pakaian minim bahan.


"Hallo sayangku, sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucap wanita itu sambil cipika - cipiki sama Rafael.


"Iya sayang, kamu tambah bohay aja Cla," ucap Rafael setelah cipika - cipiki sama Clarisa.


"Ah kamu bisa aja ledekin aku. Gimana kabar kamu?" ucap Clarisa sambil memegang tangannya Rafael dengan mesra.

__ADS_1


"Baik, aku dengar kamu udah nikah? Mana suami kamu?"


"Aku udah cerai."


"Ooo, jadi janda kembang dong."


"Hahaha, bukan janda kembang, tapi janda hot," guyon Clarisa. "Oh ya, siapa nich?" ucap Clarisa sambil menoleh ke Liza.


"Karyawanku."


"Karyawan plus - plus ya?" ledek Clarisa sambil menoleh ke Rafael.


"Plus Mbahmu," celetuk Liza yang membuat Clarisa menoleh ke dirinya.


"Maaf aku cuma bercanda," ucap Clarisa lembut.


"Cla, temani aku ke bar yuk!" ajak Rafael.


"Ayo, tapi besok beliin aku tas Dior yang baru ya," ucap Clarisa dengan nada suara yang manja.


"Ok, tapi nanti malam lima ronde ya,"


"Ok bos," ucap Clarisa.


Tak lama kemudian, Clarisa menggandeng mesra tangan kanannya Rafael sambil menyandarkan kepalanya di bahu kanannya Rafael, lalu mereka melangkahkan kakinya menuju bar. Liza menggeleng - gelengkan kepalanya. Liza melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia melangkah kakinya ke presidential suite hotel yang dibooking oleh Rafael. Menyusuri lorong demi lorong hotel hingga dia menemukan pintu presidential suite hotel.


Tululut ... tululut ... tululut ...


Dering smartphone milik Liza. Liza membuka tasnya untuk mengambil smartphonenya. Dia melihat nama Vina tertera di layar smartphonenya. Liza mengerutkan keningnya karena bingung mendapatkan panggilan dari Vina pada malam hari melalui aplikasi pesan. Liza menyentuh menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan itu, lalu mendekatkan benda pipih ke telinga kirinya.


"Hallo Vin, ada apa?" ucap Liza.


"Liz, tolong panggilin Bang El dong. Dari tadi aku teleponi handphonenya nggak aktif," pinta Vina.


"Mungkin lagi tidur Vina," ucap Liza yang tak ingin menyakiti perasaan salah satu sahabatnya.


"Kamu nggak nutupin sesuatu? Jangan mentang - mentang dia bos kamu, kamu merahasiakan kegiatannya."


Waduh aku harus bicara apa ini?


Batin Liza.


"Kan handphonenya nggak aktif, kemungkinan dia lagi tidur. Sebaiknya kamu berpikir positif aja say."


"Playboy macam dia tak bisa membuatku berpikir positif Liz ketika dia berada jauh dariku."

__ADS_1


"Ok, kita video call ya?" ucap Liza.


"Ok."


Beberapa detik kemudian, Liza menjauhkan smartphone miliknya, lalu menyentuh gambar kamera di aplikasi pesan. Terlihat wajah Vina yang sedang galau. Liza beranjak berdiri dari tempat tidurnya. Melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar.


"Kamar kalian bersebelahan?" tanya Vina.


"Iya," jawab Liza sambil membuka pintu kamar.


"Kalian nginap di kamar apa?"


"Presidential suite," jawab Liza sambil berjalan menuju kamarnya Rafael.


"Wuih, enak banget elu. Jangan macam - macam sama laki gw!"


"Iya Vina kusayang," ucap Liza sambil pura - pura mengetuk pintu kamarnya Rafael.


"Kamu udah pangilin dia?"


"Ini, aku udah ngetuk pintu kamarnya nggak dibuka - buka. Orangnya sudah tidur kali."


"Pangilin namanya Liz."


"Pak El, Pak El, Pak El," ucap Liza sambil mengetuk pintu kamarnya Rafael. "Kayaknya udah tidur say," lanjut Liza.


"Ya udah kalau begitu. Makasih ya Liza," ucap Vina sedih.


"Iya, sama - sama. Udah jangan terlalu dipikirin."


"Iya, bye Liz."


"Bye Vin."


Sambungan telepon terputus. Liza menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya sambil berjalan ke kamarnya. Menutup pintu, lalu menguncinya. Berjalan ke nakas sebelah kanan tempat tidur. Menaruh smartphonenya di dalam tas. Tiba - tiba merasa mual ingin muntah. Liza bergegas ke kamar mandi. Menekan handle pintu ke bawah untuk membuka pintunya. Masuk ke dalam kamar mandi. Mendekatkan dirinya di bibir westafel. Dia langsung mengeluarkan isi perutnya.


"Huek ... huek ... huek ... huek ... huek ... ," muntahan Liza di westafel kamar mandi


sambil memegang perutnya, lalu dia membuka kran untuk membersihkan muntahannya.


Liza membasuh bibirnya menggunakan air dari kran wastafel. Kemudian Liza menegakkan tubuhnya, mematikan kran air, dan mengeringkan bibirnya dengan tissue yang berada di dinding samping kiri westafel. Liza melihat dirinya di cermin westafel. Dia melihat mukanya pucat pasi seperti orang sakit. Dia memegang keningnya, tapi tubuhnya tidak panas. Melangkahkan kakinya ke tempat tidur dengan langkah yang terkulai lemas. Naik ke atas tempat tidur. Membaringkan tubuhnya.


Liza menatap langit - langit kamar hotel. Terngiang - ngiang ucapan dirinya sama ucapan Rafael yang tadi tentang kehamilan. Liza menggeleng - gelengkan kepalanya karena dia belum siap untuk hamil apalagi hamil di luar nikah dan hamil tanpa dinikahi oleh Rafael. Mau taruh di mana mukanya jika itu terjadi. Dia mengerutkan keningnya karena sedang berpikir.


"Jika aku minum obat kontrasepsi besok, apakah itu berhasil membuatku tidak hamil? Tadi perutku eneg dan mukaku pucat, tapi badanku tidak panas. Apakah aku benar - benar hamil?"

__ADS_1


πŸ’πŸŒΉπŸŒ·πŸŒΊπŸŒΈπŸ’πŸŒΉπŸŒ·πŸŒΊπŸŒΈπŸ’πŸŒΉπŸŒ·πŸŒΊπŸŒΈπŸ’


Terima kasih reader yang baik hati sudah membaca cerita novelku yang ini 😊. Kasih dukungannya ya dengan kasih like, vote, hadiah, bintang lima, hadiah, masuki ke daftar favorit dan komentar 😊.


__ADS_2