Asa Diriku

Asa Diriku
Usaha Yang Sia - Sia


__ADS_3

Langit malam yang gelap, hanya dihiasi dengan gemuruh kilatan petir. Guntur telah menyambar bumi diiringi dengan hujan lebat sejak jam delapan malam. Bunyi petir yang menggelegar tidak membuat Liza takut. Liza sedang duduk sambil menyilangkan kaki kirinya di balkon belakang rumah barunya. Termenung menyendiri memikirkan apa yang harus dia perbuat untuk menyelesaikan rasa dan masalah yang berkecamuk di dalam dirinya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" ucap Billy sambil melihat Liza yang sedang melamun.


"Memikirkan masa depan rumah tangga kami. Aku nggak tahu lagi bagaimana caranya untuk merubah Bang El menjadi pribadi yang lebih baik lagi," ucap Liza sendu sambil menoleh ke Billy.


Billy duduk di sebelah kanan Liza, lalu berucap, "Kamu tenang aja, Tulang akan membantumu untuk mengubah Rafael."


"Apakah Tulang sudah punya solusinya?"


"Masih dipertimbangkan. Tulang perhatikan kamu sudah menjalankan tugas sebagai seorang istri yang baik dan benar, kamu wanita mandiri, kamu wanita pintar, kamu wanita cantik, tapi masih ada sesuatu yang belum membuat hatinya Rafael tertarik sama kamu," ucap Billy serius sambil menoleh ke Liza.


"Menurut Tulang apa itu?"


"Ehmmm ... maaf ya jika ucapan Tulang menyinggung kamu. Kamu kurang menggoda Rafael."


"Maksud Tulang?"


"Kamu pernah nggak menggoda Rafael?"


"Selama ini belum pernah."


"Kenapa?"


"Karena aku merasa seperti wanita penggoda."


"Wajar jika istri menggoda suaminya. Kamu jangan merasa seperti wanita penggoda jika menggoda Rafael. Waktu Namboru masih hidup, setiap hari dia menggoda Tulang. Selama ini kan Rafael sering tergoda sama wanita penggoda, coba kamu menggoda Rafael siapa tahu Rafael tergoda sama kamu. Jika kamu bisa menggoda Rafael, Tulang jamin, Rafael tidak akan berpaling darimu. Apalagi mulai malam ini, Tulang tinggal di sini bersama kalian, Rafael tidak akan bisa mencuri waktu untuk bersenang - senang sama wanita lain. Kamu manfaatin lah waktu kebersamaan kalian."


"Bagaimana caranya Tulang?"


"Waduh, Tulang jadi bingung ngomongnya. Dulu sich, Namboru selalu memakai lingerie ketika malam hari. Setelah Tulang mandi, Namboru selalu menggoda Tulang. Coba kamu searching di internet untuk lebih rincinya."


"Baiklah Tulang, terima kasih atas nasehat dan sarannya. Oh ya, bagaimana rapat sama klien Tulang?" ucap Liza sopan.


"Lancar, kamu udah makan malam?"


"Udah Tulang. Paman udah makan?"


"Udah. Kamu udah lama kenal sama Regina?"


"Lumayan, aku kenal dia beberapa hari sebelum menikah sama Bang El."


"Berarti mereka sudah berhubungan sebelum kalian menikah?"


"Iya."


"Kamu tahu teman ranjangnya Rafael selain Regina?"


"Setahu aku ada tiga orang wanita."


"Siapa aja?"

__ADS_1


"Clarissa, Bella dan Cindy."


"Cindy?"


"Iya Cindy, Tulang tahu orangnya?"


"Orangnya lebih tua dari Rafael?"


"Iya."


"Rambutnya Curly pirang?"


"Iya."


"Blasteran?"


"Iya."


"Istri kedua dari Ferdy?"


"Iya," ucap Liza keceplosan.


"Pantesan," ujar Billy.


"Pantesan kenapa Tulang?"


"Cindy telah memberikan warisan ke Rafael."


"Iya, sekitar sebulan yang lalu. Warisannya berupa saham di Espan Group."


"Kalau tidak salah itu salah satu induk perusahaan terbesar di Spanyol?"


"Iya, karena itu Ferdy ngotot untuk membeli saham yang dimiliki oleh Rafael di perusahaan itu."


"Bang El mau menjualnya?"


"Tidak. Tapi Ferdy tetap ingin membelinya."


"Papi yang menyuruh Tulang tinggal di sini? Mulai malam ini?"


"Iya."


"Kenapa Papi menyuruh Tulang tinggal di sini?"


"Karena Papi ingin memprioritaskan keamanan dan keselamatan kalian."


"Bang El menyetujuinya?"


"Awalnya menolak, tapi mau nggak mau dia harus mau."


"Kenapa sich Bang El menolaknya padahal kan seru bisa tinggal bareng sama Tulang. Rumah ini lebih ramai dari sebelumnya."

__ADS_1


"Dia menolak karena nggak bisa bebas."


"Tadi Tulang sama Bang El pulang bareng?"


"Iya. Tadi dia langsung ke kamar kalian. Coba kamu mulai malam ini menggoda Rafael."


"Aku masih gugup."


"Nggak usah gugup. Percaya diri aja, kamu pasti bisa mengambil hati suamimu," ucap Tulang semangat."


"Kalau gagal?"


"Coba lagi, harus semangat untuk mendapatkan hatinya Rafael. Tulang yakin kamu pasti bisa."


"Baiklah aku coba, aku ke kamar dulu Tulang," ucap Liza sopan.


"Iya, semoga berhasil ya."


Tak lama kemudian, Liza berdiri, lalu melangkahkan kakinya ke kamar utama. Menyentuh beberapa ikon di layar pemindai untuk membuka kunci pintu kamar. Setelah lampu hijau di layar pemindai menyala, Liza mendorong pintu kamar sehingga pintu kamar terbuka secara perlahan. Masuk ke dalam kamar. Menutup pintu kamar yang otomatis terkunci.


Melanjutkan langkahnya ke area walking on closet. Membuka salah satu pintu lemari. Mengambil salah satu koleksi lingerie miliknya yang belum pernah dipakai. Sebuah lingerie berwarna hitam yang terbuat dari sutra. Menutup pintu lemari itu, lalu melangkahkan kakinya ke depan cermin besar. Menaruh lingerienya di rak gantung. Membuka baju dasternya, lalu menaruhnya di gantungan. Memakai lingerie seksinya. Liza menatap dirinya yang mengenakan lingerie.


"Aku pakai baju ini seperti wanita penggoda," gumam Liza bermonolog.


Melanjutkan langkahnya ke meja rias. Duduk di kursi yang berada di depan meja hias. Mengambil bedak, lalu memakainya. Menaruh bedaknya, lalu mengambil lipstiknya. Menorehkan lipstick itu di bibir mungilnya. Menaruh lipsticknya di tempat semula. Berdiri dari kursinya. Membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya ke tempat tidur.


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok Rafael yang hanya melilitkan handuknya. Sontak Liza membalikkan badannya. Liza menelan salivanya berulang kali melihat tubuh kekarnya Rafael. Rafael tertegun melihat penampilan Liza yang sangat berbeda dari sebelumnya. Liza memberanikan dirinya menghampiri Rafael yang bergeming.


"Hai cintaku," ucap Liza dengan nada suara yang menggoda sambil membelai rahang mukanya Rafael.


"Ini sandiwara?"


"Ini bukan sandiwara sayang," ucap Liza sensual.


"Kamu sudah berani menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya di depanku. Sekarang aku sudah tahu trik kamu untuk menggoda seorang pria," ujar Rafael.


"Aku tak pernah menggoda seorang pria kecuali kamu, suamiku sendiri."


"Aku tidak percaya."


Liza menghentikan gerakan sensualnya di rahang mukanya Rafael, lalu berucap dengan kesal, "Terserah kamu mau percaya atau tidak."


Liza membalikkan badannya, lalu Rafael mencengkeram pergelangan tangan kanannya Liza dan berbisik, "Aku akan memberikan hukuman untukmu."


"Apa salahku?" ucap Liza ketakutan.


"Pikir saja sendiri," ucap Rafael sambil mempererat genggaman tangannya.


Tubuhnya Liza langsung menegang. Liza menghempaskan tangan kanannya supaya bisa lepas dari genggaman Rafael. Namun usahanya tidak berhasil, malah Rafael mencengkeram pergelangan tangan yang satunya lagi. Dengan gerakan sigap, Rafael mendekap Liza dari belakang. Rafael langsung mencium leher jenjangnya Liza secara brutal, lalu memberikan sentuhan demi sentuhan liar ke Liza. Liza hanya diam tak berdaya karena percuma jika dia memberontak.


Usaha yang sia - sia.

__ADS_1


__ADS_2