
Langit malam di kota Jakarta dengan gagah memperlihatkan taburan bintang - bintang yang bersinar. Cahaya terang benderang datang dari bulan purnama yang berbentuk bulat sempurna. Menaungi segala kegiatan para penduduk kota Jakarta. Termasuk kegiatan yang dilakukan oleh Rafael dan Liza.
Setelah mereka mengantarkan Rachel ke hotel yang jaraknya dekat sama mall yang tadi mereka kunjungi, mereka menuju ke kos - kosan Liza. Mobilnya Rafael menembus kemacetan kota Jakarta. Keadaan malam hari di kota Jakarta sangat hidup dengan segala hiruk pikuk dari segala aktivitas masyarakatnya. Mobil Mercedes warna hitam milik Rafael terus melaju menyusuri salah satu jalan raya di kota Jakarta.
Melewati beberapa bangunan pencakar langit, pejalan kaki di trotoar yang sedang berjalan, orang - orang yang berada di halte dan beberapa para pedagang. Melihat situasi keramaian kota Jakarta membuat Rafael mengingat Aisya, cinta pertamanya Rafael. Dulu Rafael sering mengajak Aisya ke tempat keramaian di kota Jakarta. Jalanan ini sering dilalui oleh Rafael dan Aisya saat mereka jalan berduaan.
Rafael mendengus kesal karena cinta pertamanya tidak memihak kepadanya. Dia menoleh ke Liza yang sedang terlelap tidur di kursi penumpang sebelah kirinya. Rafael menggeleng - gelengkan kepalanya karena mulutnya Liza sedikit berbuka dan mendengar suara dengkuran dari Liza. Rafael memperhatikan seluk beluk wajahnya Liza.
"Cantik juga nich cewek," gumam Rafael.
Kringgg ... kringgg ... Kringgg .... Bunyi dering smartphone milik Rafael. Rafael memencet tombol di alat bluetoothnya untuk menerima panggilan telepon itu.
"Hallo," sapa Rafael datar.
"El, elo lagi di mana?"
"Di perempatan lampu merah Sudirman dekat gedung gw. Emangnya kenapa Ward?"
"Jemput gw dong di gedung elu. Mobil gw mogok."
"Ehmmm ... ya udah, gw ke situ. Elu tunggu di halte depan gedung gw, soalnya gw malas masuk ke gedung. Elu sekarang ke halte, sebentar lagi gw sampai.
"Ok."
Tak lama kemudian, Rafael melanjutkan mengendarai mobilnya menuju gedung miliknya. Menembus jalan Sudirman yang dipenuhi oleh berbagai macam kendaraan. Rafael mengarahkan mobilnya ke jalur lambat yang berada di sebelah kiri jalanan. Menyusuri jalanan beraspal yang lebarnya lebih kecil dari jalur cepat jalan raya hingga Rafael menemukan sosok temannya yang bernama Edward.
Rafael memberikan kode dengan membunyikan klakson mobilnya sehingga Edward menoleh ke arah mobilnya. Dia menghentikan mobilnya tepat di depan Edward yang sedang berdiri. Membuka kunci pintu penumpang bagian belakang. Edward membuka pintu, masuk ke dalam, lalu menutup pintu itu. Rafael langsung mengunci pintu itu, lalu melajukan lagi mobilnya.
"Siapa tuch cewek? Korban baru elu lagi?" rentetan pertanyaan Edward sambil menyandarkan bahunya.
"Bukan, gw mana mau bermain cinta sama orang yang tidak mempunyai pengalaman soal ****," jawab Rafael santai sambil menyetir.
Edward mencondongkan badannya ke depan sehingga bisa memperhatikan wajahnya Liza. Edward terkejut melihat wajahnya Liza yang sedang tidur terlelap sambil mengeryitkan dahinya seakan sedang berpikir.
"Nich cewek namanya Liza ya?" tanya Edward sedikit ragu.
"Iya. Kok elu tahu namanya?" tanya Rafael sambil membelokkan mobilnya ke arah kiri jalanan.
"Iyalah tahu. Dia kan ngekos di tetangga gw. Nich cewek jadi incaran para pemuda di sana termasuk gw," jawab Edward.
"Elu nggak boleh gitu. Elu kan udah tunangan sama Florence."
"Alah, kayak elu setia aja."
"Lah gw kan nggak pernah berkomitmen sama satu pun wanita, jadi yah ... gw bebas aja jadi player."
"Lah kemarin, si Regina bilang elu jadian sama dia," ucap Edward bingung sambil menoleh ke Rafael.
Rafael hanya menggeleng - gelengkan kepalanya, lalu berucap, "Kami nggak akan pernah pacaran. Gw hanya anggap dia sebagai teman tidur gw di ranjang. Dia tahu itu kok. Udah gw tegasin, hubungan gw ama dia hanya berlandaskan pemuas nafsu untuk memenuhi kebutuhan biologis."
"Anjirrr ... masih berlaku tuch prinsip hidup elu yang seperti itu?"
"Masihlah, dan mungkin untuk selamanya."
"Elu nggak ada niatan untuk menikah gitu? Nyusul Aisya?"
"Gw hanya ingin menikah sama Aisya."
"Kenapa? Masih cinta sama tuch cewek? Udahlah El, lupakan wanita itu! Ingat, dia itu udah punya suami dan anak. Elu nggak bisa begini terus. Move on El! Masih banyak wanita di dunia ini," ucap Edward yang berapi - api.
"Gw udah usaha, tapi nggak bisa."
"Bukan nggak bisa, tapi belum bisa," celetuk Edward.
"Oh ya, mulai kapan elu kerja di perusahaan Ummi elo?"
"Mulai hari Senin minggu depan."
"Elo yakin mau bekerja di sana?"
"Iya, gw yakin."
"Tapi elu harus profesional kerja di sana."
"Ya iyalah."
"Mami elu tahu kalau elo kerja di sana?"
"Tahu. Gw berharap selama kerja di sana, gw bisa mendapatkan pencerahan."
__ADS_1
"Pencerahan apa?"
"Pencerahan hati gw. Gw pengen kisah cinta gw ama Aisya seperti kisah cintanya Papi Ama Ummi gw."
"Hahaha, gila elu. Setiap takdir manusia berbeda Man! Elu harus bisa move on!"
"EDWARD! GW UDAH USAHA LUPAKAN DIA TAPI NGGAK BISA!" sarkas Rafael.
"Biasa aja kali Bro!" umpat Edward.
"Gw yakin ini jalannya gw ketemu sama jodoh gw dan gw yakin, jodoh gw adalah Aisya."
"Woi sadar woi! Dia udah punya laki! Dia udah ketemu jodohnya!"
"Nanti mereka juga terpisah."
"Anjirrrr, elu nyumpahi mereka terpisah."
"Gw nggak nyumpahi mereka berpisah. Gw hanya mengungkapkan feeling gw aja."
"Feeling elu terlalu tinggi dan kejam Bro. Dari pada bosan dengari ungkapan feeling elu. Mendingan gw dengari lagu," ucap Edward, lalu menyalakan radio.
Kita berbeda jalani keyakinan
Tapi kau yang kuinginkan dari s'galanya
Sayangku dengarkan aku
Tak mungkin ku melepasmu
'Kan kupertahankan kau cintaku
Dan semua air matamu yang berarti di hidupku
Sayangku dengarkan aku
Tak mungkin ku melepasmu
Bawalah cintaku bersamamu
Kar'na ku tetap milikmu selamanya 'kan abadi s'lalu, hu ...
"Liza siapa elu?" tanya Edward mengalihkan pembahasan tentang hubungan Rafael dengan Aisya.
"Bukan siapa - siapa gw."
"Lalu kenapa dia ada di mobil elu?"
"Mami gw yang menyuruh gw anterin dia pulang ke kos - kosannya."
"Dia siapa Mami elu? Punya hubungan saudara sama Liza?"
"Enggak. Dia salah satu sahabatnya Rachel."
"Rachel adik tiri elu?"
"Iya."
"Dia kan kerja di perusahaan Ummi elu."
"What? Yang benar elu?" ucap Rafael dengan nada suara yang terkejut.
"Iya. Sudah satu tahun dia kerja di sana."
"Ternyata benar adanya istilah dunia tak selebar daun kelor."
"Dia masih lugu."
"Iya."
"Enggak elu jadiin korban elu berikutnya?"
"Enggaklah, emangnya kenapa?"
"Pengen gw jadiin ban serep."
"Emangnya dia onderdil mobil, inget Florence!" celetuk Rafael.
"Ya elah segitunya. Gw mau bebasi diri gw dulu, mumpung belum janur kuning melengkung."
__ADS_1
"Kalau elu mau begitu, jangan berkomitmen dulu sama cewek. Mendingan kayak gw, bebas tanpa terikat."
"Oooaaahhhmmm," Liza menguap sambil menguletkan tubuhnya hingga rok klop selututnya tersingkap.
Tak sengaja, Rafael melihat paha putih yang mulus milik Liza. Spontan Rafael merapikan roknya Liza hingga pahanya tertutup lagi. Edward memicingkan ke dua matanya ketika melihat tangan kirinya Rafael berada di area pahanya Liza.
"Elu apain paha tuch bocah?"
"Gw benarin roknya yang tersingkap," ucap Rafael setelah merapikan roknya Liza.
Liza membuka ke dua matanya, lalu Rafael berucap, "Kita udah sampai di daerah Setiabudi, nomor rumahmu berapa?
"Dua puluh satu," celetuk Edward yang membuat Liza menoleh ke belakang.
Liza terkejut melihat sosok Edward yang sedang duduk santai di jok belakang, lalu berucap, "Hah ada Aa Edward!?"
"Iya Neng geulis."
"Kok Aa Edward ada di sini?" tanya Liza bingung.
"Dia numpang dimobilku," samber Rafael.
"Emangnya mobil Aa Edward mogok?"
"Iya Neng geulis."
"Ward, inget Florence!" celetuk Rafael.
"Anjirrrr ... ngapain juga elu nyebut Florence? Payah elu sebagai sohib."
"Gw sohib yang baik hati untuk mengingatkan supaya elu tidak keluar jalur dari Florence, sebentar lagi kan kalian mau menikah."
"Anjirrrr ... nggak cihuy elu ah," umpat Edward.
"Aku sama Aa Edward hanya temanan," ucap Liza polos sambil menoleh ke Rafael.
"Tuch! Dengarin ucapan Liza!" ucap Edward.
"Aku sebagai sohibnya hanya mengingatkan supaya dia tidak jadi seorang player."
Kok Bang El kalau di depan temannya nggak pernah jutek?
batin Liza.
"Kayak elu nggak aja."
"Lah kan gw nggak terikat komitmen dengan seorang wanita."
"El, jangan lupa nanti belok kanan di pertigaan," ucap Edward mengalihkan pembicaraan.
"Iya, gw inget."
"Bang El, kok di depan teman Bang El nggak pernah jutek?" tanya Liza penasaran yang membuat Rafael diam seribu bahasa.
"Aa pites dia kalau dia jutek di depan gw," samber Edward dengan nada suara meledek.
"Bang El takut ya sama Aa Edward?"
"Takut kartu as nya terbongkar sama gw," samber.
"Kartu as apa A?" tanya Liza kepo.
"Kar —."
"Kita sudah sampai!" ucap Rafael kesal.
Liza langsung menoleh ke samping kiri. Lalu menganggukkan kepalanya. Liza membuka sabuk pengaman. Rafael mendelikan dua matanya ke Edward karena kesal. Edward hanya memasang wajah tak merasa bersalah dan masa bodo dengan kemarahan Rafael. Edward membuka pintu, lalu menutup pintu pintu.
Dasar teman yang tidak beradab.
gerutu Rafael di dalam hati.
"Bang El, terima kasih ya, udah mau mengantarkan aku pulang."
"Hhhmmm," suara Rafael ketus dengan raut wajah yang lempeng.
Dasar manusia bunglon, suka berubah - ubah.
batin Liza.
__ADS_1