Asa Diriku

Asa Diriku
Salahkah Diriku Mencintainya?


__ADS_3

Suasana Cafetaria di tempat kerjanya Liza lumayan ramai saat pagi hari. Seperti biasa kalau Liza tidak sempat membuat sarapan, dia sarapan di cafetaria yang bukanya dua puluh empat jam. Cafetaria itu terletak di lantai dasar gedung IR Group. Liza duduk di kursi yang berhadapan dengan sebuah taman, sebuah jalanan besar yang menuju tempat parkiran mobil dan sebuah jalan khusus pejalan kaki sebagai sarana semua karyawan berlalu lalang.


"Hey!" sapa seorang wanita sambil menepuk pelan bahu kanannya Liza yang membuat Liza terkejut.


Sontak Liza menoleh ke sumber suara, lalu berucap, "Ya ampun Mbak Lusi, bikin kaget aja."


Lusi adalah teman satu kosan dan teman kerja, namun beda divisi. Lusi bekerja di divisi keuangan, sedangkan Liza di divisi produksi. Mereka sering ketemu di kantor dan di kosan. Mbak Lusi sudah lima tahun bekerja. Mbak Lusi merupakan tulang punggung keluarganya. Ayahnya sudah meninggal sejak dia SMA.


"Kamu udah sarapan?" tanya Mbak Lusi sambil menduduki pantatnya di kursi sebelah kanan Liza.


"Udah."


"Eh, kamu udah dengar berita tentang CEO baru kita?"


"Belum."


"Katanya dia itu ganteng banget seperti oppa - oppa Korea. Semua jomblowati seantero kantor lagi mempersiapkan diri untuk acara perkenalan sang CEO baru, termasuk diriku.


"Pantesan hari ini penampilanmu lebih fresh dan lebih rapi dari biasanya. Acaranya nanti kan?" ucap Liza.


"Iya, tepatnya jam delapan pagi. Dia itu masih single. Anak sambungnya Ummi. Dia lulusan Harvard dengan nilai yang sangat memuaskan."


"Ummi big boss kita?"


"Iya."


"Emangnya dia punya anak sambung?"


"Iya. Ummi menikah lagi dengan seorang mualaf setelah suami keduanya meninggal. Yang aku dengar anak sambungnya seagama sama kita."


"Permisi, ini nasi goreng seafoodnya," ucap seorang pramusaji sambil memberikan sebuah piring ke Lusi.


"Terima kasih ya Mbak," ucap Lusi ramah sambil menerima piring itu, lalu pramusaji itu pergi.


"Namanya siapa?" tanya Liza.


"Seingatku ... Ro ... Ra ... Ru ... ah jadi lupa siapa namanya, seingatku inisialnya huruf R," ucap Lusi sambil mengambil garpu.


"Memangnya Pak Ismail jadi kuliah S2 di Mesir?"


"Jadi, makanya jabatan dia di sini diganti sama CEO baru kita. Liz, aku perhatiin muka kamu pucat banget, kamu lagi sakit?" ucap Lusi sambil mengangkat sendoknya.


"Nggak, hanya kecapean aja," kilah Liza yang masih merasakan sakit di seluruh bagian tubuhnya.


"Kamu yakin hanya kecapean?" ucap Lusi sambil mengunyah.


"Iya."


Tululut ... tululut ... tululut ...


Bunyi dering smartphone milik Liza. Liza membuka resleting tasnya, lalu mengambil smartphonenya. Liza melihat nama Rachel di layar smartphonenya. Liza menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan dari Rachel. Liza mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Halo," sapa Liza ramah.


"Liza, ti mana anjeun? Ti kamari repot ngahubungi anjeun. Naha hp anjeun dinonaktifkeun? Abdi hariwang ka anjeun. Isuk-isuk anjeun teu tiasa nelepon. Datang ka imah anjeun. , geus balik ka Jakarta. Naha teu balik tanpa pamit? Geus ngaleungit. Aya naon?" cerocos Rachel.


"Hampura Rachel. Kamari uih ujug-ujug aya pagawean. Waktu harita aing rek pamitan, tapi teu aya hate rek ngahudangkeun maneh," ucap Liza berbohong, sebenarnya Liza pulang karena marah sama dirinya sendiri dan Rafael.


"Tong bohong, ceuk Mang Asep, harita panonna semu semu beureum siga nu ceurik, beungeutna lésot, bulak-balik, sampéan lintuh. Naha aya nu nganyenyeri? Atawa nu murag?" ucap Rachel.


Waduh apa yang harus aku katakan?


batin Liza

__ADS_1


"Liza, jawab!"


"Kuring murag," Liza berbohong.


"Naha teu bébéja? Ti mana ragrag?"


"Di wewengkon kolam renang."


"Kunaon anjeun angkat ka kolam renang isuk-isuk?"


"Ngan keur senang, abdi teu bisa saré waktu éta."


"Naha teu tiasa bobo?"


"Kuring ogé henteu terang."


"Dupi anjeun damang?"


"Enya."


"Anjeun yakin teu nanaon?"


"Sumuhun abdi dear Rachel."


"Teu kunanaon. Tuh, abdi badé damel."


"Enya."


"Bye Liza."


"Bye Rachel."


Sambungan telepon terputus. Liza menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Dia menaruh smartphonenya di tempat semula. Menutup resleting tasnya. Menghela nafas yang panjang untuk menenangkan hatinya yang terluka. Meminum sisa jus alpukatnya. menaruh tali tasnya di pundak kanannya.


"Iya, hati - hati ya Neng cantik," ucap Lusi sambil mengangkat sendoknya yang berisi nasi goreng.


Tak lama kemudian, Liza beranjak berdiri dari kursinya, lalu berjalan menuju lobby gedung IR. Berjalan sambil mengingat kejadian kelam yang menghancurkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Dia tidak ingin bertemu dengan Rafael. Rasanya hati ditusuk belati ketika bertemu dengan Rafael. Dia ingin melupakan Rafael dan menata hatinya yang terluka.


Menembus kerumunan para pegawai yang bekerja di dalam gedung yang sedang berbisik - bisik. Liza tidak mempedulikan apa yang sedang dijadikan bahan omongan mereka. Melangkahkan kakinya menuju lift sambil menundukkan kepalanya. Tak sengaja, Liza menabrak seseorang.


Buk


"Kalau jalan hati - hati!"


Liza menoleh ke sumber suara. Luka di hatinya melebar melihat wajah tampan milik Rafael. Liza melebarkan dua matanya karena terkejut. Tatapan mata saling memaku. Desiran lembut mengalir di setiap pembuluh darahnya Liza. Jantungnya berdetak tak beraturan.


Kenapa aku masih mencintainya?


batin Liza.


Rafael melengos begitu saja tanpa mempedulikan keberadaan Liza. Liza langsung menundukkan kepalanya untuk menghilangkan desiran lembut di dirinya. Melanjutkan langkahnya menuju ke lift sambil menundukkan kepalanya. Sekilas dia mendengar pembicaraan orang - orang di sekitarnya.


"Tuch orang nggak punya sopan santun."


"Iya, masa nggak minta maaf sama CEO baru."


"Kayaknya tuch orang karyawan di perusahaan IR kontruksi."


"Wah, cari masalah aja tuch orang sama bos barunya."


What? Rafael Bos baruku? Apakah dia yang dimaksud dengan CEO baru? Oh My God! Itu tidak mungkin.


batin Liza.

__ADS_1


Liza berlari kecil menuju lift karena luka hatinya membesar sambil menundukkan kepalanya. Berdiri bersama para karyawan lainnya. Bisikan - bisikan orang yang membahas sosoknya Rafael membuat Liza muak dan senang. Perpaduan rasa benci dan cinta menjadi satu. Liza bimbang bagaimana menyikapi masalah hatinya.


Liza mengangkat kepalanya. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan tajam dari Rafael hingga menyalurkan aliran listrik ke saluran darahnya. Liza mematung melihat tatapan matanya Rafael. Rafael menyeringai licik melihat Liza yang mematung.


Ting


Pintu lift terbuka, semua orang masuk ke dalam lift termasuk Rafael dan Liza. Tapi Liza jaga jarak sama Rafael. Lisa memencet angka delapan di dinding lift. Semua mata wanita di dalam lift terpesona melihat sosoknya Rafael. Di lantai dua, pintu lift terbuka, sebagian besar orang keluar dari dalam lift. Hanya tinggal Liza dan Rafael yang berada di dalam lift. Pintu lift tertutup secara otomatis. Seketika suasana menjadi hening.


"Kenapa kamu pulang tidak pamitan?" bisik Rafael yang tiba - tiba berdiri di belakang Liza.


Bulu kuduk Liza merinding karena hembusan nafas dari Rafael di tengkuk lehernya. Liza meremas semua jemarinya sambil menundukkan kepalanya. Desiran lembut datang kembali merayapi relung hatinya Liza. Saat ini, Liza belum bisa mengatasi semua rasa dihatinya.


Rafael menarik perut rampingnya Liza hingga Tubuh mereka berdempetan, lalu berbisik, "jangan sakit hati karena mencintaiku. Biarlah rasa itu mengalir apa adanya. Nikmati rasa itu tanpa berharap ingin memiliki seutuhnya."


"Mengikuti ucapanmu sama aja aku hanyut di dalam permainanmu. Sebaiknya aku tidak mau lagi berada di dalam permainanmu. Tolong lepaskan tanganmu dari tubuhku," ucap Liza pelan tapi tegas.


"Itu semua terserah dirimu," ucap Rafael sambil melepaskan tangannya.


Pintu lift terbuka lebar. Liza dan Rafael keluar dari dalam lift. Semua mata memandang mereka dengan wajah yang penasaran. Para karyawan wanita sedang berbisik - bisik sambil melihat mereka yang sedang berjalan melewati beberapa kubikel. Liza belok ke kiri, ke ruang kerjanya. Sedangkan Rafael belok ke kanan, ke ruangan CEO.


Liza menggeser pintu ruang kerjanya untuk membukanya. Masuk ke dalam ruangannya. Menaruh tas kerjanya di atas meja. Menarik sedikit kursi kerjanya, lalu mendudukinya. Melipatkan dua tangannya di atas meja, lalu menyandarkan kepalanya di atas lipatan tangannya.


"Salahkah diriku mencintainya?" gumam Liza bermonolog.




🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah membaca cerita novel ini 😊. Dukungan darimu sangat berarti bagiku. Beri dukunganmu dengan memberi like, vote, hadiah, bintang lima dan komentarmu 😊.


Translate


Halo \= Hallo


Liza, ti mana anjeun? Ti kamari repot ngahubungi anjeun. Naha hp anjeun dinonaktifkeun? Abdi hariwang ka anjeun. Isuk-isuk anjeun teu tiasa nelepon. Datang ka imah anjeun. , geus balik ka Jakarta. Naha teu balik tanpa pamit? Geus ngaleungit. Aya naon? \= Liza, kamu ke mana aja? Dari kemarin aku hubungi kamu susah banget. Kenapa sich handphone kamu di non aktifkan? Aku khawatir sama kamu. Pagi - pagi udah menghilang aja, diteleponin nggak bisa - bisa. Datangi ke rumahmu, kamu udah pulang ke Jakarta. Kenapa sih kamu pulang nggak pamitan? Menghilang begitu aja. Ada apa sich?


Hampura Rachel. Kamari uih ujug-ujug aya pagawean. Waktu harita aing rek pamitan, tapi teu aya hate rek ngahudangkeun maneh \= Maaf Rachel. Kemarin aku pulang mendadak karena aku ada urusan kerjaan yang harus aku selesaikan. Waktu itu aku mau pamitan, tapi tidak tega membangunkan dirimu.


Tong bohong, ceuk Mang Asep, harita panonna semu semu beureum siga nu ceurik, beungeutna lésot, bulak-balik, sampéan lintuh. Naha aya nu nganyenyeri? Atawa nu murag? \= Kamu jangan bohong, kata Mang Asep, waktu itu mata kamu sembab dan merah seperti habis menangis, wajahmu lesu dan pucat dan langkah kakimu tertatih. Ada yang menyakiti dirimu? Atau kamu terjatuh?


Kuring murag \= Aku terjatuh.


Naha teu bébéja? Ti mana ragrag? \= Kenapa kamu nggak bilang ke aku? Kamu terjatuh di mana?


Di wewengkon kolam renang \= Di area kolam renang.


Kunaon anjeun angkat ka kolam renang isuk-isuk? \= Ngapain kamu dini hari ke kolam renang?


Ngan keur senang, abdi teu bisa saré waktu éta \= Iseng aja, waktu itu aku tidak bisa tidur.


Naha teu tiasa bobo? \= Kenapa kamu tidak bisa tidur?


Kuring ogé henteu terang \= Aku juga tidak tahu.


Dupi anjeun damang? \= Kamu baik - baik aja kan?


Enya \= Iya.


Anjeun yakin teu nanaon? \= Kamu yakin baik - baik aja?


Sumuhun abdi dear Rachel \= Iya Rachelku sayang.

__ADS_1


Teu kunanaon. Tuh, abdi badé damel \= Ya udah kalo begitu. Udah dulu ya, aku mau berangkat kerja.


__ADS_2