
Di like ya guys 😁
Di vote ya guys 😁
Di komen ya guys 😁
Happy reading 🤗
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Liza duduk di depan cermin melihat wajahnya yang sudah dirias oleh dirinya sendiri sambil mendengar suara - suara sensual yang berasal dari kamar sebelahnya. Dengan make up natural yang mempertajam kecantikan pada wajahnya Liza. Rambut panjangnya diuraikan begitu saja. Dia mengerutkan dahinya karena dari tadi sejak dia bangun tidur, dia mendengar suara - suara ******* dan lenguhan.
"Apa yang telah terjadi di kamar sebelah? Ehm ... mungkin si Bang El lagi **** - ****, malas ah ke sana, nanti aku di apa - apain lagi. Tapi kalau dibiarkan, kapan pergi ke Malangnya? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" gumam Liza bermonolog.
Liza beranjak berdiri dari kursi meja hias. Melangkahkan kakinya ke nakas yang berada di samping kanan tempat tidur untuk mengambil tas merahnya tanpa menghiraukan suara - suara yang mengganggu indera pendengarannya. Mengambil tasnya yang bermerek LV. Melanjutkan langkahnya ke pintu kamarnya, membuka kunci pintu kamar. Seketika suara - suara itu tidak terdengar lagi.
"Sepertinya udah berhenti dia bermain sendiri," ujar Liza sambil menekan handle pintu kamar, lalu menariknya untuk membuka pintu.
Keluar dari kamar, lalu melanjutkan langkahnya ke kamar sebelah untuk mengingatkan jadwal kerja mereka. Dengan ragu, Liza mengetuk pintu kamar yang dibooking oleh Rafael. Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Liza menghela nafas panjang berulang kali. Samar - samar Liza mendengar kunci pintu kamar dibuka, lalu perlahan pintu kamar terbuka. Liza terkejut melihat sosok Clarisa yang membukakan pintu kamar yang hanya memakai bathrobe hotel.
Luka hatinya yang belum sembuh, terbuka lagi. Hatinya sangat perih mengetahui kejadian yang tidak mengenakan dirinya. Bagaikan luka yang disiram oleh air garam. Namun dia harus bersikap profesional karena dia sedang berada di dalam agenda kunjungan kerja untuk melihat perkembangan proyek pembangunan apartemen dan perumahan. Liza menelan salivanya berulang kali untuk menahan rasa sakit yang menyayat hatinya. Menarik nafas dalam - dalam lalu menghembuskannya secara perlahan beberapa kali untuk mengatur rasa sakitnya.
Aku harus kuat, tidak boleh menangis.
Batin Liza.
Kenapa Liza seperti itu? Apakah karena dia terkejut melihat penampilan diriku?
Batin Clarisa.
"Ada apa Liz?" tanya Clarisa yang ramah.
"Ehm ... Pak Rafael ada?"
"Ada, tapi dia lagi mandi, emangnya ada apa?"
"Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kunjungan kerja ke Malang jam sembilan pagi."
"Dia ingat kok. Oh ya Liz, kamu jangan kaget ya melihat aku seperti ini. Aku sama Rafael sering melakukan hubungan intim untuk memenuhi kebutuhan biologis kami. Jadi jangan heran ya," ucap Clarisa dengan sopan sambil menutup pintu, berjalan keluar dari dalam kamar.
"Iya Bu," ucap Liza pelan sambil membalikkan badannya.
"Jangan panggil saya Bu, panggil aja Mbak. Sama saya jangan formal, anggap saja saya Mbakmu," ucap Clarisa sambil berjalan menuju sofa panjang.
"Iya Mbak," ucap Liza sambil berdiri mematung.
"Kamu duduk sini, temani aku ngobrol," ucap Clarisa sambil menepuk sofa bagian samping kirinya, lalu Liza mengikuti ucapan Clarisa.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, Mbak teman kuliahnya Pak Rafael?" ucap Liza sambil menoleh ke Clarisa dan duduk di samping kirinya Clarisa.
"Iya, kami dulu kuliah di Harvard, kalau kamu kuliah di mana?" ucap Clarisa sambil menoleh ke Liza.
"Di ITB."
"Jurusan apa?"
"Arsitektur."
"Wah hebat kamu. Kamu arsitek yang bekerja di perusahaan IR Design And Contractor ya?"
"Iya Mbak."
"Kamu kenal Aisya?"
"Nggak, emang siapa Aisya?"
"Dia arsitektur juga di situ. Dulu dia pacarnya El."
Kok dia tahu tentang Aisya.
Batin Liza.
"Setahu saya tidak ada arsitektur yang bernama Aisya di sana."
"Berarti dia sudah resign. Tapi aku perhatikan, kamu mirip sama Aisya," ujar Clarisa.
"Matanya, hidungnya dan sama - sama arsitek. Oh ya, kalau Vina siapa ya?"
"Vina pacar barunya Pak Rafael Mbak."
"Sejak kapan dia punya hubungan serius sama cewek setelah putus dari Aisya?"
"Kalau soal itu saya tidak tahu Mbak. Sebaiknya Mbak tanya langsung aja sama Pak Rafael."
"Nggak ah, sejak dia putus dari Aisya, dia suka marah kalau ditanya soal urusan pribadinya. Oh ya, kamu pertama kali kenal Rafael di mana?"
"Di mall."
"Ngapain dia di mall?"
"Dia lagi anterin adiknya ke mall, kebetulan saya adalah salah satu sahabat adiknya."
"Yang namanya Rachel atau yang namanya Maryam?"
"Yang namanya Rachel."
__ADS_1
"Ekhmmm, kalian telah membicarakan diriku," ucap Rafael datar yang tiba - tiba sedang berjalan di hadapan mereka
"Hehehe, wajarlah para wanita membicarakan seorang pria yang tampan seperti dirimu," ucap Clarisa dengan nada suara yang menggoda sambil beranjak berdiri dari sofa, lalu berjalan menghampiri Rafael.
Ketika Clarisa berada di depan Rafael dengan jarak yang sangat dekat, Clarisa langsung ******* bibirnya Rafael dengan lembut sambil mengalungkan dua tangannya di leher kokohnya Rafael. Rafael mengikuti alur gaya ciuman Clarisa yang lembut tapi menghanyutkan sambil meremas bokongnya Clarisa yang sintal. Sontak Liza menundukkan kepalanya karena itu menyakiti hatinya.
"Aku berangkat kerja dulu, uangmu nanti aku transfer," ucap Rafael setelah melepaskan ciumannya.
"Ok sayangku. Apakah nanti malam kamu perlu aku temani lagi?" ucap Clarisa dengan nada suara yang manja sambil meraba dada bidangnya Rafael.
"Jika perlu, aku menghubungimu," ucap Rafael sambil menjauhkan tangannya dari bokongnya Clarisa.
"Baiklah, tapi aku berharap kamu menghubungiku," ucap Rafael sambil melepaskan dua tangannya dari dadanya Rafael.
"Kita lihat saja nanti," ucap Rafael sambil berjalan ke meja kerja. "Oh ya nanti kuncinya titipin ke resepsionis hotel aja ya," ucap Rafael sambil mengambil tas kerjanya.
"Ok."
"Ayo Liz!" ajak Rafael.
Liza mendongakkan kepalanya. Dia melihat Rafael sedang menatap tajam ke arahnya. Sontak Liza berdiri dari sofa, lalu mengambil lima buah drafting tube dan tas laptopnya. Tak lama kemudian Rafael berjalan ke pintu keluar ruangan presidential suite. Liza berjalan menghampiri Clarisa sambil membawa perlengkapan kerjanya.
"Mbak, aku pergi dulu ya," pamit Liza dengan sopan.
"Iya, hati - hati."
Tak lama kemudian, Liza mengikuti langkahnya Rafael. Rafael dan Liza keluar dari ruangan. Liza melambaikan tangannya ke Clarisa yang sedang berdiri di ambang pintu sambil memegang handle pintu. Clarisa membalasnya sambil tersenyum manis. Liza membalas senyuman Clarisa.
"Ayo cepatan!" ucap Rafael sambil menoleh ke Liza.
"Iya Pak."
Tak lama kemudian, Liza berjalan di belakang Rafael setelah pintu Presidential suite ditutup oleh Clarisa. Mereka berjalan menyusuri lorong hotel yang merupakan tempat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Derap langkahnya Rafael menggema di setiap koridor seperti langkahnya tentara. Liza berjalan sambil menundukkan kepalanya karena dia sedang menahan perasaan sedihnya. Mendadak Rafael menghentikan langkahnya sehingga Liza menabrak punggungnya Rafael.
Bug
"Aauuwww!" pekik Liza.
Rafael membalikkan badannya sehingga mereka saling berhadapan. Liza mengangkat wajahnya. Tatapan mata mereka bertemu saling memaku. Liza berulang kali menelan salivanya melihat tatapan mata tajam dari Rafael. Rafael menarik tengkuk lehernya Liza, lalu ******* bibir ranumnya Liza dengan lembut. Liza tidak merespon serangan mendadak dari Rafael dan dia pasrah menerima perlakuan dari Rafael.
Rafael melepaskan ciumannya, lalu berucap, "Kenapa kamu tidak merespon ciumanku? Kamu marah padaku?"
"Iya," ucap Liza tegas.
"Kenapa kamu marah padaku?"
"Karena kamu selingkuh. Aku kasihan sama Vina, dia terjebak masuk ke dalam mulut buaya buntung macam kamu."
__ADS_1
"Asal kamu tahu, kami bersepakat jika kita bebas melakukan hubungan intim sama siapa aja asalkan pakai alat pengaman walaupun kami sepasang kekasih," ucap Rafael ketus.
"Oh ya!? Kamu benar - benar penjahat kelamin!"