Asa Diriku

Asa Diriku
Pernikahan Yang Menyedihkan


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading 🤗


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Setiap impian wanita pasti menginginkan sebut pernikahan yang berdasarkan atas saling mencintai. Begitu juga dengan Liza. Dia menginginkan sebuah pernikahan yang didasari oleh rasa cinta. Seperti terikatnya ikrar janji suci sepasang kekasih yang saling mencintai dihadapan Tuhan. Begitu juga dengan Liza. Liza tidak menginginkan pesta pernikahan yang mewah yang meriah dan memiliki seorang suami yang kaya raya. Tapi dia menginginkan seorang suami yang mencintainya dan dia mencintai suaminya. Tapi, takdir berkata lain. Dia harus ikhlas menerima suratan takdir yang tidak sesuai dengan impiannya.


Liza duduk di depan Rafael yang sekarang sudah sah menjadi suaminya setelah mengucapkan ikrar janji suci pernikahan mereka di salah satu gereja Katedral. Hari ini Liza terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pernikahan yang sangat elegan berwarna putih gading dengan potongan off shoulder hasil rancangan salah satu desainer terkenal di Indonesia. Polesan make up bernuansa golden bronze di wajahnya merupakan hasil karya make up artists profesional dan terkenal. Tatanan rambutnya diberikan sentuhan shoelace braids yang dihiasi dengan bunga - bunga kecil.


Sosok Fernandez yang terlihat sangat tampan dengan memakai setelan jas tuxedo. Wajahnya Fernandez nampak sangat santai dan bahagia. Bahagia karena dia sedang mengadakan private party di villanya di sebuah pulau pribadi milik papinya yang berada di kepulauan paling utara di area kota Jakarta. Di dalam pesta itu dia dilayani oleh satu wanita panggilan dan Regina. Rafael diapit oleh Regina dan wanita panggilan itu.


"Yang, nanti habis pesta ini, aku tidak bisa menikmati tubuh kamu lagi dong," ujar Regina dengan nada suara yang manja sambil membelai dada bidangnya Rafael.


"Masih bisa asalkan kamu mau," ucap Rafael santai tanpa mempedulikan perasaan Liza.


Serendah itukah diriku sebagai seorang istri di matanya Rafael?


batin Julia.


Hatinya tercabik - cabik dan dadanya Liza sesak seperti kehabisan oksigen. Dia sangat sedih mendengar ucapan Rafael dan Regina. Ucapan mereka bagaikan belati yang tajam menghunus jantungnya Liza. Tidak ada harga dirinya sebagai seorang istri. Dia tidak habis pikir dengan perlakuan Rafael terhadap dirinya. Sungguh tidak sangat berarti dirinya di hadapan Rafael walaupun dia sudah menjadi istri sahnya Rafael. Liza menahan rasa sedih dan kesal yang bergemuruh di hatinya.


"Ih kamu, bisa aja," kata Regina dengan nada suara yang sensual.


"El, kamu jangan begitu," samber Clarisa.


"Dia sama seperti yang lain, tidak ada yang spesial bagiku," ucap Rafael datar sambil menatap Liza dengan sinis.


"Kalau tidak spesial bagi kamu, kenapa kamu menikahinya?" tanya Clarisa.


"Karena dia mengandung anakku. Awalnya aku hanya ingin membiayai semua keperluan anak itu, tapi Mami dan Papiku memaksaku untuk menikahinya. Mereka menginginkan anak itu memiliki status yang jelas di negara ini."


"Apakah kamu nanti ingin menyentuhnya lagi?" ucap Regina dengan nada suara yang manja.

__ADS_1


"Tergantung mood, jika aku menginginkan dia sebagai pemuas nafsuku, aku akan menyentuhnya," jawab Rafael santai.


"Tapi yang aku dengar, jika sedang hamil tidak boleh berhubungan intim dulu," ucap Regina.


"Boleh, asalkan jangan terlalu sering melakukannya," ucap Rafael, lalu dia ******* bibirnya Regina.


Benar yang aku duga. Selama pernikahan ini, aku hanya dijadikan boneka **** baginya.


Batin Liza.


"Bang El, aku capek, mau mau ke kamar dulu," ucap Liza sambil beranjak berdiri.


Rafael tidak mempedulikan ucapan Liza, dia malah asik bercumbu dengan Regina dan menikmati sentuhan dari wanita panggilan itu. Clarisa hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat kelakuan Rafael. Liza menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis ke Clarisa sebagai tanda pamit mengundurkan diri dari sana. Clarisa membalas senyuman Liza.


Sebenarnya Liza sangat kecewa, sedih dan sudah jengah mendengar ucapan mereka yang menyudutkan dirinya sebagai seorang istri yang sah. Daripada dia terus berada di sini membuat batinnya terluka dan tersiksa lagi, lebih baik dia menghindar dari mereka. Liza melangkahkan kakinya ke kamarnya. Regina menatap sinis melihat kepergian Liza.


Akhirnya aku berhasil membuat Liza sakit hati. Aku akan terus membuat dia sakit hati sehingga dia mengalami stress dan preeclampsia. Dengan begitu, bayi ataupun dia bisa meninggal tanpa aku bunuh.


Batin Regina.


Tak sengaja, Liza melihat pemandangan laut yang indah dari dalam kamar. Dia melanjutkan langkahnya keluar dari kamar melewati pintu balkon kamarnya yang sudah terbuka. Ternyata balkon kamarnya dijadikan satu dengan balkon ruangan yang dijadikan tempat pesta. Sungguh sebuah pemandangan yang menenangkan bagi Liza. Menghirup udara yang lumayan sejuk, lalu membuangnya dengan perlahan. Birunya air laut yang tenang mampu menyejukkan hatinya Liza.


"Liza?" ucap Clarisa sambil berjalan menghampiri Liza.


Liza menoleh ke Clarisa, lalu berucap, "Iya Kak."


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Clarisa yang melihat Liza sedang membalikkan badannya.


Liza duduk di tembok balkon sambil menundukkan kepalanya, lalu berkata dengan suara yang pelan, "Lagi menenangkan hati."


"Kamu harus sabar menghadapi kelakuan Rafael jika kamu ingin rumah tangga kamu langgeng."


"Iya Kak."


"Jujur aja ya Liz, waktu saya dikasih tau kalau Rafael menikah, saya kaget banget. Ternyata ada seorang wanita yang bisa menaklukkan hatinya selain Aisya. Tapi nyatanya seperti ini. Kalau boleh tahu, kenapa kamu bisa hamil sama dia?"


Liza mengangkat wajahnya, lalu berucap, "Itu karena kebodohan saya yang mau diajakin berhubungan intim sama dia."

__ADS_1


"Apakah kamu mencintainya?"


"Iya."


"Apakah sekarang kamu masih mencintainya?"


"Iya."


"Saya yakin rumah tangga kalian langgeng jika kamu sabar menghadapi kelakuan Rafael. Sabar menghasilkan sesuatu yang berharga di dalam hidup kita," ucap Clarisa lembut.


"Aku juga yakin hal itu."


"Hey rupanya kalian di sini," ucap Edward yang tiba - tiba ada di ambang pintu ruang pesta yang membuat Clarisa dan Liza menoleh ke Edward. "Ayo masuk ke dalam. Kue dan cocktailnya udah jadi."


"Ayo kita ke sana!" ajak Clarisa sambil menoleh ke Liza.


"Kamu aja duluan, aku ganti baju dulu."


"Ok," ucap Clarisa, lalu dia melangkah kakinya masuk ke dalam ruang pesta.


"Liza, kamu lihat Rafael nggak?" tanya Edward.


"Tadi dia lagi di ruang pesta," jawab Liza.


"Dia nggak ada di sini."


"Nanti aku cariin."


"Emangnya dia nggak ada di dalam kamar?"


"Nggak ada."


"Ya udah, biar aku yang cariin dia," ucap Edward, lalu dia masuk ke dalam ruang pesta.


Tak lama kemudian, Liza melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya. Menutup pintu balkon, lalu menguncinya. Samar - samar dia mendengar suara - suara ******* beberapa orang di kamar sebelah. Liza berhenti sebentar untuk mempertajam pendengarannya. Dia mengerutkan keningnya karena mendengar suaranya Rafael yang sedang mendesah. Liza menghampiri tembok yang sebagai pembatas antar kamar. Menempelkan daun telinga kanannya ke tembok. Dia menggeleng - gelengkan kepalanya setelah yakin bahwa salah satu suara yang dia dengar adalah suaranya Rafael.


"Pernikahan yang menyedihkan."

__ADS_1


__ADS_2