
I don't wanna fight no more
I don't wanna hide no more
I don't wanna cry no more
Come back I need you to hold me (you are the reason)
Be a little closer now
Just a little closer now
Come a little closer
I need you to hold me tonight
I'd climb every mountain
And swim every ocean
Just to be with you
And fix what I've broken
'Cause I need you to see
That you are the reason
"Wahhh ... keren banget kamu suaranya Aisyah," puji Liza setelah mendengar suara Aisyah saat berkarokean di apartemennya Rafael.
"Suara kamu juga bagus Liz," puji Aisyah sambil menaruh microphone di atas meja ruang keluarga.
"Ai memang jago nyanyi," ucap Rafael senang yang tiba - tiba datang menghampiri mereka bersama Regina.
Aisyah dan Liza menoleh ke Rafael yang sedang tersenyum manis ke Aisyah. Aisyah memalingkan mukanya saat dia bertatapan dengan Rafael. Rafael dan Regina duduk di sofa sebelah kanan sofa yang diduduki oleh Aisyah dan Liza. Aisyah langsung menundukkan kepalanya. Rafael menatap dirinya. Liza melihat wajahnya Regina yang bete dan wajahnya Rafael yang mengeluarkan aura kebahagiaan. Liza baru menyadari bahwa Aisyah menundukkan kepalanya jika
Kenapa Aisyah menundukkan kepalanya jika Rafael menatap dirinya?
Batin Liza.
"Kalian lagi karokean?" tanya Rafael.
"Iya. Aisyah mau nyanyi apa lagi? Atau kita nyanyi berdua lagi?" ucap Liza sambil mengambil microphone.
"Liz, dari tadi kan kita karokean, sebaiknya sekarang kamu bahas soal undangan sama Rafael," ucap Aisyah sambil menoleh ke Liza.
"Oh iya, mumpung orangnya ada di sini," ucap Liza sambil menaruh mic, lalu mengambil beberapa contoh undangan di atas meja.
"Undangan apa?' tanya Rafael.
"Undangan resepsi pernikahan kalian," celetuk Aisyah.
"Ini beberapa contohnya yang aku pilih, Bang El yang menentukan mana yang cocok untuk undangan resepsi pernikahan kita," ucap Liza sambil memberikan beberapa undangan ke Rafael.
Rafael menerimanya, lalu berucap, "Menurut Ai mana yang cocok?"
Kok Bang El menanyakan hal itu ke Aisyah bukan ke aku?
Batin Liza
"Yang tahu mana yang cocok itu kalian bukan aku, karena resepsi pernikahan itu milik kalian," ucap Aisyah sopan.
Regina menyenderkan bahu kirinya ke bahu kanannya Rafael dengan manja, lalu berucap, "Contohnya nggak ada yang bagus semua."
"Tolong hargai pilihan Liza," ucap Aisyah tegas sambil menoleh ke Regina.
__ADS_1
Rafael langsung mengikut pinggangnya Regina sambil melihat - lihat beberapa contoh undangan. Namun Regina tidak menggubrisnya, dia malah mengelus - ngelus paha kanannya Rafael. Kelakuan Regina membuat luka hatinya Liza yang belum kering, terluka lagi. Aisyah merasa eneg melihat kelakuan Regina. Regina tersenyum meledek ke Liza dan Aisyah.
"Hey Regina! Tolong hargai perasaan Liza dong!" gertak Aisyah sambil melihat Regina mengelus bagian sensitif Rafael.
"Hey, asal kamu tahu ya, kami sering bermesraan di depan Liza dan Liza biasa aja. Kok malah kamu yang sewot! Emangnya kamu siapanya Rafael!?" ucap Regina kesal.
"Dasar wanita tak punya hati!" umpat Aisyah.
"Hah!? Yang tak punya hati tuch Liza, dia telah merebut pacarku!"
Rafael langsung menoleh ke Aisyah dengan raut wajah yang bingung sambil memegang dua undangan. Aisyah mendengus kesal melihat reaksi Rafael yang tidak menganggap hal itu telah melukai hatinya Liza. Aisyah menoleh ke Liza yang sedang menahan air matanya agar tidak mengalir sambil menundukkan kepalanya.
"Liz, aku pamit pulang ya," ucap Aisyah sopan sambil mengusap punggungnya Liza agar Liza tetap sabar.
"Iya," lirih Liza tanpa menoleh ke Aisyah.
"Kenapa kamu pulang?" tanya Rafael bingung.
Aisyah tidak menanggapi pertanyaan Rafael. Aisyah beranjak berdiri, lalu berjalan ke arah pintu lift tanpa berpamitan sama Regina dan Rafael. Rafael melihat sosoknya Aisyah yang sedang berjalan ke lift dengan tatapan mata yang bingung. Rafael menoleh ke Regina yang sedang mengelus area kejantanannya. Rafael langsung menepis tangan kirinya Regina dengan kasar. Rafael langsung berdiri, lalu berlari kecil menyusul Aisyah.
"Kasihan sekali kamu, tidak akan pernah dianggap sebagai istri sama Rafael," ucap Regina dengan nada suara yang meledek.
Liza tidak menanggapi ocehan Regina yang telah menambahkan luka di hatinya. Liza beranjak berdiri, lalu berjalan lunglai ke pantry untuk mencari sesuatu yang bisa menguatkan dirinya. Sedangkan Rafael mengejar Aisyah yang sedang memasuki lift. Dengan gerakan cepat, Rafael masuk ke dalam lift sehingga dia Aisyah berada di dalam lift. Pintu lift otomatis tertutup. Aisyah sedikit terkejut melihat Rafael berada di samping kirinya.
"Ngapain kamu mengikuti diriku?" tanya Aisyah sinis
"Aku ingin minta penjelasan dari kamu," jawab Rafael.
"Penjelasan tentang apa?"
"Kenapa kamu tiba - tiba pulang? Apakah kamu cemburu sama Regina?"
"Hey! Manusia tak punya hati! Aku tidak cemburu! Aku hanya nggak suka melihat seorang suami yang tidak menghargai perasaan istrinya!"
"Astaghfirullah, bagaimana ini?" ucap Aisyah panik setelah lift tiba - tiba berhenti dan lampu lift padam sambil memeluk dirinya sendiri.
"Kamu tenang aja, nanti ada orang yang menolong kita," ucap Rafael sambil memencet tombol darurat di dinding lift.
"Semoga kita secepat mungkin mendapatkan pertolongan," ucap Aisyah.
"Aku tidak mencintai dirinya."
"Walaupun kamu tidak mencintainya dan terpaksa menikahinya, kamu tetap harus menghargai dirinya. Dan ini yang kedua kalinya aku bilang, aku harus belajar mencintai dirinya demi anak kalian, masa depan rumah tangga kalian dan kehidupan rumah tangga kalian."
"Aku tidak menginginkan hal itu bersama Liza."
Aisyah mengerutkan dahinya, lalu berucap, "Kok kamu ngomong begitu sich?"
"Karena aku menginginkan hal itu bersama kamu."
"Hey Rafael sadar! Dan perlu diingat lagi! Dulu cinta kita tidak layak untuk dipertahankan! Dan aku tidak mau kamu pindah agama karena diriku! Nggak usah bahas yang sudah berlalu! Dan satu lagi, kita sama - sama sudah menikah!"
"Tapi aku yakin suatu saat nanti kita seperti Ummi dan Papi."
"What!? Hey! Takdir setiap orang berbeda - beda!"
"Kita lihat aja nanti."
"Huh ...!"
"Kamu merasa panas nggak?" tanya Rafael sambil merasakan buliran - buliran keringat yang membasahi tubuhnya
"Nggak!" jawab Aisyah ketus.
"Kok sejak kita berpisah, kamu sering jutek sama aku?"
__ADS_1
"Pikir aja sendiri! Nich orang pada ke mana ya?"
"Santai aja, nanti juga ditolong."
"Aku sudah nggak nyaman berada di sini!"
"Dibikin nyaman aja."
"Kalau teori gampang, prakteknya yang susah."
"Kenapa kamu nggak nyaman berada di sini?"
"Karena kita berduaan di dalam lift dalam waktu yang cukup lama! Aku tidak mau keadaan seperti ini dijadikan fitnah!"
"Jangan pikirin omongan orang lain, yang penting kita tidak melakukan hal - hal yang tak senonoh."
"Aku ingin menjaga nama baik diriku, suamiku dan keluargaku! Walaupun kita tidak melakukan hal - hal seperti itu, tapi ada aja orang lain yang berpikir hal - hal negatif tentang kejadian ini."
"Jangan berprasangka buruk dulu sama orang lain, tidak baik."
"Huh ...."
Pintu lift terbuka setengah. Ada seorang yang membuka pintu lift dengan menggunakan beberapa alat. Aisyah langsung berjongkok untuk mencari jalan keluar dari dalam lift yang mati. Ada celah sedikit yang terbuka sehingga Aisyah tidak bisa melihat dengan leluasa. Rafael hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat kelakuan Aisyah yang sedang panik.
"Tuan! Nyonya! Kalian baik - baik saja?" teriak seseorang dari luar lift.
"Alhamdulillah," ucap Aisyah.
"Iya, tolong cepatan bukain liftnya!" pekik Rafael.
"Pintu lift ya hanya bisa kebuka segini Nyonya. Anda merangkak, terus turun dari lift. Di bawah pintu lift ada tangga, nanti saya arahi cara turunnya Nyonya!"
Rafael ikutan berjongkok di sebelah kanan Aisyah, lalu berucap, "Kamu siapa?"
"Saya Heru Tuan."
"Tangganya berada di sebelah mana Her?"
"Di sebelah kanan pintu lift Tuan."
"Kamu duluan yang keluar," ucap Rafael lembut sambil menatap wajah Aisyah yang panik.
"Bagaimana caranya?" ucap Aisyah yang masih panik.
"Heru, tolong arahi cara keluar dari sini."
"Iya."
"Sekarang!"
"Tuan melangkah ke ujung samping kanan. Lalu merangkak mundur sampai turun dari lift. Nanti kalau kaki Tuan sudah keluar, saya arahi kaki Tuan ke anak tangga yang paling atas."
"Kamu lakukan apa yang dikatakan Heru," ucap Rafael lembut agar Aisyah tenang.
"Baiklah. Bismillahirrahmanirrahim."
"Heru, yang duluan turun Nyonya Aisyah, tolong jagain Nyonya Aisyah, jangan sampai dia terjatuh!"
"Iya Tuan."
"Hati - hati ya Ai."
Aisyah menganggukkan kepalanya untuk merespon ucapan Rafael. Tak lama kemudian, Aisyah membalikkan badannya. Aisyah menengkurapkan badannya, lalu menggerakkan badannya mundur hingga separuh badannya keluar dari pintu lift. Lambat laun, Aisyah keluar dari dalam lift yang mati. Rafael tersenyum senang melihat Aisyah berhasil keluar dari dalam lift dengan selamat.
"Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada dirimu Ai karena kamu adalah alasan diriku untuk menjalankan hidup ini," gumam Rafael.
__ADS_1