
Liza melihat keramaian di ruang keluarga penthousenya Rafael sambil membawa dua gelas susu. Keramaian yang diciptakan oleh adiknya Rafael yang bernama Maryam. Liza tersenyum manis melihat kedekatan antara Rafael dengan Maryam yang berjarak dua puluh empat tahun. Dengan manjanya, Maryam duduk di atas pangkuan Rafael yang sedang bercerita tentang Oliver Twist.
"I won't allow it," ucap Rafael yang membacakan salah satu kalimat di dalam cerita dengan suara yang besar.
"Time to drink milk," ucap Liza lembut sambil memberikan satu gelas susu ke Maryam, lalu duduk di depan mereka.
"Thank you my sister," ucap Maryam riang sambil menerima gelas susu itu.
"Drink the milk until it runs out so that it grows quickly," ucap Rafael ketika melihat Maryam sedang minum susunya
"Bang El, why don't you drink milk?" tanya Maryam sambil memberikan gelas kosong ke Liza.
"Bang El will be in the room drinking the milk."
"Bang El, don't say that in front of children," celetuk Liza sambil beranjak berdiri.
"So what? Is something wrong? Is it wrong if Bang El drinks his milk in the room, I also like to drink milk in the room," ucap Maryam polos.
"Let's go to sleep honey, before going to bed, brush your teeth first, okay," ucap Irene yang tiba - tiba datang menghampiri mereka.
"Yes Mi."
"Have you said thank you to Bang El and Sister Liza?"
"Hehehe, not yet. Thank you Bang El and Sister Liza for everything.
"Your welcome," ucap Rafael dan Liza kompak.
Tak lama kemudian, Maryam beranjak berdiri. Tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya ke Rafael dan ke Liza secara bergantian. Rafael dan Liza membalas tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya ke Maryam. Lalu Irene dan Maryam melangkahkan kakinya ke kamar tamu yang berada di lantai atas.
"Rafael, kapan pihak kedutaan Spanyol selesai mengontrak rumah yang berada di permata hijau?" tanya Rogen serius sambil memegang iPad.
"Lusa Pi."
"Berarti rumah itu bisa dipakai untuk keluarga besar Papi. Kamu sudah memberi tahu kepada mereka tentang kamu tidak mau mengadakan pesta pernikahan Batak?"
"Sudah Pi."
"Mereka mengerti sama alasanmu?"
"Iya Pi."
"Liza, kalau Ibu dan keluargamu mengerti alasan kamu untuk tidak mengadakan acara pesta pernikahan Batak?" ucap Rogen sambil menoleh ke Liza.
"Mereka memakluminya Pi."
"Oh ya mulai besok, keamanan di sini diperketat dan jumlah pengawal maupun petugas keamanan diperbanyak. Dan setelah pesta kalian tinggal di rumah baru. Papi belikan rumah baru kalian di daerah Darmawangsa."
__ADS_1
"Terima kasih Pi, tapi untuk apa petugas keamanan diperbanyak?" tanya Rafael menyelidik.
"Sekarang saingan bisnis Papi sudah bertambah, jadi petugas keamanan untuk kalian ditambah," ucap Rogen berbohong karena dia tidak mau jika Rafael tahu tentang ancaman seseorang.
"Tapi kan Rafael bisa menjaga diri dan keluarga Rafael tanpa harus ada tambahan petugas keamanan," bantah Rafael.
"Ikuti aja keinginan Papi," ucap Rogen sedikit menekan. "Oh ya Liz, besok kamu belanja semua perabotan untuk rumah baru kalian, nanti kamu ditemani sama Ummi. Berangkatnya jam sembilan," lanjut Rogen.
"Iya Pi, terima kasih banyak," ucap Liza sopan.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Smartphone milik Liza berdering. Dia menaruh dua gelas di atas meja yang berada di depannya, lalu mengambil smartphonenya. Sekilas dia melihat nama Tante Magdalena yang tertera di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan itu. Mendapatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo, Aya naon?"
"Dupi anjeun ngagaduhan uleman kawinan kanggo kulawarga Mami?"
"Enya, isukan bakal dikirim."
“Teu kedah dikintun, énjing Mami, Érika sareng Immanuel badé kadinya, kitu ogé transaksi mésér saham Immanuel. Hatur nuhun Liza, Rafael ahirna hoyong mésér."
“Enya atuh. Jam sabaraha anjeun ka dieu?" ucap Liza sambil melihat Rafael sedang membawa dua gelas kosong yang tadi dia taruh di atas meja.
"Tabuh v5 isuk-isuk."
"Bye."
Tak lama kemudian, Liza menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Berdiri, lalu berjalan ke dapur. Dia melihat Rafael sedang minum air. Liza berjalan menghampiri Rafael. Berdiri di samping kirinya Rafael.
"Kami jadi beli sahamnya Immanuel?" tanya Liza sambil menoleh ke Rafael.
"Iya," ucap Rafael sambil menaruh gelas di atas meja kitchen set.
Apakah dia membeli sahamnya Immanuel karena diriku?
Batin Liza.
"Memangnya kenapa kalau aku membelinya?" tanya Rafael sambil menoleh ke Liza yang sedang terpana melihat Rafael.
"Kenapa kamu membelinya?"
"Karena prospek perusahaan keluarganya bagus. Aku heran kenapa Immanuel menjual sahamnya."
"Yang aku tahu, dia ingin mendirikan perusahaan sendiri."
"Dia mau bangun perusahaan apa?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu."
"Kita tidur, besok pagi aku harus ketemuan sama Immanuel."
Tak lama kemudian, Rafael melangkahkan kakinya ke kamar mereka. Liza mengikuti langkahnya Immanuel. Melewati pintu kamar, Liza menutup pintu setelah mereka masuk ke dalam kamar. Pintu kamar otomatis terkunci setelah ditutup. Liza melangkahkan kakinya ke ranjang. Mengambil bantal dan guling. Rafael bingung melihat Liza mengambil bantal dan guling.
"Kamu ngapain ngambil bantal dan guling!"
"Aku mau tidur di sofa," ucap Liza sambil berjalan ke sofa panjang.
"Ngapain juga kamu tidur di sofa?"
"Aku tidak mau tidur satu ranjang sama kamu lagi," ucap Liza sambil menaruh bantal dan guling.
"Benarkah?" ucap Rafael dengan nada suara yang meledek sambil beranjak berdiri dari tempat tidur.
"Iya," jawab Liza sambil merebahkan badannya.
"Kenapa kamu tidak mau lagi?" ucap Rafael sambil berjalan menghampiri Liza.
"Yah nggak mau aja," ucap Liza ketus.
"Jawaban yang tidak memuaskan. Aku yakin, kamu tidak mau tidur samaku karena kamu cemburu sama Aisyah?"
"Nggak juga."
"Berarti iya," ucap Rafael sambil menduduki tubuhnya dekat Liza.
"Kamu ngapain duduk di sini?" tanya Liza sambil beringsut ke sandaran sofa.
"Mau tidur sama kamu," ucap Liza sambil merebahkan tubuhnya di samping kanan Liza.
"Sana ah, aku bukan boneka seksmu," ucap Liza sambil mendorong tubuhnya Rafael.
"Memang kamu bukan boneka seksku, kamu adalah istriku," ucap Rafael sambil menghadapkan tubuhnya dengan tubuhnya Liza, lalu memeluknya.
Apa dia tidak salah ngomong?
Batin Liza.
"Aku ingin membuat keluarga yang baru bersamamu," ucap Rafael lembut sambil menyelipkan beberapa anak rambut Liza ke belakang telinga.
"Boleh, tapi kamu jangan tidur bareng sama wanita lain selain diriku."
Rafael tersenyum manis. Mendekatkan wajahnya ke wajahnya Liza. Mencium bibirnya Liza dengan lembut sehingga Liza membalas mencium bibirnya Rafael. Ciuman mereka memburu, saling *******, saling menghisap, saling menukar saliva dan saling menautkan lidah. Tangan kanannya Rafael menjelajah tubuh idealnya Liza hingga berhenti di inti tubuhnya Liza. Dengan gerakan lihai, tangan kanannya Rafael masuk ke dalam celana dan kain segitiga Liza, lalu bermain lembut di bagian inti tubuhnya Liza.
Benda kenyal milik Rafael turun ke leher jenjangnya Liza memberikan jejak petualangan. Gairah se*ks Rafael memacu lebih cepat lagi setelah mendengar ******* yang keluar dari mulutnya Liza. Membuka satu persatu kancing piyama yang dipakai Liza. Mendaki gunung dengan perlahan. Bermain cantik di puncak gunung. Setelah dari gunung, menjelajah lembah sambil membuka penghalang, lalu ke hutan gundul sekitar gua. Masuk ke dalam gua, lalu bermain dengan lembut di dalam gua hingga suara pemilik gua menggema. Rafael menghentikan kegiatannya. Nafasnya tersengal - sengal. Melihat wajah Liza yang memerah akibat ulahnya.
__ADS_1
"Kamu setuju kita bikin anak lagi?"