Asa Diriku

Asa Diriku
Gosip Yang Sedang Beredar


__ADS_3

Sinar sang mentari dengan warnanya yang kekuningan menerangi bumi beserta isinya dengan kehangatan di pagi hari. Arakan awan putih dengan indahnya terlukis di langit biru yang cerah. Pemandangan alam pada pagi hari ini memayungi para manusia yang mulai sibuk dengan segala kegiatannya masing - masing, termasuk kegiatan Lusi, Rianto dan Liza saat ini.


Rutinitas kegiatan Liza kalau tidak ada tugas keluar kantor, selalu makan siang di cafeteria bersama Lusi. Mereka duduk berderet di kursi panjang menunggu makanan datang. Liza melihat hiruk pikuk suasana cafetaria pada jam makan siang. Ada yang sedang merokok, ada yang sedang makan, ada yang sedang minum, ada yang sedang mengobrol dan ada yang sedang fokus dengan layar handphone.


"Eh Liza, kamu dengar nggak gosip yang beredar di sini?" ucap Lusi yang duduk di sebelah kiri Liza.


"Gosip tentang apa?" tanya Liza bingung sambil menoleh ke Lusi.


"Ya elah, masa kamu nggak tahu sich," ucap Lusi.


"Benaran, aku nggak tahu."


"Gosip tentang hubungan kamu sama Bos baru kita. Dari hari Senin, para karyawan menduga jika kamu punya hubungan khusus sama Pak Rafael. Dan aku yakin, kalian pasti punya hubungan khusus. Ceritakan padaku, apakah itu benar?" ucap Lusi menyelidik.


"Ehmmm, iya. Kami akan segera menikah," ucap Liza pelan, lalu dia mengalihkan pandangannya ke meja.


"Jika kalian mau menikah, kenapa waktu hari Senin kamu menangis setelah keluar dari ruangan Pak Rafael?"


"Maaf, aku tidak bisa menceritakan tentang itu," ucap Liza lesu.


"Apakah kamu diancam?"


"Tidak," kilah Liza.


"Terus kenapa?"


"Itu privasi kami."


"Kok tiba - tiba kamu dekat sama CEO baru kita?"


"Sebenarnya, Pak Rafael itu kakak sambungnya salah satu sahabatku di Bandung yang bernama Rachel. Aku sudah lama sekali dekat sama keluarganya yang berada di Bandung, termasuk Maminya."


"Apakah kalian dipaksa untuk menikah?"


"Bisa dibilang seperti itu."


"Kalian kan bisa menolaknya?"


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Maaf aku tidak bisa menceritakannya," lirih Liza dengan tatapan mata yang sedih.


"Aku bisa dipercaya jika kamu ingin menceritakannya."


"Maaf."


"Ya udah kalau begitu. Oh ya, sejak kamu menangis setelah keluar dari ruangan Pak Rafael dan sejak mereka melihat tangan kamu digandeng sama Pak Rafael, semua pada heboh. Dan itu menjadi trending topik loh."


"Ah masa hal begituan jadi trending topik sich," ujar Liza polos sambil menoleh ke Lusi.


"Eh benaran. Kemarin aku ke ruang produksi, anak - anak di sana lagi ngomongin kamu sama Pak Rafael. Ngomong - ngomong, Pak Rafael itu seorang casanova," ucap Lusi yang ingin tahu kepastian berita heboh itu.

__ADS_1


"Kamu tahu dari siapa?"


"Dari orang - orang, benar ya?"


"Yah begitulah."


"Oh ya, dua hari yang lalu kalian ngapain di dalam kamar mandi?" ucap Lusi pura - pura nggak tahu.


"Eeehhhmmm ... rahasia hehehe."


Sepertinya Liza masih belum bisa menceritakan semuanya.


Batin Lusi.


"Kalian kapan nikahnya?"


"Pemberkatannya Hari Sabtu. Resepsinya dua bulan lagi."


"Cepat amat nikahnya."


"Cepat karena keinginan Papinya Rafael."


"Hey, ciwi - ciwi," sapa Rianto sambil menduduki badannya di samping kanan Liza.


"Hey juga," jawab Liza


"Kamu kemarin kenapa nggak masuk kerja?" ucap Rianto sambil menoleh ke Liza.


"Ada urusan keluarga."


"Kamu tak perlu tahu secara detail," ucap Liza sambil menoleh ke Rianto.


"Wow! Ada yang menggemparkan! Oh Sehun sedang berjalan ke arah sini. Tumben sekali dia mau datang ke sini," ucap Lusi terkejut karena Lusi melihat Rafael sedang berjalan ke arah mereka.


Liza langsung melihat lurus ke depan. Liza melebarkan dua matanya karena kaget melihat sosok Rafael sedang tersenyum licik sambil berjalan menghampiri mereka. Sebagian orang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ketika berhadapan langsung dengan Rafael. Sebagian lagi ada yang berbisik - bisik membuat berita yang heboh.


"Mau ngapain di ke sini?" ucap Liza bingung.


"Mungkin dia mau mau ngobrol sama calon istrinya," celetuk Lusi


"Siapa calon istrinya Pak Rafael?" samber Rianto.


"Liza."


"Kamu mau menikah sama Pak Rafael?" tanya Rianto sambil menoleh ke Liza.


"Iya."


Pantesan mereka dekat sejak Pak Rianto kerja di sini.


Batin Rianto.


"Selamat siang semuanya," sapa Rafael yang ramah.

__ADS_1


"Siang juga Pak," ucap Lusi yang sopan.


"Liza, ayo ikut aku!" ajak Rafael.


"Nggak mau, aku udah pesan makanan."


"Nanti aku suruh sekretarisku yang mengurus pesananmu. Ayo kita pergi sekarang!"


"Pergi ke mana?"


"Nanti kamu juga tahu."


"Tapi ini kan setelah makan siang, aku harus kerja lagi karena banyak kerjaan yang belum aku selesaikan."


"Tadi aku sudah minta izin sama Pak Reyhan untuk membawa kamu pergi. Ayo cepatan!" ucap Rafael sedikit kesal.


Lusi menyikut pinggangnya Liza, Liza menoleh ke Lusi. Lusi memberikan kode agar Liza menuruti kemauannya Rafael dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Liza mengerucutkan bibirnya, mau tak mau dia harus menuruti keinginan Rafael. Liza beranjak berdiri dari bangku, lalu keluar dari bangku.


"Teman - teman aku pergi dulu ya," pamit Liza.


"Iya, hati - hati ya," ucap Lusi.


"Iya Mbak Lusi."


Tak lama kemudian, Rafael dan Liza melangkahkan kakinya ke lobby gedung. Liza mengedarkan pandangan ke sekitarnya karena dia mendengar suara sumbang dari mulut sebagian karyawan yang berada di sekitar pelataran luar gedung. Dia melihat para karyawati yang ada di sekitarnya tersenyum sinis ke dirinya. Dia menundukkan kepalanya karena dia merasa inscure. Rafael menoleh ke Liza, lalu dia melihat Liza yang tidak percaya diri. Rafael langsung menggenggam erat telapak tangan kanannya Liza.


"Jangan terlalu diambil hati dengan sikap mereka," ucap Rafael pelan.


Dasar manusia bunglon.


Batin Liza.


"Kedekatan kita menjadi trending topik," ucap Liza pelan.


"Biarin aja, anggap aja kita ini selebriti," ucap Rafael santai.


"Selebriti dari Hongkong!" umpat Liza.


"Selebriti dari Korea Selatan."


"Au ah gelap."


"Sekarang masih terang."


"Hu - uh," Liza menghela nafas panjang.


Mereka memasuki lobby gedung melalui pintu belakang. Menyusuri lobby gedung yang diiringi dengan berbagai macam tatapan mata setiap orang yang berada di dalam lobby gedung. Melewati hiruk pikuk segala kegiatan di dalam lobby gedung. Keluar dari lobby gedung, lalu menghampiri sebuah mobil Lamborghini Huracan warna biru dongker. Rafael melepaskan genggaman tangannya.


Mereka masuk ke dalam mobil setelah pintu mobil dibuka oleh staff keamanan gedung. Memakai sabuk pengaman setelah pintu tertutup secara otomatis. Rafael menyalakan mobilnya, tak lama kemudian mobilnya melaju. Menyusuri jalan raya yang lumayan dipadati oleh beberapa kendaraan. Liza melihat pemandangan di luar jendela mobil.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Rafael tanpa menoleh ke Liza.


"Semua orang yang ada di kantor tahu bahwa kita punya hubungan," ujar Liza.

__ADS_1


"Biarkan saja," ucap Rafael santai.


"Hubungan kita menjadi bahan gosip yang sedang beredar."


__ADS_2